Review buku ; Dari Teologi Menuju Teoantropologi (-Pemikiran Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer)

Review Buku
Sedya Pangasih
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
Judul : Dari Teologi Menuju Teoantropologi (-Pemikiran Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer)
Penulis : Dr. Nasihun Amin, M.Ag.
Jumlah halaman : 142 halaman
Buku ini yang karya salah satu dosen di UIN Walisongo memiliki enam bab. Pada bab pertama berisi mengenai pendahuluan pembahasan mengapa penulis menulis mengenai pemikiran Asghar Ali Engineer. Bahwa bisa dikatakan teologi bermakna yaitu disiplin yang membahas mengenai Tuhan dan hubungan dunia dan akhirat. Adanya ketidakadilan, penindasan dan kebencian sosial tidak lantas mudah dimudah dihilangkan atau diatasi oleh teologi-teologi yang hadir mulai abad pertengahan. Teologi -teologi yang khusus nya hadir dalam Islam tersebut antara lain, teologi Jabariyah, Qodariyah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Muktazilah, dan lain sebagainya. Teologi menurut para kaum revivalis pramodern dianggap sebagai penjara-penjara yang tidak bisa dielakkan sehingga agama akan lebih baik tanpa teologi karena dianggap sebagai kejahatan.
Reformasi teologi yang dilakukan Asghar Ali Engineer mencoba mencairkan kebekuan formulasi teologi dan memberikan alternatif tawaran. Sehingga diskursus mengenai teologi harus ditafsirkan dalam berbagai terma yang berhubungan dengan kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Hal itu.untuk menghindari pemahaman bukan hanya secara spekulatif tetapi secara reflektif sosiologis. Dengan begitu harapan teologi dapat dikontekstualisasikan tercapai. Ada dua ciri sehingga dapat dikatakan teoantropologi dari teologi pembebasan yang ditawarkan Ali yaitu pertama dinamis maksudnya menempatkan manusia dalam suatu atmosfer yang mendukung untuk mengembangkan kemanusiaan sesuai harkat dan martabat. Kedua, otokritis maksudnya menempatkan manusia untuk mengevaluasi kembali segala tindak kultur yang telah dilakukannya. Kemudian mengenai pembahasan struktur logis isi buku, terdapat dua cara analisis data yaitu metode historis yaitu untuk mengetahui perjalanan kesejarahan teologi Islam dan paradigma-paradigma yang, dibangun. Serta metode deskriptif analitis yaitu diterapkan pada pengkajian yang diikuti dengan pendekatan teologis-sosiologis.
Pada bab II mengenai kerangka paradigmatik, teologi Islam terdapat pembahasan mengenai kemandulan teologi dalam merespon persoalan aktual. Ada teologi yang hadir dengan intoleran, fanatisme dan ekslusif dan ada yang hadir menjadikan akal sebagai pusat teologi. Persoalan ini merupakan persoalan spekulatif dan metafisik, sedangkan persoalan aktual dan eksistensial yang dihadapi adalah persoalan realitas hidup. Dalam hal ini bukan berarti orang-orang terdahulu telah berbuat kesalahan, tetapi mereka bisa sudah berhasil menghadapi tantangan zaman mereka hanya saja untuk zaman sekarang senjata mereka tidak lagi berdaya guna.
Ada beberapa paradigma teologi yaitu paradigma tradisional adalah paradigma deterministik yang berasumsi hanya Tuhan yang tahu apa arti dan hikmah dibalik ketentuan-Nya. Paradigma rasional adalah paradigma yang termuat sifat kritis dengan penghargaan besar pada peran akal. Paradigma fundamental adalah paradigma yang menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber universal dan menentang segala yang berbau non-Islam. Dan terakhir paradigma transformatif adalah paradigma yang berpandangan bahwa keterbelakangan hadir dari sistem yang tidak adil dan hanya menguntungkan sebagian pihak. Usaha yang dilakukan yaitu dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk terbebas dari belenggu penindasan dan emansipasi al-Qur’an sebagai dasar distorsi.
Bab III membahas mengenai Asghar Ali Engineer dan latar belakang sosialnya. Beliau lahir pada 10 Maret 1940 di Kalkuta, India. Selain sebagai pemikir reformif, Asghar juga seorang Da’i pimpinan sekte Syi’ah Islamiyyah yang gigih menyuarakan pembebasan. Baginya harus ada kesimbanga antara refleksi dan aksi. Ayahnya bernama Syaikh Qurban Husain seorang ulama syiah dan insiyur sipil dan bunya bernama Maryam. Mengenai sumber realitas sosial dari kehidupan Asghar bisa dilihat dari keadaan negara beliau tinggal yaitu India. Dari segi politik yaitu adanya pemisahan antara India dan Pakistan yang menyebabkan migrasi besar-besaran. Dari segi agama, di India terkenal sebagai negara pluralisme. Selanjutnya dari segi sosial, hubungan masyarakat yang tidak seimbang dengan membedakan kasta. Dan terakhir yaitu mengenai kedudukan wanita, masyarakat India yang menerapkan patriarkis atau segala sektor wanita berada di bawah kaum pria.
Kerangka metodologi yang digunakan yaitu hermeneutika yang bertugas menerangkan kata-kata dan teks yang dirasa asing oleh masyarakat. Namun juga tetap memperhatikan faktor psikologis dan sosiologis dari dunia pengarang dan pembaca agar tidak terkecoh oleh teks semata. Selanjutnya yaitu filsafat praksis yaitu dengan menekankan pada praksis daripada teori-teori metafisik. Sehingga mampu membuka kritik terhadap masyarakat aktual yang berkedok ideologi untuk menutupi manipulasi dan.eksploitasi.
Bab IV membahas mengenai teologi pembebasan Islam; alternatif kebuntuan teologi. Pembahasan pertama mengenai pengertian teologi pembebasan Islam. Menurut Asghar, agama tidak lain adalah fenomena. Dan kebebasan menjadi ciri khas dari teologi Islam pembebasan. Teologi pembebasan Islam adalah teologi yang meletakkan tekanan barat pada kebebasan, persamaan dan keadilan distribusi dan menolak penindasan, penganiyaan dan eksploitasi manusia oleh manusia. Perbedaan teologi pembebasan Islam dengan teologi lain yaitu berdasarkan realitas kekinian di dunia kemudian akhirat dan antitesis kemapanan baik bersifat politik maupun keagamaan. Sebagai inspirator ideologi dalam menghadapi penindasan serta bukan hanya aspek spiritual tetapi juga merealisasikan untuk menambah dimensi baru. Namun perlu usaha untuk menjadikan teologi tersebut menjadi kekuatan moral politis agar menjadi koreksi bagi laju pembangunan yaitu memiliki semangat profetik atau kenabian dan belajar dari teologi teologi revolusioner serta menginterpretasikan ayat-ayat yang selama ini diselewengkan oleh ulama yang pro kemapanan.
Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai konsep-konsep kunci, hal ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada segala macam bentuk pendekatan kepada al-qur’an sehingga tidak terjadi klaim kebenaran tunggal. Secara paradigmatik, Teologi Pembebasan Islam merupakan sebuah jenis teologi baru yang cenderung bersifat transformatif dan revolusioner. Dalam konteks Teologi Pembebasan Islam, Ashgar mengajukan berbagai rumusan ulang terhadap konsep-konsep yang telah mapan. Beberapa konsep kunci tersebut yaitu pertama, tauhid-Syirik menurut Ashgar Ali berpendapat tauhid harus dipahami tidak semata-mata dalam pengertian teologis melainkan harus dipahami dalam kerangka pengertian sosiologis. Teologi Pembebasan Islam tidak hanya berhenti pada konsep berusaha utnuk memperluas ruang lingkup tauhid tersebut pada kesatuan universal manusia. Ada dua ciri utama dalam sikap syirik. Pertama, menganggap Tuhan mempunyai syarīk atau teman. Kedua, menganggap Tuhan mempunyai andād atau rival. Orang mukmin sejati, bukan mereka yang hanya mengucapkan kalimat syahadat saja, tetapi mereka yang menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas dan lemah, dan tidak pernah menyalahgunakan posisi kekuasaan mereka atau menindas orang lain atau memeras tenaga orang lain, yang menegakkan kebaikan dan menolak kejahatan.
Kedua, Iman-Kufr dimana iman harus membawa rasa aman dan harus menjadikan seseorang mempunyai amanat. īmān bi al-ghaib merupakan iman terhadap kemungkinan-kemungkinan masa depan yang tak terkira banyaknya, yang menjadiinspirasi umat manusia. Penelusuran terhadap sejarah dan adanya teks-teks al-Qur’an yang seperti itu, mengantarkan Asghar pada kesimpulan bahwa kufr adalah perilaku tidak percaya dan menutupi misis revolusioner Muhammad. Dengan demikian sangat jelas bahwa kafir dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang-orang yang memupuk kekayaan dan menimbulkan terus-menerus ketidakadilan serta merintangi upaya-upaya menegakkan keadilan.
Ketiga, adil sebagaimana menurut Asghar, kunci dalam bidang ekonomi agar bisa tercipta ekonomi yang adil dan bebas dari eksploitasi adalah keadilan dan kebijakan (al-‘adl wa al-ihsan). basis dari sistem ekonomi Islam adalah keadilan, kebijakan dan adanya penghapusan menyeluruh terhadap eksploitasi, penindasan dan kecurangan. Keempat, jihad Pada dasarnya ada tiga kerangka yang ditawarkan oleh al-Quran berkenaan dengan jihad. Pertama, konsep dan ide tersebut berasal selama perlawanan kekuatan-kekuatan jahat, perjuangan untuk kebenaran. Kedua, jihad membentuk satu cara untuk emansipasi kelompok-kelompok tertindas. Ketiga, tujuan yang ingin dicapai adalah memapankan persamaan tatanan sosial. jihad adalah kunci hermeneutik bagi Teologi Pembebasan Islam.

Teoantropologi: Restrukturisasi Paradigmatik
Keputusan untuk tetap tinggal di India jelas dimotivasi oleh semangat relegius, bukan pragmatis. Teologi Pembebasan Islam dalam tataran teoritis sebelum melihat pelaksanaanya dalam dataran praktis. Asghar tidak ingin berhenti sampai di situ. Ia memandang bahwa keterbelakangan di samping “faktor dalam” yaitu wujud teologi yang mandul, juga karena “faktor luar” yang berupa tatanan sosial yang represesif dan opresif. Karenanya ia melakukan pembongkaran mendasar terhadap pemahaman konsep-konsep dasar teologis yang telah berubah menjadi ideologi dengan memasukkan “ruh tindakan” dengan harapan muncul semangat merubah keadaan menuju pembebasan. Teologi Pembebasan Islam ingin mengungkap dialektika sosial politik politik yang baru. Sekarang konteks sosial politik berubah, oleh karena itu kerangka konseptual lama harus diganti dengan kerangka konseptual baru yang berasal dari persoalan kebudayaan temporer. Pengamatan terhadap poko-pokok pikirannya, tampak bahwa ia berkeinginan untuk memberikan nuansa baru dengan melakukan reformasi orientasi bagi Teologi Islam
Dari Tuhan ke manusia, Tuhan merupakan pusat sitem kepercayaan. Dia menjadi nilai tertinggi dan kebradaanya yang mutlak. Dia adalah sangkan paraning dumadi, semua berasal dan kembali kepada-Nya. Jadi Teologi Pembebasan Islam tidak lagi memusatkan perhatiannya kepada Tuhan melainkan kepada manusia sebagai representasi Tuhan. Manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi, yang memenuhi kehendak-Nya dan melaksanakan wahyu sebagai sebuah struktur dunia yang ideal. Dari Akhherat ke Dunia , dunia merupakan jalan prinsip menuju akherat. Apa yang diperbuat manusia akan sangat menentukan terhadap capaian yang ada di akherat sebab akherat adalah alam keadilan. Dari Keabadian ke Waktu, bagaimana pun segala sesuatunya harus berada dalam batas-batas ruang dan waktu, tetapi inspirasi yang dipegang adalah nilai-nilai yang melintasi batas ruang dan waktu. Dari Eskatologi ke Futurologi, eskatologi banyak dikembangkan oleh para teolog, maka furutologi bermaksud mendorong untuk melihat realitas dengan cara baru yang segar dan meratakan jalan bagi perubahan sosial yang patut diharapkan karena masa depan manusia penuh dengan kemugkinan dan peluang. Dari Takdir ke Kehendak Bebas, memperkuat kehendak bebas, kekuasaan manusia dan kapasitas manusia yang sesungguhnya telah diberikan oleh tuhan. Dari Teori ke Tindakan, tindakan yang benar yang didasarkan atas teori yang salah memiliki nilai lebih baik daripada teori yang benar tanpa tindakan . Ia berusaha mengarahkan Teologi Pembebasan Islam sebagai sebuah teologi yang reflektif sosiologis.
Tataran Praktis, Teologi Pembebasan Islam yang ditawarkan oleh Asghar, secara epistimologis, tidak semata-mata trasendental-spekulatif dengan pusat kajian tentang tuhan dan konsep abstraknya, tetapi juga, bahkan lebih, reflektif sosiologis dengan sentral kajian manusia dan realitas empirisnya, maka analisis pun harus di degradas dari “tingkat tuhan” menjadi “tingkat manusia”. Teologi Pembebasan Islam, secara praktis, masih menjadi sebuah-ideal-normatif. Namun, bagaimana pun patut disebut sebagai mitra dialog dan alternatif lagi sistem teologi yang sudah ada.
Corak revolusioner dan transformatifnya semakin mendapatkan bentuknya ketika, setelah menafsirkan konsep teologis secara sosial-historis, dengan secara setia Asghar menggunakan pendekatan filsafat praksis kaum marxis untuk merumuskan konsep -konsep teologinya. Upayanya untuk memasukkan unsur manusia harus dipandang sebagai usaha kreatif dan positif, dan harus diakui pula, teologi jenis ini lebih mampu memberikan dorongan dan semangat perubahan.