Mesin penerjemah: ancaman bagi profesi penerjemah?

rsz_machine_translator

Mesin penerjemah atau disebut juga sistem penerjemahan mesin adalah aplikasi atau layanan online yang menggunakan teknologi pembelajaran mesin untuk menerjemahkan sejumlah besar teks dari dan ke bahasa yang didukung. Layanan menerjemahkan teks “sumber” dari satu bahasa ke bahasa yang berbeda “target”. Saat ini di pasaran sudah banyak beredar berbagai mesin penerjemah seperti Yandex, Bing Microsoft Translator hingga yang paling populer Google Translate.

Sejak mesin penerjemah Google Translate dirilis untuk publik pada tahun 2008, banyak pihak yang mulai khawatir mesin penerjemah ini akan menggantikan penerjemah manusia, mengingat fungsinya yang semakin hari semakin sempurna. Hal ini sempat meresahkan para penerjemah profesional yang khawatir pendapatan mereka akan menurun.

Terjemahan dengan sistem ini mempunyai kelebihan antara lain kepraktisan pengaplikasiannya, hasil yang cepat, dan rendahnya tarif yang dibutuhkan. Bandingkan dengan jasa ahli terjemah manusia yang selain belum tentu tersedia setiap saat, juga perlu waktu untuk memproduksi hasil alih bahasa dengan mematok tarif yang tinggi. Walaupun hasil alih bahasa mesin masih banyak kekurangannya, tapi masih banyak potensi yang bisa mereka kembangkan. Tidaklah mengejutkan apabila mesin penerjemah mulai banyak digunakan. Nampaknya mesin penerjemah sedang pelan-lahan menggeser pekerjaan ahli terjemah manusia.

Lihat saja, zaman sekarang sudah banyak profesi yang bisa digantikan oleh mesin. Tenaga buruh pabrik sudah bisa digantikan dengan mesin-mesin canggih. Kasir sudah bisa digantikan oleh vending machine. Teller bank juga sudah bisa diganti oleh mesin ATM.

Lantas, apakah kekhawatiran para ahli terjemah berdalih? Benarkah suatu hari nanti semua profesi alih bahasa akan bisa diambil alih dan dipecahkan oleh mesin?

Referensi

Admin. (27 Agustus 2020). Apakah Mesin Terjemahan Ancaman Bagi Penerjemah Ahli?. Diambil dari Apakah Mesin Ahli Yaitu Ancaman Bagi Pekerjaan Ahli? - Informasi DI Indonesia

Khairunisa, I. (11 Desember 2020). Profesi Penerjemah Bahasa dari Kacamata Praktisi. Diambil dari Profesi Penerjemah Bahasa dari Kacamata Praktisi

Kravariti, A. (12 Mei 2017). Automatic translation: why machines will never replace human translators. Diambil dari https://www.translateplus.com/blog/automatic-translation-machines-will-never-replace-human-translators/

Menurut saya, sehebat-hebatnya mesin penerjemah dalam menerjemahkan, pasti akan ada kesalahan atau error dalam menerjemahkan. Hal tersebut karena mesin penerjemah tidak dapat memahami konteks bahasa yang digunakan oleh manusia. Seperti yang kita tahu, bahasa mengandung konteks dan budaya tertentu. Ada kalanya mesin penerjemah tidak dapat menerjemahkan slang atau bahasa-bahasa yang informal, sedangkan dalam berkomunikasi, biasanya kita cenderung menggunakan bahasa yang tidak formal dan tidak kaku seperti kamus serta menggunakan aksen bahasa daerah. Menurut saya, penerjemah manusia masih akan digunakan karena mereka memahami konteks bahasa sehingga hasil terjemahan yang diberikan akan lebih akurat.

Menurut saya, meskipun mesin penerjemah sedang populer digunakan bukan berarti profesi penerjemah akan hilang.
Sepengamatan saya, sampai saat ini, mesin penerjemah ramai atau banyak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya sementara, misalnya terjemahan kosa kata, frasa, menerjemahkan caption, dan lain-lain yang tingkat urgensinya masih pada level standar.

Sedangkan, profesi penerjemah dibutuhkan untuk menganalisis suatu konteks yang lebih rumit dimana membutuhkan penafsiran manusia agar dapar dengan mudah tersampaikan maknanya ke pembaca, misalnya penerjemahan buku, jurnal ilmiah, penelitian, artikel internasional, hasil kajian organisasi internasional, dan banyak lagi.

Jika mesin penerjemah menerjemahkan secara umum sesuai dengan struktur kalimatnya, profesi penerjemah mampu memilih kosa kata mana yang cocok dengan pemahaman targetnya sehingga cenderung merombak terjemahan bakunya. Hal inilah yang tidak bisa ditemukan pada mesin penerjemah.

Menurut saya, mesin penerjemahan bukanlah ancaman bagi profesi penerjemah. Pertama, mesin terjemahan lebih sering menggunakan metode penerjemahan word-per-word. Dari beberapa jurnal yang pernah saya baca, mesin penerjemahan lebih sering menggunakan metode ini padahal ada banyak metode penerjemahan seperti yang diajukan oleh Catford maupun Newmark. Di sisi lain, mesin terjemahan hanya dapat menerjemahkan kata-kata tanpa memperhatikan unsur-unsur dalam terjemahan seperti konteks, unsur budaya, aspek semantik, dan padanan kata yang sesuai.

Kedua, mesin penerjemah hanya mempercepat pekerjaan sisanya tetap dibutuhkan penerjemah untuk melakukan proses editing dan memeriksa apakah kualitas terjemahan sudah baik atau beum.

Kita tidak dapat menyangkalnya bahwa dunia akan selalu bergerak dan hal-hal baru akan bermunculan. Namun menurut saya, eksistensi mesin penerjamahan hanya sebagai pembantu/pendamping saja. Profesi penerjemah akan selalu dibutuhkan karena untuk masalah dokumen-dokumen administratif tidak bisa menggunakan mesin sebagai alat pengalih bahasaan melainkan menggunakan jasa penterjemah.
Ini dikarenakan jika menggunakan profesi penerjemah, maka dokumen itu dapat dipertanggung jawabkan secara resmi.

Menurut saya, memang kita tidak dapat memungkiri lagi jika perkembangan teknologi yang ada saat ini sangatlah pesat termasuk dengan kehadiran mesin - mesin penerjemah seperti Google translate yang sudah terintegrasi dengan banyak bahasa di dunia yang tentunya memudahkan kita dalam melakukan penerjemahan. Tetapi perlu kita ingat juga, jika penerjemahan bukanlah bidang yang se-simple itu. Akurasi terjemahan yang dilakukan oleh mesin terjemahan kadang - kadang masih kurang natural. Selain itu, menurut saya, terjemahan yang dilakukan oleh mesin terjemahan kebanyakan merupakan terjemahan yang sifatnya literal atau mengikuti makna dari kamus tanpa memperhatikan konteks kebahasaan.

Profesi penerjemahan mengharuskan kita untuk mengerti berbagai macam teknik translation yang baik dan benar. Variasi inilah yang menurut saya menjadi kelebihan penerjemah manusia dibandingkan dengan mesin penerjemah. penerjemahan yang dilakukan oleh manusia memang memakan waktu yang lama, akan tetapi hasil terjemahannya begitu natural, sesuai konteks kebahasaan, dan sesuai isi dari teks originalnya.

Rata-rata disini setuju bahwa hasil terjemahan mesin masih belum bisa sebagus hasil penerjemah manusia. Penerjemah mesin, terlepas dari kecepatan dan kemudahannya, masih terlalu word-per-word dan kurang memperhatikan konteks kebahasaan dan budaya seperti pendapat kak @jullianiananda, @williamaditama dan @Earlian .

Realitanya, saat ini profesi penerjemah masih sangat dibutuhkan, seperti dalam penerjemahan buku,jurnal dan artikel seperti pendapat kak @Amel01 . Hasil penerjemahan penerjemah tersumpah pun juga bisa lebih dipertanggungjawabkan legalitasnya seperti yang dikatakan kak @Alfarizi .

Saya rasa tidak sedramatis itu. Level dan akurasi terjamahan antara mesin penerjemah dengan profesi penerjemah tersumpah sangat berbeda. Coba bandingkan hasil terjemahan mesin penerjemah dan penerjemah tersumpah, tentu hasilnya akanlebih akurat penerjemah tersumpah. Kemudian, ketika apply beasswa, profesi penerjemah tersumpah akan sangat dibutuhkan untuk menerjemahkan setiap dokumen yang dibutuhkan, dan terjemahan yang dilakukan harus menggunakan penerjemah tersumpah yang kredibel. Jadi, saya rasa profesi tersebut akan tetapada. Kegunaan mesin penerjemah hanya untuk tingkat yang ringan ringan saja. Mesin penerjemah juga sering mengartikan secara ngaco dan terkesan sembarangan.

1 Like

Pro dan kontra dari Google translate tidak hanya berdampak pada penerjemah profesional di industri layanan bahasa, tetapi juga siapa saja yang memilih untuk menggunakannya sebagai alat penerjemahan. Tentu saja, akses publik online ke metode penerjemahan yang gratis, cepat, dan relatif akurat merupakan kemajuan yang signifikan dalam teknologi penerjemahan. Tetapi ketika seseorang secara langsung membandingkan kualitas dan akurasi terjemahan menggunakan Google Terjemahan dengan penerjemah manusia yang berpengalaman, tidak ada perbandingan yang nyata.