Puisi untuk seorang pengecut

aku rela ditinggalmu hingga menjadi tulang berontah
aku hanya bisa diam bisu
padahal langit-langit mendung sudah menegurku
kamu merobek hati yang sudah ku kuatkan

namun aku masih saja seperti patung batu
bodo amat , terdiam dan membiarkan begitu saja
tak ingin membahas dari awal
ketika sudah diujung tanduk
aku malah menjadi marah dan menyalahkan

dia bilang " Pengecut "
langit menjadi hujan
aku menjadi genangan
genangan yang hanya jatuh pasrah begitu saja

dia bilang " hambar sudah "
namun ku semakin diujung tanduk
ku ingin letakkan garam , kataku
percuma diulang kamu tetap kayak ular katanya
aku semakin terdiam menelan bisa yang selama ini ku tancapkan sendiri

puisi ini menggambarkan seorang laki-laki pengecut. selama ini ia hanya menghindar dari masalah dengan pacarnya. pacarnya menuntut untuk menyelesaikan masalah ini, namun laki-lakinya hanya menghindar dan mengalihkan pembicaraan sehingga seperti ular ketika didekati selalu menghindar. ketika si laki-laki itu ingin merajuk , ia terlambat karena cewenya sudah berpaling dengan yang lain. ia marah dan merasa dikhianati namun ia juga selama ini hanya diam dan menghindar dari masalah.