© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Pengaruh Film dengan Mental Sosial Masyarakat

Tidak hanya lagi, film pun bisa memotivasi seseorang untuk melakukan apa saja. Selain itu apa saja pengaruh film pada mental sosial seseorang?

Pengaruh film terhadap mental pada masyarakat memang ada dampaknya, ada dampak negatif dan juga dampak positif :

  • Dampak Postif :
  1. Film dapat dijadikan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat, agar tidak terlalu stress
  2. Film Sebagai Penyampai Pesan Dan Kemampuan Mempegaruhi Audiens,jadi masyarakat bisa mengambil hikmah yang terkandung dalam film tersebut, agar tidak berpikiran terlalu sempit.
  • Dampak Negatif
  1. Dapat menghilangkan nilai budaya lokal, yang tentunya mentalnya dapat berubah menjadi ke arah kebarat-baratan
  2. Menjadi konteks seks, dimana ini dapat memepengaruhi mental masyarakat khususnya bagi anak-anak dan remaja.

Kesehatan Mental Sosial

  • Kesehatan mental masyarakat adalah suatu kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap problem-problem dalam kehidupannya secara baik dan selaras (Kartono, 1989; Duffy & Wong, 1996). Kesehatan mental masyarakat sangat penting artinya dalam pembangunan, karena masyarakat yang sehat secara mental akan mampu mengaktualisasikan potensinya secara optimal, sehingga mampu menghasilkan karya-karya cemerlang.

  • Masyarakat dikatakan memiliki kriteria sehat secara sosial psikologis bila mereka mampu belajar, bekerja, bermain, dan bercinta ((Prawitasari, 2003).

    • Masyarakat mampu belajar adalah mayarakat yang mampu belajar dengan baik secara formal di sekolah atau di luar sekolah. Banyaknya tempat belajar menjadi indikator kesempatan belajar masyarakat. Indikator lain adalah rasio orang terdidik dan terlatih dibanding yang kurang terdidik dan terlatih. Adanya akses informasi bagi masyarakat dan ketersediaan perpustakaan masyarakat dapat juga digunakan sebagai indikator kesempatan belajar terus- menerus bagi masyarakat suatu daerah.

    • Masyarakat yang mampu bekerja apakah sebagai pegawai atau pengambil keputusan di sektor informal akan menunjukkan derajat kesehatan sosial psikologisnya. Secara umum indikator sehat dapat dilihat dari berapa luas lapangan pekerjaan tersedia, berapa banyak tenaga kerja telah terserap di sektor formal maupu informal. Ada keterkaitan erat antara kondisi kehidupan masyarakat dengan derajat kesehatan. Kemiskinan akibat tidak adanya pekerjaan dan penghasilan akan menimbulkan status kesehatan rendah, karena ketika mereka sakit tidak mempunyai cara untuk memerbaiki keadaannya.

    • Selanjutnya, setiap makhluk hidup membutuhkan kegiatan bermain. Pada manusia, indikator sehat sosial psikologis masyarakat dapat dilihat dari berapa lama waktu digunakan untuk bermain, berapa banyak tempat untuk bermain, seperti taman-taman yang asri dan bersih tersedia bagi masyaraka, dan berapa kali mereka bermain dalam seminggu. Manusia yang mampu bermain dengan aturan-aturan tertentu dan tanpa bertujuan membahayakan dirinya dan orang lain juga menjadi indikator sehat sosial psikologis. Kota Yogyakarta dengan semboyan Bersih Sehat Indah dan Nyaman (Berhati Nyaman) dapat dijadikan indikator kesehatan masyarakat.

    • Indikator kesehatan masyarakat lainnya adalah mampu bercinta, yang bukan berarti sempit seperti berkonotasi seksual, tetapi merupakan cara manusia menggunakan cinta kasihnya untuk menumbuhkan perdamaian di antara sesama manusia. Indikator sehat ini dapat dilihat dari seberapa banyak pasangan hidup dalam masyarakat, seberapa banyak masyarakat mempunyai sahabat sejati, seberapa banyak mereka melaporkan mempunyai teman dekat dan dukungan sosial yang memadai, dan seberapa damai suatu masyarakat (Prawitasari, 2003).

  • Menurut Orford (1992), ada beberapa problem psikologis dalam masyarakat yang sering mengganggu kestabilan kesehatan mental.

    • Pertama, penyimpangan atau gangguan perilaku, seperti mengonsumsi alkohol secara berlebihan, penyalahgunaan obat, penyimpangan atau penyalahgunaan seksual, kenakalan anak dan remaja, serta usaha bunuh diri.
    • Kedua, gangguan atau sakit jiwa, seperti skizofren dan gangguan-gangguan psikotik lain, delirium, demensia, amnesia maupun gangguan- gangguan kognitif yang lain.
    • Ketiga, stres, gangguan kecemasan, gangguan suasana hati, seperti depresi dan manik depresif.
    • Keempat, gangguan interpersonal, seperti gangguan hubungan perkawinan (pisah atau cerai) dan kurang pergaulan.
    • Kelima, gangguan-gangguan fisik yang berkaitan erat dengan psikis, seperti psikosomatis, somatisasi, gangguan konversi, gangguan hipokondrasis.

Film dalam Konteks Kesehatan Mental Masyarakat

gg2t

  • Film adalah media audio visual yang memiliki peranan penting bagi perkembangan zaman di setiap negara, terlepas menjadi bahan propaganda atau tidak, terkadang sebuah film muncul memanfaatkan fenomena yang sedang hangat terjadi di masyarakat karena dianggap ampuh memotret realita yang terjadi pada saat itu dalam berbagai bentuk film-film ini akhirnya memiliki bekas nyata di benak penonton.

  • Film memiliki pengaruh yang kuat untuk mempengaruhi pola pikir dan budaya masyarakat, pesan-pesan yang disampaikan lewat film seringkali disampaikan secara terselubung. Pesan terselubung ini mempunyai kekuatan pengaruh tersendiri dan penonton bisa jadi menyetujui pesan pesan ini tanpa mereka sadari banyak sekali isu-isu sosial yang juga disampaikan lewat film.

  • Film sebagai media audiovisual komunikasi dan banyak dijadikan sebagai alat propaganda yang digunakan untuk mempengaruhi pikiran masyarakat dengan memanipulasi representasinya. Oleh karena itu film sebagai medium yang paling ampuh dalam mempengaruhi pikiran khalayak. Film tak sekedar membawa pesan yang menggambarkan realitas yang hendak disampaikan secara umum dari isi film, film juga bisa dipandang sebagai media yang menjadi alat kelompok dominan untuk memanipulasi dan mengukuhkan kehadirannya. Pada sisi lain film juga bisa menjadi cerminan kesehatan mental pada masyarakat dimana film itu tumbuh dan berkembang.

Referensi

Hadjam, M.N.R. 2005. Ketrampilan psikologis dalam mewujudkan kesehatan mental. Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar pada Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. 20 Juni 2005.

Kartono, K. 1989. Hygiene mental dan kesehatan mental dalam Islam . Bandung: Mandar Maju.

Martaniah, S.M. 1995. Peran psikologi dalam kesehatan. Orasi purnabakti. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.