Pengalaman Hidup Mengajari Kita Indahnya Berbagi

Bambang

Aku Bambang. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang sederhana, yang menemukan harta dunia dari kesederhanaan. Aku lahir tahun 1965. Tahun itu sedang gencar gerakan PKI. Sambutan dari semesta bagiku adalah tendangan yang menyentakku untuk keluar dan merasakan aura dunia yang liar. Ya, ibuku yang sedang mengandungku, merasakan tendangan dari para komunis yang secara paksa menerobos rumahku. Aku memang kuat sejak janin, pikirku ketika mendengar ibuku bercerita tentang masa itu.

Sekarang usiaku sudah 55 tahun. Sudah setengah abad lebih 5 tahun aku menjalani hidup ini. Aku hidup bersama istri yang sangat kucintai, 3 anak yang senantiasa berusaha membanggakan orang tuanya dan 1 cucu perempuan kecil yang menggemaskan. Aku memiliki kehidupan yang bermanfaat bagi sesamaku. Aku memiliki agama yang aku peluk erat dalam sanubariku. Aku punya banyak hal yang membuatku bersyukur dan aku bahagia. Lengkaplah sudah hidupku.

Hidupku tidak selalu mulus. Hidupku sekarang pun bukan hidup yang bergelimang harta. Aku hanyalah seorang sederhana, namun dari kesederhanaan itulah aku menemukan harta karun kehidupan. Aku menemukan arti sesungguhnya dari hidup ini. Aku menemukannya dari indahnya berbagi.

Aku percaya kita hidup di dunia ini bukan suatu kebetulan, kita memiliki sebuah tujuan yang harus kita capai, apa kita berhasil atau tidak, tergantung bagaimana kita melaksanakan kehidupan ini. Semua berdasarkan pilihan kita masing-masing, bukan paksaan dari orang lain, melainkan kesadaran diri untuk membuat pilihan dan melakukan. Bagiku, hidup haruslah bermanfaat untuk orang lain. Hidup bukan untuk menghidupi diri kita sendiri, terutama diriku adalah seorang pria, yang sejatinya haruslah dapat diandalkan.

Masa kecilku bukan masa yang menyenangkan. Aku hidup dari ayah seorang tukang patri yang harus menghidupi 15 anak. Saat muda aku menjalani kehidupan yang keras. Aku diajari untuk bekerja keras sejak kecil. Aku juga diajar untuk menjadi anak yang kuat. Aku sempat tersesat dalan dunia kegelapan. Dunia gelap adalah dunia yang telah kutaklukan. Aku suka berkelahi, bahkan berperang dengan membawa samurai, memakai pelindung dada dari seng, sampai pernah dadaku tertembak oleh peluru. Percaya atau tidak, aku tidak ke rumah sakit saat itu. Aku cukil peluru yang bersarang di dadaku dengan tanganku sendiri, mengerang kesakitan namun aku tidak takut. Kini bekasnya masih cokelat di dadaku, sebagai peringatan bagiku.

Bertambahnya usia, aku belajar hidup tidak bisa seperti ini. Aku mulai memikirkan masa depanku. Aku mulai mendalami agama. Tuhan mengubah hidupku. Aku menikah saat usiaku 30 tahun. Awal pernikahan, aku membawa istri untuk hidup nomaden, macam manusia jaman purba. Kami berpindah dari kontrakan satu ke kontrakan yang lain. Aku hanya bekerja sebagai seorang buruh. Aku membiarkan istriku berdagang di pasar barang bekas sambil membawa anak-anakku yang masih kecil. Perlakuan dan cibiran orang akan kemiskinan kami menjadi makanan sehari-hari kami.

Aku merasa saatnya aku berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan. Kisah pedih yang keluargaku alami tiap-tiap hari memberikan aku semangat dan inspirasi baru. Aku mendirikan sebuah usaha dengan bermodal Rp. 25.000,00 dan tekad bulat mengarungi jungkir-balik dunia bisnis. Aku mulai mampu mempekerjakan orang. Keluargaku menjadi keluarga yang tidak lagi dikucilkan karena kemiskinan di masyarakat. Kemiskinan bukanlah aib, tapi sering kali orang merasa jijik berdekatan dengan manusia lain yang mereka anggap lebih rendah. Padahal dimata Allah, manusia hanyalah pengemis yang meminta rahmat-Nya, barang sekadar untuk bernapas.

Picture1

Suatu hari, aku bertemu dengan seorang anak yang mengingatkanku pada masa-masa kecilku. Masa-masa sulit dimana aku harus bekerja saat masih kecil untuk mencari uang. Anak itu sekolah dari pagi hingga siang dan bekerja siang hingga malam hari. Dia bekerja sebagai pedagang cilok. Orang tuanya sudah lama meninggal dan dia tinggal dengan pamannya. Aku merasa tergugah. Tidak hanya cukup aku mampu menghidupi keluargaku saja sekarang, melainkan juga aku bisa mengembangkan sayapku lebih lebar, memberi kehangatan pada anak-anak yang memiliki kisah serupa denganku.

Aku mulai menerima anak-anak yang putus sekolah. Jika mereka ingin bersekolah aku berusaha untuk membantu mereka masuk sekolah. Anak-anak yang tidak mau bersekolah, aku mengajari mereka keterampilan dalam usahaku. Apa buahnya? Buah yang aku dapatkan adalah harta dunia, kenikmatan dari perasaan menjadi bermanfaat untuk orang lain. Aku melihat anak-anak yang putus sekolah dan mau belajar keterampilan, ada yang membuka usaha sendiri. Ada juga yang mulai bekerja diperusahaan yang lebih besar. Aku bahagia melihat mereka menjadi mandiri dan berkembang. Hasil itu memberiku semangat ekstra untuk lebih banyak berbuat kebaikan. Kebaikan kecil membawa dampak bukan hanya satu generasi tapi juga anak cucu mereka.

2 Likes