Menurutmu, baguskah menjadi seorang "Grammar Police"?

Grammar Police, atau seringkali juga disebut Grammar Nazi adalah istilah slang / idiomatik bagi orang-orang yang senang sekali mengoreksi atau mengkritik tata bahasa orang lain, terutama dalam berbahasa Inggris. Biasanya istilah ini berkonotasi negatif, sebab kebanyakan orang merasa para polisi bahasa ini adalah orang yang menyebalkan.

Kemampuan berbahasa Inggris seseorang tentu akan berbeda satu sama lain, baik secara penulisan, bicara, membaca, maupun mendengar. Terlebih jika Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, tentu tidaklah sempurna sehingga maklum jika ada kesalahan yang dibuat. Namun sepertinya ini tidak berlaku bagi para Grammar Police, si Tukang Koreksi yang nampaknya tidak memaklumi hal tersebut.

Jika niat mengoreksi adalah untuk menolong, tentu itu merupakan hal yang bagus, supaya Bahasa Inggris menjadi “benar” (walaupun menurut saya tidak ada Bahasa Inggris yang “benar”, ada banyak aksen dan versinya di zaman dan tempat yang berbeda-beda). Namun jika niat mengoreksi adalah ingin mempermalukan, pelaku inilah yang biasanya disebut Grammar Nazi.

Menurut teman-teman, apakah mengoreksi kesalahan berbahasa orang lain adalah hal yang wajar? Atau malah mengganggu? Bagaimana tanggapan kalian mengenai para polisi bahasa ini?

Referensi

Sheehan, M. (2020). Correct that ‘grammar Nazi’ back: Why these 5 English rules don’t matter one bit. The Print. Diambil dari Correct that 'grammar Nazi' back: Why these 5 English rules don't matter one bit

1 Like

Menurut saya itu mengganggu jika dilakukan dimuka umum. Padahal orang inggris saat berbicara juga tidak berpatokan kepada grammar bukan? Jika dilakukan kepada orang yang akrab mungkin masih bisa diwajarkan. Sebenarnya ini kepada masalah adab juga sih. Pujilah seseorang dimuka umum, Namun koreksi kesalahan seseorang secara privat.
Ironisnya, kita sebagai warga Indonesia justru cenderung memuji-muji orang luar yang berbicara bahasa meskipun dengan logat dan pelafalan yang sangat buruk. Hal yang sama harusnya kita lakukan terhadap teman sebangsa kita agar semangat untuk belajar tidak padam karena takut akan koreksi dan cacian. Dan jika hendak melakukan koreksi, hendaknya dilakukan secara personal.

1 Like

Setuju dengan @juannikatriko , sering kita temui beberapa orang bule yang mencoba belajar bahasa kita malah diapresiasi walaupun masih banyak kesalahan sedangkan kita sendiri yang ingin belajar bahasa asing, justru mendapat banyak hujatan apabila beberapa kata yang diucap tidak sesuai. Dan untuk masalah mengoreksi, menurutku boleh boleh aja, agar kita tahu bagaimana cara pelafalan yang tepat. Hendaknya ketika mengoreksi, tidak dengan bahasa yang kasar seakan akan menggurui, cukup dengan bahasa yang ringan dan dapat diterima, dan pastinya koreksilah secara privat.

1 Like

Menurutku, kita tidak boleh lupa akan konteks atau situasi yang sedang kita hadapi. Kita harus bisa membedakan situasi mana yang formal, semi-formal, dan santai. Ketiga situasi tersebut tentunya memiliki standar komunikasi yang berbeda-beda dan jangan sampe kebalik juga menggunakannya. Dari situ, kita bisa nyambungin sama fenomena Grammar Police atau “si tukang koreksi” ini. Sebenernya sah-sah saja buat jadi orang yang suka mengoreksi penggunaan kata atau grammar selama sesuai dengan situasi atau mungkin tingkat kesalahannya. Jika kita sedang berada di situasi formal seperti sidang di kampus, seorang penguji sah-sah saja buat mengoreksi laporan mahasiswanya yang memiliki grammar error . Atau mungkin memang kita bekerja sebagai editor sebuah media cetak atau sosial, maka sangat sah kita jadi Grammar Police karena emang tuntutan pekerjaan.

Namun jika kita sedang berada di situasi yang santai seperti sedang chatting sama temen atau membaca komentar di media sosial, maka si Grammar Police ini menurutku kurang sesuai situasi dan kondisinya. Karena terlalu serius di saat santai ataupun sebaliknya itu kurang baik buat diri kita maupun orang lain dan itu sifatnya mengganggu atau annoying . Ini nyambungnya sama norma dan etika juga. Menurutku selama apa yang disampaikan orang tersebut masih dapat kita pahami maksudnya, maka ada kesalahan grammar satu atau dua kata itu masih sangat bisa diwajarkan.

Kejadian grammar error akan sangat sering kita jumpai atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya sendiri saat kita melakukan conversations atau percakapan. Orang native English atau yang emang sehari-harinya ngomong bahasa Inggris pun umumnya akan memaklumi kejadian itu selama mereka masih bisa memahami apa maksud dari pembicaraan ini. Jadi kesimpulannya, jangan menjadi Grammar Police atau bahkan Grammar Nazi saat berinteraksi dengan orang lain di situasi yang santai atau non-formal.

Setuju kak, sesuatu yang dikeluarkan tidak pada tempatnya bisa menjadi hal yang mengganggu. Demikian juga kebiasaan mengoreksi tata bahasa orang lain di luar situasi yang seharusnya. Karena sejatinya esensi dari komunikasi adalah ketika gagasan yang disampaikan oleh pengujar selaku signifier, bisa diterima oleh si penerima sebagai signified. Paham sama paham, aturan bahasa tidak lagi menjadi penting.

Menurut saya hal tersebut tergantung konteks dari seseorang yang kita sebut sebagai “grammar police” apakah dia memang berniat untuk mengoreksi grammar kita yang salah atau kah hanya ingin pamer atau mempermalukan kita. Tetapi menurut saya seorang grammar police ini tidak bermaksud untuk mempermalukan orang yang grammar nya salah, tetapi justru ia memperbaiki kesalahan tersebut dan menurut saya hal itu wajar karena sebagai proses kita saling belajar, namun yang saya garis bawahi disini mengoreksi nya tetap menggunakan bahasa yang sopan dan tidak menyudutkan pihak lain