Orang Termiskin di Dunia

Orang Termiskin di Dunia

Siang ini saya bertandang ke rumah sahabat Dwi Wibowo. Pak Dwi begitu ia biasa kami sapa, adalah seorang pria paruh baya berumur 45 tahun dan sehari-hari adalah seorang profesional gajian yang tidak macam-macam. Ia terakhir adalah seorang direktur sebuah perusahaan lokal sedang yang bergerak di bidang media penyiaran.

Saya cukup sering mengunjungi Pak dwi belakangan ini terlebih sesudah ia tidak lagi menjadi direktur di perusahaan tersebut, dan saat ini tidak melakukan pekerjaan tetap. Pak Dwi tidak lagi melakukan pekerjaan rutin, pagi hari jam 08.00 pergi keluar rumah menuju kantor. Sesuatu ritual yang ia lakoni selama 20 tahun terakhir. Ia merasa bersalah berada di dalam rumah pagi hari, dan menjadi lebih bingung saat anaknya Inggrid yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar bertanya polos, “Pak kok tidak pergi ke kantor?”.

Pak Dwi memang masih bisa hidup normal beberapa bulan lagi, dari berbagai tabungan dan uang pesangon yang masih ada. Akan tetapi, ia sangat gamang dan merasa dirinya tidak berguna. Dan mulai memproyeksikan keadaan yang makin sulit dan makin kecil dalam dirinya. Ia juga mulai mengajak “teman baiknya”, yaitu pikirannya sendiri untuk berpikir dan mewujudkan ketakutannya untuk pindah ke rumah yang lebih kecil. Pikiran memang netral ternyata, bisa diajak sebagai teman untuk melakukan sesuatu atau sebagai “teman” untuk melumpuhkan kita.

Di ruang tamu rumah Pak Dwi, saya bertanya, “Pak, siapa orang paling malang atau paling miskin di dunia ini?

“Orang yang tidak punya kerjaan”, katanya lirih.

Saya diam sejenak, mata saya tertuju pada sebuah bingkai gantung tua agak kusam yang sudah tidak terlalu sering dipandang dan diperhatikan karena sudah ada disitu sejak lama. Ada sebuah kalimat yang baik, saya mengambil lalu mengusapnya. Ada kalimat bijak dari Raja Solomon atau disebut Nabi Sulaiman, disitu tertulis :

“The poorest of men is not the man without a cent but a man without a dream”.

Orang yang paling miskin itu bukan orang yang tidak pegang duit sepeser pun tetapi orang yang tidak punya sebuah keping mimpi.

Saya selalu membersihkannya dan menggantunya. Saya dan Pak Dwi sama-sama menatap tulisan itu sekali lagi dan saling membisu.


Apa hal inspiratif yang Anda peroleh dari cerita singkat di atas ?

Referensi

Lim, Hendrik. 2007. Rehat Dulu Lah : 106 Eksplorasi Inspiratif yang Memperkaya Hati dan Menyegarkan Hidup. Jakarta : Elex Media Komputindo.