Parasit seperti apa saja yang mengancam populasi Orangutan?

Populasi orangutan yang terus berkurang, ternyata tak hanya disebabkan oleh hilangnya hutan yang menjadi habitat mereka akibat ekspansi perkebunan dan segala bentuk kebutuhan manusia. Namun keberadaan berbagai jenis parasit baru yang tumbuh di tubuh mereka, turut mengancam daya tahan satu-satunya primata besar yang ada di Asia ini.

Orangutan (Pongo pygmaeus) dikategorikan sebagai salah satu hewan yang terancam punah. Penurunan jumlah populasi disebabkan karena perburuan, perdagangan, kehilangan habitat dan masalah kesehatan pada orangutan, termasuk di antaranya masalah parasit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keanekaragaman dan faktor risiko infeksi parasit. Serta menentukan tipe infeksi dan mengukur derajat infeksi parasit pada orangutan.
Sebanyak 35 sampel feses dari orangutan yang berbeda didapatkan di Suaka Margasatwa Lamandau, Kalimantan Tengah. Suaka Margasatwa Lamandau merupakan salah satu kawasan in situ tempat pelepasliaran dan penangakaran orangutan. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Nopember sampai Desember 2017.

Sampel feses yang didapatkan merupakan feses orangutan yang masih segar. Sampel yang diperoleh diperiksa menggunakan metode natif, pengapungan, sedimentasi dan McMaster untuk mendeteksi keberadaan dan menghitung derajat infeksi parasit. Data karakteristik orangutan dan manajemen pemeliharaan berupa umur, jenis kelamin, dan metode pemeliharaan orangutan diperoleh dengan metode wawancara. Responden untuk wawancara merupakan pihak penjaga dan pengelola kawasan. Data yang didapatkan kemudian dianalisis secara deskriptif dan menggunakan uji Chi Square dan Fisher untuk melihat faktor risiko kejadian parasitik pada orangutan. Derajat infeksi parasit pada orangutan dianalisis menggunakan uji Mann Whitney U test. Hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat infeksi parasit yang tinggi pada orangutan sebesar 91.4% di Suaka Margasatwa Lamandau.

Jenis parasit yang ditemukan merupakan jenis cacing parasit nematoda dan jenis protozoa. Prevalensi infeksi parasit yang berhasil dideteksi adalah Strongyloides sp. (68.6%), hookworm (71.4%), Enterobius sp. (20%), Trichuris sp. (17.1%) dan Balantidium sp. (5.7%). Infeksi parasit yang terjadi pada orangutan didominasi oleh infeksi campuran (62.8%) yang didominasi oleh Strongyloides sp. dan hookworm dan sisanya berupa infeksi tuggal (28.6%). Orangutan liar memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap infeksi hookworm dibandingkan dengan orangutan soft-release. Hal ini berbeda dengan faktor risiko terhadap infeksi Trihuris sp. yang lebih tinggi pada orangutan soft-release dibandingkan dengan orangutan liar.

Orangutan dewasa juga memiliki risiko terhadap infeksi hookworm yang lebih besar dibandingkan dengan orangutan muda. Tidak ditemukan perbedaan signifikan terhadap prevalensi parasit pada perbedaan jenis kelamin antara orangutan. Sistem manajemen di Suaka Margsatwa Lamandau perlu ditingkatkan untuk meminimalkan terjadinya infeksi parasit pada orangutan. Sosialisasi kepada petugas yang ada di lapangan juga penting dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit zoonosis antara orangutan dan manusia.

Referensi

https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95252

Dalam penelitian ini, seperti dilansir oleh The Jakarta Post, kedua tim peneliti menemukan pertumbuhan berbagai jenis parasit baru di dalam tubuh orangutan. Serangan parasit terhadap orangutan, bisa menyusutkan jumlah orangutan yang ada di alam liar, selain faktor berkurangnya hutan akibat alihfungsi hutan.

Dalam penelitian yang dilakukan sejak tahun 1999 di Taman Nasional Leuser di Sumatera Utara dan di Kalimantan Tengah ini tim peneliti melihat bahwa faktor penyakit adalah salah satu faktor terbesar yang mengancam daya tahan orangutan di alam,

”Kami berhasil menemukan berbagai jenis spesies parasit melalui berbagai penelitian yang dimulai sejak tahun 1999 silam,” ungkap pakar parasit orangutan dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Wisnu Nurcahyo kepada The Jakarta Post.

Sejumlah parasit yang berhasil ditemukan dalam penelitian ini adalah :

  • Strongyloides sp.
  • Mammomonogamus sp.
  • Chilomastix mesnili
  • Endolimax nana
  • Troglodytella abrassarti
  • Pongobius hugoti
  • Balantidium coli
  • Lemuricola pongoi

Orangutan memiliki kerentanan seperti manusia dalam ketahanan mereka terhadap penyakit, karena DNA orangutan memiliki kesamaan sekitar 97% dengan DNA manusia. Orangutan yang pernah berinteraksi dengan manusia, seperti misalnya di pusat rehabilitasi orangutan, akan memiliki kemungkinan terpapar penyakit manusia. Saat orangutan dilepaskan kembali ke hutan dalam kondisi sepenuhnya sehat dan tanpa pengobatan yang tepat, maka besar kemungkinan ia akan menyebarkan penyakit itu ke sejenisnya yang selama ini sehat.