Perjalanan Sandal Beda Kelas

flipflop

Summary

Picture by Google

Sandal-sandal yang begitu beragam tertata rapi di toko-toko. Mereka membicarakan diri mereka sendiri perihal siapa yang akan membeli. Dua pasang sandal sedang saling tatap, anggap saja namanya Niki dan Putu. Niki, sebuah sandal jepit pasaran yang dibeli oleh suami istri sederhana. Sedangkan Putu, sebuah sandal kulit limited edition yang dengan cepat terjual dan dipakai pengusaha kaya.

Setelah lama sejak tatapan terakhir mereka, akhirnya mereka bertemu kembali di tempat pembuangan sampah. Niki terkejut melihat Putu di tempat seperti ini. Mereka pun bercerita tentang perjalanannya masing-masing.

“Putu? Loh, kok kamu bisa disini, padahal kamu nampak masih bagus dan mengkilat?” tanya Niki dengan mata terbelalak.

“Ohh, Niki. Biasa saja kali…lihatnya. Aku juga sama kaya kamu, kalo udah rusak juga bakal dilempar ke tempat sampah sama pemiliknya. Tapi aku senang lho…, bisa ketemu kamu disini. Aku sudah tak nyaman tinggal bersama majikanku yang kejam. Akhirnya aku terbebas juga sekarang….” Putu tersenyum lebar dan matanya semakin berbinar. Sedangkan Niki masih heran dan tak paham.

“Tunggu tunggu…apa maksudmu? Aku cuma sandal jepit murah, beda denganmu yang mahal dan berkualitas, perjalananmu pasti sangat menyenangkan.” sanggah Niki tak percaya.

“Ki, aku kecewa pada pemilikku, lebih baik aku menjadi penghuni abadi toko, daripada dibeli oleh seorang pengusaha kaya raya dengan uang hasil korupsi. Aku tak sudi! Aku tak sudi dibeli dengan uang haram, Ki. Ia seperti monster, tubuh gempalnya, balutan jas kantornya, tak ubahnya kekejaman. Matanya, seringainya, penuh keserakahan. Aku tak betah di kaki busuknya, aku sudah menjadi hina, Ki, aku haram. Hingga suatu waktu, aku terpaksa membuatnya tersandung di dekat selokan, ia tersungkur, aku masuk selokan dan sol sandalku pun terlepas sebagian. Tanpa ampun, ia memaki-maki diriku, seakan ia tak pernah berdosa. Akhirnya sampailah aku di sini. Kuharap nasibmu lebih baik dariku, Mel?” Putu merasa lega setelah bercerita.

“Benarkah ada orang sekejam itu, Put?” tanya Niki meyakinkan.

Putu pun mengangguk semangat penuh kepastian.

“Waktu itu, ada pasangan suami istri datang ke toko, ia membeliku setelah melihat papan diskon 20% yang tergantung. Meski aku nampak terlalu besar di kaki sang istri, ia tetap menerimaku. Bahkan merawatku dengan segenap hatinya, sampai aku mulai rapuh dimakan usia. Sang istri terpaksa harus merelakanku untuk dibuang ke tempat ini. Huh, aku pun rindu pada majikanku itu.”

“Sungguh beruntung kau, Ki. Pupus sudah harapanku untuk dirawat penuh kasih seperti oleh majikanmu.” Putu mengeluh lalu tertidur karena kelelahan.

Niki pun berdoa hingga tengah malam agar Putu diberi kesempatan untuk mendapat pemilik yang sayang padanya.

“Niki! Bangun, Ki.” teriak Putu antusias.

Niki yang masih setengah sadar segera melihat sekitar, “Putu, ada apa? Siapa orang itu?” tanya Niki bingung setelah melihat seorang pria mengorek sampah dan memungut Putu.

“Aku pergi, Ki, mantan majikanku memungutku, mungkin ia telah bertobat. Sampai bertemu lagi, Niki.”

Niki terbangun saat mentari sudah terik, ternyata ia kesiangan.

“Huh, aku pasti akan merindukan Putu.” gerutu Niki pada diri sendiri.

“Hey, Ki. Bangun-bangun langsung kangen saja sama aku….” teriak Putu mengejutkannya.

“Loh, Putu kamu masih di sini?” tanya Niki heran.

“Maksudmu gimana, Ki? Oh, tadi kamu mimpi! Majikanku mungkin sudah dalam jeruji, Ki, hahahaa….”

Niki pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Selesai.

1 Like