Pesan Ibu "Memberi Tanpa Ragu"

Pesan Ibu, “Memberi Tanpa Ragu”
Semilir angin di hari pertama bulan suci ramadan, menyejukkan. Pemuda belia bernama Fikri tampak sedang menjajakan dagangan buka puasa di salah satu kios sudut pasar.
Meski seorang laki-laki, Fikri sangat lihai membuat kue-kue tradisional. Ia melanjutkan usaha ibunya yang dua tahun silam meninggal dunia. Rasa kue buatannya sangat lezat tak kalah saing dengan buatan chef papan atas, ditambah pula dengan tutur katanya yang santun dan raut wajahnya yang ramah menjadi daya tarik pembeli untuk membeli dagangannya.
Baru satu jam membuka kios seluruh dagangan Fikri habis terjual. Ia bersiap untuk mengantarkan pesanan kue seorang pelanggan. Di tengah perjalanan, ia melihat dua bocah terjatuh dari sepedanya. Satu dari keduanya tidak mengalami luka, sedangkan yang satunya tampak kesakitan dengan luka di lututnya. Dengan sigap Fikri membantu, mengambil pucuk daun singkong yang berjajar di pinggir jalan dan mengunyahnya agar dapat ditempelkan di luka sang bocah, ya supaya darah tak mengalir. Setelah selesai, keduanya mengucapkan terimakasih kepada Fikri, “Terimakasih ya Kak atas bantuannya…”
“Terima kasih kembali, oh iya… jika adik-adik bertemu orang yang tengah membutuhkan pertolongan maka tolonglah mereka, dan sampaikan padanya “Jangan lupa bantu saudara-saudaramu yang sedang kesulitan ya, berilah bantuan terbaik dari yang bisa engkau berikan”… Pinta Fikri dengan lembut diiringi sunggingan senyum manis. “Iya kak,” Jawab mereka. Keduanya berlalu, begitu pula dengan Fikri melanjutkan perjalanan.
….
“Ini pesanan kurmanya bu,” terlihat penjaja kurma tengah berada di rumah Bu Salma, pelanggan Fikri. Anak itu masih sangat belia, jika dilihat dari perawakannya seperti masih duduk di bangku sekolah dasar. Fikri berdiri di sampingnya.
“Iya, Terima kasih Nak,…
“Oh ya, ini ada baju koko, bisa dipakai untuk sholat dan mengaji, Ibu bangga padamu. Kamu anak yang pintar, rajin dan semangat. Ibu pesan 2 Kg kurma lagi ya, tolong nanti diantar seminggu sebelum idul Fitri.”
“Siap ibu, terimakasih banyak. Jawabnya semangat.
“Iya, sama-sama Nak. Satu pesan ibu lagi, jika nanti Ahmad bertemu dengan seorang yang membutuhkan bantuan jangan lupa untuk membantu mereka ya nak, bantulah saudara-saudaramu yang sedang mengalami kesulitan dan berilah batuan terbaik dari yang bisa kita berikan.”
“Siaaaap Ibu!”
Fikri terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Bu Salma. Ia teringat dengan pesan yang ia sampaikan kepada dua bocah yang ditemuinya tadi. Ya… permintaan yang sama.
“Oh nak Fikri, Ibu telah menunggu kedatanganmu, mana nak kue pesanan ibu?
“Ini ibu, maaf Fikri terlambat mengantarkannya”
“Tidak apa-apa Fikri, buka puasa bersama di sini ya… Suami dan anak-anak Ibu juga sudah menunggu. Ayo masuk.
Allahuakabar… Allahuakbar…
Adzan Maghrib Menggema, saatnya berbuka.
Lagi dan lagi, Fikri terkejut. Matanya tertuju pada dua bocah yang tengah duduk mengitari meja makan. Mereka adalah dua bocah yang ditolongnya tadi.
“Fikri, kenalkan ini kedua anak Ibu,”
“Mama, kami kenal, kakak itu yang menolong kami kami.” (Sahut Fatih)
“MasyaAllah, terimakasih nak Fikri, sesampai di rumah mereka menceritakan apa yang telah terjadi. Ibu mohon kepada Allah agar dipertemukan dengan orang itu, dan ternyata dia adalah kamu Nak. Allah mengijabah doa ibu. Sekali lagi terimakasih ya Nak.” Fikri Bahagia.
Seketika ia teringat dengan Alamarhumah Sang Ibu. “Ibu, lihat…. Ini pesan Ibu yang selalu Ibu ajarkan pada Fikri. Fikri rindu Ibu. Fikri ingin buat Ibu selalu tersenyum. Semoga Ibu bahagia di sisi-Nya. Semoga pahala kebaikan ini tetap mengalir untuk Ibu. Fikri sayang Ibu. Doanya dalam hati penuh syukur dan takjub.
“Jangan lupa bantu saudara-saudaramu yang sedang kesulitan ya. Berilah bantuan terbaik dari yang bisa engkau berikan” Bu Salma mengulang pesan yang disampaikan oleh kedua anaknya, dan pesan itu bersumber dari kamu Nak. Doakan kami agar bisa menjadi orang-orang yang dapat memberikan kebaikan dan kebermanfaatan kepada sesama ya Nak.”
“Iya Ibu, Aamiin.”
Senyum penuh kebersyukuran menggenapi betapa indahnya keberkahan di bulan Ramadan.
Kata-kata yang baik adalah ladang pahala. Ketika engkau tidak bisa berbagi dengan harta, maka engkau bisa berbagi dengan pesan-pesan mulia. Jika pesan itu diamalkan oleh orang yang menerimanya dan terus berlanjut kepada orang selainnya, maka selama itu pula engkau berada dalam lingkaran stafet kebaikan yang pahalanya mengalir deras tanpa batas. Bahkan hingga nanti engkau meninggal dunia. Alangkah bahagianya seorang insan yang telah berhenti nafasnya namun tetap mengalir pahala untuknya.
Inilah motivasi diri untuk bermanfaat bagi sekitar, motivasi ini kudapati dari PESAN IBU “MEMBERI TANPA RAGU.