Restu Khitbah dari Sang Maha Cinta

Awan mendung tak urung jua menuntun setiap langkahku tentangnya. Dia, sosok yang kuharap hadir dari balik pintu itu untuk menyatakan khitbahnya. Dia, sosok yang kukira yang mampu menggenggam setiap mimpi pelaminan penuh bahagia. Dua tahun mestinya sudah cukup untuk menguatkan asa. Mungkinkah, getaran ini hanya aku yang rasa, atau dia yang memendam cinta.

26 November, 2019

Sosok rodra, lepaskan. Syal merah jambu berkicau di dadaku,

Guguran menautkan garis tangan semerawang.

Sosok purnama, luruhkan. Menjelang pagi semerbak cinta tidak kelu,

Biar kuncup halal dalam bayang.

Woy ! Jangan bilang itu puisi ke ratus, ratus, ratus yang kamu buat untuk dia?” cecar Amel yang buatku melihat kanan-kiri gelagapan.

Septi meletakkan sikutnya di bahu Amel, “Aish, udah fix ini mah buat si Aa deui. Neng… Neng, hahaha.”

Pipiku memerah seketika. Ingin rasanya berlari dan menjauh dari mereka, tapi Amel dan Septi tahu segalanya tentangku. Tak ada tempat bersembunyi yang tak bisa mereka temukan. Lebih baik aku mengajaknya ke kantin.

“Bentar lagi pasti kamu mau ajak kami ke kantin,” tebak Amel disambut Septi yang cengengesan.

Ampun deh, kalian tahu saja apa yang akan kulakukan, batinku.

Setelah makan aku melewati lorong fakultas yang terhilir sepi, hanya satu atau dua kelas saja yang mengadakan perkuliahan. Sebenarnya malas sekali datang kemari di hari sabtu, jalanan Puncak yang macet segala arah serta jadwal rapat di siang bolong membuatku pusing bak memandang matahari. Karena akan diadakan pergantian pengurus organisasi Pena Sastra, mau-tak mau harus kesini. Sungguh baik Allah, setelah berpanas-panas ria aku bisa menyegarkan diri dengan salat zuhur.

Lantai marmer masjid Al-Ikhlas menyejukkan setiap langkah. Bagiku masjid adalah tempat ternyaman untuk beristirahat dan menenangkan diri. Melepas sejenak segala rutinitas yang terus berjalan dalam fana buana. Setelah salat, aku bersama Amel dan Septi duduk di sisi jendela yang menghadap langsung pekarangan rumput nan hijau. Terlihat pelajar SMK beramai-ramai memasuki masjid, ada pula beberapa mahasiswa yang terlihat mengambil gambar kubah di kamera digitalnya.

“Aksa… itu Raihan!” Septi menunjuk ke arah jendela.

Waktu seakan berhenti mendengar namanya. Jantungku serasa lari keluar. Aku terpaku, penuh bayang-bayang yang tak keruan. Bagaimana kalau nanti kami berpapasan, bagaimana kalau nanti ia mendengar suaraku dan berusaha mencariku, bagaimana kalau nanti di tempat penyimpanan sepatu tidak sengaja aku bertemu dengannya. Arrrgh , pikiran-pikiran ini memburuku. Tenang, aku harus bersikap biasa saja. Tapi bagaimana dengan perkataan temanku Arda minggu lalu, “ Sa, kok kamu kalau ketemu Raihan pipinya merah?” huhuhu, bagaimana ini.

Amel menekan pundakku, “Sa, kita gak punya waktu lagi, rapat bakal dimulai. Mau-gak mau kita harus papasan dengan Raihan.”

Aku harus tenang dan bersikap biasa saja. Ia hanya Raihan, hanya Raihan. Aku tidak boleh takut dengan manusia manapun sebab hanya Allah yang berhak aku takuti.

“Oke, ayo kita ke sekretariat lagi.”

Seperti menjauhi kucing, aku adalah tikus buronannya. Raihan ada di sisi kiri masjid, aku pura-pura menatap sebelah kanan dan segera mengambil sepatu untuk kupakai di balik tiang. Terdengar suara Raihan dan teman-temannya yang memang sedang asik mengobrol. Untunglah, sepertinya ia tak menyadari keberadaanku.

“Aksara… boleh aku bicara denganmu sebentar?”


“Mungkin kamu sulit percaya ini, tapi jika sebuah rasa adalah fitrah maka aku akan memuliakan perasaan itu dengan tidak bertele-tele. Insya Allah , dua minggu lagi aku akan mengkhitbahmu, Aksara. Aku sudah yakin akan keputusanku. Bagaimana pendapatmu?”

Suasana Warung Panjang seketika kaku, hembusan angin seperti menghantamku yang membisu. Aku tak pernah menyangka semua ini akan terjadi.

“Aku merasa ini terlalu cepat. Jujur, aku nggak tahu harus jawab apa. Bisa kamu beri aku waktu untuk memikirkannya?”

“Tentu Aksara. Setelah itu segeralah berikanku kepastian. Aku akan selalu berharap agar Allah menyatukan kita,” nampak binarnya haru penuh makna.

Harapan setiap perempuan adalah penuh kebahagiaan setelah seorang pria menyatakan niat baiknya. Melambungkan setiap hati pada bilik-bilik romansa pernikahan yang mana semesta menjadi saksi kesucian rasa. Garis kehidupanku berlayar pada titik ini. Harapan setiap perempuan pun berpihak padaku. Seorang pria menyatakan rasa tulusnya untuk membersamaiku disisa hidupnya. Sosok lelaki yang tak diragukan lagi saleh, penuh tulus kasih pada sesama, dan pribadi yang penuh tanggung jawab. Aku juga menginginkan pria seperti itu kelak, namun bukan dari sosok Arda, tapi Raihan. Dan mengapa, orang yang kuharapkan justru bukan yang ada dihadapanku. Ternyata seorang yang kuanggap sebagai teman justru meramu perasannya untukku. Nyatanya sosok kejam itu masih diam dalam dunianya.


Andai ada keajaiban

Ingin kuukirkan

Namamu diatas bintang-bintang angkasa

Agar semua tahu, kau berarti untukku

Selama-lamanya, kamu milikku.

(Natta Reza, Kekasih Impian).

Lantunan lagu dari radio itu memaksa masuk ke dalam relungku. Pengap terasa meski ojek mobil ini sangat dingin. Aku tak kuat lagi, rasanya ingin keluar saja.

“Pak, tolong kesampingin mobilnya!” aku tak berpikir panjang, perasaanku sangat gusar.

Lho … Sa, kamu mau ngapain? Amel bertanya keheranan.

Sore ini begitu mewakili hatiku yang dalam dan berkabut. Bulir air mulai menderas dari sela-sela mataku. Kesedihan ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang berdiam di tebing. Mereka tampak sangat bahagia melihat panorama Puncak.

Aahhhhhhhhhhhhhhhhh,” teriakku kencang berusaha melepas semua perasaan ini. Dari belakang, Septi menyentuh pundakku. Segera aku memeluknya dengan erat.

“Huhuhu… kenapa perasaan ini nggak hilang saja? Kalau dia yang aku inginkan enggan mengungkapkannya. Kenapa? Huhuhu…,” amarahku memuncak bersama tangis sesenggukan.

“Aksa… bersabarlah. Aku mohon jangan lukai batinmu seperti ini. Setiap manusia memang memiliki takdir jodohnya, tapi kita bisa mengusahakannya tanpa melukai siapapun.”

“Aku tak tega menolak Arda, aku tak tega melihatnya terluka. Tatapannya tadi begitu menunjukkan perasaaanya yang selama ini nggak aku sadari. Aksara menyayanginya sebagai teman.”

Amel dan Septi kini memelukku dengan erat. Mereka adalah sahabat yang selalu bisa menghibur dan menenangkanku kala rapuh tentang perasaan. Seharusnya aku bisa bersyukur karena Allah masih memberikan mereka, tapi rasa sakit ini membubung. Ketidakberdayaan membuatku lemah.

“Sa, janganlah putus berdoa untuk memantapkan hatimu. Karena hubungan kompromi hanya akan menanam benih kehancuran yang bisa meledak kapan saja.”


03 Desember 2019

Gadget Raihan berada di Sakti, salah satu temannya di organisasi Pencak Silat. Pria jangkung berkumis tipis itu lupa menghapus notifikasi dari sebuah aplikasi diary digital. Dengan iseng Sakti membukanya. Terlihat nama “Aksara” menghiasi setiap untaian kalimat yang tersusun rapi mengenai ungkapan perasaan Raihan. Gadis berjilbab lebar itu pun tak disangka-sangka melewati lapangan basket. Segera Sakti melancarkan kejailannya.

“Aksaraaa!” Sakti melambai-lambaikan tangannya, “Raihan suka kamuuu… dia selalu bercerita tentang kamuuu…”

Sontak pria korbannya itu melirik ke arah Sakti dan Aksara. Raihan baru menyadari bahwa Sakti melihat diary di gadgetnya.

Cieeeeee ,” semua anggota Pencak Silat yang beristirahat tertawa sambil bertepuk tangan. Raihan sibuk mengambil gadgetnya dan di sisi lain pipi Aksara memerah.

Semua hal yang terjadi dua tahun lalu itu, aku masih mengingatnya, batin Raihan.

Malam itu dihiasi bunyi-bunyi jangkrik dari ilalang dalam pekarangan. Raihan terhanyut dalam ingatan dan perasaannya yang tiba-tiba merindukan Aksara. Tak ada yang tahu apa alasan pasti Raihan tak mengungkapkan rasa itu, kecuali sang Ibu.

“Ini Nak, minumlah tehnya sambil ngelamunin si Aksaramu itu,” sang Ibu menyodorkan secangkir teh hangat melati dan sepiring pisang goreng kesukaan anaknya.

Raihan terlihat salah tingkah, “Ibu ngomong apa? Saya gak memikirkan dia kok,” jawabnya berkelit sambil meraih teh hangat di meja. Ibu dan anak duduk bersama sambil melihat langit yang semakin larut.

“Nak, garis takdir perempuan adalah menerima atau memilih. Aksara seperti bunga mawar yang bisa dipetik siapa saja. Jika ada pria lain yang tiba-tiba melamar Aksara lebih dulu, siapkah kamu menerimanya? Dia gadis cantik dan berakhlak baik, siapapun bisa mudah menyukainya. Kamu sudah bekerja dan memenuhi setiap kebutuhanmu mandiri, termasuk kuliahmu. Tak ada alasan untuk menunda perasaan itu menjadi hubungan yang halal,” Ibu Raihan memandangnya lekat-lekat.

Lelaki dengan lesung pipi itu tersenyum simpul, menyiratkan makna.


“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

(Q.S. Ar-Rum (30) : 21).

“Aku ingin melamarmu. Membawa pergi permata yang ingin kujaga dalam sisa hidupku. Menjadikanmu calon Ibu yang begitu menyayangi anak-anakku kelak.”

“Aku nggak bisa menerima lamaranmu, Raihan. Aku sudah menanti lamaran Arda lusa nanti,” mataku tak bisa menatapnya, ia tak boleh tahu kalau perasaanku masih sama.

“Sa, khitbah itu belum terjadi, kamu masih bisa menolaknya,” Raihan berusaha untuk meyakinkanku. “Jika perasaan itu memang untukku, jangan kamu paksakan pada orang lain. Arda juga akan terluka nantinya.”

Amel dan Septi yang duduk disampingku juga ikut meyakinkan, “Sa, kami dukung kamu dengan Raihan,” tangan kami bertiga menyatu bersama.

Pipiku mulai memerah.


15 Februari 2020

Awan mendung yang mengelabui sesiapa kini nampak sederhana. Dengan menuntun cercah dibalik flamboyan yang tersusun sempurna dan memukau, sedikit-sedikit deretan berbagai warna bianglala menarik hati setiap manusia yang melintasi jalan Puncak. Dulu aku bertanya-tanya, mengapa Allah menciptakan spektrum warna itu hanya untuk memandangnya, terlihat dekat padahal sangat jauh. Setelah kejadian sore itu kebingunganku sirna, karena ada yang mengatakan bahwa takdir makhluk yang tak biasa adalah tak mudah memandangnya atau mendapatkannya. Mungkin, itu maksud pertemuanku jua dengannya.

“Karena aku ingin menghalalkanmu dengan pantas, menjadikan kamu ratu sejak pernikahan kita hari ini, dan hari-hari selanjutnya bersamamu. Kamu makhluk yang tak biasa bagiku, Sayang,” tutur Raihan sambil mencubit pipi gembilku.

“Raihan… Aksara… selamat ya atas pernikahan kalian,” sosok itu menyodorkan tangannya pada Raihan, dia Arda. Tawa lelaki itu begitu renyah seperti tak pernah terjadi apa-apa. Gadgetnya mengabadikan selfie kami bertiga. “Aku tidak apa-apa, yang saling mencinta memang seharusnya bersama,” jawaban Arya dua bulan lalu sebelum kami tak pernah saling menghubungi lagi. Selanjutnya, fotografer mengambil foto kami bersama kedua sahabatku. Seminggu lagi Amel pun akan melangsungkan pernikahan, dan Arya adalah pilihan ajaibnya. Menanti restu khitbah dari Sang Maha Cinta tak pernah sia-sia.

Daftar Kata Bahasa Sunda

Aa : Panggilan untuk laki-laki

Neng : Panggilan untuk perempuan

Deui : Lagi

1 Like