Politik Gula Yang Pahit di Masa Lampau

Secara keilmuan, politik bisa diartikan sebagai suatu rentetan asas, teknik atau bisa dikatakan seni dalam mencapai tujuan dan cita – cita kekuasaan. Berbicara mengenai politik, tentunya kita akan mengenal berbagai macam istilah politik yang mengacu pada strategi – strategi dan taktis dalam merebut kekuasaan.

Mengenai hal ini, ada hal yang menarik yang diajarkan oleh Sun Tzu (seorang jenderal Cina Kuno, yang ahli strategi militer , dan filsuf) melalui buku 36 Strategi yang dikarang berabad abad yang lalu, yaitu apa yang saat ini kita kenal dengan istilah “Playing Victim”.

Playing Victim yaitu teknik memposisikan diri sebagai korban atau orang yang terluka demi mengelabui musuh dan lingkungan. Taktik tersebut ditulis tepatnya pada strategi nomor 34, yang berbunyi:

“Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh”.

Jika kita jeli melihat situasi politik saat ini, bermain victim dalam berpolitik ternyata masih cukup ampuh untuk dilakukan, baik oleh politisi dunia maupun di Indonesia. Kita bisa melihatnya dari beberapa peristiwa, isu serta wacana – wacana yang beredar di masyarakat, dan bagaimana framing wacana itu dilakukan guna mengemas opini masyarakat menuju sebuah pemahaman tertentu.

Satu hal penting yang harus kita aware adalah tak ada yang kebetulan dalam dunia politik. Bisa jadi, beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, merupakan hasil rancangan politik guna menggiring opini masyarakat. Mengenai kita menyadarinya atau tidak, semua itu tergantung pada daya kritis dan nalar kita sebagai masyarakat, yang kerap dijadikan objek permainan wacana. Apakah kita sanggup membacanya sebagai bagian dari skenario penggiringan opini, atau kita mampu melawannya dengan melakukan counter issue (kontra atau melawan) dan tidak terjebak pada bingkai wacana tersebut.

Bagaimana menurut Youdics? Tanggapi ya!