Perjalanan bernama maraton

Ia menghembuskan napasnya. Terengah. Tapi dia bahagia. Melihat dia berada di titik ini, senyumnya sumringah, bahagia. Perjalanan panjang telah berakhir. Kini, dia telah menyelesaikannya. Lari maraton merupakan kegiatan yang mengajari tentang bagaimana hidup berjalan. Dia tau itu. Ya dia tahu ketika dia telah melakukannya, tapi setidaknya kini dia tahu arti hidup, arti perjalanan panjang seorang manusia.
Dalam lari maraton kita memulainya Bersama-sama ribuan orang yang ikut serta turut meramaikan garis start. Garis kehidupan dimulai. Menggantungkan hidup pada dunia. Memiliki tujuan dan harapan. Menjadi juara. Walau kemungkinannya kecil, tapi harapan itu ada. Terus ada. Mendorong kaki ini terus berlari sekencang tenaga melewati ribuan orang. Berharap menjadi juara. Berharap. Dengan penus usaha dan tenaga.
Tapi hal itu tak bertahan lama.
Kilometer pertama, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga. Dalam lomba lari marathon, kebanyak orang akan mulai berjalan setelah kilometer keempat, apalagi kelima. Mereka akan mencoba untuk terus berlari tapi kaki akan melawan. Disinilah kemudian kaki akan terhenti. Rintangan. Dalam hidup, usaha dan harapan bukanlah segalanya. Ada yang lebih penting. Tenaga. Fisik. Jasamani ini perlu diatur. Ada disiplin dimana tubuh akan melakukan sesuatu yang perlu dan terus dilakukan ketika semua orang tidak melakukannya. Berlatih. Pada tahap ini, latihan yang dilakukan di awal dipelajari. Menjadi suatu pelajaran hidup dalam menghadapi rintangan. Karena setiap orang memilki rintangannya masing-masing, skalanya masing-masing, kelasnya masing-masing. Tapi Latihan menghadapi semua kemungkinan adalah hal yang tepat. Terbiasa bukan lagi usaha tapi bakat. Bakat yang menjadi keharusan. Ketahanan yang bertambah dari Latihan akan terus menguatkan.
Tapi hingga kapan?
Pada kilometer kesepuluh, tubuh lelah dan perlu istirahat. Memang, kadang rehat adalah pilihan yang terbaik. Ketika tubuh tak dapat dipaksakan, rehat sejenak. Lalu bangkit. Kembali pada jalan. Terus dalam lari menuju impian. Semudah itu. Tapi rehat, menghilangkan sesuatu bernama semangat, menyembunyikan sesuatu bernama tenaga, memperkenalkan sesuatu bernama hiburan. Dia berkerlap kerlip bagai bintang penuh dengan dusta. Dia terus bersinar tapi tak akan lama. Dia layaknya madu padahal racun. Ketika mereka sudah lewat dari trek, impian hilang seakan tak ada penyesalan. Tapi ingat, semua itu dusta. Dalam sekejap penyesalan kemudian datang.
Fokus, dalam hal ini kita diajarkan untuk terus fokus. Hidup adalah tentang siapa yang mengejar mimpinya dengan terus melangkah kedepan. Membuka jalan-jalan yang tak mungkin dan terus berada pada jalan kesuksesan. Bukan karena tak melihat hiburan, tapi karena ia tahu bahwa fokus akan membawanya pada suatu yang lebih baik. Fokus, rehat dalam tujuan yang jelas. Pada jalan yang benar. Bukan menyimpang. Apalgi berhenti hanya untuk menikmati sesuatu yang tak pasti. Basi. Itu pikiran seorang yang maju melaju tanpa ragu. Terus mengejar harapan yang terngiang sedari awal perjalanan panjang ini dimulai.
Pada lima kilometer terakhir, datanglah sebuah pelajaran lain. Bertahan.
Ketika semua sudah ada di depan mata, kadang kita lupa kalau kita perlu bertahan. Disiplin menjaga stamina dengan berlatih kemudian rehat lalu tetap fokus tapi tak bertahan. Semua itu akan sia-sia. Hanya akan menjadi penyesalan yang tak terkira. Sekarang, seberapa manusia di muka bumi ini yang gagal hanya karena tidak bertahan? Banyak. Karena hanya ia yang bertahan sampai akhir yang diingat dan terkenang. Hanya yang meraih mimpinya yang dianggap. Hanya ia yang terus berlari hingga akhir. Bertahan. Jaga hal hal baik dan terus berlari adalah kunci. Dan dia yang melakukan itu, adalah pemenang.
Ia tahu itu, ia telah menyelesaikan semuanya.
Terakhir, pelajaran terakhir adalah tentang akhir dari perjalanan ini. tidak ada yang tahu raga akan terjaga hingga kilometer keberapa. Tidak ada yang tahu. Ketika pertandingan tidak mencapai akhirpun, semua itu nyata. Jadi, mengakhiri dengan ikhlas dan lapang dada adalah pelajaran selanjutnya. Ketika pertandingan berakhir, sesuai atau tidak dengan harapan, kita harus ikhlas mengakhirinya. Selamat tinggal. Kata yang sulit tapi semua usaha yang disiapkan berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun itu harus usai. Sampai disini. Dan ikhlas menerima hanya itu hal yang perlu dilakukan. Hal yang akan terjadi selanjutnya, bukan lagi kuasa kita. Usaha terbaik telah dilakukan. Penyesalan tak perlu lagi dilakukan, lain kali kita harus melakukan yang terbaik.
Ia meresapi itu. Lomba lari marathon ini mengajarkan kehidupan. Kini dia harus ikhlas, walau tak menjadi nomor satu, tapi menyelesaikannya adalah anugrah. Perjalanan 20 kilometer ini telah usai. Dia harus bangga, tak perlu lagi menyesal. Dia harus bahagia.
052783100_1563426242-asphalt-daylight-empty-1259349
Sumber gambar : pinterest

1 Like