Multitasking, Meningkatkan Produktivitas Atau Menurunkan Kualitas?

Saat berbicara tentang produktivitas, salah satu kata yang akan sering kita dengar adalah multitasking. Pengertian Multitasking adalah menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Ini berlaku pada waktu yang bersamaan atau bergantian dalam waktu yang relatif singkat. Kata multitasking seakan menjadi skill wajib yang harus dimiliki saat bekerja karena dengan memilikinya kita dianggap sebagai pribadi yang produktif. Tetapi banyak juga yang menyebut bahwa multitasking memiliki dampak negatif sehingga sebaiknya tidak dilakukan. Lantas, bagaimana menurutmu? Apakah benar multitasking dapat meningkatkan produktivitas atau malah menurunkan kualitas?

Menurut pengalaman saya pribadi, melakukan 2 atau lebih pekerjaan dalam satu waktu atau dalam.waktu berdekatan malah membuat saya tidak bisa fokus melakukan pekerjaan terserbut dan malah membuat pekerjaan selesai dalam waktu lebih lama. Misalnya saja saya membantu ibu memasak sambil mendengarkan kuliah dari dosen, tapi di tengah jalan saya tidak bisa fokus memahami apa yang dibahas oleh dosen, karena kegiatan memasak saya. Dalam melakukan pekerjaan saya biasanya melakukannya secara berurutan, jadi ketika 1 pekerjaan selesai saya akan lanjut ke pekerjaan lainnya dan ini malah membuat saya menjadi semangat dan pekerjaan juga cepat selesai. Jadi menurut saya pribadi, multitasking malah berpotensi menurunkan kualitas pekerjaan yang saya lakukan.

1 Like

Berdasarkan pertanyaan tersebut, menurut saya multitasking dapat meningkatkan produktivitas. Pendapat saya dapat di dukung dari penelitian yang dilakukan ilmuwan di Chinese University of Hong Kong. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jika mereka yang telah terbiasa multitasking dalam melakukan beberapa hal ternyata lebih terlatih dalam menggunakan otak dan indera mereka sehingga mereka akan lebih cepat dalam menyerap informasi dan lebih tanggap dalam mengemukakan pendapat.

Selain itu, dalam dunia karir seseorang yang multitasking lebih baik daripada yang monotasking karena mereka dapat memiliki kemampuan adaptasi yang lebih cepat sehingga waktu untuk perkembangan karir juga lebih cepat.

Referensi

https://kumparan.com/kumparannews/multitasking-itu-positif-lho-ini-buktinya/4

1 Like

Menurunkan kualitas.
In my pov, multitasking adalah mitos. Otak kita itu sebenarnya ngga bisa untuk fokus mengerjakan dua hal sekaligus atau lebih dalam satu waktu. Apalagi pekerjaan tersebut memerlukan kita untuk menggunakan bagian otak yang sama. Misalnya baca buku sambil mendengarkan lagu yang berlirik, dengan melakukan dua hal tersebut secara bersamaan, kita tuh justru malah menghambat proses otak untuk mencerna kata-kata atau kalimat yang sedang kita baca itu. Karena secara bersamaan kita juga memaksa otak kita untuk juga mencerna kata-kata yang ada di lirik lagu. Contoh lain misalnya kita lagi ada kelas, at the same time, kita nge-check hp, buka WA atau kita ngeliat media sosial, semua kegiatan tersebut membutuhkan kerja otak bagian prefrontal cortex dan kalo semua aktifitas ini “rebutan” otak kita tuh justru malah overwhelmed . Dan pengalaman pribadi, saat ini aku sedang mengerjakan laporan magang kerja, mengikuti course 2 universitas serta sudah diminta untuk mengerjakan proposal skripsi secara bersamaan. Awalnya aku merasa biasa saja, namun semakin kesini makin ngerasa otak penuh, otaknya capek aja rasanya, jadi gampang stress wkwk dan aku menyadari jika ‘output’ yang aku hasilkan kurang maksimal, kualitasnya kurang mantep aja rasanya.

Namun ternyata, sudah banyak researchers yang nge-cover topik ini, bahwa sebenarnya otak kita itu ngga bisa multitasking, paling tidak hanya 0.5% orang di dunia yang beneran bisa multitasking, instead of multitasking yang kita lakuin itu sebenarnya switching (berpindah-pindah aktivitas) dan switching ini kalo dilakukan terus menerus akn berdampak buruk pada otak kita, researchers di University of Sussex di Inggris membandingkan jumlah waktu yang dihabiskan orang di beberapa perangkat (seperti mengirim pesan teks sambil menonton TV) dengan pemindaian MRI otak mereka. Mereka menemukan bahwa multitasker tinggi (atau keseringan switching) memiliki brain density di bagian anterior cingulate cortexnya lebih kecil daripada orang-orang yang jarang switching.

Penelitian lain yang dilakukan di Stanford University juga menemukan bahwa multitasking kurang produktif daripada melakukan satu hal pada satu waktu. Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang secara teratur dibombardir dengan beberapa aliran informasi elektronik tidak dapat memperhatikan, mengingat informasi, atau beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain serta mereka yang menyelesaikan satu tugas pada satu waktu (Forbes, 2014). Inti dari penelitian yang dilakukan di Stanford tersebut membuktikan bahwa multitasking mengurangi efisiensi dan kinerja karena otak hanya bisa fokus pada satu hal pada satu waktu. Ketika kita mencoba melakukan dua hal sekaligus, otak kita tidak memiliki kapasitas untuk melakukan kedua tugas dengan sukses.

Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa, selain memperlambat kinerja otak, multitasking juga dapat menurunkan IQ . Sebuah studi di University of London menemukan bahwa peserta yang melakukan banyak tugas selama tugas kognitif mengalami penurunan skor IQ yang serupa dengan apa yang mereka harapkan jika mereka merokok ganja atau begadang sepanjang malam. IQ turun 15 poin untuk pria multitasking menurunkan skor mereka ke kisaran rata-rata anak berusia 8 tahun.
Jadi, berdasarkan pengalaman pribadi dan bukti penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa multitasking itu justru menurunkan kualitas kerja dan tdak sebaliknya.

Source:

Forbes. Oct 8, 2014. Multitasking Damages Your Brain And Career, New Studies Suggest. Retrieved from Multitasking Damages Your Brain And Career, New Studies Suggest
Stanford Report. August 24, 2009. Media multitaskers pay mental price, Stanford study shows. Retrieved from Media multitaskers pay mental price, Stanford study shows
University Of Sussex 24 Sept, 2014. Brain scans reveal ‘gray matter’ differences in media multitaskers. Retrieved from https://www.eurekalert.org/news-releases/467495

1 Like

Multitasking akan membuat seseorang terlihat sangat produktif dan itu baik, tapi menurut ku seseorang yang multitasking lebih baik mengenali kekuatan dirinya sendiri. Sebelum melakukan sebuah pekerjaan atau kegiatan yang berbeda secara bersamaan akan lebih baik jika melihat kekuatan dalam diri sendiri karena jika di paksakan akan sangat melelahkan bagi diri sendiri walaupun mungkin mendapatkan pujian dari orang lain.

1 Like