Pengertian dan Pengolahan Feronikel

Feronikel

Feronikel dihasilkan dari peleburan reduksi bijih nikel oksida atau silikat yang mengandung besi . Pengolahan bijih nikel laterit menjadi feronikel merupakan suatu metode yang paling umum digunakan di industri saat ini. Proses ini ditujukan untuk bijih saprolit yang kaya akan magnesium (15—28%) dan kandungan besi yang cukup rendah (13—20%). Feronikel, yang kira-kira terdiri dan 20% nikel and 80% besi, diproduksi dengan melebur bijih nikel kadar tinggi. Diperlukan kurang lebih 75—90 wmt (wet metric ton) bijih nikel saprolit untuk memproduksi satu ton nikel dalam feronikel (Laporan Tahunan PT Antam,2017).

Tingkat produksi feronikel tergantung pada kadar nikel dalam bijih yang dimasukkan di dalam pabrik serta muatan pabrik. PT Antam telah mengimplementasikan teknologi rotary kiln-electric furnace (RK-EF) sejak 1974 untuk mengolah bijih saprolit menjadi feronikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (pabrik Fe-Ni I, Fe-Ni Il, dan Fe-Ni III). Selain ¡tu, teknologi RK-EF juga diterapkan pada lokasi di Pulau Halmahera dan Gag. Namun, teknologi ¡ni masih belum dapat memanfaatkan bijih limonit yang berkadar rendah.

Proses pengolahan bijih nikel laterit menjadi feronikel yang diterapkan di PT Antam adalah sebagai berikut. Bijih nikel dengan rata- rata kadar nikel,8% di masukkan melalui mesin pengumpan getar ke dalam tanur pengering putar (rotary dryer) untuk diturunkan kandungan air basahnya dan 30—33% menjadi 20—22% dengan menggunakan gas panas bersuhu 800—900°C. Bijih nikel kemudian disaring pada pengayak getar berukuran 5 cm. Ukuran kasar dihancurkan terlebih dahulu untuk kemudian bersama-sama dengan ukuran halus disimpan pada tempat penampungan bijih nikel. Bahan pendukung (batu bara, antrasit, dan batu kapur) di masukkan melalui tempat pengumpanan khusus untuk selanjutnya disimpan pada tempat penampungan masing-masing. Dan tempat penampungan masing-masing,bijih nikel dan bahan pendukung dimasukkan ke dalam tanur putar kalsinasi (rotary kiln) dengan perbandingan tertentu melalui penimbangan yang teliti.

Dalam tanur putar kalsinasi yang bersuhu operasi sekitar 1.000°C terjadi pengeluaran semua kandungan air basah dan air kristal yang terdapat dalam bijih nikel, beserta sebagian zat terbang (fly ash) yang terkandung dalam batu kapur dan batu bara. Semua debu yang terikut dalam gas buang tanur putar kalsinasi ditangkap dan dijadikan pellet sebelum dimasukkan kembali ke dalam tanur putar kalsinasi. Dalam tanur listrik (electric furnace) yang bersuhu operasi sekitar 1.550—1.600°C terjadi proses peleburan, reduksi, dan pemisahan antara fasa metal (feronikel) dengan terak (slag) berdasarkan perbedaan berat jenis. Terak dikeluarkan melalui lubang pengeluaran terak yang terletak pada sisi yang berlawanan dengan lubang pengeluaran metal. Terak yang keluar di dinginkan menggunakan air untuk memudahkan penanganan terak selanjutnya, sebelum diangkut ke tempat pembuangan terak atau dimanfaatkan untuk pengerasan jalan dan penimbunan pantai.

Logam feronikel yang telah dikeluarkan akan ditampung penampung logam (ladle), untuk selanjutnya dilakukan pengeluaran belerang melalui penambahan CaÇ2 dan Na2CO3 sehingga menghasilkan feronikel kadar arang tinggi (high carbon). Feronikel kadar arang tinggi (high carbon) dioksidasi pada konverter goyang dengan mengembuskan oksigen murni melalui pipa besi (lance) untuk mengeluarkan unsur pengotor seperti arang, silicon, dan fosfor, sehingga diperoleh feronikel dengan kadar arang rendah (low carbon). Feronikel kadar arang rendah maupun tinggi dijadikan shot. Seluruh produksi feronikel diekspor ke perusahaan baja nirkarat terkemuka di Asia dan Eropa.

FERONIKEL

Referensi: Irwandy Arif, Nikel Indonesia. 2018. Jakarta. Gremedia
http://arti-definisi-pengertian.info/pengertian-feronikel/28/8/2020.