Metode apa saja yang dapat digunakan untuk menganalisis Cost-Benefit Investasi Teknologi Informasi?

Cost-Benefit Analysis adalah pendekatan sistematis yang digunakan untuk memperkirakan kekuatan dan kelemahan setiap alternatif-alternatif yang ada, yang digunakan untuk menentukan pilihan alternatif dengan memberikan pendekatan terbaik.

Metode apa saja yang bisa digunakan untuk menganalisis Cost-Benefit Investasi Teknologi Informasi?

Saat kita sedang melakukan investasi, kita tidak akan bisa terlepas dengan yang namany cost- benefit bagi kita kedepannya, perlu suatu metode pengukuran dan analisis untuk hal cost-benefit yang akan kita rasakan pada masa yang akan datang. Tak beda pula dengan sesuatu perusahaan atau organisas yang melakukan investasi khusunya invenstasi Teknologi Informasi yang tidak semua orang tau apakah Teknologi Informasi yang diivestasikan itu akan berjangka panjang apa tidak. Karna teknologi itu bisa dikatakan cepat sekali berubah dengan adanya inovasi-inovasi yang diberikan dan tentunya semakin canggih. Maka dari hal inilah perlu dilakukan suatu analisis cost-benefit pada investasi Teknologi Informasi untuk dapat melihat dan menentukan layak tidaknya suatu investasi Teknologi Informasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau organisasi. Pada dasarnya, metode pengukuran dan analisa cost-benefit didasarkan pada cara sera perspektif manajemen dalam menilai kinerja teknologi informasi yang diimplementasikan. Terkait dengan paradigam ini, setiap metodologi yang dipilih dan dipergunakan oleh manajemen memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan metodologi lain. Metode – metode tersebut lahir digunakan untuk mengantisipasi banyakanya bagian yang terkait seperti manfaat dengan teknologi informasi yang tidak mepunyai nilai pasar atau harga pasar yang jelas.

Ada beberapa metodologi dalam pengukuran dan analisis cost-benefit, antara lain :

Strategic Analysis and Evaluation, merupakan suatu teknik pengukuran dengan menggunakan scoring technuique yang didsarkan pada prinsip bahwa semua perangkat teknologi informasi yang diimplementasikan dalam perusahaan harus secara jelas dan tegas mendukung strategi generic perusahaan, sehingga keberadaanya harus dikaji secara sungguh-sungguh. Michael Porter dalam teori
competitive advantage‐nya yang terkemuka mengatakan bahwa hanya ada dua strategi yang dapat membuat perusahaan unggul dibandingkan dengan kompetitornya, yaitu melalui: cost reduction dan differentiation. Jika seluruh investasi teknologi informasi perusahaan diarahkan bagi dikembangkannya perangkat teknologi terkait dengan dua strategi generik ini, maka dinilai bahwa investasi tersebut tepat (manfaatnya telah embedded di dalam kedua strategi tersebut). Semakin terkait langsung aplikasi
teknologi informasi terhadap pencapaian strategi cost reduction maupun differentiation, semakin tinggi score atau nilainya bagi perusahaan.

Value Chain Assessment adalah sebuah pendekatan scoring technique lain dimana didasarkan pada teori value chain yang diperkenalkan pula oleh Michael Porter. Value chain merupakan suatu rangkaian proses di dalam perusahaan yang terkait langsung dengan penciptaan nilai bagi kebutuhan pelanggan, dimana nilai yang dimaksud biasanya direpresentasikan langsung dalam bentuk produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut. Dalam kerangka ini dikatakan bahwa setiap investasi teknologi informasi yang dialokasikan harus dipergunakan untuk mengembangkan teknologi yang secara langsung dipergunakan di dalam rangkaian core process atau proses utama dalam rangkaian value chain tersebut. Semakin terlihat hubungan keterkaitannya, semakin tinggi score perangkat aplikasi teknologi informasinya bagi sebuah perusahaan.

Relative Competitive Performance atau yang sedikit banyak dapat dianalogikan sebagai proses benchmarking merupakan cara menilai kelayakan investasi teknologi informasi dengan mengkomparasikan atau membandingkannya dengan perusahaan serupa (kompetitor) dalam industri sejenis. Butir‐butir kinerja yang dikomparasikan menyangkut sejumlah aspek – baik kualitatif maupun kuantitatif terkait dengan biaya yang dikeluarkan untuk investasi maupun manfaat strategis atau operasional yang didapat perusahaan. Melalui cara pembandingan ini diyakini bahwa perusahaan tidak akan melakukan under investment atau over investment terhadap pengembangan teknologi informasi yang dimilikinya.

Propotion of Management Vision Achieved merupakan sebuah pendekatan yang cukup unik dimana masing‐masing individu yang memegang jabatan manajer ke atas (seperti senior manager, general manager, vice president, director, dan lain sebagainya) diminta untuk melakukan penilaian atau kajian yang didasarkan pada apakah implementasi teknologi informasi terkait sesuai dengan “keinginan” atau
“kehendak” atau rencana mereka semula sebagai seorang pengambil keputusan. Pendekatan ini dipergunakan dengan berasumsi bahwa seluruh manajer di dalam perusahaan bekerja dan bergerak untuk menuju kepada satu visi dan misi yang telah dicanangkan; sehingga mereka tahu persis bagaimana teknologi informasi dapat berperan membantu mereka dalam setiap aktivitas pencapaian visi dan misi tersebut. Dengan kata lain, sebuah keputusan investasi dinilai layak dan “benar” apabila sesuai dengan rencana atau pandangan dari manajer terkait, sementara jika tidak maka dinilai investasi tersebut tidak pada tempatnya.

Work Study Assesment adalah suatu pendekatan evaluasi dimana dilakukan pengkajian terhadap bagaimana implementasi teknologi informasi memberikan dampak pengaruh terhadap pola dan cara kerja para individu dalam satu divisi atau departemen tertentu di perusahaan. Dalam metode ini analisa dilakukan terhadap bagaimana kontribusi teknologi informasi berpengaruh terhadap perbaikan kinerja sebuah proses tertentu yang sangat ditentukan dengan besarnya volume pekerjaan dan tingginya frekuensi aktivitas yang terjadi. Sebuah investasi teknologi informasi dinilai layak dan tepat apabila dapat benar‐benar memperbaiki kinerja proses atau akvitas yang dilakukan sejumlah individu sehingga terlihat pengaruhnya dalam bentuk peningkatan kinerja atau performansi divisi atau departemen dimana perangkat teknologi tersebut diimplementasikan.

Economic Assesment dipandang sebagai salah satu pendekatan analisa yang menggunakan sejumlah teori ekonomi yang dibangun berdasarkan sebuah model matematika tertentu. Metode analisa yang biasanya dinyatakan dalam fungsi output terhadap sejumlah variabel input ini diperkenalkan oleh sejumlah pakar ekonomi yang bekerjasama dengan ahli matematika dan praktisi manajemen. Dengan memasukkan sejumlah data sesuai dengan kondisi perusahaan yang ada ke dalam beragam variabel input pada formula terkait, maka akan didapatkan nilai output yang akan dikomparasikan dengan sejumlah parameter untuk menilai layak tidaknya biaya yang diinvestasikan terhadap manfaat yang diperoleh perusahaan.

Financial Accounting Based Analysis adalah metode analisa yang mempergunakan sejumlah formula dan ukuran yang baku dipergunakan dalam manajemen financial accounting. Contohnya adalah dengan mempergunakan formula ROI, IRR, NPV, dan lain‐lain sebagai alat bantuk untuk menilai apakah sebuah investasi dianggap layak, wajar, dan worth bagi sebuah perusahaan ditinjau terlebih‐lebih dari aspek sumber daya finansial.

User Attitudes adalah cara pengukuran manfaat dengan cara melibatkan mayoritas user atau pengguna teknologi informasi di dalam perusahaan. Melalui survei, jajak pendapat, observasi, dan diskusi, masing‐masing pengguna diminta untuk menyatakan penilaiannya terhadap setiap aplikasi yang mereka pergunakan, terutama berkaitan dengan seberapa besar manfaat diterapkannya aplikasi tersebut untuk membantu aktivitas mereka sehari‐hari. Semakin positif tanggapan mereka, semakin dinilai layaklah investasi teknologi informasi yang telah dilakukan oleh perusahaan.

User Utility Assessment dipandang sebagai sebuah metodologi yang kontroversial karena didasarkan pada asumsi yang sangat spekulatif. Prinsip yang dipegang dalam konsep ini adalah bahwa semakin banyak dan semakin lama individu di perusahaan menggunakan aplikasi teknologi informasi tertentu, semakin dianggap berhasillah penerapan teknologi tersebut. Sementara semakin sedikit atau semakin banyak individu yang menolaknya, semakin dipandang tidak layak investasi yang telah dikeluarkan untuk membangun sistem tersebut. Paradigma ini dipergunakan karena anggapan bahwa semakin sering sebuah sistem dipergunakan, berarti frekuensi transaksi bisnis yang “dibantu” dengan adanya sistem tersebut semakin tinggi demikian juga dengan volume per transaksinya yang berarti akan semakin
banyak manfaat yang telah diperoleh perusahaan dengan utilisasi tersebut. Sebaliknya, utilisasi yang rendah karena tidak terpakainya sistem berarti adanya “pemborosan” sumber daya yang selayaknya tidak terjadi, yang berarti pula bahwa investasi yang telah dikeluarkan sia‐sia adanya.

Value added Analysis adalah pendekatan dimana analisa dimulai dengan cara mengkaji nilai atau value yang diberikan oleh sistem atau aplikasi teknologi informasi sebelum menyentuh unsur pembiayaannya. Dengan kata lain, yang pertama‐tama perlu dilakukan adalah menyetujui akan nilai atau manfaat yang
diberikan oleh aplikasi teknologi informasi terlebih dahulu, baru kemudian mereka yang bersepakat duduk bersama untuk mengkalkulasi biaya yang layak dikeluarkan untuk pencapaian value tersebut. Jika hasil kalkulasi tersebut “berkenan” di hati para pengambil keputusan, maka investasi yang dikeluarkan dinilai layak sementara jika tidak, maka rencana membangun dan/atau mengembangkan system terkait terpaksa tidak dilakukan.

Return on Management merupakan suatu metode yang berpegang pada formula ROM = Managemenet Value Added : Management Cost. Hal dimana yang bersangkutan berusahan memisahkan apa yang dinamakan sebagai management added value dengan management cost dan kemudian membandingkan keduanya untuk diperoleh Return On Management atau ROM.

Multi Objective Multi Criteria Method atau MOMCM diperkenalkan sebagai sebuah metode yang bernuansa subyektif karena didasarkan pada kenyataan bahwa setiap sistem aplikasi yang diterapkan memiliki obyektif yang berbeda karena beragamnya stakeholders yang berkepentingan dengan adanya sistem tersebut. Adanya sejumlah obyektif yang berbeda dan beragamnya perspektif stakeholders memaksa perlu dikembangkannya sebuah sistem yang dapat mengadopsi situasi ini. Dalam MOMCM tersebut masing‐masing stakeholder diberi kesempatan untuk menentukan sendiri bobot atau weight dan penilaian dari sejumlah obyektif atau manfaat yang didapat dari adanya sistem aplikasi terkait. Dengan cara demikian, maka perusahaan dapat melihat dan menentukan layak tidaknya suatu investasi dari hasil total penilaian para stakeholder tersebut.

Sejumlah metode diatas masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka dari itu perusahaan atau organisasi harus dapat menganalisis metode yang cocok untuk diterapkan pada perusahaan tersbut. Namun seorang ahli dalam manajemen menyarankan hanya meggunakan dua atau tiga metode untuk diterapakan pada perusahaan atau organisasinya, tentunya yang sesuai dengan cost-benefit yang sesuai dengan perusahaannya. Jangan menggunakan sekitar enam sampai tujuh metode karena hal tersbut dapat memicu konflik antara metode yang satu dengan yang lain dan berakibat susahnya dalam pengambilan keputusan.

Lantas dengan cara apa saja kita bisa menghitung cost – benefit suatu perusahaan yang intangible ? kebanyakan dalam inventasi teknologi informasi, investasi dalam artian nilainya sulit dikuantifikasikan ke dalam satuan angka finansial yang tidak secara langsung berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Disini David Silk pada tahun 1990 menawarkan langkah-langkah atau cara-cara untuk mrmbantu manajemen dalam mengukur manfaat intangible tersebut. Ada 6 cara atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam menilai cost-benefit dalam suatu perusahaan, antara lain : 1) langkah pertama : mencoba untuk mekonseptualisasikan dampak atau manfaat yang kira-kira akan diperoleh perusahaan degan diimplementasikannya system baru, 2) langkah kedua : melihat perubahan langsung apa yang kira-kira akan terjadi terkait dengan manfaat yang telah didefinisikan pada langkah sebelumnya, 3) langkah ketiga : memntukan jenis indicator ukuran apa yang dapat dipergunakan untuk mempresentasikan masing-masing perubahan tadi, 4) langkah keempat : memperkirakan kauntitas perubahan yang terjadi terhadap masing-masing indicator ukuran yang ada jika system baru diimplementasikan, 5) langkah kelima : mentranformasikan perubahan kauntitas idikator tersebut kedalam satuan finansial terkiat dengan hal tersebut, 6) langkah keenam : menggunakan total hasil perhitungan sebagai jumlah manfaat yang diberikan system teknologi informasi kepada perusahaan. Barulah berdasarkan karakteristiknya, pergunakanlah metode pengukuran cost-benefit sperti ROI, IRR, NPV, Value Analysis, dan lain-lain.

Sumber :
Indrajit, Ricahrdus Eko. 2016. Analisa Cost – Benefit Investasi Teknologi Informasi , Seri Bunga Rampai Pemikiran EKOJI. Indonesia

Sebuah perusahaan dapat menggunakan dua atau tiga sekaligus dalam menganalisa cost-benefit investasi teknologi informasi karena setiap metodologi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang diharapkan dapat saling melengkapi sehingga menghasilkan suatu pengukuran yang lebih berkualitas.
Metode Cost Benefit Analysis adalah pendekatan yang mencoba untuk menentukan atau menghitung nilai dari setiap elemen teknologi informasi yang memiliki kontribusi terhadap biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diperoleh (King et al, 1978)… Pada mulanya, metode ini lahr untuk mengantisipasi banyaknya elemen terkait seperti manfaat dengan teknologi informasi yang tidak memiliki nilai pasar atau harga yang jelas. Pada Cost Benefit Cost ini, elemen yang tidak memiliki nilai (value) yang jelas dicoba untuk dicari nilai padanannya (dalam mata uang) dengan menggunakan berbagai teknik penilaian.
Kekuatan utama dari metode ini dikarenakan telah berhasilnya manajemen dalam mengkuantifikasikan biaya dan manfaat yang bersifat kualitatif mautpun intangible. Dan kelemahan utama dari metode ini adalah sering terjadinya perdebatan dalam menentukan teknik yang sesuai dalam mencari value elemen yang nilainya tidak jelas tersebut.
Berikut adalah beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis cost benefit :
Information Economics
Metode Information Economics yang merupakan sebuah teknik Cost Benefit yang diperluas, Information Economics ini bertujuan untuk menghubungkan aspek kuantitatif dan kualitatif dari manfaat teknologi informasi, isu tangible dan intangible, hal-hal yang penuh ketidakpastian baik secara strategis maupun operasional, terutama yang berkaitan dengan resiko yang dihadapi. Tetapi Information Economics ini juga mempunyai kelemahan yaitu diperlukan keahlian spesifik dikarenakan sifatnya yang kompleks dan cukup membutuhkan waktu.
Return On Investment (ROI)
Pendekatan ROI terdiri dari sejumlah teknik pendekatan formal (Radcliffe, 1982). Contoh dari ROI adalah payback method dimana dicoba dihitung durasi waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi yang telah dialokasikan. Tetapi banyak perusahaan menggunakan ROI untuk menghitung nilai atau manfaat investaasi yang akan diperoleh di masa depan dan memproyeksikan besaran nilai tersebut pada saat investadi dilakukan. Metode yang paling banyak dipakai adalah Internal Rate of Return (IRR) yang biasanya digunakan bersama Net Present Value (NPV). Sebuah proyek teknologi informasi yang diusulkan untuk dibiayai terlebih dahulu dihitung IRR-nya. Jika nilai IRR lebih besar dari hurdle rate of return yang telah disepakati perusahaan, maka proposal tersebut disetujui. Sebaliknya jika nilai IRR berada di bawah ambang tersebut, proyek teknologi informasi yang diusulkan biasanya ditolak oleh manajemen untuk dibiayai. Salah satu kekuatan metode IRR adalah terletak pada kemudahan bagi para pengambil keputusan dalam menentukan apakah investasi terhadap proyek teknologi informasi perlu dilakukan atau tidak. Kelemahan dari metode ROI ini adalah banyaknya hambatan dalam menentukan nilai atau parameter dari beberapa variabel yang dibutuhkan untuk menghitung IRR misalnya, karena karakteristik dari proyek teknologi informasi.
Multi Objective, Multi Criteria Methods (MOMC)
MOMC adalah salah satu variasi dari Cost Benefit Analysis yang cukup banyak dipergunakan. Metode ini berkembang karena pada kenyataannya bahwa di dalam sebuah perusahaan terdapat sejumlah stakeholders yang masing-masing memiliki pandangan berbeda mengenai value dari biaya maupun manfaat dari sejumlah aspek atau elemen teknologi informasi. Setiap proyek teknologi informasi pasti memiliki objektif yang ingin dicapai, dan tidak jarang ditemui terdapat lebih dari satu objektif karena setiap stakeholder sebagai pengambil keputusan memiliki pandangan yang berbeda terhadap objektif tersebut, maka masing-masing pihak berhak untuk melakukan pembobotan terhadap objektif yang ada misalnya dilihat dari sisi prioritas atau dampak signifikan dari investadi yang akan dilakukan. Setelah itu barulah nilai value yang telah disetarakan dengan biaya maupun manfaat yang ada dikalikan dengan masing-masing bobot tersebut untuk memperoleh hasil akhir.
Boundary Values
Metode boundary values ini merupakan salah satu cara heuristik yang cukup banyak dipakai karena kemudahan dan kesederhanaannya (Martin, 1989). Prinsip yang dipergunakan adalah komparasi antara rasio perusahaan dengan rasio rata-rata industri yang diperoleh dengan cara menghitung biaya total yang harus dikeluarkan untuk investasi teknologi informasi dibandingkan dengan sebuah ukuran agregrat tertentu, seperti total pendapatan (revenue) atau total pengeluaran operasional.
Return On Management (ROM)
Metode ROM terkait dengan penghitungan nilai manfaat terkait dengan terjadinya perubahan kenaikan tingkat produktivitas manajemen (Strassman, 1985). Yang bertujuan untuk melihat dampak implementasi sebuah sistem baru terhadap nilai tambah di kalangan manajemen perusahaan. ROM didefiniksikan sebagai hasil perhitungan dari total pendapatan perusahaan dikurangi dengan seluruh biaya dan nilai tambah dari masing0masing sumber daya termasuk modal, kecuali biaya manajemen dan hal terkait dengan manajemen. Tantangan penggunaan metode ROM ini terletak pada kemampuan memperkirakan proyek pendapatan dan biaya terkait dengannya di kemudian hari seandainya sistem tersebut diimplementasikan. Jika estimasi ini berhasil dilakukan, kinerja metode ROM akan jauh lebih baik dibandingkan dengan metode ex post evaluation lainnya.
Critical Success Factor (CSF)
Metode ini banyak diminati oleh para pimpinan perusahaan karena relevansinya terhadap bisnis (Rockart, 1979). Setelah menentukan visi, misi, dan objektif bisnisnya, biasanya para pimpinan perusahaan berusaha untuk mengidentifikasikan faktor-faktor apa saja sebagai kunci keberhasilan bisnis perusahaan. Setelah CSF berhasil didefinisikan, selanjutnya ditelaah satu per satu, apa saja kontribusi teknologi informasi terhadap masing-masing CSF tersebut. Jika kontribusi teknologi informasi sangat besar terhadap pencapaian sebuah CSF, maka sebaiknya perlu dilakukan investasi terhadapnya.
Value Analysis (VA)
Value analysis digunakan untuk teknologi informasi yang memberikan spektrum manfaat yang cukup luas, termasuk hal-hal intangible (Melone et al, 1984). Metode ini dibangun dengan pemikiran bahwa lebih baik memfokuskan diri pada nilai yang didapat oleh perusahaan dibandingkan dengan usaha untuk mengurangi biaya. Value Analysis biasanya mempergunakan teknik pendekatan iteratif seperti metode Delphi untuk mendapatkan solusi terhadap permasalahan. Terkadang dibangun juga prototipe dari sebuah sistem agar manajemen pengambil keputusan dapat memperkirakan value yang dapat diperoleh seandainya sistem tersebut diimplementasikan secara penuh di kemudian hari. Jika sebuah sistem diusulkan untuk dibangun, makan sejumlah manfaat yang akan diperoleh dipetakan terlebih dulu. Kemudian dengan menggunakan teknik statistik seperti cluster analysis. Setelah kategori manfaat telah diklasifikasikan, barulah terhadap masing-masing kategori dinyatakan value yang terkait dengannya. Metode VA ini sangat rumit dan membutuhkan biaya yang relatif besar untuk diimplementasikan namun memang hasilnya dinilai dapat memuaskan para stakeholder dalam dunia bisnis.

Sumber : http://erickchristiady.blog.binusian.org/2010/10/12/metode-analisa-cost-benefit-investasi-teknologi-informasi/

Salah satu tantangan terbesar dalam menilai kelayakan sebuah investasi pembangunan teknologi informasi adalah menilai atau memperkirakan manfaat apa yang akan diperoleh oleh perusahaan nantinya (Indrajit, 2010). Dikatakan sebagai tantangan karena kebanyakan manfaat yang diberikan oleh teknologi informasi bersifat intangible atau sulit dikuantifikasikan ke dalam satuan angka finansial dan tidak secara langsung berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Studi kelayakan bisnis akan menyangkut tiga aspek yaitu, aspek manfaat ekonomis bagi usaha itu sendiri, aspek manfaat ekonomis usaha tersebut bagi Negara tempat usaha tersebut dilaksanakan, dan aspek manfaat social usaha tersebut (Doerachman, Kaunang, Stanley, & Yaulie, 2012).

Cost Benefit Analysis (CBA) menurut Siegel dan Shimp adalah: “Cara untuk menentukan apakah hasil yang menguntungkan dari sebuah alternatif, akan cukup untuk dijadikan alasan dalam menentukan biaya pengambilan alternatif. Analisa ini telah dipakai secara luas dalam hubungannya dengan proyek pengeluaran modal”.

Khususnya untuk dunia teknologi informasi, CBA adalah suatu teknik yang paling umum untuk menghitung biaya (cost) dan keuntungan/manfaat (benefit) dalam suatu proyek teknologi informasi. Untuk dapat melaksanakan CBA, kita harus menentukan hal-hal tersebut sebagai suatu cost dan benefit. Pada dasarnya, metode pengukuran dan analisa cost-benefit didasarkan pada cara serta perspektif manajemen dalam menilai kinerja teknologi informasi yang diimplementasikan (Indrajit, 2010).

Komponen biaya yang berhubungan dengan pengembangan sebuah sistem informasi dapat diklasifikasikan dalam empat kategori yaitu :

1.Procurement Cost Procurement Cost atau biaya pengadaan adalah semua biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan pengadaan hardware. Diantaranya adalah seperti biaya konsultasi pengadaan hardware, pembelian hardware, instalasi hardware, manajerial dan personalia untuk pengadaan hardware. Biaya ini biasanya dikeluarkan pada tahun-tahun pertama (initial cost) sebelum sistem dioperasikan.

  1. Start Up Cost Start Up Cost merupakan biaya operasional yaitu semua biaya yang dikeluarkan sebagai upaya membuat sistem siap untuk dioperasikan. Biaya tersebut meliputi biaya pembelian, networking, reorganisasi, manajemen dan personalia.

  2. Project Related Cost Project Related Cost merupakan biaya yang berkaitan dengan biaya pengembangan sistem dan penerapannya. Biaya proyek antara lain adalah biaya dokumentasi, biaya rapat, biaya sistem analisis, manajerial dan personalia.

  3. Ongoing Cost Ongoing Cost merupakan biaya operasional sistem agar sistem dapat beroperasi dengan baik. Termasuk biaya maintenance sistem. Biaya yang termasuk ongoing cost antara lain biaya personalia, biaya overhead (telepon, listrik, dll), perawatan software,biaya manajerial dalam operasional sistem. Biaya ini terjadi secara rutin selama usia operasional sistem. Metode dalam Cost Benefit Analysis

Adapun metode-metode yang dapat digunakan dalam cost benefit analysis ini adalah :

  1. Net Present Value Method (NPV)
    Net Present Value merupakan metode yang membandingkan keseluruhan pengeluaran dengan keseluruhan penerimaan pada tingkat bunga tertentu.

  2. Payback Period Method
    Payback Period (Yulian, Achmad) adalah waktu yang diukur pada saat dimulai investasi sampai dengan tercapainya kondisi break even point yang menunjukkan lamanya waktu pengembalian biaya atau investasi yang dikeluarkan dalam membangun proyek.

  3. Return On Investment (ROI)
    ROI merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengukur prosentase manfaat yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkannya.

  4. Internal Rate of Return Method
    Pada metode ini (Prabantoro, 2003) akan dihitung tingkat bunga. Tingkat bunga yang dihitung merupakan tingkat bunga persis investasi bernilai impas, yaitu tidak menguntungkan dan tidak merugikan.

Dalam menganalisa cost benefit dari sebuah investasi teknologi informasi sangatlah penting karena untuk mengukur keefektifan biaya yang dikeluarkan dengan keuntungan atau manfaat yang akan didapatkan dari sebuah proyek atau kegiatan investasi TI bagi perusahaan.

Metode-metode pengukuran dan cost-benefit sebagai berikut:

Strategic Analysis and Evaluation adalah teknik pengukuran dengan sistem memberi skor kepada strategi proses bisnis yang dilakukan perusahaan yang umumnya menggunakan strategi cost-reduction (pemotongan pengeluaran) dan differentiation (pembeda dengan yang lain, atau menawarkan produk yang unik). Jika penggunaan teknologi informasi mempunyai tingkat kesesuaian dengan strategi perusahaan tersebut, maka semakin tinggi nilai skor yang diberikan.

Value Chain Assesment adalah teknik pengukuran dengan memberi skor kepada value (nilai) produk atau layanan yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan. Metode ini didasari oleh Michael Porter dengan teori “Value Chain”-nya. Skornya akan tinggi jika penggunaan teknologi yang diinvestasikan sangat cocok dengan usaha perusahaan dalam mengusahakan value chain.

Relative Competitive Performance adalah teknik benchmarking untuk menilai investasi teknologi investasi yang akan dilakukan dengan cara membandingkannya dengan kompetitor. Hal-hal yang dibandingkan terkait dengan biaya untuk melakukan investasi teknologi informasi dan manfaat yang diperoleh perusahaan secara strategis maupun operasional.

Propotion of Management Vision Achieved adalah penilaian terkait implementasi teknologi informasi dalam suatu perusahaan sudah sesuai dengan keinginan atau tidak. Penilaian tersebut dilakukan oleh jajaran pemegang jabatan atas perusahaan (misalnya: senior manager, general manager, direksi, dsb).

Work Study Assessment adalah pendekatan evaluasi dengan melakukan pengkajian dampak pola dan ara kerja setiap karyawan dan setiap divisi yang diakibatkan dari pengimplementasian teknologi informasi di perusahaan.

Economic Assessment adalah cara penganalisisan dengan menggunakan pendekatan ekonomi. Penilaian layak atau tidaknya investasi teknologi informasi diukur dengan melihat output perhitungan dari input data yang sesuai dengan perusahaan.

Financial Accounting Based Analysis adalah cara penganalisisan dengan menggunakan formula dan aturan adlam manajemen akuntansi keuangan. Misalnya : ROI, IRR, NPV, dsb.

User Attitudes adalah cara pengukuran manfaat dengan melibatkan kepada user atau pengguna dari teknologi informasi yang ada di perusahaan. Misalnya: survey, kuesioner, observasi, diskusi, dll. Untuk memberikan nilai pada aplikasi teknologi informasi yang mereka gunakan.

User Utility Assessment adalah prinsip penilaian terhadap teknologi informasi yang jika semakin lama atau semakin sering suatu aplikasi teknologi informasi digunakan dalam perusahaan, maka aplikasi tersebut dianggap berhasil.

Value Added Analysis adalah analisis dengan mengkaji value (nilai) yang diberikan system atau aplikasi teknologi informasi tanpa melihat biaya yang dikeluarkan perusahaan. Yang terlebih dulu dilakukan adalah menganalis manfaat/keuntungan dan value yang diberikan teknologi informasi kepada perusahaan lalu menganalis biayanya. Jika terdapat persetujuan akan value dan biaya teknologi informasi tersebut, maka investasi teknologi investasi dinilai layak.

Multi-Objective Multi-Criteria Method (MOMCM) adalah metode yang subyektif dalam pengukurannya. Hal ini supaya perusahaan bisa menggunakan dua atau tiga metode dalam menganalisis cost-benefit investasi teknologi investasi karena dengan menggunakan beberapa metode sekaligus diharapkan akan memberikan pengukuran yang lebih berkualitas dalam hal pengambilan keputusan.

Referensi :
Indrajit, Richardus Eko. September 2016. ”Analisa Cost-Benefit Investasi Teknologi Informasi”. Seri Bunga Rampai Pemikiran EKOJI. Indonesia