Pasta Gigi dan Pertemuan

pemenang

Summary

source : weheartit.com

Bagi Eric, zona nyaman tidak selamanya diartikan sebagai sesuatu yang membuatnya nyaman. Zona nyaman bisa berarti rutinitasnya di tiap hari yang dapat membuatnya bertahan hidup hingga saat ini. Berangkat di pagi hari, bekerja, pulang pada sore harinya, terkadang teman-teman mengajaknya pergi ke pub favorit yang ada di pusat kota untuk melepas penat, kemudian pulang untuk beristirahat. Seperti itu.

Eric, pria yang selama hidupnya selalu tinggal di kota itu. Ia kepalang nyaman dengan apapun yang tersedia di kehidupan perkotaannya. Lapar? tinggal ambil jaket kemudian turun ke lantai satu dan menuju diner yang ada di seberang apartemen. Bosan? well, tidak jauh dari apartemennya ada plaza yang berdiri. Kenapa tidak mencoba menonton satu film? Sampo habis? di minimarket dekat gedung tempat tinggalnya selalu tersedia semua barang-barang pokok yang sangat membantu kehidupannya.

Seperti halnya pagi ini, saat ia mendapati tabung pasta giginya kian menipis dan mengosong. Eric berencana untuk membeli ganti benda itu di minimarket seusai kerja. Pria itu menyelesaikan urusan yang harus dikerjakannya sebelum meninggalkan rumah kemudian bersiap untuk ke tempat kerja.

“Selamat pagi, tuan Eric,” wanita di balik meja sekretaris pribadinya menyapanya ramah, “di ruangan Anda sudah ada seseorang yang menunggu untuk menemui Anda. Perlu saya temani?”

“Wah, pagi sekali,” sahut Eric, “apakah saya mengenalnya?”

“Dia meyakinkan saya bahwa Anda sungguh mengenalnya, tuan. Omong-omong, namanya Emil.”

“Emil? aku tidak pernah … baiklah, terima kasih. Saya akan pergi sekarang.”

“Perlukah saya membawakan minum untuk Anda berdua?”

“Terima kasih, Amy.”

Eric membuka pintu kantornya. Seorang laki-laki muda menoleh ke arah Eric begitu pintu terbuka. Eric perlahan masuk, menutup pintu di belakangnya. “Siapa kamu? dan kapan kita pernah bertemu?”

“Halo, pak. Perkenalkan, nama saya Emil.”

“Emil, sekretaris saya di luar bilang bahwa kamu sangat mengenali saya.”

“Memang benar, pak. Oh, saya ingin memberikan sesuatu untuk Anda.” Laki-laki itu merogoh tas yang tersampir di bahunya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Beberapa garis lengkung tercipta di dahi Eric tatkala Emil memberikannya beberapa kotak pasta gigi.

“Buat?” tanya Eric singkat.

“Buat sikat gigilah.”

“Iya, tapi kenapa?”

“Lebih baik kuberi kau ini sekarang daripada kau repot-repot pergi ke belanja.”

“Siapa yang repot? memangnya kenapa kalau aku ke minimarket?”

“Jangan.” Emil menggeleng tegas. “Jangan hari ini.”

“??? apa? bisa jelaskan apa yang terjadi?”

“Kau akan bertemu dengan ibuku di sana.”

“Terus kenapa? apa hubungannya dengan ibumu dan aku?” Eric menyilangkan lengan di depan dada. “Oh, aku mengerti. Kamu kabur dari ibumu ya? tenang, aku tidak mengenal ibumu. Kau tidak akan kukembalikan pada dia. Tunggu, pertama-tama, bagaimana kau bisa mengerti aku hendak ke minimarket untuk membeli pasta gigi?”

“Aku akan menjawabmu, tapi jangan kaget,” peringat Emil, “ibuku itu istrimu.”

Eric menjatuhkan rahang.

“Permisi, saya sudah mengetuk pintu sejak tadi, semoga saya–”

“Taruh minumnya, Amy,” suruh Eric.

“Oh, baiklah.” Si sekretaris masuk sebentar untuk meletakkan nampan kemudian kembali ke luar dan menutup pintu.

“Apa kamu bilang?” Eric mengerutkan alisnya. “Sini. Minum.”

“Ibuku itu, kekasihmu.” Emil mengambil gelas yang berbentuk biasa.

“Tapi seingat saya, saya tidak pernah–”

“Sebelum Anda mengarahkan pikiran ke sesuatu yang salah, saya mau bilang kalau Anda memang tidak … ya, Anda mengerti sendiri lah.” Emil menggoyang-goyangkan gelas. Matanya terarah pada benda cair yang bergerak di dasar gelas. “Aku ini dari masa depan.”

“Apa-apaan ini …” Eric mengusap wajah, melangkahkan kaki jenjangnya ke arah meja. Ia duduk di atas permukaan meja yang kosong, menghadap bocah remaja itu. “Saya belum mau percaya sama yang kamu bilang. Tapi kenapa kamu cegah-cegah saya ketemu sama so-called istri saya?”

Rasanya aneh menggabungkan dua kata terakhir pada kalimatnya itu. Eric single seumur hidupnya.

“Agar semua yang terjadi di masa depan tidak pernah terjadi,” jawab Emil, “kau meninggal sebelum kita sekeluarga sempat pergi liburan.”

Eric menelan salivanya dengan kasar.

“Kita sudah rencanakan sejak lama liburan itu. Tapi … semuanya terjadi begitu saja.”

“Memang ke mana kita akan liburan?”

“Desa pesisir. Di sana kita bisa merasakan kehidupan desa yang masih serba primitif!seru banget!”

Eric mengerutkan dahi untuk kesekian kalinya. Wisata seperti itu bukanlah tipenya. Untuk apa dia mau liburan ke tempat menyusahkan seperti itu?

“Tapi … kau …”

Eric merenungi lantai yang ada di bawahnya. Terbersit suatu ide gila di kepalanya. “Kehidupan primitif ya? Aku mungkin akan mengambil cuti sebentar untuk mencoba itu. Bagaimana menurutmu?”

Emil melebarkan mata.

“Bagaimana aku tau kamu anakku kalau aku tidak mengenalmu lebih dalam? Aku mungkin akan berikan perjalanan sebagai ayah-anak yang kau inginkan.”

“Ayah, coba deh.”

“No!” Eric menepis tangan Emil. “Aku tidak suka ikan seperti itu.”

“Ayah suka ikan seperti apa?”

“Sashimi.”

“Ih, ayah sejak dulu masih sama ternyata.” Emil merotasikan kedua bola mata, menggigit ikan.

“Emil, bisa ga kamu berhenti panggil saya ayah? Eric saja cukup.”

“Eric? Baiklah, Eric. Hehe, aneh sekali.”

Eric mengeluarkan ponsel dari saku celana, sedikit mengumpat saat ingat tidak ada sinyal di sana.

“Kenapa sih cek hp terus? Sudah tau ga ada sinyal.”

“Sedikit khawatir sama pekerjaan.” Eric menyelipkan kembali ponsel ke dalam saku celana. “Aku tidak biasa libur. Sekarang, di mana aku bisa mendapat sinyal?”

“Entah, mungkin di puncak pukit.”

Eric menengokkan kepala ke arah yang ditunjuk Emil, mengeluarkan desahan kasar. “Nanti mungkin saya ke sana untuk mengecek e-mail masuk. Kamu main-main saja di pantai.”

“Baik!”

Mereka berpisah setelah makan siang di atas piring tandas. Eric berjalan ke arah perbukitan sementara Emil menuju pantai. Sesampainya di atas bukit, pria itu mengeluarkan ponsel.

Sinyalnya lemah, tapi cukup untuk menerima e-mail masuk.

Tidak ada e-mail dari kantor, untung saja.

“Mendaki mendaki aja kali. Anak hits ya kamu?”

Eric mengangkat wajah, melihat rupa dari pemilik suara yang menegurnya. “H-halo.”

“Hai,” balas gadis itu, “turis juga?”

“Iya, ke sini buat liburan. Diajak.”

“Oooh, sama siapa?”

“Sama … teman,” dusta Eric.

Tidak sepenuhnya dusta. Toh, Emil memanggilnya dengan namanya.

“Kalau kamu?” Eric memasukkan ponsel ke dalam saku.

“Sama orang tua.”

Eric mengangguk. “Kamu kelas berapa? liburan sekolah ya?”

“Apa sih? Aku udah kerja kali. Kamu kali yang masih sekolah.”

Eric terkekeh. “Aku kepala bagian di kantorku. Aku punya sekretaris pribadi.”

“Oooh, makanya ngecek ponsel. Gila kerja ya kamu.”

“Begitulah. Haha.”

Dua orang itu menikmati pemandangan, berbicara banyak soal diri masing-masing hingga langit mulai menjingga.

“Aku di bawah makan yang aneh banget, sampai mulut aku baunya ga enak. Emil yang kasih,” ujar Eric.

Shasha, nama gadis itu, tertawa. Ia kemudian mencabut sehelai daun. “Kunyah ini aja, buat ganti pasta gigi. Daun sirih nih.”

“Haha emang aku kambing?”

Shasha tertawa. Setelah beberapa topik, mereka bersama kembali ke bawah. Setelah ucapan, " see you when I see you ," mereka berpisah. Eric menemui Emil setelahnya.

“Kamu bener anak saya?” tanya Eric.

“Iya dong.” Emil menunjukkan gelangnya yang berdesain futuristik kemudian memainkannya sedikit. Itu benda yang membawanya ke sini.

Eric tersenyum. “Bisa ceritain gimana saya dan ibu kamu?”

Emil berdeham. “Keluarga kita kecil, tapi messed up , tapi dalam maksud baik. Kita chaotic banget.” Emil tersenyum. “Banyak badai yang menerpa kelurga kecil kita. Tapi kita selalu ada buat satu sama lain. Walau kamu gila kerja.”

Eric tertawa.

“Kita udah janji buat pergi ke sini, tapi seperti yang aku bilang. Kamu …” Senyum Emil memudar. “Mama itu ibu yang baik. Tapi … aku kasian sama beliau. Aku gabisa liat beliau kesusahan sendirian. Jadi sekarang aku aku nyoba buat ga temuin kalian.”

Eric menghela napas. “Kalo kami ga ketemu, kamu ga lahir dong?”

“Gapapa.” Emil menggeleng. “Kalo aku lahir cuma jadi beban mama, gapapa aku ga usah lahir. Mama berhak bebas.”

“Ga gitu dong konsepnya.” Eric mengerutkan dahi.

Emil tertawa kecil. “Aku masih ingat cerita kalian.” Laki-laki itu menendang pasir. “Awal kalian bertemu.”

Eric tersenyum. “Gimana?”

“Kejadiannya di awal bulan Februari.”

“Sekarang.”

“Iya, sekarang,” sahut Emil, “kata kalian, kalian bertemu waktu kamu butuh pasta gigi.”

“Makanya kamu ga bolehin saya beli pasta gigi.”

“Iya,” jawab Emil murung.

“Saya ga dapet pasta gigi pun kayaknya bakal tanem sirih, haha. Tadi disuruh orang kunyah si–” Eric tersadar. “Kamu bilang saya sama mama kamu ketemu waktu saya butuh pasta gigi? yakin?”

“Umm … sebenernya enggak sih. Sebenarnya kalian bilangnya kalian bertemu waktu kamu butuh pembersih gigi. Apalagi kalau bukan pakai pasta gigi.”

“Nggak nggak.” Eric menggeleng. “Sepertinya saya baru saja bertemu mama kamu, sore ini.”

“Di sini?”

“Iya. Di sini. Sebenarnya di puncak bukit tadi.”

Emil menahan napas. “Kamu bakal nemuin dia?”

“Ya, sepertinya, entahlah. Aku akan biarkan takdir menggiring saya.” Eric berlutut. “Saya di sini sama kamu sekarang pun sepertinya sudah jadi takdir. Nyatanya, kita ga bisa kendaliin takdir yang udah diatur buat kita, Emil. See ?”

“Tapi, soal nanti kamu pergi …”

Eric menggeleng. “Itu juga sudah ditakdirkan. Mama kamu juga pasti punya bahu yang kuat buat urus kamu sendirian.”

“Be-begitu ya …”

Eric mengangguk. “Banyak yang bisa disyukuri dari suatu pengalaman, Emil, termasuk kepergian saya. Saya yakin itu.” Pria itu mengusap bahu Emil. “Saya sekarang pun begitu. Awalnya saya tidak suka dengan perjalanan semacam ini. Tapi saya mulai menyukainya, walau artinya saya harus keluar dari zona nyaman.”

“Begitukah?”

Eric mengangguk. “Terima kasih ya sudah ajak saya ke sini.”

Emil tersenyum juga. “Terima kasih juga, ayah.”