Nadiem Makarim, `Tukang Ojek Modern` Lulusan Harvard

##Biografi

###Pekerjaan

Founder and CEO GO-JEK

###Tempat dan Tanggal Lahir

Singapura, 4 Juli 1984

###Kewarganegaraan

Indonesia

###Pendidikan

Universitas Brown (2002–2006)
Sekolah Bisnis Universitas Harvard (2009–2011)

##Riwayat Hidup


Ternyata lebih dari 70 persen waktu kerja tukang ojek hanya menunggu pelanggan, ditambah kemacetan Jakarta." Kalimat itu meluncur dari mulut Nadiem Makarim. Pemuda 31 tahun lulusan universitas ternama di Amerika Serikat.

Tak semua orang mengenal sosok Nadiem. Namun coba sebut Go-Jek. Masyarakat ibukota dan kota besar di wilayah satelit ibukota pasti langsung tersadar. Go-Jek adalah Nadiem. Dialah pendiri moda transportasi ojek modern di ibukota.

Ide bisnis pria kelahiran 4 Juli 2984 ini lahir tanpa sengaja. Perbincangannya dengan tukang ojek langganan membuka cakrawala bisnis baru.

" Jika ada layanan transpor dan delivery (pengantaran) yang cepat dan praktis, pasti akan sangat membantu warga Jakarta," ujar Nadiem.

Berbekal ambisi besar menjadi seorang entrepreneur, Nadiem pelan-pelan mewujudkan idenya tersebut. Sampai akhirnya, Go-Jek mulai beroperasi tahun 2011. Kawasan Jabodetabek jadi targetnya menjalankan bisnis sekaligus memberi layanan jasa transportasi dan kurir serba cepat dan proaktif.

Tak hanya bisnis dan layanan semata, Go-Jek dibangun dengan misi sosial. Meningkatkan pendapatan para tukang ojek di Jakarta adalah mimpi Nadiem.

Dunia pendidikan membuat Nadiem harus meninggalkan bisnis yang dibangunnya tersebut. Meski harus bertandang ke Amerika Serikat, toh hasrat bungsu dari 3 bersaudara ini untuk terus mengembangkan GO-JEK, tetap hidup.

Nadiem mulai berpikir untuk menggandeng berbagai perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya.

Otak bisnis Nadiem memang sudah terasah cukup tajam. Mengawali sekolah dasar di Jakarta, Nadiem pernah merasakan ketatnya sistem pendidikan di sebuah SMA di Singapura. Memasuki dunia mahasiswa, Nadiem memilih jalur sarjana di Brown University AS. Jurusan International Relations jadi incarannya. Selama satu tahun, Nadiem sempat mengikuti foreign exchange di London School of Economics.

Tak puas menjadi sarjana, Nadiem pulang ke Indonesia dengan menyandang gelar MBA (Master of Business Administration) dari Harvard Business School.

Lulus dari Brown, Nadiem tak butuh waktu lama terjun ke dunia kerja. Berbekal ijazah yang dimilikinya, Nadiem direkrut menjadi Management Consultant di sebuah lembaga konsultan ternama McKinsey & Company. Di perusahaan ini, Nadiem menghabiskan waktu 3 tahun di kantor mereka di Jakarta.

Selama bekerja itulah, Nadiem banyak membantu berbagai perusahaan besar di berbagai sektor mengatasi kendala-kendala bisnis mereka.

Melihat latar belakang keluargnya, Nadiem sebetulnya bukan lahir dari kalangan pengusaha. Ayahnya yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah berprofesi sebagai pengacara, sementara ibu dari Pasuruan, Jawa Timur bekerja di bidang non-profit.

" Di keluarga hanya saya yang aktif di bidang entrepreneurship," ujar Nadiem.

Meski memilih jalur berbeda, toh Nadiem cukup beruntung memiliki orang tua yang pengertian. Kedua orangtua selalu mendukung usahanya. Hanya ada satu syarat yang diberikan. Usaha Nadiem harus bisa membantu masyarakat Indonesia.

" Saya dididik dari kecil untuk kembali dan berkontribusi ke Tanah Air, walaupun seumur hidup lebih sering sekolah di luar negeri. Orangtua saya sangat nasionalis, dan karena itu passion saya untuk Indonesia sangat besar," tambahnya.

If it’s not impossible, why do it? - Nadiem Makarim

Misi Sosial Nadiem Marakim

Ide mendirikan GoJek didapati Nadiem Marakim, selaku founder dari GoJek melalui percakapan dengan seorang supir ojek ketika sedang nongkrong. Dari percakapan itu, Nadiem mendapati bahwa kebanyakan waktu kerja ojek itu habis untuk menunggu penumpang saja. Melihat ketidakefektifan inilah Nadiem lantas berkeinginan menjalankan misi sosial untuk membantu sopir ojek agar bekerja lebih produktif. Berbekal tekad dan ilmu teknologi yang dimilikinya, Nadiem menciptakan sebuah sistem jasa pemesanan ojek yang dinamai Go-Jek. Cara kerja sistem ini sendiri sangat sederhana. Go-Jek melayani telepon pesanan ojek melalui call center, kemudian operator call centre akan mencari driver gojek terdekat. Lalu menugaskan driver menjemput pelanggan sambil memantau kedatangan driver dengan sistem navigasi & koordinasi si pelanggan.

Nadiem pun tidak tanggung-tanggung dalam mengembangkan bisnis startup sekaligus misi sosialnya ini. Selain menyediakan sarana teknologi bersistem call centre tersebut, Ia juga memberikan smartphone kepada mitra ojeknya guna sebagai sarana untuk menerima panggilan pelanggan. Ia juga tak sungkan memfasilitasi full set keamanan berkendara utk mitranya, yaitu berupa jaket dan helm SNI berwarna hijau dan berlogo Go-Jek. Hal ini juga sekaligus guna memenuhi kebutuhan branding perusahaan.

Melihat peluang ketika maraknya pengguna smartphone, Nadiem pun melakukan inovasi dengan meluncurkan aplikasi mobile Go-Jek untuk pengguna smartphone dalam mempermudah pemesanan ojek.

Mobile app itu pun membawa perubahan positif. Dari semula hanya memiliki sekitar 300 mitra ojek, kini Go-Jek sudah merekrut ribuan mitra yg tersebar diwilayah Jabodetabek, Bali, Bandung dan Surabaya. Aplikasi itu pun kini sudah diunduh sebanyak lebih dari 400 ribu kali.

**

Nadiem Makarim, Pendiri Go-Jek

**

Pendiri GoJek, Nadiem Makarim, mungkin tidak semua orang mengenal sosoknya, namun siapa yang tak mengenal Go-Jek saat ini. Layaknya virus yang menjamur dengan cepat, heboh Go-Jek sebagai perusahaan StartUp lokal kini telah berkembang pesat merambah luas ke kota-kota besar Indonesia dan menjelma menjadi perusahaan profesional yang menawarkan jasa transportasi antar penumpang dengan sepeda motor alias ojek.
Fenomena Go-Jek
Mengusung nama Go-Jek (diambil dari kata ojek) sebagai brand membuatnya semakin mudah dikenal masyarakat Indonesia, karena tentu masyarakat sudah mengenal ojek tradisional yang keberadaannya mulai marak sejak masa krisis moneter tahun 1998.
Fenomena kesuksesan Go-Jek sebagai brand juga kini bisa dibilang semakin melambung tinggi, terbukti tak henti-hentinya beberapa media online ternama terus memberitakan soal Gojek, mulai dari segi positif hingga negatifnya.
Akhir-akhir ini mungkin anda sudah mendengar berita terkait sopir ojek tradisional yang menolak keberadaan Go-Jek di wilayah kerjanya, seperti yg terjadi disekitar wilayah Kelapa Gading dan Universitas Indonesia. Keberadaan driver gojek dinilai oleh para supir ojek berpotensi merebut penumpangnya sehingga berakibat berkurangnya pendapatan harian mereka. Ya begitulah berita negatif mengenai GoJek saat ini.
Cerita lain juga datang dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama alias Ahok. Seperti dikutip dari beberapa media online, bahwa Ahok berkeinginan mengintegrasikan Gojek dengan Bus Transjakarta dalam konsep Smart City. Ia pun lantas menawarkan kerjasama kepada pihak Gojek dengan tujuan agar pengguna Busway dan Gojek dapat lebih mudah merencanakan perjalanan.
Heboh fenomena Gojek ini lantas mengundang sikap keinginan tahuan saya yang akhirnya menimbulkan pertanyaan, sebenarnya siapa orang dibalik kesuksesan Go-Jek ini?

Nadiem, sapaan akrab Nadiem Makarim adalah pendiri GoJek, ialah orang yang pertama kali memiliki ide jenius untuk membuat sistem berbasis online untuk menghubungkan sopir ojek dengan penumpang lewat teknologi internet smartphone, yaitu Aplikasi Go-Jek. Ia merupakan pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Go-Jek.

Profil Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek
Nadiem Makarim sebenarnya tidak lahir dari keluarga yang berlatar belakang pengusaha. Ayahnya merupakan seorang pengacara asal dari Pekalongan, Jawa Tengah, sementara ibunya bekerja dibidang non profit. Di keluarga hanya dia seoang yang terjun menjadi entrepreneur. Ia pun merasa beruntung memiliki orang tua yang selalu mendukung usahanya.
Pendidikan Nadiem Makarim
Nadiem kecil belajar di sebuah sekolah dasar Jakarta. Ketika remaja ia hijrah ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMA-nya. Kemudian ia hijrah ke Amerika untuk berkuliah mengambil jurusan International Relations di Brown University, AS. Ia juga sempat mengikuti foreign exchange di London School of Economics selama satu tahun disana.
Tak puas hanya menjadi sarjana kemudian Nadiem melanjutkan studi S2 nya di Harvard Business School hingga lulus dan kini menyandang gelar MBA (Master of Business Administration).
Karir Nadiem Makarim
Menghabiskan sebagian masa mudanya diluar negeri untuk mencapai studi pendidikannya, Nadiem yang menyandang lulusan Harvard kemudian memberanikan diri pulang ke Indonesia utk terjun ke dunia kerja. Ia pun langsung direktut bekerja menjadi Management Consultant di McKinsey & Company, yaitu sebuah perusahaan konsultan ternama di Jakarta.
Merasa tidak puas bekerja selama 3 tahun di perusahaan konsultan tersebut, ia memilih berhenti dan melanjutkan karirnya dengan menjadi Co-founder dan Managing Editor Zalora Indonesia dan Chief Innovation Officer Kartuku dalam jangka waktu berurutan, sebelum terbesit menginisiasikan lahirnya sebuah social entrepreneurship StartUp, Go-Jek.
Ide Mendirikan Go-Jek
Bermula dari obrolannya dengan sopir ojek ketika sedang nongkrong, ia mengetahui bahwa mayoritas waktu kerja ojek itu dihabiskan untuk menunggu penumpang sehingga tidak produktif. Dari situ ia lantas berkeinginan menjalankan misi sosial utk membantu sopir ojek supaya dapat lebih produktif. Begitu dikutip darinya pada forum WhatWorks di New Cities Summit 2015.
Pada tahun 2011, berbekal tekad dan ilmu teknologi yang didapatnya saat bekerja, lantas ia menciptakan sebuah sistem jasa pemesanan ojek yg dinamakan Go-Jek. Sistem ini bekerja untuk membantu para supir ojek mendapatkan penumpang dan membantu penumpang yang membutuhkan ojek.

Perkembangan GoJek sebagai StartUp
Sejak itu, Go-Jek mulai melayani telepon pesanan ojek melalui call center, kemudian operator call centre akan mencari driver gojek terdekat. Lalu menugaskan driver menjemput pelanggan sambil memantau kedatangan driver dengan sistem navigasi & koordinasi si pelanggan.
Nadiem pun tidak mau tanggung-tanggung dalam mengembangkan bisnis startup sekaligus misi sosialnya ini. Selain menyediakan sarana teknologi bersistem call centre tersebut, Ia juga memberikan smartphone kepada mitra ojeknya guna sebagai sarana utk menerima panggilan pelanggan. Ia juga tak sungkan memfasilitasi full set keamanan berkendara (safety riding) utk mitranya, yaitu berupa jaket dan helm SNI berwarna hijau dan berlogo Go-Jek. Hal ini juga sekaligus guna memenuhi kebutuhan branding perusahaan.
Melihat peluang ketika maraknya pengguna smartphone, Nadiem pun melakukan inovasi dengan meluncurkan aplikasi mobile Go-Jek untuk pengguna smartphone dalam mempermudah pemesanan ojek.
Mobile app itu pun membawa perubahan positif. Dari semula hanya memiliki sekitar 300 mitra ojek, kini Go-Jek sudah merekrut ribuan mitra yg tersebar diwilayah Jabodetabek, Bali, Bandung dan Surabaya. Aplikasi itu pun kini sudah diunduh sebanyak lebih dari 400 ribu kali.
Ekpektasi Nadiem untuk GoJek
Penambahan jumlah mitra sopir Go-Jek menjadi fokus utama rencana bisnisnya saat ini. Nadiem juga berniat untuk memperluas jangkauan Go-Jek ke seluruh Indonesia nantinya. Layanannya pun kini tidak terbatas hanya mengantarkan penumpang, melainkan juga bisa sebagai pengantar barang atau kurir.
Sebenarnya Nadiem banyak ditawari untuk membuka franchise Go-Jek di luar negeri. Namun, ia belum berminat dan ingin fokus membantu tukang ojek di Indonesia. Ia berharap, kedepan tukang ojek tidak lagi dipandang sebagai profesi kelas bawah, melainkan profesi yang profesional dan dapat diapresiasi.
Kesan
Bangga rasanya melihat pemuda Indonesia seperti mas Nadiem Makarim, pendiri GoJek. Dimana ketika para mahasiswa lulusan luar negeri lainnya lebih memilih bekerja di luar negeri, namun ia lebih memilih kembali ke tanah air dan memberdayakan masyarakat.
Melalui Go-Jek, ia telah mampu menjalankan misi sosialnya dengan membuka lapangan pekerjaan untuk ribuan orang di sektor informal. Kini para sopir ojek menjadi lebih produktif dan tidak lagi dipandang sebagai profesi yang kurang menjanjikan.