Pencari Jalan (Challenge 30 Hari Menulis Sastra)

Entah sudah berapa lama sejak aku naik kereta sejak terakhir kali. Kalau aku tidak salah ingat mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Maklum, sudah beberapa tahun ini aku tidak pulang ke rumah. Ah, rasanya sudah berubah saja stasiun kereta Surabaya Gubeng ini.

Tak seperti biasanya yang melakukan perjalanan sendirian, kini aku bersama dua orang temanku. Kami memang berencana untuk pulang bersama karena kami berasal di daerah yang sama : Lamongan. Aku sangat antusias. Selain rindu dengan kampong halamanku, aku juga sangat senang dengan perjalanan bersama seperti ini.

“Kursi 16 A, B, dan C,” ujarku sambil berjalan mengecek nomor yang tertulis kecil di dinding.

“Ini dia,” ujar Monica saat menemukan tempat duduk kami. Ia kemudian meletakkan tasnya di rak atas kursi kami lantas duduk.

“Kau mau duduk di samping jendela?” tawar Lidia. “Aku tidak bisa duduk di dekat jendela karena terlalu pusing,” tambahnya.

Aku mengangguk saja. memang aku suka duduk di samping jendela. Bisa menikmati pemandangan.

“Prittt” peluit mulai berbunyi sesaat kemudian kami mulai merasakan kereta berjalan. Aku melihat Lidia mulai menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia mulai memejamkan mata, sementara Monica lebih memilih pindah di depanku karena kursi masih kosong. Ia ingin duduk di samping jendela.

“Akhirnya bisa pulang juga ya Ris,” ujarnya. Aku mengangguk seraya tersenyum senang.

Kami tenggelam dalam diam mengagumi pemandangan kota Surabaya. Gedung tinggi menjulang, Tugu pahlawan dan jalanan yang cukup ramai. Sudah lama aku tak melihat pemandangan ini.

Kereta berhenti sementara, kami tiba di stasiun Pasar Turi. Penumpang baru mulai masuk. Seorang lelaki menuntun nenek tua mendekati kursi kami. Ia membantu nenek itu duduk sambil mengecekkan tiketnya. Nenek itu beterima kasih sebelum lelaki itu pergi mencari kursinya di gerbong lain.

Nenek itu mengenakan baju hijau yang sangat kelonggaran oleh tubuhnya yang mulai mengecil. Dari kulit yang keriput pun aku bisa melihat tulang-tulangnya yang juga kecil. Kalau dilihat dari keriput di wajahnya, mungkin umur nenek itu sekitar 70-80 tahun. Kami menunduk sopan menyapa, beliau juga membalas tersenyum.

Lidia terbangun. Ia harus merapikan duduknya agar nenek itu bisa duduk dengan nyaman. Sementara monica mulai bertanya.

“Nenek mau kemana?” tanyanya sopan.

“Ha?” ulangnya tak dengar. Maklum, seperti orang tua lainnya, telinganya sudah mulai susah mendengar dengan jelas. Monica mengulangi pertanyaannya sambil mengeraskan suaranya dan mendekatkannya ke telinganya.

“Oh, saya mau ke Lamongan. Mau menjenguk cucu saya. Cucu saya masih kecil, tapi saya tidak pernah menemuinya lagi sejak empat tahun lalu. Saya kangen dengan cucu saya,” ujarnya. Ia terlihat bahagia.

Ia kemudian membuka tutup botol minumnya dengan tangan yang bergetar. Namun, karena guncangan kereta, air di botol itu tumpah mengenai rok bunga-bunganya. Untung saja Lidia membawa tisu, ia kemudian memberikan beberapa lembar tisu untuk mengeringkan air yang menumpahi rok bunga nenek itu. Aku dan Monica membantu mengelap juga.

“Terima kasih,” ucapnya. “Tolong taruh saja ini di dekat jendela itu. saya sudah tidak haus. Orang di stasiun tadi terlalu baik. dia membelikan saya tiket dan minuman itu, waktu saya bayar dia tidak mau. Katanya biar buat ongkos saya saja,” ceritanya. Ia kemudian tertawa. Kami hanya membalas dengan senyuman.

“Ah…uaa…” seorang anak kecil menghampiri bangku kami. Ia tersenyum sambil memandangi kami. Kami balas tersenyum sambil memuji betapa lucunya dia. Nenek itu terlihat begitu senang emlihat anak kecil itu. Ia beberapa kali bermain ciluk baa untuk membuatnya tertawa. Anak kecil itu terkekeh geli sampai ia terduduk di lantai. Kami pun sempat berusaha memeganginya, namun anak itu justru tersenyum sambil memainkan tangannya yang tak berhenti mengepal.

“Ya Allah nak… kenapa jadi duduk di lantai,” ujar sang ibu yang kemudian menggendongnya. “Maaf jadi mengganggu kalian,” ujarnya kemudian menggendong adik kecilo tadi ke bangkunya yang ternyata ada di belakang kami.

“Cucu saya sekecil itu,” kata nenek tiba-tiba. “Mereka itu sangat suka main sama saya. Saya itu orangnya sabar dan suka anak kecil, jadi pada nempel sama saya.”

Kami hanya manggut-manggut saja mendengarnya.

“Nenek punya cucu berapa?” tanyaku.

“Lima,” jawabnya. “Saya punya anak tiga. Anak pertama saya punya dua cucu, anak kedua yang dilamongan ini juga dua, yang di Jakarta punya satu.”

“Tapi saya sering kesal sama menantu saya. Dia itu jahat, saya sering tidak diperbolehkan main sama cucu saya. Padahal saya suka main sama cucu saya. Saya itu sering dimarahi sama menantu wanita saya itu. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah saya yang dulu walau kecil, tapi lebih enak untuk tinggal sendiri,” ceritanya lagi.

Sekali lagi, kami hanya mnaggut-manggut. Lidia mulai kelihatan tertarik dengan cerita nenek. Ia pun bertanya : “Nenek berani sekali sendirian ke Lamongan, nenek tidak takut tersesat?”

“Saya itu saking kangennya. Jadi saya ya berani sendirian. Lha mau sama siapa? Anak saya yang pertama itu juga tidak tau alamatnya, bisa-bisa nanti dia malah akan memarahi saya. Saya itu sebenarnya dilarang untuk pergi sama anak pertama saya itu. tapi saya sangat kangen dengan cucu saya. Terakhir saya lihat dia pas waktu belum lahir, sebelum dia pindah. Anak saya yang kedua ini baru pindah rumah dua tahun yang lalu.”

Kami kini terkejut.

“Lah, nenek tapi tau alamatnya?” tanya Monica.

“Ya nggak tau, tapi saya hapal tempatnya,” ujarnya. “Ya, saya akan saya cari nanti sampai ketemu. Doakan saja ya saya bisa menemukannya.”

“Iya nek. Pasti akan kami doakan.”

“Menantu saya itu jadi lurah di Lamongan,” tutrnya mulai becerita kembali. “Daerahnya sejuk. Ada sungai yang mengalir. Di sana itu udaranya adem.”

“Nama desanya apa nenek masih ingat?” tanyaku.

“Ya tidak. Orang sudah empat tahun lalu,” balasnya.

“Kalau nama menantu dan anak nenek?” Kini Lidia ganti uyang bertanya.

“Robby. Nama menantu saya Robby. Nama anak saya Revina,”

“Robby siapa nek?” tanya Monica.

“Robby lurah Lamongan.” Monica menepuk jidad.

“Nama lengkapnya Nek?” tanya Monica lagi.

“Ya saya tidak tau. Saya taunya Robby saja.”

“Kalau nama lengkap anak nenek Revina siapa?” tanyaku.

“Revina saja. Tidak ada nama belakang. Hanya Revina.”

Kami saling memandang bingung. Masalahnya nenek ini begitu nekad bagi kami. Ia pergi tanpa tau alamatnya di mana, bahkana nama desa dan menantunya saja tidak terlalu tau. Kami takut kalau ia akan tersesat nanti.

“Kita coba saja cari dari GPS,” usul Monica.

Lidia pun sibuk mengontak teman-temannya dan menanyakan desa dengan ciri-ciri yang nenek itu beri. Seemntara aku mengontak teman-teman dengan menanyakan apakah Lurah di tempat mereka bernama Robby, tapi kami tak menemukannya.

Setelah tiga puluh menit berkutat dengan hp, kami akhirnya menyerah.

“Kita coba saja bantu dia nanti, kita tanya ke kantor polisi siapa tau polisi bisa membantu kita,” usul Lidia. Aku dan Monica setuju.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Kami kini sudah sampai di stasiun Lamongan.

“Nek, kita sudah sampai di stasiun Lamongan. Kami akan bantu nenek ya, ke kantor polisi, cari informasi tentang alamat anak dan menantu nenek,” kata Monica membantunya berdiri. Nenek itu sangat berterima kasih. Dengan pelan-pelan, kami membantu nenek itu berjalan.

Sesampainya di luar stasiun, kami memesan taksi online dan berkata bahwa kami ingin pergi ke kantor polisi. Lima belas menit kemudian kami telah sampai di kantor polisi terdekat. Kami segera menerangkan duduk masalahnya. Salah seorang polisi langsung menanyai nenek tersebut tentang nama anaknya, nama menantunya, cucunya dan tempat desanya. Nenek itu beberapa kali menjawab dan beberapa kali menggeleng.

“Ya sudah, nenek tunggu saja di sini dulu saja ya. Sambil tiduran di sana juga tidak apa-apa.” Ujar salah seorang polisi.

“Bapak ini bagaimana sih. Saya kan mau cari rumah cucu saya, kok malah di suruh tiduran. Kalau tidak tau biar saya cari sendiri,” balasnya.

“Nenek mau cari kemana kalau tidak tau informasi lengkapnya?” sahut Polisi lainnya.

“Ya sudah, saya cari sendiri saja,” kata nenek bersikeras sambil berdiri. Kami pun segera membantu nenek.

“Maaf mbak, kami tidak bisa membantu. Informasinya kurang lengkap,” katanya. Kami mengangguk.

Kami akhirnya membawa nenek ke luar. Hari sudah siang. Adzan Dhuhur berkumandang dari masjid terdekat. Aku dan yang lain saling berpandangan bingung bagaimana atau kami hendak mencari dari mana?

“Aduh, bagaimana ini. Sudah dhuhur pula. Aku bilang pada keluargaku untuk menjemput selesai sholat dhuhur lagi,” ujar Lidia khawatir.

“Sudah, lebih baik kita sholat dulu. Ris, kau bawa nenek ke rumah makan itu saja dulu. Ajak nenek makan sambil menunggu kita sholat,” ujar Monica.

Aku mengangguk.

“Nenek, kita makan saja dulu ya. nenek butuh energy untuk mencari nanti.”

Nenek itu menurut saja. Kami segera pergi ke rumah makan terdekat. Aku segera pesan makanan setelah mendudukkan nenek di salah satu kursi.

“Itu neneknya mbak?” tanya pemilik toko.

“Bukan. Saya bertemu di kereta. Katanya mau mencari rumah menantunya. Tapi informasinya tidak lengkap. Kami sudah ke kantor polisi tapi juga tidak membantu,” jawabku menjelaskan.

“Hmm… kasihan sekali ya,” komentarnya. Ia kemudian memberikan kami dua piring nasi campur. Aku segera menerimanya dan memberikannya pada nenek.

Nenek makan dengan pelan-pelan. Ia bahkan tak habis setengah piring. Hanya sekitar tujuh sendok, nenek sudah selesai. Ia kemudian meminum air putihnya. Tepat pada saat itu, Monica dan Lidia sudah datang.

“Kalian tidak makan?” tanyaku.

Mereka menggeleng.

“Kami bisa makan di rumah saja nanti. Yang penting kita bantu nenek dulu,” ujar Lidia.

Aku pun menuju kasir untu membayar.

“Tidak usah mbak. Ambil saja gratis buat mbak sama nenek. Semoga cepat ketemu keluarganya nenek ya mbak.”

“Loh, makasih ya pak. Amin Pak.”

Kami pun segera membantu nenek untuk berjalan ke luar.

:cherry_blossom:

Dua jam kemudian. Kami sudah cukup lama berkeliling Lamongan, tapi kami juga tak menemukan keberadaan menantu dan anak nenek. Rencana yang hanya satu jam kami ingin membantu pun berubah menjadi dua jam. Waktu bahkan sudah mendekati sholat Ashar sekarang. Ponsel Lidia dan Monica juga sudah berdering bergantian.

“Bagaimana ini?” tanya Monica saat kami meminta untuk berhenti sebentar.

“Hhh… Sepertinya kita hanya bisa membantu sampai sini,” balas Lidia.

Aku mengangguk.

“Lebih baik kita bujuk saja dia untuk pulang,” ujarku.

“Yaa. Aku setuju.” Balas mereka.

Kami pun masuk dan membujuk nenek untuk kembali saja ke kota. Namun, sepertinya tidak akan mudah.

“Tidak. Saya akan cari sampai ketemu,” ujarnya.

“Nek, tapi nenek tidak tau tempatnya. Nanti kalau nenek tersesat bagaimana?” balas Monica berusaha membujuk.

Nenek itu pun melihat kami satu persatu. Ia kemudian tersenyum.

“Nak, terima kasih sudah membantu saya sampai sini. Selanjutnya biar nenek sendiri yang mencari. Nenek nanti akan naik bis atau kereta kalau sudah tidak ketemu juga.”

Kami terdiam. Kami ingin membantu sebenarnya, tapi kami tidak bisa karena orang tua kami yang mulai mengkhawatirkan kami.

“Ya sudah kalau begitu nek, kami minta maaf hanya bisa mengantarkan sampai sini. Pak, ini ongkosnya. Tolong antar nenek ini ya,” uajr Lidia sambil memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi itu.

Kami pun mengucapkan selamat tinggal kepada nenek dan mendoakan yang terbaik. Mobil taksi pun melaju.

Kami mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Orang tua Lidia dan Monica datang setelahnya bersama orang tuaku juga yang hanya selisih dua menit.

“Kok jauh sekali jaraknya dari stasiun kak. Kamu lupa jalan ya setelah tiga tahun tidak pulang?” tanya ibu. Aku hanya tersenyum pura-pura membenarkan.

Aku masih berpikir tentang nenek itu. sebegitu inginnnya dia bertemu cucunya walau tak tau tempatnya ia masih berusaha mencari. Aku tak terbayang kalau itu sampai terjadi kepadaku atau keluargaku. Bagaimana seorang nenek tua mencari keberadaan anak dan cucunya. Dia dalah nenek pencari jalan yang malang. Ah, jangan sampai itu terjadi pada ibu.

“Bu, nanti kalau aku pindah aku pasti akan mengabari ibu.”

“Heh, kamu sudah mau punya rumah baru memang kak?” tanya ibu sambil menyetir.

“Tidak juga, hanya ingin memberitahu saja,” balasku.

Ibu memandang heran dari kaca spion.

Aku memandang luar yang masih panas. Di sisi lain dari kota Lamongan ini masih ada seorang nenek tua yang sedang mencari jalan untu kemlepas Rindu.

Tuban, 13 Oktober 2020

1 Like