Patriarki dalam Panggung Politik

Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Akibat dari adanya sifat patriarki, membuat wanita seolah ternomor duakan di dalam berbagai hal, termasuk panggung politik. Ketika seorang wanita mengajukan diri untuk terlibat dalam kontestasi pencalegan, sering kali masyarakat menilai sebelah mata. Mereka seolah memandang bahwa wanita itu tidak mampu untuk mengemban amanah nantinya hanya karena wanita dianggap makhluk yang lemah. Akibatnya, ketika seorang wanita terjun ke ranah politik, perlu usaha yang lebih keras dibandingkan dengan calon laki-laki.

Padahal negara sendiri tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27, yakni: Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Begitupun halnya dalam Islam, Islam tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan baik dari segi ibadah maupun sosial.

Kepercayaan masyarakat yang memandang rendah perempuan dapat menurunkan kepercayaan diri perempuan untuk terjun di bidang politik. Kepercayaan ini bisa membatasi ruang gerak perempuan untuk mengembangkan diri. Lebih dikhawatirkan lagi, perempuan akan memilih mundur dalam partisipasi politik. Mereka akan memilih apatis, sebab tidak diberikan panggung. Padahal potensi yang mereka punya bisa saja jauh lebih mumpuni dibandingkan kaum laki-laki.

Melihat fenomena semacam itu, agaknya pemerintah perlu meningkatkan pendidikan politik bagi masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat lebih sadar politik dan mau turut berpartisipasi aktif di dalamnya. Berkaitan dengan hal itu, masyarakat dapat membuka wawasan dan menghilangkan pandangan wanita tidak pantas menjadi pemimpin.

Kesempatan politik bagi perempuan juga perlu dibuka lebih lebar lagi, khususnya dalam partai politik. Para petinggi partai politik perlu memperhitungkan peranan perempuan dengan menyediakan kursi bagi mereka. Setidaknya dengan memberikan jumlah kursi yang sama dengan laki-laki. Dengan demikian peluang perempuan untuk terjun di bidang politik semakin besar.

Sumber:

bagus ulasannya, bagi saya jelas sekali budaya ini menguasai panggung pemerintahan apalagi dunia politik. ini didasari dari sentimen kebudayaan dan telah menjadi darah daging hampir di tiap negara. akibatnya jelas tidak karuan dalam membuat dan mengelola negaranya (banyak terjadi). seharusnya ada peran wanita yang mampu mengatasi persoalan negaranya. butuh kesetaraan dalam segala hal.