Pengaruh Modern Emansipasi Terhadap Siswi SMA di Kota Bandar Lampung (MKTIA GBQ VII)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam QS. al-Hujurat: 13 yang artinya : “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu.”

Menurut Nasrullah (2020) ayat tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan baik dalam hal ibadah (dimensi spiritual) maupun dalam aktivitas sosial (urusan karierprofesional). Ayat tersebut juga sekaligus mengikis tuntas pandangan yang menyatakan bahwa antara keduanya terdapat perbedaan yang memarginalkan salah satu diantara keduanya. persamaan tersebut meliputi berbagai hal misalnya dalam bidang ibadah. Siapa yang rajin ibadah, maka akan mendapat pahala lebih banyak tanpa melihat jenis kelaminnya. Perbedaan kemudian ada disebabkan kualitas nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah swt., Ayat ini juga mempertegas misi pokok alQur’an diturunkan adalah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan, termasuk diskriminasi seksual, warna kulit, etnis dan ikatan-ikatan primordial lainnya. Namun demikian sekalipun secara teoritis alqur’an mengandung prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, namun ternyata dalam tatanan implementasi seringkali prinsip-prinsip tersebut terabaikan.

Problematika pendidikan Islam yang sering menjadi sorotan dari Barat adalah masalah kesetaraan gender dan peran serta partisipasi perempuan dalam pendidikan di kalangan umat Islam. Isu tentang kesetaraan gender di bidang pendidikan ini, kemudian memunculkan berbagai kritik terhadap ajaran Islam yang dianggap tidak memberikan ruang terhadap kaum perempuan dalam dunia pendidikan, karena sebagaian besar ajaran Islam dianggap terlalu maskulin dan berpihak pada kaum laki-laki. Kritik yang sering dilontarkan oleh para aktifis
2

gender dunia tersebut bukanlah sesuatu yang baru dalam konteks keislaman, bahkan dalam perspepektif sejarah umat manusia masalah perbedaan peran dan status laki-laki dan perempuan telah menjadi perhatian utama (Abidin : 2008).

Dalam konteks historis Abidin (2008) juga memeprtegas bahwa sesungguhnya wacana tentang kesetaraan gender, feminisme dan emansipasi wanita telah menjadi wacana sentral para pakar feminisme yang di mulai kajian atau pembahasan sejak zaman pra-Islam. Beberapa lireratur kuno di kalangan bangsa Yunani maupun bangsa Romawi masalah perbedaan peranan antara pria dan wanita sudah menjadi perhatian kaum filosof Eropa pada era klasik pemikiran filsafat Barat. Aristoteles dan Plato bisa dianggap sebagai tokoh yang mempunyai konsens tentang masalah diferensiasi manusia dipandang dari sudut perbedaan jenis kelaminnya. Dalam batas tertentu perbedaan itu telah menimbulkan wacana dikhotomis yang membedakan pria dan wanita. Dalam bahasa Indonesia paling tidak ada dua istilah yang sering digunakan dalam menyebut perempuan, yaitu kata perempuan itu sendiri dan kata wanita.

Sebenarnya tidak ada perbedaan fundamental antara kedua istilah tersebut, sama halnya dengan dalam perspektif al-Qur’an dikisahkan bahwa memang ada perbedaan proses penciptaan antara Adam dan Hawa, namun selanjutnya bahwa prinsip-prinsip dasar ajaran al-Qur’an sesungguhnya tidak pernah membedakan secara dikhotomis peranan pria dan wanita bahkan al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang berusaha menghargai wanita dalam posisi yang sejajar dengan pria, sesuai dengan derajat kemanuasiaan yang universal. Pandangan ini sesungguhnya bukan terlalu apologis terhadap perspektif al-Qur’an tentang konsep emansipasi, feminisme atau istilah-kesetaraan gender dalam perspektif alQur’an, namun berdasarkan fakta otentik historis behwa perlakuan Islam terahadap perempuan relatif lebih baik dibandingkan dengan doktrin-doktrin ajaran agama lain tentang perempuan. Ini mengindikasikan bahwa perempuan menjadi wacana yang menarik dalam konteks ajaran Islam. Sehingga tidak heran di dalam al-Qur’an perempuan mendapatkan perhatian yang istimewa, bahkan diabadikan secara khusus menjadi nama salah satu surat di dalam al-Qur’an yaitu
3

surat an-Nisa’, karena realitasnya pada masa Jahiliyah perempuan sama sekali tidak mendapatkan hak-hak manusiawi sebagai makhluk Allah SWT. Dalam konteks pendidikan secara global juga tidak bisa dilepaskan dari isu-isu tentang gender, emansipasi perempuan tersebut, terutama dalam peran dan status perempuan dalam pendidikan dan persamaan hak-hak antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh dan berkiprah di bidang pendidikan dan pengajaran (Abidin:2008). Sebagai agama yang universal, Islam memandang manusia secara kodrati memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik laki-laki maupun perempuan. Karya tulis ini akan berupaya melihat pengaruh modern emasipasi siswi SMA di Kota Bandar Lampung dalam konteks perilaku dan cara berfikir.

1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimanakah Pengaruh Modern Emansipasi Terhadap Cara Berfikir Siswi SMA di Kota Bandar Lampung? 1.2.2. Bagaimanakah Pengaruh Modern Emansipasi Terhadap Cara Berperilaku Siswi SMA di Kota Bandar Lampung?

1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui Pengaruh modern emansipasi terhadap cara berfikir siswi SMA di kota Bandar Lampung. 1.3.2 Untuk mengetahui pengaruh modern emansipasi terhadap cara berperilaku siswi SMA di kota Bandar Lampung.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Konsep Wanita dalam Alqur’an dan Hadits
a. SuratAl-isra Ayat 84 ً يل ِبَ س ٰىَدْهَ أ َوُ ه ْنَمِ ب ُمَلْعَ أ ْمُكُّبَرَ ف ِهِتَلِ اك َ ش ٰىَلَ ع ُلَمْعَ ي ٌّلُ ك ْلُ ق

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isra : 84)

b. Surat An-Nisa ayat 34 ٌ ۚ ْمِهِ ال َوْمَ أ ْنِ وا م ُقَفْنَ ا أ َمِبَ و ٍضْعَ ب ٰىَلَ ع ْمُهَضْعَ ب ُ َّ اللَّ َلَّضَ ا ف َمِ ب ِ اء َسِّ ى الن َلَ ع َ ون ُ ام َّوَ ق ُ ال َجِّ لر ات َتِ ان َ ق ُ ات َحِ ال َّ الص َف َ ۖ مِ ب ِبْيَغْلِ ل ٌ ات َظِ اف َح َّنُ وه ُبِرْ اض َ و ِعِ اج َضَمْ ي ال ِ ف َّنُ وه ُرُجْ اه َ و َّنُ وه ُظِعَ ف َّنُهَ وز ُشُ ن َ ون ُ اف َخَ ي ت ِت َّ اللَّ َ و ۚ ُ َّ اللَّ َظِفَ ا ح يراا ِبَ ي اا ك ِلَ ع َ ان َ ك َ َّ اللَّ َّنِ إ ۗ ا يلَّ ِبَ س َّنِهْيَلَ وا ع ُغْبَ ت َ لََّ ف ْمُكَنْعَطَ أ ْنِإَ ف

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

c. Ali Imron ayat 165
ْ ٌ نِ ع ْنِ م َوُ ه ْلُ ق ۖ اَذَٰ ه ٰىَّنَ أ ْمُتْلُ ا ق َهْيَلْثِ م ْمُتْبَصَ أ ْدَ ق ٌةَ يب ِصُ م ْمُكْتَ اب َصَ ا أ َّمَلَوَأ ير ِدَ ق ٍءْيَ ش ِّلُ ك ٰىَلَ ع َ َّ اللَّ َّنِ إ ۗ ْمُكِسُفْنَ أ ِ د

Artinya: Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuhmusuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya
5

(kekalahan) ini?" Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

e. HR. Bukhari no. 5886
َ َ : ال َ ق ،ٍ اس َّبَ ع ِنْ اب ِنَع َ نِ م َ ين ِثَّنَخُ الم َمَّلَسَ و ِهْيَلَ ع ُ ى اللَّ َّلَ ص ُّيِبَّ الن َنَعَل : ال َقَ و ،ِ اء َسِّ الن َنِ م ِتَلَِّّجَرَتُ الم َ و ،ِ ال َجِّ الر « ْ َ »مُكِ وت ُيُ ب ْنِ م ْمُ وه ُجِرْخَأ ال :اا َق نَلَُّ ف ُرَمُ ع َجَرْخَأَ و ، ناا َلَُّ ف َمَّلَسَ و ِهْيَلَ ع ُ ى اللَّ َّلَ ص ُّيِبَّ الن َجَرْخَأَ ف Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki”. Dan beliau memerintahkan, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu”. Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengeluarkan Si Fulan, Umar telah mengeluarkan Si Fulan.

Menurut 3 surat diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. 2. Lelaki adalah pengurus wanita, yakni pemimpinnya, kepalanya, yang menguasai, dan yang mendidiknya jika menyimpang. 3. Setiap insan memiliki perbedaan. Di sisi lain dapat pula dipastikan tiada perbedaan dalam tingkat kecerdasan dan kemampuan berfikir antara kedua jenis kelamin itu. Ini berarti bahwa kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dalam potensi intelektualnya, mereka juga dapat berpikir, mempelajari kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati dari zikir kepada Allah serta apa yang mereka pikirkan dari alam raya ini.

2.2 Feminisme
Feminisme didefinisikan sebagai kebebeasan perempuan. Menurut Kadarusman (2015) feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan, baik dibidang pendidikan, sosial, dan reformasi politik. Isu feminisme disemua negara termasuk Indonesia menjadi isu yang sangat krusial. Menurut Gafur (2016) Feminisme dibagi kedalam beberapa pandangan:
6

2.2.1 Feminisme Liberal Feminisme liberal adalah feminisme yang berpegang pada paham liberalisme, yakni mementingkan kebebasan. Menerangkan bahwa semua manusia, laki-laki dan perempuan diciptakan secara seimbang, serasi dan seharusnya tidak terjadi penindasan antara satu dengan yang lain.

2.2.2 Feminisme Marxis (Komunis) Feminisme Marxis muncul karena adanya anggapan bahwa ketertinggalan perempuan dikarenakan adanya kapitalis dalam suatu negara. Kapitalisme merupakan paham yang menyatakan individu bisa memperkaya dirinya sebanyak mungkin.

2.2.3 Feminisme Radikal Kaum Feminisme Sosialis mempunyai anggapan bahwa kapitalisme bukan pusat dari permasalahan rendahnya kedudukan sosial wanita, yang menjadi alasannya bahkan sebelum kapitalisme muncul, kedudukan wanita telah dianggap lebih rendah.

2.2.4 Feminisme Anarkis Feminisme anarkis adalah salah satu paham feminisme ekstrim. Mereka mempunyai anggapan bahwa negara dan laki-laki adalah pusat dari seluruh masalah yang dialami oleh perempuan.

2.2.5 Feminisme Post Modern Feminisme postmodern adalah gerakan feminisme yang anti terhadap sesuatu dengan sifat absolut dan anti dengan otoritas. Maknanya adalah kaum feminisme dapat menjadi apapun yang mereka kehendaki, dan tidak ada rumus “feminis yang baik”. Meskipun seperti itu, kaum feminisme postmodern mempunyai tema atau orientasi dalam pergerakannya.

7

2.2.6 Feminisme Sosialis Feminisme sosialis timbul sebab kritik feminisme marxis. Kaum Feminisme Sosialis mempunyai anggapan bahwa kapitalisme bukan pusat dari permasalahan rendahnya kedudukan sosial wanita, yang menjadi alasannya bahkan sebelum kapitalisme muncul, kedudukan wanita telah dianggap lebih rendah. Tujuan paling penting dari feminisme sosialis adalah untuk menghapuskan sistem kepemilikian dalam struktur sosial.

2.2.7 Feminisme Islam Secara garis besar tak ada perbedaan antara feminisme Islam dengan feminisme yang berkembang di dunia Barat, kecuali bahwa feminisme Islam berpijak pada teks-teks sakral keagamaan. Pengertian feminisme Islam mulai dikenal pada tahun 1990-an. Feminisme ini berkembang terutama di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti Arab, Mesir, Maroko, Malaysia, dan Indonesia. Kekhasan feminisme Islam adalah berupaya untuk membongkar sumber-sumber permasalahan dalam ajaran Islam dan mempertanyakan penyebab munculnya dominasi laki -laki dalam penafsiran hadis dan al-Qur’an. Jadi feminisme adalah gerakan yang diciptakan oleh oergerakan wanita untuk mendapatkan kesetaraan dalam berbagai bidang.

2.3 Konsep Emansipasi Modern
2.3.1 Emansipasi Wanita Emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan; persamaan hak dalam berbagai kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Sedangkan emansipasi wanita adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju, Arum (2020).

Dia juga menambahkan bahwa, emansipasi wanita adalah proses, strategi dan berbagai upaya yang digunakan perempuan untuk membebaskan diri dari otoritas dan kontrol laki-laki dan struktur kekuasaan tradisional. Serta mengamankan kesetaraan hak bagi perempuan, menghapus diskriminasi gender dari undang
8

undang, lembaga dan pola perilaku dan menetapkan standar hukum yang akan mempromosikan kesetaraan penuh wanita dengan laki-laki.

2.4 Perilaku
2.4.1 Konsep Perilaku
Perilaku adalah cara bertindak yang menunjukkan tingkah laku seseorang dan merupakan hasil kombinasi antara pengembangan anatomis, fisiologis dan psikologis (Kast dan Rosenweig, 1995). Disebutkan oleh Rakhmat (2001) menyebutkan bahwa terdapat tiga komponen yang mempengaruhi perilaku manusia, yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia. Komponen afektif merupakan aspek emosional. Komponen konatif adalah aspek volisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

Dikemukakan oleh Samsudin (1987), unsur perilaku terdiri atas perilaku yang tidak nampak seperti pengetahuan(cognitive) dan sikap(affective), serta perilaku yang nampak seperti keterampilan(psychomotoric) dan tindakan nyata(action). Pola perilaku setiap orang bisa saja berbeda tetapi proses terjadinya adalah mendasar bagi semua individu, yakni dapat terjadi karena disebabkan, digerakkan dan ditunjukkan pada sasaran (Kast dan Rosenweig, 1995).

2.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
a. Faktor Personal Pada faktor ini terdiri dari  Faktor Biologis: terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah di program secara genetis dalam jiwa manusia.  Faktor Sosiopsikologis: dapat diklasifikasikan ke dalam tiga komponen, yaitu: komponen afektif, merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya, komponen kognitif, aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang
9

diketahui manusia, dan omponen konatif, aspek volisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

 Faktor Situsional salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional. Kaum behaviorisme percaya sekali bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap bentuk perilaku seseorang. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktorfaktor situasional meliputi: faktor – faktor ekologis Kondisi alam (geografis) dan iklim (temperatur) dapat mempengaruhi perilaku manusia, faktor rancangan dan arsitektural .

2.5 Konsep Berpikir
Menurut Gilmer (1970), berpikir merupakan suatu pemecahan masalah dan proses penggunan gagasan atau lambang-lambang pengganti suatu aktivitas yang tampak secara fisik. Selain itu, ia mendefinisikan bahwa berpikir merupakan suatu proses dari penyajian suatu peristiwa internal dan ekstemal, kepemilikian masa lalu, masa sekarang, masa depan yang satu sama lain saling berinteraksi. Menurut Ross (1995) berpikir merupakan aktivitas mental dalam aspek teori dasar mengenai objek psikologis. Suryabrata (2012) beranggapan bahwa berpikir adalah proses dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya. Santrock (2004), menyatakan bahwa berpikir dapat disimpulkan bahwa berpikir merupakan suatu aktivitas mental, yang berkaitan dengan kesadaran dan juga proses dalam memahami, menalar, menganalisis, mengidentifikasi suatu permasalahan untuk mendapatkan suatu solusi atau pemecahan.

10

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian menurut Arikunto (2006 : 160) adalah cara yang digunakan oleh penelitian dalam mengumpulkan data penelitian. Metode penelitian karya ilmiah ini adalah metode kuantitatif. Menurut Emzir (28:2014) metode kuantitatif adalah penelitian yang secara primer menggunakan paradigma postpositive dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (seperti pemikiran tentang sebab akibat, reduksi kepada variabel, hipotesis, dan pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi, serta pengujian teori), menggunakan strategi penelitian seperti eksperimen dan survei yang memerlukan data statistik. Sedangkan menurut Arikoento (2013:27) metode penelitian kuantitatif adalah: “Penelitian kuantitatif sesuai dengan namanya, banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya.”

3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi Menurut Arikunto (2006:130) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dalam penelitian ini yang menjadi populasi yaitu 7 SMA kota Bandar lampung dengan pertimbangan jarak yang dekat dengan rumah peneliti.
3.2.2 Sampel Menurut Arikunto (2006 : 131), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti dengan menggunakan cara-cara tertentu. Terdapa 200 sample pada karya ilmiah ini. Sampel terlampir.

11

3.3 Lokasi dan Subjek Penelitian
3.3.1 Lokasi penelitian Lokasi penelitian karya tulis ini adalah 7 SMA baik Swasta dan Negeri yang terletak di Kota Bandar Lampung. Sekolah ini dipilih secara acak dengan pertimbangan jarak sekolah dan jumlah peserta didiknya.

3.3.2 Subjek Penelitian Sedangkan subjek penelitian adalah Siswi aktif kelas X, XI dan XII. Subjek dipilih secara random. Usia siswi antara 15 – 18 Tahun yang berasal dari latar belaakang social enonomi yan berbeda. Jumlah siswi yang menjadi subjek penelitian adalah 100 siswi.

3.4 Intrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan oleh penulis adalah observasi dan kuesioner.
3.4.1 Observasi Menurut Sugiono (234:2012) observasi adalah teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain yaitu, teknik kuesioner dan wawancara. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang maka observasi tidak hanya terbatas pada orang tapi dengan objek-objek alam yang lain. Observasi yang dilakukan dalam karya tulis ini adalah:

a. Tahap persiapan Pada tahap ini penulis menentukan objek yang dijadikan observasi ada 7 sekolah yang dijadikan objek untuk observasi, SMA Alkautsar, SMA 9, SMA 2, SMA 7, SMA 3, SMAQ Darul Fattah, SMA 1 BandarLampung. b. Tahap pelaksanaan Pada tahap ini penulis mengobsevasi keadaan dan siswi disekolah yang dijadikan objek. Hasil observasi terlampir.

12

3.4.2 Kuesioner
Menurut Cristensen dalam Sugiono (2004:230) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dimana partisipan atau responden mengisi pertanyaan atau pernyataan kemudian setelah diisi dengan lengkap mengembalikan kepada peneliti. Jumlah item kuesioner yang digunakan dalam karya tulis ini adalah 15 item. Sedangkan yang menjadi responden adalah 30% dari 100 siswi SMA Negeri dan Swasta di Kota Bandar Lampung. Teknis penyebaran kuesioner menggunakan media digital Google Form. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS 18.

3.5 Teknik Pengumpulan Data
Beberapa langkah yang dilakukan penulis untuk mengumpulkan data adalah: a. Melakukan observasi di sekolah yang dijadikan objek penelitian b. Menyebarkan kuesioner kepada objek penelitian melalui Google Form c. Memverifikasi hasil kuesioner d. Menginput hasil kuesioner ke program SPSS 18 e. Menarik kesimpulan

13

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Setelah melakukan analisis data dengan menggunakan SPSS 18 penulis mendapatkan hasil: 4.1.1 Deskripsi Statistik Sampel

Statistics NAMA LENGKAP
UMUR SEKOLAH
N Valid 100 100 100
Missing 0 0 0 Tabel 4.1 deskripsi statistik sampel

Dari tabel deskripsi diatas, dapat dilihat bahwa data sampel valid. Terdapat 100 responden menjawab item kuesioner yang responden jawab. Deskripsi lebih lengkap terlampir.

4.1.2 Analisis Pola Berfikir Siswi

ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 5,288 1 5,288 3,191 ,077a Residual 162,422 98 1,657 Total 167,710 99
a. Predictors: (Constant), EMANSIPASI b. Dependent Variable: BERPIKIR Tabel 4.2 tabel analisis pola berpikir

Menurut tabel analisis SPSS diatas terlihat bahwa, nilai signifikan poin 0,077. yang berarti > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh modern emansipasi (X) terhadap pola berpikir siswi (Y).

14

4.1.3 Analisis Perilaku Siswi

ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 23,668 1 23,668 35,525 ,000a Residual 65,292 98 ,666 Total 88,960 99
a. Predictors: (Constant), EMANSIPASI b. Dependent Variable: PERILAKU

Tabel 4.3 tabel analisis perilaku

Menurut tabel analisis SPSS diatas terlihat bahwa, nilai signifikan poin 0,000. yang berarti > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh modern emansipasi (X) yang sangat signifikan terhadap perilaku siswi (Y).

4.2 Pembahasan 4.2.1 Pengaruh Modern Emansipasi terhadap Pola Berfikir Siswi Santrock (2004), menyatakan bahwa berpikir merupakan suatu aktivitas mental, yang berkaitan dengan kesadaran dan juga proses dalam memahami, menalar, menganalisis, mengidentifikasi suatu permasalahan untuk mendapatkan suatu solusi atau pemecahan. Melihat hasil obervasi yang telah dilaksanakan di lapangan dan membaca hasi angket terdapat hubungan moderen emansipasi terhadap pola berfikir siswi SMA di Kota Bandar Lampung. Hal ini terlihat pada kuesioner no. 7 dan 9 “apakah wanita memiliki kewajiban untuk belajar dan bekerja” dan “apakah wanita anda faham larangan larangan yang tidak boleh dilakukan wanita dalam islam?’.

Berdasarkan Surat Al-isra ayat 84 yang artinya katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. Yang berarti sebaiknya wanita belajar dan bekerja sesuai dengan kodratnya. Sesuai dengan kodartnya perempuan seharusnya menjadi ibu yang baik untuk mendidik anak-anaknya dan mempunyai kewajiban melayani suami. Namun karena moderen emansipasi banyak siswi berfikir bahwa
15

mereka tetap kan bekerja sesuai dengan keinginannya. Sebenarnya dalam Surat An-nisa ayat 34 telah dijelaskan bahwa “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Berdasarkan 2 Firman ALLAH SWT tersebut telah jelas bahwa sesuangguhnya perempuan/ siswi sebaiknya menjalani kodratnya sebagi perempuan seutuhnya. Karena kewajiban bekerja dan mencari nafkah adalah kewajiban seorang laki-laki.

4.2.2 Pengaruh Modern Emansipasi terhadap Perilaku Siswi Setelah melihat hasil tabulasi SPSS 18, dapat disimpulkan bahwa pengaruh modern emasipasi terhadap perilaku siswi sangat signifikant. Hal ini terbukti dari jumlah responden yang menjawab YA untuk pertanyaan – pertanyaan yang berhubungan dengan perilaku yang menyerupai laki - laki. Misalnya pada item kuesioner nomor 3 dan 4, “apakah anda suka bermain sepak bola” dan “apakah anda suka mengunakan celana panjang dari pada rok”.

Jika dikaitkan dengan theori feminism liberal menurut Gafur (2016) bahwa feminisme liberal adalah feminisme yang berpegang pada paham liberalisme, yakni mementingkan kebebasan. Menerangkan bahwa semua manusia, laki-laki dan perempuan diciptakan secara seimbang, serasi dan seharusnya tidak terjadi penindasan antara satu dengan yang lain. Pernyataan ini sangan menggambarkan bahwa siswi telah terpapar atau terpengaruh modern emansipasi dalam pergaulan mereka disekolah. Banyak siswi mengikuti gaya berpakaian atau kegiatan – kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh siswa. hal ini juga di pengaruhi oleh faktor situasioanal faktor situsional yakni mempengaruhi perilaku manusia. Kaum behaviorisme percaya sekali bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap bentuk perilaku seseorang. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situas, sperti lingkungan sekolah dan lingkungan pergaulan
16

sesama teman. Sesuai dengan observasi yang penulis lakukan banyak siswi berperilaku sama seperti siswa.

Dalam Hadist No. 5886 dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki”. Dan beliau memerintahkan, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu”. Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengeluarkan Si Fulan, Umar telah mengeluarkan Si Fulan. Hal ini berati telah banyak siswi di SMA Kota Bandar Lampung terpengaruh oleh modern emansipasi yang sangat kontradiktif dengan nilai – nilai agama islam.

Hal ini juga diperkuat dengan Firman ALLAH SWT Surat An-nisa Ayat 34 yang artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

17

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Terdapat 2 kesimpulan penting dalam penelitian ini: 1. Terdapat pengaruh moderen emansipasi terhadap pola fikir siswi SMA di Kota Bandar Lampung. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil observasi dan hasil SPSS 18. Menurut tabel analisis SPSS diatas terlihat bahwa, nilai signifikan poin 0,077. yang berarti > 0,05 yang berati terdapat pengaruh modern emansipasi (X) terhadap pola berpikir siswi (Y). 2. Terdapat pengaruh moderen emansipasi terhadap pola perilaku siswi SMA di Kota Bandar Lampung. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil observasi dan hasil SPSS 18. Menurut tabel analisis SPSS diatas terlihat bahwa, nilai signifikan poin 0,000. yang berarti > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh modern emansipasi (X) yang sangat signifikan terhadap perilaku siswi (Y).

5.2 Saran

  1. Sebaiknya sekolah pada umumnya harus menjalin kerjasama dengan stakeholder terkait seperti Dinas Pendidikan, Orang tua, lembaga keagamaan untuk memberikan pendidikan menyeluruh mengenai pemahaman modern emansipasi sesuai Quran dan sunah.

  2. Siswi SMA khususnya di Kota Bandar Lampung diharapkan dapat memahami konsep modern emansipasi dengan baik sesuai dengan Quran dan sunah.

18

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. Z; 2008. Kesetaraan Gender dan Emansipasi Perempuan dalam Pendidikan Islam. Doctor. Jurai Siwo University.

Arikoento; 2006. Metodologi Penelitian, Magister, UGM.

Arikoento; 2013. Metodologi Penelitian, Magister, UGM.

Arum; 2020. Kesetaraan Gender, Emansipasi. Jakarta, Balai Pustaka.

Emzir; 2014. Konsep Berpikir, Magister, UNP.

Gafur; 2016. Feminisme Dibagi Kedalam Beberapa Pandangan. Jakarta, Balai Pustaka.

Gilmer; 1970. Definisi Perilaku, Magister, Auckland University.

Herawati. Y; 2010. Hijab dan Emansipasi Perempuan di Dunia Kerja, Magister, Veteran University.

Kadarusman; 2015. Pengertian Perilaku, Magister, Nuckland University.

Kast dan Rosenweig; 1995. Konsep Perilaku, Magister, Leiden University.

Nafsi. S; 2016. Pemikiran Gender Quraish Shihab dalam Tafsir Almisbah Magister, Bengkulu Islamic Institut.

Nasrullah, N; 2020. Ayat Alqur’an Justru Menegaskan Kesetaraan Gender Pria dan Wanita. http://republica.co.id/Qe692j320/ayat-alqur’an-justru-MenegaskanKesetaraan-Pria-dan-Wanita. Diakses tanggal 12 September pukul 07.31 WIB.

Pramida, I; 2017. Deskripsi Proses Berpikir, Magister, UMP.

Rakhmat; 2001. Tiga Komponen Konsep Perilaku.

Ross; 1995. Konsep Berpikir, Magister, Auckland University.

Samsudin; 1987. Konsep Perilaku, Magister, Universitas Indonesia

Santrock; 2004. Psikologi Umum, Pengertian Berpikir, Auckland University.

Sugiono; 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta, Universitas Indonesia.

Sujanto, A. Psikologi Umum (Jakarta: PT. Bumi Aksara 2009) h154.

Sunaryo, W; 2011. Taksonomi berpikir (Bandung: Remaja Rosdakarya 2011)

Suryabrata; 2012. Konsep Berpikir, Auckland University.