Pergi Untuk Kembali

dbcaac5daab293e7d105df4cb314d2c7

Terbaring lemah tak berdaya, masih dengan selang infusan di mana-mana. Tubuhnya semakin kurus dan keriput di wajahnya semakin terlihat nyata. Usia yang semakin menua bersama penyakit yang telah lama beliau derita. Aku masih menunggu ayahku yang sudah 3 hari di rawat di rumah sakit ini.

Kata dokter, ayahku terkena tumor otak. Itu akibat dulu ia pernah terjatuh di tempat kerjanya. Ia seorang pengawas kontruksi bangunan. Ayah yang seorang insinyur teknik sipil, saat ini sudah tidak dapat bekerja lagi. Sudah lebih dari 5 tahun beliau menderita tumor otak. Dan baru saat ini, ayahku di operasi. Sebab kata dokter, sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Karena kami bukan tergolong keluarga yang mampu, kami butuh waktu untuk melakukan operasi itu. Hingga ayah sembuh dengan sendirinya dan terbaring kembali seperti saat ini.

“Ayahmu belum tersadar, Rin?” tegur sang ibunda setelah masuk ke dalam kamar.

“Eh … Ibu, belum bu. Yaudah Ririn pulang dulu ya, Bu. Kasian nanti Rina dan Rio di rumah sendirian,” jawabku mengkhawatirkan kedua adikku di rumah.

“Mereka tadi udah berangkat ke sekolah, dan ibu juga udah masakin mereka makanan. Nih, ibu juga bawa buat makan di sini. Jangan lupa nanti suruh adik-adikmu belajar. Tanyakan kalau ada tugas rumah atau tidak.”

“Baik, Bu. Ririn pulang dulu nanti sehabis maghrib kembali lagi ke sini.”

Aku pun bergegas keluar dari kamar ayahku dirawat. Aku pun keluar meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah. Aku memang punya adik perempuan masih sekolah di bangku SMP dan adik laki-laki masih sekolah di bangku SD. Sedang aku baru saja lulus SMA tahun ini dan sedang mencari pekerjaan. Seandainya, ayahku masih bekerja mungkin aku sudah melanjuti ke perguruan tinggi. Tapi ayahku sudah beberapa bulan tidak bekerja. Sekarang ibulah yang membantu ayah mencari nafkah dengan usahanya yang baru 1 tahun berjalan. Aku memutuskan untuk bekerja saja daripada menyusahkan orang tua.

Hari masih pagi, tiga hari yang lalu ayahku selesai di operasi. Dokter bilang, operasinya berjalan lancar. Namun beliau harus dirawat dulu hingga seminggu atau dua minggu ke depan di rumah sakit. Aku sampai di rumah. Karena aku belum sarapan, aku sarapan dulu sebentar. Lalu membantu pekerjaan rumah yang belum sempat ibuku kerjakan. Kita memang gantian menjaga ayah di rumah sakit. Selama ayah di rawat, aku yang mengurus usaha ibu di rumah. Beliau menjual aneka cemilan dan minuman kekinian. Awalnya tidak seramai sekarang, berkat aku yang mengenalkan dunia online. Usaha ibu jadi berkembang perlahan.

“Ahh … habis bebenah rumah cape juga jadi ngantuk gue. Mending gue tidur siang dulu deh sebentar, Rina dan Rio juga belum pulang. Masih 3-4 jam lagi mereka pulang,” gumamku

Aku pun menjatuhkan tubuhku yang lelah bersama mata yang sulit berkompromi lagi ke atas kasurku yang empuk.

Sudah dua jam lebih aku tertidur. Aku berpikir daripada diam di rumah tidak ada kerjaan. Mending buka warung saja. Karena memang sudah 3 hari ibu tidak buka warung usahanya karena beliau mengurus keperluan ayah di rumah sakit.

Tidak lama adik-adikku pulang dari sekolah …

" Tumben Kak, buka warungnya?" tanya adikku sesampainya di depan rumah.

“Eh … Iya, Na. Kamu udah pulang? Baru aja berapa menit sih Rio pulang. Eh, disuruh makan malah kabur main. Bandel banget tuh anak. Nurutnya sama ibu doang,” tukasku.

“Emang dia gitu, Kak. Nanti Rina bantu Kak Rin jualan juga ya? Tapi, Rina mau makan dulu ahh, laperr.”

Tak lama Rina masuk ke dalam rumah, ponselku berdering. Ku buka, ternyata panggilan dari ibu. Aku pun mengangkatnya.

“Hallo, Bu … ada apa? Lah kok Ibu malah nangis. Ada apa, Bu?? Ii-iyaa, Bu tenang. Sebenarnya ada apa, Bu?” tanyaku yang tiba-tiba panik.

“Ii-ituu … ayahmu, Rin. Ayahmu …” tutur ibuku dengan suara bergetar.

“Ayah? Ayah kenapa, Bu? Bukannya ayah belum siuman. Apa ayah sekarang udah siuman, Bu? Kok Ibu nangis. Kenapa, Bu?”

“Berapa jam yang lalu ayahmu memang udah siuman, tapi sekarang … tapi sekarang beliau … beliau, ayahmu telah pergi, Rin …” isak ibu tak kuasa menahan kesedihan yang begitu mendalam.

“Maksud Ibu telah pergi apa, Bu?”

Aku masih belum bisa mencerna perkataan ibuku, namun firasatku sudah tidak enak.

Dan ternyata benar sekali, ibu mengabarkan berita yang seharusnya aku tidak mau dengar saat ini juga. Ayahku telah tiada. Beliau telah pulang ke asalnya. Ayah sudah meninggal dunia beberapa menit yang lalu. Aku hanya bisa bergeming menatap kosong di depanku. Aku terduduk lemah tak percaya akan berita yang baru saja aku dengar dari Ibu.

Setelah beberapa menit aku hanya bergeming dengan air mata yang membanjiri pipiku. Aku pun menutup warung dan bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Adikku, Rina juga shock dan histeris mendengar berita duka ini. Aku mencari Rio sekaligus mengabarkan saudara-saudaraku yang lainnya.

Aku, kedua adikku dan om-ku bergegas ke rumah sakit. Sesampainya di sana, aku melihat ibu masih memeluk tubuh ayahku yang telah kaku. Kini aku menghambur dan memeluk ayah dengan air mata yang tidak bisa berhenti lagi. Begitupun dengan kedua adikku. Kami berempat masih memeluk tubuh ayah dengan kesenduan meliputi seluruh ruang ini. Om-ku mengurus kepulangan ayahku dari rumah sakit ini, agar jenazahnya dapat kami bawa pulang.

Setibanya di rumah, keluarga besarku telah menyambut dan mempersiapkan segala keperluan untuk jenazah ayahku. Ayahku dimakamkan esok harinya. Banyak sekali pelayat dari para tetangga dan kerabat ayahku yang ikut mengantar kepulangan ayahku ke tempat istirahat terakhirnya.

Para pelayat yang mengantar ayahku telah pergi meninggalkan pusara ayahku. Hanya tinggal kami berempat yang masih duduk menatap gundukan tanah merah dan menatap kosong ke batu nisan bertuliskan nama ayahku.

“Ayo, Nak. Kita harus kembali ke rumah. Ayah udah tenang. Ayah udah nggak sakit lagi. Perjalanan panjangnya telah sampai. Beliau telah sampai ke rumah abadinya. Ayahmu udah pulang ke rumahnya. Memang ini berat untuk kita semua. Duka ini akan terus terkenang. Namun, kita harus tahu kalau semua yang bernyawa pasti akan pergi dan kita hidup di dunia hanya sebuah perjalanan untuk kita kembali ke asal muasal kita,” tutur ibu menenangkan dan menyadarkan kami semua.

Ibu pun juga berkata, kalau kita juga sedang melakukan perjalanan itu sekarang. Hanya saja siapa yang duluan sampai tidak ada yang tahu. Dan dengan mengikhlaskan yang telah pergi adalah satu-satunya cara kita berdamai dengan kedukaan yang mendalam.

TAMAT
.
:camera:: Pinterest
.
.
.

Jakarta, 13 Oktober 2020
Oleh: Yuki Shiota
Challenge 30 Hari Menulis Karya Sastra || Hari ke 23 || Cerpen Tema Perjalanan

1 Like