Pentingkah Keseimbangan Logika dan Emosi Untuk Kesehatan Mental?

IMG_9122

Kesehatan mental adalah salah satu komponen kesehatan yang perlu diperhatikan selain kesehatan fisik. Mengapa demikian? Keadaan mental yang terganggu dapat memengaruhi aktivitas fisik sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari.

Menurut Synder (2011), kesehatan mental mencakup kemampuan individu untuk menikmati hidup dan menciptakan keseimbangan antara aktivitas kehidupan dan upaya untuk ketahanan psikologis. Sehingga diperlukan keahlian dalam mengendalikan diri dengan cara membiasakan sejak dini.

Fungsi mental sendiri berdasarkan World Health Organization (WHO, 2001) adalah untuk membentuk pemahaman yang lebih lengkap tentang pengembangan gangguan mental dan perilaku sebagai fondasi fisiologis yang berhubungan dengan fungsi fisik dan sosial serta keadaan kesehatan keseluruhan.

Graham (2014) menuliskan bahwa kesehatan mental dapat menyoroti beberapa aspek antara lain kesejahteraan emosional, kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan kreativitas, fleksibilitas menghadapi permasalahan yang tidak bisa dihindari, juga tentang kepuasan dan kebahagiaan dalam diri individu yang bersangkutan.

Pentingkah keseimbangan logika dan emosi untuk kesehatan mental?

Pikiran dan perasaan adalah dua hal yang saling berhubungan, tidak peduli apakah sejalan ataupun tidak. Kita sebagai makhluk sosial pasti akan menghadapi masalah dalam berbagai tingkatan mulai dari yang ringan, sedang, hingga berat. Setiap orang pasti memiliki respon yang berbeda dalam menanggapi suatu masalah. Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan menggunakan akal pikiran saja, ada yang harus menggunakan perasaan untuk melihat dampak jangka panjang dari apa yang akan kita lakukan.

Namun, semua itu harus kita lakukan sesuai porsi dan kemampuan kita dalam menjalani. Jika kita tidak bisa menangani ini dengan baik, keadaan kita justru akan semakin terpuruk dengan adanya masalah yang tidak akan bisa kita hindari dalam hidup. Mari kita bahas satu per satu mengenai logika dan emosi serta bagaimana keduanya bisa berpengaruh pada kesehatan mental kita.

Logika adalah keadaan mempelajari masalah penalaran seperti cara berpikir, ketepatan jalan pikiran, dan menyimpulkan pernyataan dari pikiran yang ada (Putro, 2013).

Logika sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi di tiap masalah agar penyelesaikan yang dilakukan tepat dan sesuai dengan konteks permasalahan. Dalam keseharian, logika ini dimenangkan oleh kebanyakan kaum laki-laki daripada kaum perempuan. Mengapa? Kebanyakan laki-laki tidak ingin bertele-tele menanggapi suatu masalah karena akan memperpanjang atau malah menambah masalah lain. Alih-alih perempuan yang berlaku sebaliknya. Ketika pikiranmu menghendaki sesuatu, pasti kamu akan mengusahakan segala cara agar apa yang kamu rencanakan itu tercapai. Namun, ketika apa yang kamu harapkan itu tidak sesuai pasti akan muncul perasaan kecewa dan memicu terjadinya stres. Oleh karena itu, tidak ada masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan logika.

Berdasarkan teori lama dari buku oleh Frijda (1993), emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Ketika dihadapkan oleh suatu masalah, seseorang akan secara spontan mengidentifikasi seberapa sulit keadaan yang akan dihadapinya. Saat itu juga seseorang akan merespon masalahnya dengan emosi yang berbeda-beda. Emosi ini kebanyakan akan dipengaruhi oleh keadaan seseorang itu sendiri sebelumnya. Apakah sebelumnya dia sedang menghadapi masalah atau sedang dalam keadaan sulit, ataukah dia sedang baik-baik saja dan siap menghadapi masalah yang ada. Emosi atau perasaan ini yang biasanya akan menjadi tolak ukur seseorang untuk melihat jangka panjang dari penyelesaian masalah yang akan dipilih. Tidak semua orang bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Ketika emosi kita gunakan secara berlebihan, dampaknya juga akan buruk untuk diri kita sendiri dan orang sekitar kita. Jadi, emosi bukan komponen yang harus diutamakan dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah.

Dari pembahasan tentang logika dan emosi diatas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental salah satunya adalah keadaan ketika kita bisa menyeimbangkan keadaan fisik yang akan diatur oleh pikiran kita dan psikis yang akan diatur oleh perasaan. Penting untuk menyeimbangkan keduanya karena ketika dua hal tersebut bertolak belakang, akan timbul “perang dalam diri” dan akan membuat kita bingung dalam mengambil keputusan.

Kebingungan ini akan memicu stres sehingga bisa mengganggu kenyamanan pada diri kita sendiri. Dalam gambar diilustrasikan tentang tiga keadaan pada diri seseorang ketika menghadapi masalah. Pertama adalah orang yang lebih mengutamakan logikanya, kedua adalah orang yang mengutamakan emosinya, dan yang ketiga adalah orang yang berusaha menyeimbangkan keduanya.

Pada keadaan pertama, dimana seseorang yang lebih mengutamakan logika atau pikirannya untuk menghadapi masalah. Seseorang yang terlalu melibatkan “otak” dalam mengambil keputusan, terkadang lupa kalau orang lain punya “hati” yang kodratnya sensitif. Bisa saja secara tidak sadar atau tidak langsung merasa tidak nyaman. Tidak semua logika bisa dijalankan secara keseluruhan karena keputusan yang realistis kadang tidak memberi toleransi perasaan. Keadaan ini yang berpotensi membahayakan diri seseorang dan orang-orang disekitarnya karena salah satunya bisa merusak hubungan dan memutus komunikasi antara mereka.

Untuk keadaan kedua, seseorang yang terlalu menggunakan emosi atau perasaannya saat menghadapi masalah. Hal yang seperti ini juga tidak baik jika dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah. Solusi yang terlalu “dirasakan” tidak menjadi penyelesaian suatu masalah. Seseorang hanya akan terfokus pada perasaan orang lain dibandingkan mencari jalan keluar permasalahan. Ketakutan akan ditinggalkan, dijauhi, dikucilkan, atau bahkan dibuang dari komunitasnya bisa jadi alasan seseorang kadang memilih posisi seperti ini. Maka dari itu diperlukan kontrol diri yang baik. Kontrol diri bisa diawali dengan kedewasaan yang tiap orang memiliki waktu masing-masing untuk mencapainya. Tidak selalu seseorang yang berumur lebih tua memiliki kematangan emosi yang cukup. Banyak faktor yang akan mempengaruhi keadaan emosional seseorang.

Keadaan terakhir adalah seseorang yang berhasil menyeimbangkan logika dan emosinya dalam satu garis. Kondisi seperti ini yang perlu waktu untuk mencapainya. Selain butuh “ketegaan”, juga perlu “ketegasan” dalam menyelesaikan masalah dengan posisi ini. Dengan kata lain, seseorang yang bisa berpikir tentang penyelesaiaan tanpa harus melukai perasaan orang lain adalah pencari solusi yang terbaik. Bukan hanya tentang orang lain, seseorang yang berada pada posisi ini juga sangat menyelamatkan kesehatan mentalnya dari “perang batin”. Pengalaman dan jam terbang menghadapi berbagai model masalah juga bisa menjadi faktor seseorang mampu menghadapi masalah dengan kepala dan dada yang dingin.

Oleh karena itu, kita terutama sebagai remaja yang kebanyakan masih memiliki kepribadian yang belum stabil harus mulai belajar mengendalikan diri. Karena mau bagaimana pun, suka tidak suka, mau tidak mau, hidup kita akan selalu dihadapkan oleh masalah dan kita tidak selalu punya pilihan selain menghadapi dan mencari solusi. Jangan terlalu terpaku dengan keadaan orang lain dalam mengatasi permasalahan. Ingat bahwa dirimu sendiri perlu diperhatikan sebelum membantu orang lain.

Sumber:

  • Frijda, N.H., 1993. Handbook of Emotions: Moods, emotion episodes, and emotions. New York: Guilford Press.
  • Graham, Michael C., 2014. ‘Facts of Life: ten issues of contentment’, Outskrits Press, pp. 6-10 (Tanggal akses 14 April 2020)
  • Putro, Hendro Trieddiantoro, 2013. Logika.
  • Snyder, C.R., Shane J. Lopez, Jennifer Teramoto Pedroth, 2011. Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strenghts second edition. US: SAGE Publications.
  • World Health Organization, 2001. The World Health Report: Mental Health: New understanding, new hope. Geneva: World Health Organization.strong text
27 Likes