Pesan Daun Jati Kering

Saat ini kakiku menginjak tanah merah bertekstur liat. Remah-remah tanah mengganjal di telapak sepatuku. Sejenak aku menatap tanah kosong yang melompong di bawah lembah yang luas. Tatapanku terpaku pada pepohonan kering kerontang tanpa atribut hijau yang dibanggakan. Daun-daun yang mereka banggakan gugur seiring demgan musim kemarau panjang—menambah luka derita mereka. Beberapa pohon yang tersisa menyisakan jerit tangis kesakitan. Selayang jarak pandangku juga menyapa dua dari beberapa pohon jati tua, yang tengah meraung. Beberapa dahan menjuntai dengan keadaan yang menyedihkan. Tanpa daun dan ranting. Mereka korban orang orang biadab yang tega mengarahkan mesin dan kapak-kapak kearah perut perut kayu tua yang tak berdaya. Deruman mesin penebang itu meraung di tengah hutan yang sepi tanpa penjagaan.
Kemudian, sekilas aku melambungkan pada sebuah ingatan. Tentang masa masa zaman aku masih anak anak. Dimana aku tidak sekonsisten sekarang. Dulu aku sering ikut anak-anak yang bernotabene bandel ke hutan. Disana kami bermain main di bawah pohon jati—waktu itu pohon itu masih setinggi rumaku. Salah satu dari kami yang bernama Dujid dinilai terlalu beranidan arogan. Pendek kata dia terlalu membanggakan diri dan selalu bertindak yang membahayakan sekitarnya—perbuatan yang paling tidak kubenci saat itu.
“Kita bakar daun-daun ini!” remaja tanggung bertubuh kurus) itu mencari-cari korek api. Kebetulan aku yang memegang korek api itu.
“Jangan dibakar!” Aku bergumam lirih, takut terdengar olehnya. Tapi sial, dia mendengarku.
“Jangan di bakar katamu!” Dia mendengus marah.
“Kalau beghitu, kamu yang aku bakar!” sinis Dujid dengan berang.
Kalau sudah berbau intimidasi aku paling terdiam. Tidak ada gunanya berdebat dengan anak yang sudah dianggap ‘ketua’ tidak resmi oleh kami semuanya.
Dua hari kemudian, kabar itu terjadi. Kabar mengenai anak anak yang terlibat dalam pembakaran hutan jati. Kami semua ditangkap dan dibawa ke kantor kelurahan. Kami disidang dan dijadikan sebagai tersangka utama. Atas undang undang yang berlaku, tidak main-main kurungan penjara selama 15 tahun. Namun karena kami masih dibawah umur, maka hukum hanya memberikan pembinaan khusus selama sebulan di Polres dan mendapat catatan khusus: dalam pengawasan hukum.
Kisah itu berlalu. Aku sadar, seharusnya aku mencegah mereka. Alam ini harus tetap dijaga keseimbangannya. Bukan malah membiarkan mereka bertindak merajalela seperti itu. Tapi untuk kesekian kalinya, aku tak berdaya. Aku hanyalan manusia yang memiliki empati tinggi terhadap alam dan sialnya aku tidak memiliki kekuatan apa-apa. Saksi terhadap tindakan kriminal bukanlah hal yang mudah.
Detik berikutnya, aku dikejutkan suara gemertak daun kering terinjak kaki. Aku menoleh dan mendapati orang itu berdiri tanpa keramahan.
“Kau mau mencegahku? ” Lelaki tua berkumis melintang itu mendengus. Raut monster alam terukir diwajahnya yang dekil.
Aku berusaha menenangkan diri. Bagaimana pun juga dia orang tua yang selayaknya diberi penghormatan.
“Kau mau menangkap ku, Bari?” Pak Duyat bertanya lagi seraya mengacungkan kapaknya.
Aku menelan ludah kering. Berhadapan dengan seorang penjahat hutan tidak main-main. Nyawa sebagai taruhannya.
“Tidak. Aku bukan mandor hutan!” jawabku lirih.
Pak Duyat terkekeh. Dua orang kawanannya bergabung. Masing masing membawa gergaji tangan.
“Bagus. Jadi orangsok pahlawan ini ternyata tak bernyali. Nah, sekarang pulanglah.”
Aku bingung harus berbuat apa. Kakiku terasa berat meninggalkan mereka bertindak seenaknya merusak hutan. Ayah Zakiya itu bukan tipe lelaki yang biasa diajak kerja samanya.
“Tunggu Pak!” Tiba- tiba aku membuka suara. Lelaki tua sah dua temannya itu berhenti. Tatapan mereka setajam predator yang tengah mengawasi mangsanya.
“Aku memang bukan petugas keamanan hutan. Tapi aku sangat sedih melihat hutan yang berpuluh puluh tahun terjaga ini di rusak oleh anda!”
Seketika mereka tercengang. Wajah ketiga orang itu merah padam. Dan tidak diragukan lagi mereka juga tersinggung dengan ucapanku.
“Apa maumu?” bentak Pak Duyat.
“Hentikan semua tindakan ini, Pak!”
Pak Duyat mendengus kesal. Tangan kanannya masih menggenggam erat kapak itu.
“Tahu apa kau tentang hutan?” Pak Duyat membela dengan nada sinis. “ Kau anak kemarin sore. Masih bau kencur!”
Aku menelan ludah kering. Pak Duyat menunjukkan pembelaan yang menurut ku konyol.
“Maaf, kalau aku tak sopan. Tapi ini demi bumi kita. Tanpa hutan…”
“Kata-katamu tak membuat kita kenyang!” Pak Duyat memotong keras. “Pergi dari sini. Sebelum kapak ini mencincang tubuhmu!”
Aku tak lagi menemukan kata kata yang tepat. Apalagi ketika mereka pergi dengan seenaknya.
Aku terdiam sambil berpikir, kalau aku sebenarnya ini tidak becus menghalangi mereka untuk mengurungkan niatnya merusak hutan. Aku merasa tak berguna.