Review buku filosofi teras

Tentang "dikotomi kendali"
SAM_8796.JPG
Saat membaca buku ini, kita bakal ketemu terus dengan istilah dikotomi kendali ini, apa tuh maksudnya?

Sederhananya, dikotomi kendali berbicara tentang ada beberapa hal di hidup ini yang ada di bawah kendali kita dan yang tidak di bawah kendali kita.

Mungkin sebagian besar dari kita akan berkomentar, “Halah, itu, sih, gue udah tau”, tapi nyatanya kita nggak benar-benar tau akan hal-hal ini. Buktinya, masih banyak tuh yang julid di sosmed. Btw, gara-gara Instagram sempat nggak aktif pasca 22 Mei yang lalu, aku jadi anak Twitter lagi and my oh my … ternyata mulut netizen di platform tersebut pedes-pedes ya bok, ckckck.

Contoh hal-hal yang tidak di bawah kendali kita: siapa orangtua kita; jenis kelamin, suku atau kebangsaan; opini atau omongan orang lain tentang sesuatu atau bahkan diri kita sendiri; kesehatan, kekayaan dll.

Contoh hal-hal yang ada di bawah kendali kita: pikiran, keputusan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan opini kita pribadi; tujuan hidup kita ( what we want to achieve, our goals etc ).

Kalo kita berhasil membedakan kedua hal tersebut, bisa dipastikan kita nggak gampang baper, ngambek atau marah-marah nggak jelas karena mendengar pendapat orang lain yang bersebrangan dengan opini pribadi. Jadiii, seharusnya aku nggak perlu tuh bete dengar komentar “Kok anaknya kecil, sih? Nggak dikasih makan ya sama mamanya?” karena aku nggak bisa mengendalikan omongan mereka, NAMUN bagaimana aku meresponi pernyataan subjektif tersebut sepenuhnya di ada di dalam kendaliku sendiri; mengiyakan si orang tersebut kalo emang gue emak tiri yang tega nggak kasih makan anak kemudian meratapi badan anak yang katanya kecil atau bisa langsung ngejawab “Barusan abis makan seporsi mie goreng plus semangkok bakso tuh anaknya…” sambil memberikan senyum pepsoden semanis mungkin.

“Jika kita telah mengerahkan upaya yang sebaik-baiknya di hal-hal yang bisa kita kendalikan, maka itu sudah cukup.” (hal. 65)

Filosofi Teras nggak mengajarkan hidup pasrah akan nasib
Hidup gue gini-gini aja, duit pas-pasan, yaudalah mau gimana lagi, katanya dinikmati aja kan.
Gue emang dari sononya udah begini yasudalah, katanya love yourself just the way you are.

Banyak yang salah kaprah kalau filosofi teras mengajarkan untuk pasrah akan situasi, seperti pada contoh di atas. Hidup kita mungkin nggak seberuntung The Kardashians atau nggak seindah (@insertnamaakunyangseringbikinkamuiri), terus apakah itu membuat kita benar-benar pasrah dengan keadaan kita saat ini?

Udah jadi panggilan setiap manusia untuk bekerja dan berkarya, bukan pasrah apalagi menyerah menjalani hidup yang “gini-gini aja”. Semakin kita malas, kita akan semakin kesusahan. Kembali lagi ke dikotomi kendali, keputusan untuk mengubah nasib ada di tangan kita sendiri, mau hidup lebih baik atau nggak.

Filosofi Teras dalam dunia parenting

Salah satu yang bikin aku mantap untuk membeli buku ini karena Bang Henry membahas dari sisi parenting , which is sebuah dunia yang saat ini sedang aku jalani dan yang selalu sukses bikin aku baperan dan suka khawatir berlebih. Parenthood has changed my whole life, in a good way dong pastinya.

Gimana caranya menerapkan filosofi ini sebagai orangtua? Kembali ke poin awal tentang dikotomi kendali, ternyata kita bisa lho mengajarkan tentang ini pada anak-anak sejak mereka kecil. Ajarkan mereka kalau ada hal-hal di dunia ini yang tidak dan bisa kita kendalikan. Contohnya, mereka boleh memilih cemilan yang diinginkan, baju apa yang ingin dipakai hari ini, mainan apa yang ingin mereka bawa traveling dll. Kita juga bisa menjelaskan kondisi yang tidak bisa dikendalikan seperti kalo hujan berarti nggak bisa main di luar, kalo anak ngambek/tantrum, kita nggak boleh ikutan stres (ehem…), harus bisa tunjukkan ini di luar kendali dan kalo ingin bermain bisa di rumah aja.

Ada satu bagian yang menarik juga di bab terakhir buku ini, tentang dua jenis mentalitas berbeda yang dimiliki setiap manusia termasuk anak-anak; fixed mindset (mentalitas tetap) dan growth mindset (mentalitas bertumbuh). Nggak akan kujelasin detil di sini, yaa, biar baca sendiri aja supaya seru. Jujur aku baru tau tentang perbedaan ment

Cons: buku ini terus-terusan membahas tentang power atau kekuatan yang ada dalam diri kita. Segala macam emosi, pikiran, perkataan, perbuatan semua-muanya itu ada di dalam kendali kita. Ya bener, sih, nggak salah. Cuma jadinya ya humanisme banget. Tapi nggak heran juga karena ini emang buku filsafat (modern) kan. Sebagai pemeluk agama Kristiani, aku harus berhati-hati dalam mengaplikasikan setiap metode yang dibahas dalam buku. Yes we mostly take control on our own decision . Hidup di zaman yang menggaung-gaungkan “you determine your own destiny” ini kembali mengingatkan kita umat beragama kalau masa depan sesungguhnya di tangan Tuhan. We do our best, God always do the rest.