Muara di Atas Bukit

#Challenge6 (Bersyukur)

Cerpen Challenge 6
Sumber Foto : Google

Muara di Atas Bukit
Oleh : Rika S. Majreha

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d [13] : 11)

Lantunan ayat suci itu menyeruak menembus langit ketujuh diawal tahun kesaksian ini. Sebelum sempat kuucapkan selamat jalan untuk yang terakhir kalinya bagi sesosok panutan di dalam keluarga.

Ama… seharusnya tahun ini kau bisa merasakan kebahagiaan yang ingin kupersembahkan kepadamu. Setelah sekian lama kau sabar dan gigih mengayomiku untuk sampai di titik puncak kesaksian ini.

Ama… betapa kecewa dan hancurnya diriku melihatmu terbujur kaku dihadapanku. Sebelum sempat aku membalas semua kebaikanmu.

Ama… betapa perih dan terlukanya hatiku untuk melepaskan sosok rupawan dan bijaksana dari sisi kehidupanku.

Engkau adalah seseorang yang berhasil menyalakan kembali api semangat di dalam jiwaku. Teringat ketika kau mengayuh becak untuk mengantarkanku masuk ke gerbang bangku perkuliahan. Aku yang sempat merasa minder dan tak percaya diri karena aku bukan anak seorang pejabat, hartawan atau bahkan jutawan. Aku hanya anak seorang tukang becak yang ingin beradu dengan nasibku sendiri untuk mengubah roda perekonomian keluargaku. Maafkan aku ama…


“Maafkan ama ndo … ama ndak bisa membahagiakanmu seperti anak-anak yang lain dan maafkan ama udah bawa kamu dalam kesusahan hidup seperti ini.” Sambil mengayuh becak. “Sebenarnya orang tua siapa yang tega bawa-bawa anaknya masuk ke dalam kehidupan seperti ini.” Lanjutnya, hingga kusadari bahwa keringat satu persatu turun ke pipi yang mulai menua itu.

Sebenarnya sedari dulu aku sudah menolak untuk masuk ke bangku kuliah. Karena aku sadar, biaya untuk masuk ke bangku kuliah itu tidak sedikit. Namun beberapa hari yang lalu setelah pengumuman kelulusan sekolah menengah atas, beliau mendesaku agar segera mendaftar ke perguruan tinggi yang aku inginkan.

‘Ngekkkk…’ suara pintu tua itu menjerit bising ditelingaku. Kulihat sosok yang mulai tergopoh dari balik pintu itu jalan kehadapanku. Sambil menenteng celengan yang terbuat dari bambu.

Ndo … gimana hasilnya? Memuaskan?” Sambil tersenyum.

“Alhamdulillah ama, Bagus lulus dan nilai rata-rata ijazah Bagus 85.”

“Hah? Subhanallah… ndo , itu nilai yang gede . Ndo rencananya mau daftar ke perguruan tinggi mana?”

“Ah ama, Bagus mau bantu ama aja. Bagus mau kerja.”

“Eh,eh,eh… sampean itu bagaimana, punya nilai sebesar gitu mau kerja? Itu sayang.”

“Tapi…”

Wis , masalah biaya sih ama yang tanggung. Kamu gak usah khawatir. Liat! (sambil mengangkat celengan bambu) di dalem celengan ini ama udah siapin uang untuk biaya kuliah kamu.”

“Tapi ama… hari ini, hari terakhir pendaftaran.”

Wis , ama antar kamu sekarang. Siapin berkas-berkas pendaftarannya.”

Tanpa berpikir panjang setelah aku menyiapkan semua berkas-berkas pendaftaran beliau langsung menarik tanganku dan langsung menyuruhku untuk naik ke becaknya.


Tiga minggu setelah pendaftaran, akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Hari ini adalah pengumuman mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi negeri di daerah Yogyakarta dan akhirnya penantian yang kutunggu itu tidak sia-sia, namaku terdaftar dalam fakultas teknik.

Suatu hal yang sangat membahagiakan untuk ama dan juga diriku sendiri. Aku berjanji akan belajar dengan semangat dan bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu sekaligus bertekad untuk mengubah kesejahteraan keluargaku. Namun tak hanya hal itu saja yang membuatku bahagia, ucapan syukur tak henti-hentinya membasahi bibirku, karena aku tercatat sebagai predikat mahasiswa peraih beasiswa hingga semester akhir perkuliahan, itu karena rata-rata nilai ijazahku di atas 80. Senyum kebahagiaan pun tergambar pada wajah ama ketika aku memberitahukan kabar kebahagiaan ini.


Awal perkuliahan dimulai, ama yang sedang mengelap becak untuk mengantarkanku kuliah langsung menyambutku.

“Monggo… Den Bagus saya antar, silahken duduk.” Dengan nada candaan.

“Ama ah, gak usah kayak gitu…”

“Hahaha gak apa-apa ndo sekali-kali guyon karo kamu.”

Di tengah perjalanan sambil mengayuh becak ama berbicara kepadaku.

Ndo , ama titip aja minder sama profesi ama yo, sing penting kan halalan thayyiban warabun ghafur. Juga yang membedakan derajat manusia di sisi gusti Allah kan keimanan dan ketaqwaannya, bukan karena hartanya. Jadi, ndo gak usah minder yo? Juga ama titip kalau ndo udah jadi orang sukses ndo aja dumeh, kudu tetep andap asor, peduli sesama, juga kudu hormat kalawan gusti Allah Swt., ya ndo ?”

“Njih ama, insyaAllah.”

“Bagus… den Bagus…”


Tiga tahun telah berlalu, suka duka telah kuarungi sebagai seorang mahasiswa. Tiba saatnya calon wisudawan dan wisudawati berkumpul di dalam gedung pengesahan. Disitu aku duduk menunggu namaku dipanggil. Tapi, hingga akhir dari sekian banyak nama yang disebutkan sebagai calon wisudawan dan wisudawati namaku tak kunjung dipanggil. Keringat dingin mulai meresap menembus jantungku. Tiba-tiba pembawa acara terdiam. Kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya.

“Baiklah, untuk mempersingkat waktu kita berikan applause yang meriah untuk calon wisudawan lulusan terbaik sebagai sarjana muda sekaligus peraih predikat cum laude yaitu Toebagoes Haditama Pramoedya. Kepada Toebagoes, dipersilahkan untuk naik ke atas panggung.”

Ama terlihat bahagia sekali dan merasa bangga sekali melihatku. Terlihat dari pancaran rona wajahnya.


Setelah wisuda itu aku diberikan sebuah amanah oleh rektor perguruan tinggi negeri itu untuk langsung bekerja di sebuah industri pesawat terbang di Jerman. Tapi aku merasa sedih, karena seharusnya ama sekarang ada bersamaku di sini, ya, untuk memetik sebuah kebahagiaan bersama. Namun suratan takdir-Nya berkata lain, seminggu setelah wisuda itu… ama… ama telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Ya Allah, hati siapa yang tak teriris bila ditinggalkan oleh sang pujaan hati , sekaligus penyejuk hati yang selama ini selalu ada disampingku. Tetapi mengapa saat aku ingin membalas kebaikan serta ingin memberikan kebahagiaan sedikit saja kepadanya, walaupun itu tak akan pernah terbayarkan atau bahkan tergantikan untuk semua jasa-jasanya. Beliau dipanggil untuk berpulang keharibaan-Mu.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fuanhu

Allahumaghfirli Waliwalidayya warhamhumaa kamaarabayaa nishaghiraa