Question, Answer, and Pain

Orang-orang bilang kami aneh.

Ya.

Aku dan Jay, atau yang biasa kupanggil Jeje sebagai panggilan kesayangan.

Orang-orang yang sebut kami aneh sebenarnya hanya teman dan kerabat dekat. Soal kami di mata publik, tidak ada yang tandingi bagaimana manisnya kami bersama. Itu yang ada di pikiran mereka.

Orang-orang naif sekali-- mereka yang nilai dan putuskan sesuatu dari apa yang mereka lihat dan mau. Kendati ada segelintir orang yang tidak begitu naif, kami dapat tutup dan samarkan semua sebaik mungkin, dapatkan kepercayaan golongan orang tersebut.

" Ada rencana lanjut ga sampe jenjang berikutnya? " Suaraku sendiri yang kudengar dari gawaiku antarkan seulas senyum di wajah. " Gimana? Je, gimana? ditanyain tuh ." Dalam layar tersebut, terlihat aku menyiku lengan Jeje.

" Ya, tunggu saja kabar selanjutnya ," Jeje menjawab dengan senyum manisnya.

" Apaan sih hahaha … ya, gatau lagi ya, semua. " Aku kembali membaca pertanyaan yang telah kami rekap. " Rencana mau punya anak berapa? Ih, apaan sih? Kenapa jauh banget pertanyaannya? By the way ada jawaban ga buat yang ini? "

Laki-laki itu mengerutkan kening. " Berapa ya? Umm … empat. Biar jadi tim voli. "

" Banyak banget! Dua anak cukup kali. "

" Nah loh dijawab juga akhirnya. " Jeje memiting leherku dan kami tertawa bersama.

Pikiranku menarik diriku kembali ke saat di mana kamera selesai dimatikan sesaat setelah kami ucapkan salam perpisahan sebagai penutup video tanya jawab.

“Mau dimasakin mie gak?” Jeje membereskan tripod.

Aku yang memindahkan kursi mengangguk sebagai jawaban. “Yang punya om Siwon ya?”

Jeje terkekeh. “Oke, yang punya aku.”

“Ih ih apa sih. Siapa kamu berani-beraninya nyamain omku.”

“Heh heh heh kamu punya siapa dulu.”

Aku tertawa. “Ya udah makasih ya, saingannya omku.” Aku memutar bola mata, mendudukkan diri di sofa. " Actually, babe , aku baru ingat ada janji sama orang lain."

“Yah, pergi lebih awal dong?”

“Maaf …”

“Ya udah aku anter.”

“Jangan!” Aku mengambil kunci mobil. “Kamu di sini aja masak mie.”

“Yakin bisa sendiri?”

“Bisa dong.”

“Kamu ga ketemuan sama si Hans, kan?”

Aku menelan saliva. “Bukan urusan kamu sih.”

“Jangan pergi. Jangan ketemuan sama dia.”

Kemarahan mulai merayapi tubuhku. Aku sangat siap untuk bertengkar untuk entah keberapakalinya. “Emang kenapa sih sama dia? Dia baik loh.”

Sebenarnya aku mengerti dengan perasaan Jeje. Takut. Wajar saja ia takut. Tapi aku tidak suka saat dia mengaturku.

“Aku ga suka aja liat gelagat dia kalo deket-deket sama kamu,” jawab Jeje.

“Tapi dia ngapain kamu, sih? Aku tanya, dia ngapain kamu? Hm?”

“Sayang, udah ya? Jangan bertengkar lagi. Aku ga mau bertengkar.”

Oh ya? Aku mau kok.

“Ya sudah jangan gitu dong.” Aku menyampirkan tali tas ke bahuku.

“Kamu ini punya siapa sih?”

“Dah, aku pergi.” Dengan begitu aku berjalan pergi.

Kalau boleh jujur, ini sudah seperti rutinitas kami. Kami sering mempertengkarkan hal sekecil mungkin seakan tidak ada hari esok, namun dengan mengetahui bahwa kami akan kembali ke satu sama lain.

Kita kembali ke masa kini. Aku menggunting bungkus bumbu, menuang isinya ke dalam mangkuk berisi mie yang telah direbus. Dari ponselku berbunyi musik sendu dari antrean putar yang telah kususun. Mangkuk mie kuletakkan di atas meja counter dan aku mengaduk isinya.

Aku membunyikan leherku sebagai bentuk peregangan. Ponsel yang terletak tidak jauh dari tempatku duduk kuraih kembali. Jemariku membawaku menyelami instagram.

" Make me the saddest gurl and u win. " Ketikku di stiker pertanyaan instastory .

Aku menunggu tanggapan masuk seraya menyeruput beberapa helai mie. Beberapa menit kemudian aku mengambil kembali ponsel untuk melihat tanggapan.

" Pertama kalian ketemu? "

Aku menuju galeri dan mencari foto yang tepat untuk ekspos jawaban.

" Lucu banget. Awalnya aku minta dikenalin ke temennya temen aku yang mana crush aku. Ternyata nyantolnya malah ke dia <3 "

" Sama dia lebih suka bikin konten Travlogger atau Karaoke Malam Minggu? "

“Travlogger! Bukan berarti aku ga suka bikin konten Karmalming. Aku suka nyanyi, tapi siapa sih yang ga suka liburan jalan-jalan sama doi? hehe.”

“Hai, kak. Dia makin cakep ga?”

" Atas dasar apa kamu tanya-tanya gitu ke saya hmmm?? Iya. Makin cakep banget huhu."

" Siapa yang bilang suka duluan?"

Aku memejamkan mataku yang terasa memanas. " Hehe. Dia orangnya pemalu. Ditambah aku lebih tua dari dia. Aku yang bilang suka duluan tapi hanya bercanda. Tapi dia balas bilang suka dan dia serius soal itu ."

Aku tersenyum, sekali lagi melihat foto kami yang tersimpan di roll kameraku.

"Kak, tell us o ne of your first time with him. We will guess."

" Saat itu setelah kencan ketiga kami. His tastes like a cotton candy :)"

" Yang kakak suka dari dia?"

" Senyumnya, matanya yang ikut senyum waktu dia senyum, his everything. Including his flaws."

" Siapa yang putusin buat … berpisah?"

Aku menelan sesuatu yang terasa mengganjal di kerongkonganku. " Dia. Tapi itu juga gara-gara salahku. Kami putuskan kalau itu jalan terbaik buat kami. Kami memang bertengkar banyak, tapi yang terakhir yang paling hebat."

" Kakak jawab-jawabin ini sambil liat foto-foto lama kakak sama dia ya? :slight_smile: Nothing to say tapi sedih kalian saling unfollow </3"

" Hehe. Tau aja </3 "

" Words for him?"

Aku terpaku melihat pertanyaan tersebut. Bukan salah satu followersku, tapi aku tertarik untuk tetap menjawabnya.

" It hurts me to hurt you. Berpaling dari kamu salah satu kesalahan terbesarku dan aku telat sadarnya. Harusnya aku tau aku cuma jenuh. Rasanya sakit buat benar-benar pisah and I ended up do an unforgivable mistake. We can’t be together again and that’s my biggest regret. Hope u do well. I’m still loving u."

Mie dalam mangkukku tandas. Aku beranjak untuk mencuci mangkuk dan kembali ke ponselku.

Jantungku berdetak cepat saat mendapat dm dari sebuah akun.

" Hope u do well 2. and I (still) love u 2, dummy cupcake."

Air mata yang sebabkan mataku memanas akhirnya berhasil keluar dari pertahanannya.

Orang yang berhasil jadi pemenang untuk jadikanku saddest gurl siang itu; orang yang sama dengan pemenang hatiku.