Monotasking, Sebuah Seni Menyederhanakan Kehidupan

Bagaimana pandangan Anda dengan kebiasaan-kebiasaan berikut ini.

  1. Ngobrol dengan teman sambil membalas pesan atau bermedia sosial di smartphone;
  2. Membalas email ditengah rapat kerja;
  3. Makan sambil nonton acara di TV atau sambil bermain gadget;
  4. Memasak sambil bermain smartphone, alih-alih menunggu gorengan matang untuk diangkat;
  5. Mengerjakan tugas kuliah ditengah seminar.

Sudah pasti kita akan menyebutnya sebagai “Multitasking”, yaitu dimana seseorang bisa melakukan lebih dari satu kegiatan dalam waktu yang sama. Sebenarnya istilah multitasking hanya merujuk pada subjeknya, sementara untuk kegiatan yang ia lakukan disebut dengan polikronisitas (polychronicity). Köning dan Waller mencatat bahwa istilah ‘polikronik’ harus digunakan untuk menggambarkan preferensi orang untuk melakukan banyak hal sekaligus, sedangkan perilaku orang yang sebenarnya, alih-alih sikap, harus disebut sebagai ‘multitasking’. Orang dengan kecenderungan polikronik yang lebih tinggi (yaitu, polikronik) memiliki preferensi untuk multitasking, sedangkan orang dengan kecenderungan polikronik yang lebih rendah (yaitu, monokronik) lebih memilih monotasking (yaitu, melaksanakan tugas secara berurutan).

Tidak ada yang salah dengan mereka yang cenderung memilih multitasking. Hal ini kembali pada preferensi masing-masing individu yang melakukannya dengan berbagai alasan. Entah karena merasa lebih cepat, lebih efektif dan efisien, dan lebih murah.

Earl Miller, profesor MIT, mengatakan bahwa banyak dari kita percaya bahwa kita cukup efisien dalam multitasking meskipun apa yang kebanyakan dari kita lakukan hanyalah mengalihkan fokus kita secara berurutan. “Ketika kita beralih di antara tugas-tugas, prosesnya sering terasa mulus, tetapi dalam kenyataannya, itu membutuhkan serangkaian perubahan kecil,” kata Miller.

Untuk memperburuk keadaan, otak kita menipu kita bahwa kita menjadi produktif ketika kita melakukan banyak tugas. Dopamin, salah satu neurotransmitter otak, dibuat ketika kita mengerjakan banyak tugas secara bersamaan. Ini memberi informasi yang salah ke otak kita, mengatakan “lakukan lebih banyak dari ini! Ini bagus untukmu."

Berlawanan dengan apa yang diberikan oleh otak Anda, multitasking sulit untuk Anda, terutama jika Anda ingin menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Tentu, Anda mungkin mendapatkan beberapa hal dari daftar periksa Anda sedikit lebih cepat tetapi tidak ada jaminan bahwa email Anda bebas dari kesalahan ketik atau bahwa Anda telah memasukkan semua entri yang tepat ke spreadsheet Anda.

Alih-alih merasa hebat dan tangguh karena bisa menjadi multitasking. Kita bisa mencoba untuk menjadi Monotasking untuk merasakan manfaat lain yang tidak kita peroleh saat menjadi multitasking. Manfaat apa saja itu?

Ya… Monotasking. Monotasking adalah tindakan hanya melakukan satu tugas atau aktivitas saja, dengan perhatian penuh dalam satu waktu (Cambridge Dictionary).

  1. Bisa kembali meningkatkan konsentrasi
  2. Baik untuk menumbuhkan disiplin diri sehingga tahan terhadap gangguan (distraksi)
  3. Bisa menghemat waktu bekerja karena fokus penuh pada satu pekerjaan
  4. Hasil pekerjaan bisa lebih detail dan minim kesalahan

Begitulah kiranya monotasking bisa membuat hasil pekerjaan lebih baik dan waktu kita lebih bermanfaat. lalu bagiamana cara untuk memulai menjadi monotasking ?

Referensi
  1. https://www.youtube.com/results?search_query=monotasking
  2. Lascau, laura et al. 2019. Monotasking or Multitasking: Designing for Crowdworkers’ Preferences. CHI Conference Glasgow, Scotland UK.