Oktober Tahun Lalu

images (1)
Sumber : PxHere.com

Pada suatu malam yang aku merasa bosan karena kesunyiannya. Aku hanya duduk bersender, merebahkan diri, duduk lagi, dan seperti itu seterusnya. Tidak lupa ponsel canggih yang hampir selalu aku genggam di waktu senggang. Sembari menunggu waktu malam semakin larut maka aku habiskan pula untuk men-scroll sosial media.

Ting. Suara pesan dari whatsapp. Langsung saja ku buka pesan itu. “Jadi bagaimana? Kapan kamu bisa?” “Sabtu di minggu ini aku bisa, kok”. “Oke deh, Sabtu ini, ya”.
Doni. Salah satu orang yang aku kenal saat ini. Sebenarnya aku tidak begitu kenal dengan banyak orang mengingat aku adalah pendatang yang merantau di kota ini. Yogyakarta. Tentunya aku tidak tahu banyak mengenai tempat-tempat yang ada di sini. Pesan dari Doni adalah ajakan untukku untuk jalan-jalan mengunjungi wisata di Jogja. Pasti menyenangkan, pikirku. Jogja selalu identik dengan wisata dan pesonanya. Kami sepakat untuk pergi hari Sabtu nanti, 3 hari lagi. Katanya dia akan mengajakku ke wisata daerah Bantul. Aku juga sudah meng-iyakannya.

Sabtu pun tiba. Pukul 10.00 WIB, waktu janjian kami. Dia datang tepat waktu. Sementara aku masih bersiap-siap. Oke, aku adalah si telat. Aku keluar dari tempat peristirahatanku, mess, sudah hampir sebulan aku kerja di tempat ini juga tidur di sini. “Katanya jam 10.00 kok lebih 15 menit”
“Hehe maaf, kamu berangkat jam berapa memangnya,Mas?”
“09.00 WIB”.
“Pagi sekali…” terheranlah aku
“Rumahku kan jauh”.
Oh iya kami kenal dari salah seorang temannya yang juga temanku. Waktu itu aku memberitahu temanku kalau ingin pergi bekerja di Jogja dan dia mengenalkanku pada Doni. Jadilah kami saling kenal sekarang.

“Mau kemana dulu, Mas?” tanyaku
“Ke Pinusan, ya?”
“Okedeh, ngikut aja aku.”
Di tengah jalan kami berbagi cerita. Keseharianku juga kesehariannya. Pekerjaanku juga pekerjaannya. Kami cukup susah untuk bertemu. Mengingat waktu liburku adalah weekday dan waktu liburnya adalah weekend, tapi hari ini suatu acara yang entah kenapa kami bisa libur bersama. Seolah semesta memang sudah merencanakannya.

Sesampainya di Pinusan kami mengitarinya, juga mengambil foto di spot foto yang katanya lagi hits. Setelah itu, kami ke Pantai daerah Gunung Kidul karena aku yang menginginkan dan membujuknya ke pantai. Ingin sekali aku melihat indahnya sunset di Jogja ini.

Pukul 04.00 WIB kami baru berangkat dari Bantul. Sedikit ngebut karena menghadang waktu. Mau bagaimana lagi, mengejar sunset yang rasanya seperti ingin kabur. Kebetulan juga awan mendung, mungkinkah akan turun hujan, tapi semoga tidak. Jam 5 lebih sekian kami sampai di sana. Sudah cukup kecewa aku karena mungkin sudah tidak kebagian indahnya panorama sunset di pantai. Namun, betapa girangnya aku merasakan cahaya mataharinya masih ada. Langsung saja kami masuk dan sedikit membasahakan kaki.

Malam harinya kami beranjak pulang. Menyusuri jalan dari sudut hingga ke pusat kota ditemani dinginnya angin malam yang membuatku semakin merapaktkan diri pada hangat tubuhnya. Ku resapi aroma tubuhnya yang membuatku semakin tidak ingin segera sampai. Berlama-lama dengannya adalah sesuatu yang tak ingin ku lewatkan.

Setelah kencan Sabtu selesai. Maka kembalilah kami pada kehidupan masing-masing. Disibukkan oleh pekerjaan realitanya. Hari berganti dengan cepat hingga bulan berpindah pun aku masih setengah sadar. Hubungan kami masih terasa biasa. Tidak menunjukkan perkembangan atau apa padahal aku sudah sangat berharap. Semakin lama semakin tidak jelas, sepertinya. Aku yang tidak suka digantungkan pun mencoba berpikir sesuai logika. Setelah beberapa waktu ku putuskan untuk mengakhirinya. Aku tidak ingin semakin terluka yang sebenarnya terbuat oleh diriku semata. Aku menjauh. Sedikit berkomunikasi. Hingga dia mungkin bosan dan kemudian menjauh pula.

Tahun berganti dan lembaran baru mulai terukir. Mungkin inilah takdir. Berjalan sesuai kehendak masing-masing dan semakin terbiasa sendiri. Meski terkadang rindu pun datang mengusik.

Saat ini, bulan ke sepuluh dari urutannya. Mengenang tahun lalu yang masih manis rasanya.
Jogja memang selalu istimewa.
Sesuai namanya.
Sesuai salah satu manusia di dalamnya.
Hai, apa kabar yang di sana?