Perjalanan Tak Bertuan

Sendiri
Perjalanan Tak Bertuan

Tak ada yang salah jika kau ingin terus berjalan. Begitu juga dengan diriku. Berhari-hari aku menyusuri sudut kota untuk mencari kelegaan dalam hidup. Tiba-tiba aku dibuat terkejut oleh suatu tempat yang tak biasa. Tempat yang tak pernah kuduga. Tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Jika kau ingin tahu seperti apa tempat itu, akan kuceritakan. Dengarkan baik-baik. Tempat itu bagai sebuah gua tak bertuan. Penuh dengan bebatuan dan cahaya temaram. Jika kau masuk ke dalamnya, kau takkan menemukan sosok siapapun. Kuberanikan diri untuk melangkahkan kaki, menyusuri setiap lorong, dan aku kembali dibuat terkejut. Kutemukan cahaya di tengah kegelapan dan cahaya itu berasal dari sebuah api. Kakiku semakin cepat melangkah. Namun, langkahku terhenti. Seketika itu api yang membuatku hangat sejenak, padam tanpa kuduga.

Selembar kertas tergeletak di sebuah batu. Kuambil dan kubaca dengan seksama, sebab aku tak tahu apa yang membuat api indah itu padam.

Api ini tak pernah padam sejak dulu. Namun, jika kau temukan api padam saat kau datang, maka kau adalah salah satu keturunan pemilik api itu.

Aku hanya bisa menatap kertas itu dengan nanar. Tak pernah terbesit di pikiranku bahwa aku apa? Keturunan pemilik api itu? Bagaimana bisa manusia sepertiku yang hanya ingin melarikan dari kehidupan menjadi pemilik api indah yang telah lama menerangi tempat ini?

Sejenak aku terdiam dan mulai duduk di sebuah batu besar sambil bersandar pada bebatuan kokoh. Aku tak mengerti dengan keadaan ini. Aku merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa yang terjadi.

Aku tak menyangka jika perjalananku akan seperti ini. Perjalanan yang membuatku harus berpikir ulang, apakah aku harus beristirahat atau melanjutkan? Terkadang pilihan-pilihan hidup yang membuat gusar, membuatku enggan berujar. Perjalanan yang kuharapkan akan indah, tanpa kuduga berakhir pada padamnya sebuah api yang entah bagaimana bisa kutemui tanpa terencana.

Padamnya api itu membuatku tersadar bahwa aku tidak berguna. Aku tak dapat melakukan apapun saat semuanya terjadi di luar kendaliku.

“Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Api indah ini sirna saat kehadiranku. Apakah ini pertanda bahwa aku bukanlah manusia baik di muka bumi ini?” Aku mencoba mencari jawaban dari pertanyaanku. Namun, semua itu percuma. Tidak ada siapapun di gua ini. Hanya aku dan bebatuan besar yang seakan marah kepadaku, bahkan siap menelanku hidup-hidup.

Tak ada yang bisa kulakukan selain termenung. Diam seribu bahasa tanpa tahu harus bagaimana. Andai saja ada seseorang yang dapat menjawab segala kebingunganku, mungkin aku tidak akan sekalut ini.

“Oh, Tuhan… Mengapa aku tidak bisa menjaga hal kecil seperti ini? Bagaimana nanti saat Kau memberikanku titipan yang begitu besar? Apakah aku bisa menjaganya? Aku takut, Tuhan. Aku takut tak dapat menjalani kehidupan yang baik sesuai dengan amanahMu.” Tak henti-hentinya aku sesenggukan di depan sisa api itu. Namun, tetap saja percuma. Api indah itu tidak akan pernah bisa menyala lagi.

“Apa aku pergi saja dari tempat ini? Siapa tahu api ini akan menyala suatu saat nanti.”

Aku mulai berdiri dan kembali meneruskan perjalananku yang sempat terhenti. Jika kau ingin tahu kemana aku akan pergi, aku pun tak tahu. Aku hanya ingin lari dari sebuah ketidakberdayaan. Bersama angin. Bersama angan.


Image by: pinterest
Cerpen tema: perjalanan
Challenge 30 Hari Menulis Sastra

1 Like