MTK Community (Mazmumah to Karimah Community), Stategi tepat untuk mengembangkan moral pemuda guna menciptakan hati yang suci demi mewujudkan akhlak mulia dengan penanaman konsep "Bila Ana Menjadi"

Indonesia,

Sungguh negara akan elok rupa nan beribu pesona yang sanggup memanjakan bola mata dunia. Keragaman budaya serta kekayaan alam nan melimpah ruah yang tak akan habis, tak lekang oleh waktu dapat dimanfaatkan kapanpun. Defisi sebagai surga dunia, dirasa sangat sesuai bila dibayar dengan suguhan alam yang eksotis nan menakjubkan. Ungkapan “Gemah ripah loh jinawi” merupakan suatu ungkapan yang tak cukup diucapkan untuk menjuluki tanah Indonesia. Pasalnya, ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke menuntut hati semua orang untuk tetap memuja keelokannya. Membahas tentang keragaman di Indonesia, memang tak akan ada akhirnya. Salah satu keragaman yang patut diapresiasi dengan tingkat toleransi yang tinggi adalah agama atau kepercayaan yang dianut. Indonesia mencakup 6 agama yang diakui terdiri dari: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Dari seluruh kepercayaan yang disebutkan, Indonesia merupakan Negara yang mayoritas beragama islam/muslim. Data dari The Forum on Religion & Public Life, penganut agama Islam di Indonesia sebesar 209,1 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total penduduk, yang dimana jumlah tersebut merupakan 13,1% dari seluruh penganut islam di dunia. Budaya ketimuran memang cukup kental dirasakan di Indonesia, dibuktikan dengan beragamnya perbedaan namun tetap menjalin persatuan dan kerukunan antar umat beragama. Hal ini sejalan dengan salah satu hadist yang mengatakan: “Perumpamaan kaum mukmin adalah sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim).

Mengenai islam, hidup bertameng Muslim saja tidak cukup untuk menilai sejauh mana akhlak seseorang. Di era globalisasi, dewasa ini sangat berhambur perilaku yang menyimpang dari ajaran islam sesungguhnya. Contoh paling sederhananya saja adalah orang yang berhijab namun berpakaian ketat dan tidak menutup aurat, padahal dalam kitab islam yaitu Al-qur’an telah disebutkan umat muslim haruslah menutup aurat mereka. Mirisnya yang melakukan perilaku terlarang tersebut dominan adalah remaja. Dikarenakan usia remaja memang masa yang sangat rentan terkena dampak buruk, sebab pada masa ini mereka memiliki emosi yang labil dan selalu ingin mencoba bahkan mengikuti hal baru. Salah satu bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja adalah tindak kejahatan kenakalan remaja. Terbukti, pada tahun 2018 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Menangani 1.885 kasus pada semester pertama. Dengan data tersebut KPAI menyebut anak akan berhadapan dengan hukum (ABH) seperti menjadi pelaku narkoba, mencuri, hingga asusila. Kurangnya penanaman akhlak mulia menjadi faktor utama permasalahan ini, meskipun akhlak di lingkungan dan pergaulan ikut andil dalam melatarbelakangi permasalahan ini. Padahal pemudalah yang harus berkarya dan berkakhlak mulia agar dapat dengan lurus mempersiapkan kontribusinya bagi negara.

Nabi Muhammad SAW. yang merupakan panutan kita, umat muslim hingga akhir zaman mengatakan:

“Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat denganku yaitu orang-orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

Maka dari itu kita harus berlomba-lomba menyempurnakan akhlak kita dengan menciptakan hati yang suci agar selalu bersanding dengan Rasulullah di hari akhir nanti. Lantas, bagaimana caranya untuk menemukan titik solusi demi mengubah gaya hidup remaja kearah kebaikan dengan tujuan menanamkan hati yang suci agar tercipta akhlak yang mulia?

Melihat dari permasalahan yang diajukan, penulis beranggapan untuk memberikan sumbangsih ide yang terbaharukan, actual, kreatif, serta inovatif untuk merombak segelintir permasalahan, dituangkan dalam karya tulis yang berjudul: MTK Community (Mazmumah to Karimah Community), Stategi tepat untuk mengembangkan moral pemuda guna menciptakan hati yang suci demi mewujudkan akhlak mulia dengan penanaman konsep “Bila Ana Menjadi”. Gagasan yang dimaksud adalah pembentukan sebuah komunitas yang dapat mengubah gaya hidup remaja yang tergolong dalam perilaku buruk disebabkan oleh kurangnya budi pekerti serta akhlak mulia. Tujuan pembentukan komunitas ini adalah menciptakan hati yang suci kepada seluruh anggota komunitas agar dapat membangun dan mempersiapkan kontribusi pemuda-pemudi untuk membangun negara dengan akhlak mulia. Karena, pembekalan akhlak bagi remaja sangat dibutuhkan agar nantinya saat mengolah rekonstruksi pemerintahan dimasa depan dapat berjalan dengan jalan yang lurus dan benar. Komunitas ini merupakan sekelompok pemuda disertai dengan pihak ahli untuk membimbingnya. Konsep yang dibangun dalam komunitas ini adalah “Bila Ana Menjadi” yaitu bertukarnya peran dan juga tempat untuk pemuda yang berakhlak buruk atau hidup dilingkungan berperilaku negatif dan pemuda yang berasal dari pondok pesantren yang dalam tingkat senior

Menilik dari sifat remaja zaman sekarang, kultum, ceramah, dan pengajaran lisan saja dirasa kurang cukup untuk memperbaiki akhlak remaja. Melainkan harus dilakukan secara aktif berkegiatan atau dengan kata lain action agar lebih mudah diterapkan. Pembentukan komunitas dilaksanakan didalam pondok pesantren dengan panitia para santri yang sudah cakap ilmunya atau senior dan dengan pimpinan uztad/uztadzah untuk pembimbingnya. Dalam komunitas ini, santri dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu dan ajaran-ajaran yang telah diterima dalam pondok pesantren dan juga menguji seberapa kuat mental mereka menghadapi lingkungan yang mengancam hati juga ahklak mereka. Karena santri dari pondok pesantren akan dikirim ke lingkungan yang berkebiasaan buruk untuk menghadapi realitanya bukan hanya dalam pengajaran lisan saja. Sebelum melaksanan kegiatan, adapun tahapan atau metode dalam perekrutan anggota adalah sebagai berikut:

1. Diseminasi/sosialisasi
Dilakukan oleh panitia komunitas untuk meriset calon anggota baik dari dalam pesantren maupun target diluar pesantren. Dalam tahap ini panitia akan membuat strategi, yaitu dengan bekerjasama untuk menggali informasi kepada guru di sekolah, orang tua, maupun masyarakat sekitar. Lalu, mereka akan mengajak secara baik tanpa paksaan. Karena, jika panitia langsung mengajak remaja ke pondok pesantren maka remaja tersebut tentu akan memberontak.

2. Registrasi
Yaitu tahap lanjutan dari diseminasi. Apabila tahap sebelumnya mendapat respon baik dari pihak terkait maka akan dibukakan pendaftaran untuk anggota baru. Dalam tahap ini tentu wali pemuda tersebut akan dimintai sejumlah biaya dengan nominal kecil hanya untuk tahap awal operasional komunitas, untuk biaya selanjutnya dapat memutar keuangan dari program yang diadakan.

3. Seleksi
Pada tahap ini dilakukan penyeleksian anggota baru agar komunitas ini benar-benar berguna untuk pemuda yang memang membutuhkan, juga dilakukan penyeleksian perkelompokan anggota baru agar tidak terjadi bentrok.

Setelah tahapan perekrutan anggota selesai, maka anggota baru resmi diterima dalam komunitas ini dan siap melaksanakan program yang dijadwalkan. Untuk anggota komunitas yang besaral dari dalam pondok pesantren yaitu santri, pemilihan dan penyeleksian dilakukan oleh petinggi atau pemimpin dari dalam pondok sendiri agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Selanjutnya para anggota yang akan bertukar peran, lingkungan, maupun kebiasaan akan melakukan karantina selama 1 bulan lamanya. Pada masa karantina inilah yang menjadi tolak ukur kesuksesan dalam komunitas ini. Karena, dalam masa karantina inilah mereka memulai pelatihan secara mental dengan pembentukan karakter agar hati kotor berubah menjadi hati yang suci dan pembentukan akhlak mulia akan segera tercapai. Dalam pondok pesantren pemuda yang berkarantina melakukan kegiatan sama halnya seperti pemuda santri sesungguhnya. Mereka akan belajar fiqih, Tauhid, dan yang terpenting adalah akidah akhlak. Untuk mendukung keberhasilan dari tujuan komunitas ini, adapun program-program yang akan dijalankan anggota adalah sebagai berikut:

  • Religious Tourism
    Program ini dilakukan oleh remaja yang berkarantina ke pesantren, program ini merupakan program yang mengadakan wisata religi islam seperti: berziarah ke makam tokoh islam, masjid-masjid bersejarah maupun petilasan raja muslim di Indonesia. Tujuan program ini adalah membuka pintu hati pemuda agar terarah untuk mencintai tempat-tempat religi Islam di Indonesia

  • Making Handicrafts
    Program ini juga ditujukan untuk pemuda yang berkarantina ke pesantren, program ini merupakan program yang mengadakan kegiatan berupa pembuatan kerajinan tangan yang bernilai guna. Selain untuk mengubah kegiatan pemuda yang dulunya berperilaku negatif, dan sekarang menjadi produktif, program ini juga dapat meningkatkan ke-kreativitasan anggota untuk berkarya, dan hasil karya yang dihasilkan akan dijual untuk perputaran keuangan komunitas ini.

  • SIK ( Share Islamic Knowledge )
    Program ini ditujukan untuk santri yang berkarantina di lingkungan masyarakat. Maksud dari program ini adalah para santri dari pesantren akan berbagi ilmu tentang islam secara gratis di lingkungan kurang yang cakupan keagamaan yang telah direncanakan. Agar masyarakat disana mendapatkan siraman rohani untuk tidak meneruskan kebiasaan negatifnya. Program ini dilakukan secara berkelompok dirumah warga dan berkeliling untuk tempatnya.

  • Collect Donations
    Program ini ditujukan untuk kedua belah pihak dari masing-masing tempat karantina. Namun, berbeda tempat dalam penggalangan donasi. Untuk santri di lingkugan masyarakat mereka menggalang donasi sembari mengajarkan ilmu islami ke masyarakat sekitar dan akan digunakan untuk biaya operasional komunitas. Lalu untuk remaja yang berkarantina di pesantren mereka sama akan menggalang donasi, namun uang hasil donasi akan digunakan untuk kegiatan mereka yaitu bersedekah untuk masyarakat yang membutuhkan. Tujuannya adalah mengajarkan cara berbagi dengan halal dan membentuk hati yang suci dalam berbagi dan bersyukur atas rejeki yang mereka miliki.

Untuk mendukung kelancaran dan merealisasikan kegiatan demi kegiatan yang diadakan, komunitas ini akan bekerjasama dengan beberapa pihak, diantaranya adalah:

  1. Wali murid, guru, dan masyarakat sekitar, berperan dalam kerjasamanya untuk mendukung anak/murid/warganya untuk mengikuti komunitas ini demi mengubah akhlak mereka kearah yang lebih baik.

  2. Kementerian Agama, perannya adalah sebagai pelopor utama dan untuk meresmikan dalam pembentukan komunitas ini, agar masyarakat luas menaruh kepercayaan apabila komunitas ini bermanfaat penuh untuk menumbuhkan akhlak mulia dari rekomendasi pemerintah.

  3. Kementerian Keuangan, tugasnya adalah mendukung komunitas ini dengan memberikan bantuan kucuran dana demi terlaksananya program yang telah dicanangkan.

Kebutuhan alokasi dana atau anggran pokok tidak perlu diragukan, karena komunitas ini dapat memperoleh kucuran dana dari Kementerian Keuangan melalui Kementerian Agama. Pasalnya pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 60 triliun rupiah dari total 440 triliun rupiah alokasi dana pendidikan pada Alokasi Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN) tahun 2018 untuk madrasah dan pesantren. Hal ini pernah disampaikan sendiri oleh Menteri keuangan di depan pimpinan dan santri di pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur yang mengatakan: “Kementerian Agama itu lebih dari 60 triliun rupiah adalah untuk seluruh madrasah di Indonesia dan pesantren.”

Apabila gagasan ini dapat diterima, dimengerti dengan bijak, dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Maka dapat membantu mewujudkan generasi muda Indonesia yang kuat akan pengetahuan akhlakul karimah, dengan cara membangun komunitas ini. Permasalahan demi permasalahan satu persatu akan segera dituntaskan melalui program-program yang tepat sasaran maupun tepat guna. Kegiatan yang dikemas secara runtut dan sistematis dengan berbagai metode, serta pembinaan dari berbagai pihak sangat penting sekali untuk membantu tercapainya kegiatan yang dicanangkan. Pemerintah dalam kegiatan ini wajib mendukung penuh agar apa yang ditargetkan dapat berjalan dengan optimal dan sempurna. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan kepada masyarakat terkait untuk bergabung dan berpartisipasi aktif dalam menjalankan segala program demi menyelesaikan problematika yang ada di negeri ini.

DAFTAR PUSTAKA:
Anonym. 2016. Indonesia Negara Berpenduduk Muslim Terbesar didunia. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/11/11/indonesia-negara-berpenduduk-muslim-terbesar-dunia. [3 Maret 2020, 09:25 WIB].

Agil, Ali Akbar Bin. 2014. Tujuh Perumpamaan Orang Mukmin. https://m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2014/12/14/35062/tujuh-perumpamaan-orang-mukmin.html. [3 Maret 2020, 10:12 WIB].

Hakim, M Saifudin. 2018. Keutamaan Berhias dengan Akhlak. https://www.radiorodja.com/47243-pengertian-akhlak-macam-macam-akhlak-dan-dalil-tentang-akhlak/. [5 Maret 2020, 13:25 WIB].

Ikhsanudin, Arief. 2018. Ada 504 Kasus Anak Jadi Pelaku Pidana, KPAI Soroti Pengawasan Ortu. https://m.detik.com/news/berita/d-4128703/ada-504kasus-anak-jadi-pelaku-pidana-kpai-soroti-pengawasan-ortu. [4 Maret 2020, 12:53 WIB].

25 Likes