© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Meninggalkan Dunia Perminyakan dan Gas Demi Kecintaannya Terhadap Dunia Game

Setiap orang pasti bisa melakukan apa pun kalau mereka niat, berusaha, dan mau mencari tahu apa yang harus dilakukan kalau tujuannya jelas.

Kalimat diatas adalah salah satu pernyataan dari Seorang Muhammad Rendy Haruman, dia pernah bekerja di suatu perusahaan Multinasional di bidang Perminyakan. Kita tahu bahwa bekerja di bidang perminyakan dan gas adalah salah satu bidang pekerjaan yang amat di inginkan oleh banyak orang, selain pekerjaan dengan gengsi yang tinggi, bidang ini pun menawarkan upah yang tidak sedikit.

Tetapi seorang Muhammad Rendy Haruman atau akrab disapa Rendy berani mempertaruhkan karir nya di Dunia Perminyakan demi mengejar passion di bidang game. bagaimana cerita kelanjutannya? simak artikel dibawah ini.

Bekerja di industri perminyakan merupakan suatu profesi bergengsi yang jelas bisa membuat orang tua bangga pada anaknya. Dengan syarat masuk yang umumnya tidak mudah, profesi di bidang petroleum tidak hanya menjanjikan gengsi tinggi, tapi sering kali juga menawarkan gaji di atas rata-rata.

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang telah menuntut ilmu di tempat yang penuh prestise, dan sukses bekerja di bidang petroleum, tiba-tiba memutuskan untuk banting setir mengejar cita-citanya untuk terjun ke industri game?

Hal ini dialami oleh Muhammad Rendy Haruman yang akrab disapa Rendy. Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) ini awalnya mengejar karier menangani proyek yang berhubungan dengan minyak dan gas, namun dua tahun terakhir ini ia memutuskan untuk mulai serius bekerja di studio game.

Bagaimana Rendy menjalani perubahan yang cukup ekstrem ini? Dan bagaimana orang tuanya menanggapi keputusannya yang jelas bisa membuat banyak orang geleng-geleng kepala? Simak ceritanya di bawah.

Bekerja dengan emas hitam

jakartagreater.com

“Waktu baru lulus, saya bekerja di perusahaan jasa logistik yang khusus menangani proyek minyak dan gas, terutama pengeboran lepas pantai,” kenang Rendy. Kariernya di bidang perminyakan dimulai dari menjadi analis proyek, sampai akhirnya menjadi manajer proyek.

“Perusahaannya sendiri kerjanya berdasarkan proyek, misalnya Pertamina lagi mau ada proyek mengebor di lepas pantai Madura, kami ikut tender untuk mengurus logistiknya. Tugasnya termasuk mengurus masalah bea, perizinan kapal-kapal dan perlengkapan bor, pengaturan pegawai-pegawai, urusan markas logistik di pelabuhan, sampai menyewakan pesawat kalau diperlukan. Perusahaannya sendiri multinasional dengan markas di Singapura, jadi sering ada proyek multinasional yang seru lo,” jelas Rendy.

Pekerjaan proyek yang ditangani Rendy cukup bervariasi. Ada yang hanya empat bulan sampai satu tahun. Rendy mengaku banyak sekali hal yang dia pelajari selama empat tahun bekerja di industri ini. Meskipun bisa dibilang dia langsung “diceburin” oleh bosnya dan pernah juga melakukan kesalahan, tapi semuanya memiliki nilai pelajarannya sendiri.

Lompatan penuh risiko


Tech In Asia Indonesia

Niat untuk terjun ke industri game telah lama Rendy miliki. Kecintaannya pada video game dan cita-cita untuk membuat game sejarah berlatar Indonesia yang dapat menarik perhatian dunia bisa dibilang merupakan salah satu akar yang menjadi keputusan dia memutuskan banting setir.

“Saya baru benar-benar memutuskan untuk leap of faith itu waktu di proyek terakhir. Waktu itu ada vendor yang melaporkan bahwa barang yang diperlukan sudah berangkat dari Surabaya dan akan sampai minggu depan. Minggu depannya saya tanya, ternyata mereka melakukan kesalahan dan barangnya belum berangkat.

“Parahnya lagi, jadwal keberangkatan berikutnya adalah dua minggu dari waktu saya menelpon dan barang dibutuhkan minggu depannya. Kalau tidak sampai, kami akan kena denda US$50.000 (sekitar Rp650 juta) per hari. Kontan saya kaget, tapi mau tidak mau cari cara lain dan terpaksa sewa pesawat untuk langsung menerbangkan barang tersebut. Keluar biaya besar memang, tapi kami terhindar dari penalti, dan tentu vendornya langsung kami blacklist,” ujar Rendy bercerita.

Segala kegiatan itu Rendy selesaikan hanya bermodalkan satu ponsel dan pulsa, telepon sana-sini untuk mengatur sewa pesawat. “Dari situ saya sadar, bahwa setiap orang pasti bisa melakukan apa pun kalau mereka niat, berusaha, dan mau mencari tahu apa yang harus dilakukan kalau tujuannya jelas.”

Mendapatkan pelajaran tersebut dari pengalamannya, serta mengingat fakta bahwa ia masih berusia kepala dua, Rendy pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya tersebut demi mengejar impiannya di industri game.

Bermain dengan emas digital
Berpindah haluan dari sesuatu yang cukup familier di generasi tua menuju industri yang masih sangat baru jelas bukan hal simpel. “Keluarga sendiri tidak ada masalah asalkan apa yang saya kerjakan tidak menyimpang dari nilai-nilai utama keluarga, dalam artian tetap taat ibadah dan tidak mendekati narkoba dan sejenisnya.”

Meskipun begitu, Rendy juga mengakui kalau keluarganya belum paham benar nilai yang bisa diberikan industri game global ataupun lokal. “Jadi salah satu tujuan saya saat ini juga untuk menunjukkan bahwa game pun bisa membantu Indonesia untuk berkembang.”

Sepak terjang industri game Rendy dimulai di Touchten Games. Di sana, ia bekerja sebagai manajer produk yang menangani KadoSaku, produk Touchten yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah monetisasi game mobile di Indonesia.

Salah satu tujuan saya saat ini juga untuk menunjukkan bahwa game pun bisa membantu Indonesia untuk berkembang

“Intinya yang saya kerjakan di Touchten adalah mengidentifikasi kebutuhan klien, mencari solusi dari kebutuhan itu yang bisa dipecahkan game mobile, membuat produk layak (MVP) dan mengirimnya ke klien, melakukan testing dan memperbaiki produk dari hasil tes tersebut, analisis hasil iterasi produk, dan pertahankan komunikasi ke semua pihak yang terlibat di produk, baik internal maupun eksternal,” jelas Rendy.

“Di sini saya dibantu tim developer, sales, analis, dan pihak-pihak Touchten lainnya. Tujuan produknya satu, membantu masalah monetisasi game mobile di Indonesia dengan metode IAP yang dikuasai game asing, sedangkan nilai eCPM dari iklan masih rendah.”

Apakah ini pilihan tepat?

Tech In Asia Indonesia

Ketika ditanya mengenai pandangannya tentang industri game Indonesia serta apakah profesi ini bisa menyokong pelakunya dengan layak, Rendy menunjukkan optimisme yang cukup realistis. “Masih banyak tantangan yang dihadapi industri game dalam negeri, terutama dari segi model bisnis,” jawab Rendy.

“Kalau dilihat kualitasnya, game kita tidak kalah dengan game luar, dan nyatanya banyak karya anak bangsa yang viral atau menjadi aset yang digunakan studio besar di luar. Namun karena di dunia digital ini kita semua bersaing secara global, kita kalah dalam urusan stategi bisnis pemain global. Ini tantangan yang menarik bagi para pelaku industri game dalam negeri.”

Menambahkan soal kemampuan industri game untuk menyokong pelakunya, Rendy mengatakan, “Menyokong dengan layak, menurut saya masih sulit, kecuali jika kita membicarakan perusahaan yang sudah papan atas, itu pun masih kalah dengan industri lain, apalagi jika dibandingkan dengan minyak dan gas bumi.

“Tapi kembali lagi, industri game itu menurutku industri passion, ‘bayaran’ utamanya adalah kepuasan membuat game yang disukai masyarakat dan mampu memberikan kontribusi. Siapa tahu suatu saat nanti akan ada Supercell versi Indonesia yang mampu menambahkan pajak negara sampai dua puluh persen!” pungkas Rendy.


Semoga kisah dari Rendy ini dapat menginspirasi kita untuk tidak pernah berheti dalam mengejar mimpi dan cita-cita, walaupun Rendy telah nyaman bekerja di perusahaan yang notabene sangat mencukupi sebagian besar kebutuhan hidupnya, tetapi dia tidak ingin terus seperti itu (Comfort Zone), dia beranikan diri untuk mencoba hal baru yang mungkin masih belum tentu dapat memberikan keuntungan seperti dia ketika bekerja di perusahaan Perminyakan, tetapi hal tersebut tetap dilakukan demi passion dan kecintaan pada sesuatu yang ini sukai.

Sumber