Renungan Inspiratif "Keras Kepala vs Kepala Berlian"

Ketika segala sesuatunya di dunia ini Anda lihat dengan melalui mata fisik Anda, maka akan Anda dapati segala aspek keanekaragaman kita. Mulai dari budaya, ras, agama, bahasa, fisik dan sebagainya.

Melakukan hal tersebut, maka mudah sekali bagi kita untuk jadi keras kepala dan mencoba untuk membuktikan kebenaran tunggal kita semata. Dan percayalah, tak ada cinta di dalam keras kepala. Dan pemaksaan untuk membuktikan bahwa hanya diri kita saja yang benar dan orang lain salah total, itu adalah suatu penghinaan.

Dalam deburan debu sekali pun, sebutir berlian akan berkilau cemerlang tanpa perlu membuktikan keaslian berlian tersebut. Sama halnya dengan manusia. Kita tak perlu berkeras kepala untuk membuktikan bahwa kita benar. Dalam menghadapi bahaya dari penglihatan mata fisik tadi, selalulah berpikir bahwa kinilah saatnya untuk melangkah melampaui segala aspek, segala hal yang membatasi kita. Apapun ras, agama, dan kasta kita… kesadaran diri kita haruslah bisa melampaui semua itu.

Apa pendapat Anda tentang renungan ini?

Sumber:
http://www.termotivasi.com/2016/02/renungan-inspiratif-keras-kepala-vs-kepala-berlian.html

Terkadang kita tidak habis pikir, mengapa ada orang yang sampai betul-betul menunjukkan sikap kepala batu. Ada orang yang betul-betul tidak mau mencoba memahami mengapa orang mempunyai ritual atau kebiasaan lain yang berbeda dengan dirinya, sehingga ia seolah selalu menantang perang karena ketidakbisaannya menerima perbedaan. Begitu keras kepalanya beberapa orang dalam suatu perusahaan, sampai seringkali lembaga perlu secara khusus merancang pelatihan, program, ataupun upaya perubahan, yang sebenarnya diwarnai oleh satu hal: kekeraskepalaan individu untuk mempelajari dan mencoba hal atau sistem baru. Mereka berusaha membuktikan bahwa mereka benar.

Kita tidak boleh membiarkan diri berkehendak untuk mempunyai kontrol situasi yang sempurna. Kita harus bisa menerima perbedaan.