PEMANTIK PERJUANGAN

“Semangat itu tidaklah menetap, dia akan muncul dikala ada pematik untuk menyalakannya. Tapi, dia bisa saja pergi takala hati goyah dengan niat pertama kali.”

Sudah enam bulan aku bergabung dengan salah satu komunitas di Ibukota, Komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan anak marginal dan dhuafa dari kalangan orang tua dengan latar belakang sebagai pemulung.

Aku, sama sekali tidak punya pengalaman dalam bidang pendidikan anak usia dini. Tapi karena egoku lebih tinggi dan tidak ingin selalu meminta biaya hidup dari orang tua, sehingga diputuskanlah untuk terus berjuang.

Aku tidak percaya, jika akhirnya komunitas menerima. Ranah tanpa warna, begitupun diri yang terjun kedalam suatu bidang tanpa ilmu. Gelap dan bimbang.

Entah suatu kebetulan yang ternyata justru membangkitkan, ketika pertama kali sebuah motivasi harus diungkapkan satu persatu. Seorang kawan, yah kawan. Dia dengan yakinnya mengungkapkan sebuah isi, tentang motivasi bergabung di komunitas yang saat ini aku bergabung dengannya.

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lain”, teman tersebut mengambil sebuah kutipan hadits terkait manusia unggul dari manusia lain.

Aku berfikir ulang tentang niat yang selama ini berjalan, hingga akhirnya kuputuskan untuk membenahi niat, meluruskannya dan berkomitmen belajar untuk bisa dalam bidang tersebut.

Satu bulan berjalan, semua masih sama seperti bulan-bulan kemarin. Anak-anak yang masih belum dapat fokus walau dalam waktu 15 menit, berkata kasar, memukul teman dan teriak-teriak ketika di kelas.

Pepatah mengatakan : ”perubahan adalah tentang proses dan bukan hasil.” Tapi aku sendiripun ragu, entah hal yang sudah aku lakukan apakah berproses dengan baik sehingga muncul hasil yang maksimal pula atau sebaliknya. Tanpa hasil apapun akan tetap sama.

Aku sempat berfikir untuk mundur, tapi hatiku mengatakan aku bisa dan harus terus berjuang demi kebaikan dan kemanusiaan.

Yah, aku memutuskan untuk terus melangkah maju. Jika kita mencoba, mungkin ada peluang berhasil walau 0,1%, tapi jika mundur maka tidak akan dapat apapun.

Berdamai dan berterima kasih kepada diri, adalah salah satu langkah terbaik untuk menentukan target selanjutnya. Hingga akhirnya, sedikit target tersebut muncul “Oke, anak-anak harus merasakan nyaman dan tenang dulu di dalam kelas dalam waktu 10 menit.”

Tiga bulan selanjutnya sedikit perkembangan mulai muncul, yakni anak yang sebelumnya teriak-teriak hingga detik itu mulai berkurang. Kata-kata kasar yang sebelumya mudah terucap pada sebagian anak, mulai hilang. Sedang untukku, rasa cinta untuk mendalami peran serta belajar pada bidang tersebut semakin kuat tertanam dalam hati.

Suatu hari, sekolah mengadakan kegiatan bermain di taman dalam rangka outdoor class.

Kebanyakan dari anak-anak tersebut berjalan kaki menuju sekolah diantar oleh Ibunya, jarak yang bisa terbilang jauh tapi bukan sebagai penghalang.

Aku dalam diam mengikuti mereka dari belakang. Mereka begitu antusias berangkat sekolah, ada yang bernyanyi ria, mengobrol bersama teman, atau sekedar bersenandung suka cita.

Aku begitu terenyuh melihat tingkah polah anak-anak didikku di ujung pengajaran. Yups, karena beberapa anak akan meneruskan pendidikan ke SD. Dan hanya sisanya lagi masih bertahan karena menunggu minimal umur yang pas untuk mendaftar ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Andaikan di awal aku menyerah, apakah aku bisa melihat senyum mereka yang merekah. Mereka mungkin akan tetap tersenyum, tapi tidak bersama pejuang yang lemah. Pemantik tersebut harus selalu ada, jika memang dia hilang tapi wajib untuk kita dalam mencarinya.

1 Like