Optimisme dan Esensi Kekuatan Islam

image

"Kemenangan milik Islam adalah sebuah kepastian. Namun apakah kita menjadi bagian dari perjalanan kemenangan itu adalah sebuah pilihan.”

Hidup adalah sebuah pergerakan. Dan pergerakan itu terombang-ambing diantara kuasa tuhan. Menikmati setiap pergerakan tadir, adalah kekuatan yang yang harus selalu hadir. Sebab, jika pergerakan itu terkendali, sejatinya akan bermuara pada kebahagiaan yang abadi. Ketika takdir hidup bergerak keatas, jangan lupa bahwa kaki kita masih berpijak di bumi. Ketika takdir hidup bergerak kebawah selalu tanamkan keyakinan, bahwa harapan itu setinggi langit dan seluas semesta. Kesadaran seperti inilah yang seharusnya menjadi substansi optimisme setiap manusia.

Setiap manusia sejatinya terus bergerak mengembari tirani kekejaman dunia. Namun, tak sedikit pula orang yang tidak yakin dan bimbang harus bersikap seperti apa. Bukankah sejarah telah mencatat bahwa pertolongan Allah tidak ditentukan dari angka-angka matematis duniawi. Namun ada otoritas tuhan yang akan selalu hadir dengan pasti. Mari kita belajar dari kesabaran dan ketegaran tokoh-tokoh Islam dalam merentangkan sikap optimistisme dalam hidup.

Hajar, istri Nabi Ibrahim diantaranya, harus rela mondar-mandir tujuh kali,
sampai air zamzam menyembul dan menampakkan diri. Mondar mandirnya pun di tanah gersang seorang diri, di padang sahara yang terkenal beringas, sadis, ganas, dan mencekam ketika itu. (Fathani, 2008:35) Kita berandai-andai, bagaimana sekiranya Hajar berhenti pada kali keenamnya? Apakah air zamzam akan ada? Apakah air zamzam kemudian hari menjadi oleh-oleh para jamaah haji? Hajar memberi kita arti sebuah perjuangan dan pentinginya optimisme, bahwa jika cobaan hadir sebesar telaga, maka harapan pun harus seluas samudera. Karena kehendak Allah, dan berkat kesabaran Hajar, air zamzam terus mengalir membawa keabadian setelah Hajar berjuang berulang-ulang, berkali-kali, dan terus menyalakan pelita optimisme.

Begitu juga Imam Abu Hanifah terpaksa harus menjual beberapa atap rumahnya yang ketika itu terbuat dari pelepah pohon, demi mencari ilmu dan menambah wawasan pengetahuannya. Sofyan Ats-Tsauri pernah tiga hari kelaparan karena mencari hadits. Imam Sibawaih harus berlelah-lelah menyusuri perkampungan orang-orang arab badui, nomaden, berinteraksi sosial bersama mereka, untuk menelusuri dan mendalami bahasa arab fusha’ mereka (Fathani, 2008:67). Semangat Imam Abu Hanifah, girah Sofyan Ats-Tsauri, dan perjuangan Imam Sibawaih, mengajarkan kepada kita bahwa sebesar apa perjuangan yang kita korbankan, maka sebesar itu hasil yang Allah akan hadirkan.

Nabi Nuh AS harus memerlukan waktu 950 tahun agar dakwahnya memperoleh pembelaan dan menghasilkan pengakuan. Itupun pengikutnya hanya sekitar 80 orang (Muhammad, 2011:87). Kita semua bisa membayangkan, berarti setiap 12 tahun empat bulan Nabi Nuh AS berdakwah, ia hanya peroleh satu orang pengikut. Pengikutnya pun berasal dari kaum pinggiran yang kecerdikannya kurang mumpuni, bukan para elit penguasa cendekia. Yang diistilahkan Al-Quran dengan aradzil baadiy ra’yi, kaum bawahan yang kecerdikannya lelet (Q.S Hud Ayat 27). Namun itu tidak mengurangi semangat dakwahnya. Kita bisa membayangkan, bagaimana kalau sekiranya Nabi Nuh menghentikan dakwahnya pada tahun ke 11, apakah ia punya pengikut?

Dalam cerita Israiliyat, bahkan konon Nuh harus menunggu pohon sampai tumbuh besar agar bisa dibuat papan untuk dijadikan sampan ketika tragedi banjir. Bagaimana jadinya jika Nuh menghentikan dakwahnya pada tahun ke-100, 200, atau 300, hanya seberapa gelintir pengikutnya? Kesabaran dan ketabahan nabi Nuh memberikan hikmah sangat mendalam, bahwa tidak semua harapan yang baik akan selalu terwujud seketika. Ada kalanya harus dilalui dengan kesabaran yang kuat dan doa yang terus terucap.

Ibnu Asakir perlu waktu 60 tahun untuk mengarang kitab tarikhnya, “Tarikh Damaskus”, sehingga kitab sejarahnya melegenda dan mengabadi sepanjang abad. Sering-sering Ibnul Mubarak mengulang-ulang hapalan satu haditsnya dari malam hingga fajar. Padahal beliau seorang ulama. Itu dalam rangka mengakarkuatkan hapalannya dalam otak. Agar terus memondasi dan melembaga dalam ruang ingatannya.

Imam Syafi’i yang tingkat kecerdasannya tujuh tahun sudah hapal Al-Quran harus menghabiskan sepuluh tahun untuk mempelajari satu dialek Arab, bani Hudzail. Untuk menulis, ia merelakan diri menjadi pemulung kulit, tulang, dan tembikar karena kertas adalah suatu yang masih langka ketika itu. Imam Ahmad mau tak mau harus menghadapi siksa dan penjara agar pendapatnya diterima.

Sukses, secara jamak, harus terlebih dahulu menabrak derita dan tantangan, kemudian mengalahkannya. Sukses secara sunnah alamiah harus berpayah-payah terlebih dahulu. Pelita motivasi harus terus menyala untuk mengalahkan teror tantangan yang pantang menyerah dan pandai membangkitkan semangat diri. Saat motivasi lemah, jangan harap jala peroleh panenan sukses (Abdullah, 2004:15).

Kesuksesan akan teraih, mayoritas, setelah seseorang terlebih dahulu harus menjebol
rintangan. Rintangan bagi tiap orang adalah pasti, hanya berbeda varian dan bentuknya. Hanya semangat dan optimismelah yang menjadikan seseorang berhasil. Saat optimisme dan semangat sudah mati, sekaligus kesuksesan sudah diambang kematian.

Kita tak bisa membayangkan, apakah Imam Nawawi dikenal dunia jika tidak berpayah-payah mengarang kitab Riyadhus Shalihin? Apakah Umar bin Abdul Aziz dikenal sejarah jika tak menjadi khalifah? Apakah Abu Hurairah menjadi legenda punggawa hadits jika tidak berlelah-lelah dalam meriwayatkan hadits-hadits nabi? Apakah Khalid bin Walid menghiasi buku sirah jika tidak beberapa kali memberanikan diri turun dalam medan laga?

Mereka yang mempunyai “nama besar”, karena mereka telah menggergaji. Menggergaji kemalasan dan keogahan, untuk meraih cita-cita dan impian. Malas, enggan melakukan sesuatu, dan lemah, tidak sanggup melakukan sesuatu, adalah dua penyakit yang harus dilawan, dan harus dijauhkan dari kehidupan. Itulah rahasia mengapa Rasulullah senantiasa menuntun kita dengan doa:

اللهم إني أعوذبك من العجز والكسل

Allaahumma innii a’uudzu bika minal 'ajzi wal kasali

Artinya: Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas.

Keberuntungan selalu memihak mereka yang mau melawan kelemahan dan memerangi kemalasan. Mereka yang mau bangkit lagi setelah jatuh berkali-kali. Kesuksesan akan terus membela bagi mereka yang yang mau berusaha dan berupaya, kreatif dan inspiratif.

Sungguh yang terpenting bukanlah sudah berapa lama kita hidup, namun sejauh mana kualitas hidup. Sebab hidup bukanlah tentang seberapa saat, namun seberapa manfaat. Hidup pun bukanlah perkara durasi tetapi tentang kontribusi.

Pengarang besar, khalifah, periwayat hadits, jenderal peperangan, bukanlah lahir kebetulan. Ada benang merah yang sangat kuat antara tindakan dan impian, Antara perjuangan dan pengorbanan. Antara obsesi dan kualitas diri.

Semoga sikap optimisme selalu hadir membingkai setiap jejak perjalanan kita.

Referensi

  • Al-Qur’ân al-Karîm
  • Abdullah, Adil Fathi (2004).Membangun Positive Thinking secara Islam terj. Faishal Hakim Halimy. Cet. I. Jakarta: Gema Insani Press.
  • Fathani, (2008).Abdul Halim.Ensiklopedi Hikmah:”Memetik Buah Kehidupan Dikebun Hikmah”. Cet. I,. Yogyakarta: Darul Hikmah
  • Muhammad, Sopian.(2011). Rahasia di Balik Rahasia. Cet. I. Jakarta: Cakrawala Publishing.
2 Likes