Miliki Luas Baku Sawah 7,4 Juta Hektare, Mengapa Petani Indonesia Masih Sulit untuk Sejahtera?

image

Industri pertanian di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi triwulan III tahun 2020 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) berbagai sektor. Dalam rilisnya, BPS mencatat bahwa hanya sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan positif, yakni tumbuh sebesar 2,15% (year on year) bahkan diketika pandemi, hanya sektor pertanian yang mampu bertahan dan bertumbuh secara positif. Selain itu, BPS juga menyebutkan bahwa luas baku sawah (LBS) di Indonesia pada tahun 2020 adalah seluas 7,4 juta hektar. Namun mirisnya, angka ini berbanding terbalik dengan fakta di lapang, bahwa petani menjadi kelompok paling rentan didera kemiskinan. BPS menemukan mayoritas kelompok rumah tangga miskin menurut sumber penghasilan utama berasal dari kelompok pertanian, yakni 46,3%

Jika kita menilik fakta di atas, seharusnya petani memiliki hidup yang lebih layak. Namun, pada kenyataannya tidak demikian. Miliki SDA melimpah, mengapa petani Indonesia masih sulit untuk sejahtera?

Berdasarkan artikel yang aku baca, ada beberapa faktor mengapa petani di Indonesia masih sulit untuk sejahtera, yang diantaranya adalah:

  • Karena pendidikan yang rendah. Pada umumnya pendidikan petani Indonesia masih didominasi Sekolah Dasar. Hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil tani.

  • Skala usahanya masih kecil. Khususnya di pulau Jawa, pada umumnya kepemilikan lahan di bawah setengah hektar sehingga hal tetsebut dapat membuat mereka kesulitan untuk mengusahakan lahannya ditingkat yan menguntungkan.

  • Masih sulit mengadopsi teknologi terkini. Kurangnya edukasi dapat membuat petani untuk kesulitan ataupun enggan untuk mengadopsi teknologi.

  • Usaha tani masih sangat tradisional, bahkan belum mengarah ke pengelolaan secara bisnis dengan skala besar.

  • Sulitnya akses pemodalan dan akses pasar.

  • Terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana produksi.

  • Transaksi yang tidak transparan, dll.

Referensi

Petani Indonesia : Mengapa Petani Miskin dan Belum Sejahtera
Ini Penyebab Petani Kurang Sejahtera Meski Sumber Daya Alam Melimpah - Bisnis Liputan6.com

Kesejahteraan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. Kesejahteraan tergambar dari terpenuhinya kebutuhan dasar dan meningkatnya daya beli. Meskipun luas baku sawah 7,4 juta ha, jika pengaturan regulasi dan kebijakan masih saling tumpang tindih, maka apa yang dinamakan kesejateraan petani belum sepenuhnya tercapai. Berdasarkan penelitian oleh Yacoub dan Mutiaradina (2020) bahwa kesejateraan petani bervariabel dengan beberapa indikator, yaitu Nilai Tukar Petani (NTP), upah yang diterima buruh tani, inflasi, pendapatan perkapita.

  1. Kenaikan dan penurunan Upah Buruh Tani Perdesaan berpengaruh signifikan terhadap Kemiskinan Perdesaan di Indonesia. Rendahnya pendapatan petani disebabkan oleh produktivitas yang rendah karena sarana produksi yang amat sangat sederhana, jumlah tanggungan, rendahnya tingkat pendidikan yang berakibat pada rendahnya tingkat pengetahuan para petani untuk mengetahui secara luas produksi yang dihasilkan.
  2. Sesuai teori, NTP (Nilai Tukar Petani) yang meningkat atau tinggi maka kemiskinan pedesaan akan menjadi lebih rendah atau turun. NTP digunakan untuk melihat berapa besar pendapatan dan pengeluaran petani. Namun faktanya, secara umum nilai tukar petani di Indonesia sebenarnya secara umum masih sangat rendah. Perubahan nilai NTP selama periode 2009-2019 tidak menujukkan hasil yang signifikan, malah beberapa provinsi mengalami penurunan NTP. Ini menggambarkan bahwa secara rata-rata petani di Indonesia tidak sejahtera. Penyebabnya bisa jadi adalah SDM yang kurang memadai sehingga cenderung kurang berinovasi dan stagnan juga faktor kepemilikan atau luas lahan.
Referensi

Yacoub, Y. dan Mutiaradina, H. (2020). Analisis Kesejateraan Petani dan Kemiskinan Perdesaan di Indonesia. Prosiding Seminar Akademik Tahunan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.