Menyimpan Tujuan


Menyimpan Tujuan

Darinya Kulihat Bola mata yang hitam,bibir yang tipis,lesung pipi di kedua sisi,dengan hidung yang runcing.Meski alis buram,Ia tetap terlihat menarik dan menawan.Gadis mungil itu kini lulus SMA,ia hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri,bahkan jika bisa ke luar negeri,dengan harapan setelahnya akan mudah bekerja ditempat bergengsi dan membuat bangga keluarga.Bia dan Tiara adalah kedua sahabatnya yang sama-sama berjuang menuju kampus favorit ketika itu,semua rencana dan persiapan mereka laksanakan dengan matang dan penuh kerja keras.Hampir di setiap hari Dia belajar bersama kedua temannya yang hendak mencapai beasiswa.

Suatu sore yang nyaris menggelap,disaat semua ayam masuk rumah,disaat kaum adam pergi ke surau,Dia baru saja tiba dirumah dan ibu menunggunya dengan khawatir.

Dia : “Sore buu…Dia pulang…”,dengan santai.

Ibu : “Kamu dari mana nak?hari udah gelap.”

Dia :”Biasa,belajar bersama dirumah Tiara bu…”

Ibu : “Ibu ingin sampaikan sesuatu sama kamu, setelah salat nanti.”

Dia : “Kenapa nggak sekarang aja?”

Ibu : “tanggung,waktunya.”

Dia : “Oke bu,Dia ke kamar dulu ya… “

Kumandang adzan magrib berlalu,adzan isha pun berlalu,Dia yang sudah cukup mengantuk pergi ke kamar ibu untuk bertanya;

Dia : “Ibu,apa yang mau ibu sampaikan ke Dia?”

Ibu : “Hmm…Mengingat ibu yang single parent,ibu sangat menginginkan yang terbaik untuk anak ibu,ibu ingin selalu menyayangimu,merawatmu dan menjagamu hingga ada yang mampu gantikan ibu,yaitu seseorang yang kuat,berani dan menjamin kehidupanmu.”

Dia : “Ibuku sayang… Langsung aja pada intinya,ibu inginkan apa?”

Ibu : “Ibu berniat untuk menikahkan kamu dengan pilihan ibu.Ya,ya ibu tau kau baru lulus SMA,hanya saja ibu yakin kau mampu,ibu khawatir akan pergaulan zaman sekarang,dan ibu takut tidak mampu membiayai kuliahmu dan pendidikan adik-adikmu."

Dia : "Pantas saja ibu pernah mengajakku tes kesehatan,pantas saja ibu tak mengizinkan aku les dan sering overthinking walau aku pulang sore,Jadi kaena ibu mempunyai niat ini?”ucapnya dengan sedikit tinggi dan pergi ke kamarnya tanpa permisi.

Dipagi hari sekali,seperti biasanya Dia membantu ibu untuk menyiapkan sarapan dan merapikan rumah.Berbeda dengan biasanya,hari ini Dia tak menjawab kala ibu bertanya hari itu,selesai pekerjaan dirumah dia tidak sarapan dan pergi lebih pagi dari biasanya, pergi belajar bersama Tiara dan Bia tanpa pamit dan izin ibu.

“Dia,ko bibirmu kayak bebek gitu”,ucap Bia.

“Iya,biasanya lo yang paling murah senyum,cerita dong cerita,kenapa siii”,ucap Tiara.

“Gapapa,lagi badmood aja sih”

“Eh,ya kan buku paketnya udah kita bahas semua,gimana kita ke toko buku”,Bia mengatakan idenya.

“Boleh tuh,yang didalam mall aja toko bukunya,sekalian ya nggak?”,tambah Tiara sambil tertawa.

“Boleh tuh,hallo Diaa?ikut kan?”,tanya Bia memastikan.

“Yuk”,jawab Dia sambil berjalan lebih dulu keluar dari rumah Tiara.

Sesampainya di toko buku,Dia bertindak seperlunya;membaca yang ada,tak banyak bicara dan banyak memikirkan perkataan ibu semalam.Tiara dan Bia sangat tidak nyaman dengan sahabatnya yang berbeda,mereka menghibur Dia sebisanya walau Dia tak kunjung bercerita.Tiba-tiba Dia ingin menyendiri dengan beralasan lain pada kedua sahabatnya.

“Aku duluan aja ya…”

“Kok gitu,kan masih siang?”,tanya tiara.

“Gapapa kan?aku gaenak badan.”

"Yaudah kita pulang bareng ya?,tanya Bia.

“Gausah,itu kan belum selesai,lagian aku udah pesan ojek online”.

“Yaudah hati-hati yaa…”,ucap keduanya sambil memeluk.

“nanti kita video call!”,tambah Tiara.

Baru saja sampai dipintu keluar mall,Dia tidak sengaja ditabrak seorang pekerja yang sedang terburu_buru,sehingga tas laptop serta kertas-kertas dalam map terjatuh.

“(bruk)duh!”,keluh Dia spontan.

“mba kalau jalan kedepan dong matanya,nunduk terus sih”,dengan nada tinggi sambil mengabaikan barang Dia yang jatuh.

“mba,gapapa?”,datang pria lain yang membantu Dia merapikan barang yang jatuh”,

“yaampun,padahal kan bukan aku yang menabrak dia,lagi pula aku menundukkan pandangan menjaga mataku dari sembarangan pria”,berbicara pelan tanpa sadar seseorang mendengarnya”

“hallo…mba?”,sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Oh ya,terima kasih mas” ucap Dia sambil fokus pada barang bawaannya”

“ga inget aku Dia”

“(menoleh kaget)kak Juna?”

“Masih ingat ternyata”

“makasih ya…aku harus segera pergi”

“hmm…okay,ga bareng aku aja?”

“gapapa,thanks pokoknya”,tutupnya sambil berlalu.

Dia tetap menaiki ojek online dan selama perjalanan Dia membuka status media sosial,dari laman itu begitu saja muncul gambar dengan kata-kata nasihat berbakti pada orangtua,Dia semakin terpikir bahwa hadirnya adalah merepotkan orang tuanya saja,ia pun terpikir untuk tidak pulang dengan pergi kemana saja yang ia mau,benar saja di siang itu Dia turun ojek online di dekat jembatan jalanan kota,ia menyempatkan ke warung sekitar untuk membeli beberapa makanan dan membagikannya pada anak-anak jalanan di sekitaran itu.Dia menyusuri jalanan dengan menikmatinya.Ada yang menarik perhatiannya,rumah kayu berwarna-warni dengan halaman hijau yang penuh tanaman segar,di depan pagar tertera papan bertuiskan"panti asuhan hayati" dengan penuh ingin tahu ia masuk,menyapa orang-orang didalamnya dan banyak berbincang.Dia senang berbagi,senang belajar,apalagi berdiskusi,karena merasa sudah lama mengunjungi panti,ia pun keluar untuk melanjutkan perjalanan.Disore itu ia hampir terpikir untuk pulang,namun hatinya belum siap jika harus tidak menurut pada ibunya dan harus berdebat tentang Dia yang selalu ingin belajar dan ibunya yang inginkan Dia menikah segera,saat berjalan kaki disore gelap itu dia bertemu sekumpulan pria yang sedang mengamen,Dia mempercepat langkahnya karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.Ternyata benar,walaupun Dia berpakaian tertutup mereka menggoda Dia dan mendekat,mendekat,terus mendekat.Dia lari dan berteriak meminta tolong,hingga berada di kebun yang sangat sepi,ia tak menemukan rumah warga.Ia takut,berdoa dan berusaha menghindar sekuat mampunya.Dia mulai menunjukkan kebolehannya untuk bela diri,namun tetap saja tak mampu ia hadapi karena pria itu beberapa orang dan tak penah berhenti.

Tiba-tiba Pria tinggi semampai dengan tiga orang kawannya yang gagah datang menyelamatkan,Dia sangat takut atas apa yang terjadi saat itu.Ia menangis sejadi-jadinya dan tersadar bahwa Juna dan teman-temannya lah yang membantunya saat itu.

“Kamu ini,sangat keras kepala!ibumu menelponku khawatir”

“Ya,aku tahu aku tak menurut pada ibu,tapi aku tidak mau membantahnya.Aku sekedar diam dan pergi”,ucap Dia sambil tersedu-sedu.

“Sudahlah tenang dulu,gak papa kan?”

“Engga apa-apa,ini karena Ibu tidak ridha padaku bukan?karena saat itu juga Tuhan tak ridhai aku”,ucap Dia sambil menghabiskan sisa tangisannya.

Iya,udah,sekarang kan juga kau selamat karena do’a ibumu”

Baru kali ini aku melihatnya menangis,Dia adalah sosok tangguh bagiku,seperti ibunya.Hal itu pula yang membuatku kagum padanya. Waktu berlalu dan sesampainya dirumah Dia minta maaf pada ibu dan menceritakan kejadian hari itu.

"Padahal ibu tak pernah memaksa kamu ",ucap ibu

“Sekali lagi maafin Dia bu,semua sial Dia terjadi karena Dia ngga izin sama ibu,Dia gakpapa pokoknya Dia mau nurut sama ibu”

“Sudahlah,ibu juga minta maaf membuatmu kecewa,ibu paham,ibu lihat perjuanganmu yang belajar keras seharian walau tidak ibu beri les,lagipula ibu mendirikan usaha online selama ini pun untuk pendidikan kamu.”

"Sebagaimana ibu yang percaya dan sayang sama Dia,Dia ingin menurut apapun yang ibu mau,Dia akan menikahi siapapun itu…asalkan pilihan ibu”

“Istirahat dulu lah nak…”,tutup ibu

Sebulan setelah kelulusan,ketika itu Dia mendapat kabar bahwa ia masuk ke perguruan tinggi impiannya,disaat yang bersamaan seseorang melamar Dia,antara senang dan khawatir,Dia takut jika menikah setelah lulus SMA ia tak mampu menjadi seorang istri yang berbakti,sekaligus menjadi sekolah pertam bagi anaknya kelak,belum lagi ia takut jika pria pilihan ibu ternyata bukanlah orang yang ia butuhkan.Dia masih ingin belajar dan terus belajar.Namun dia selalu ingat bahwa ia adalah putri pertama ibu yang harus patuh.Ia mencoba mengikuti arus,bagai air yang mengalir,Ia mencoba menerima dan mencoba dengan mencontrol dirinya serta terus belajar dari setiap hal,walau nyaris melupakan universitas impiannya.

Setelah akad nikah berlangsung,Dia terkaget bahwa pilihan ibunya adalah sosok terbaik yang pernah ia temukan sedari dulu,pria itu adalah orang yang sudah lama berjuang dengan balasan sikap dingin Dia,berjuang hingga menjadi CEO dan penghafal kitab suci.

“Maaf ya aku nikung lewat ibumu”

“Kak Juna,aku engga menyangka”

“kamu gak suka?sedih?kecewa?kamu bisa bilang kapanpun aku akan menerimanya”

“aku bahagia dapatkan kamu,kak”Dia mencuri pipi kanan pria itu.

“kamu ini dek”,dengan kaget campur gugup,sambil mengecup tangan Dia

“kan aku sudah sah istrimu ?”
"Iya,Rumadia kesayanganku”,gombal

Dia bersyukur dengan sebesar-besarnya,karena ia tetap diizinkan kuliah dengan status istri,Tuhan memang selalu menyimpan kejutan yang besar,untuk seseorang yang taat pada orangtua,sabar,berpola pikir terbuka dengan selalu mau belajar dan juga mengasihi pada sesama.Pada akhirnya kami memiliki keluarga yang hangat dengan benteng ketaatan yang kuat.