Menimbun Tabungan Epos

Tabungan Epos

Sudah lewat pukul 22.00 WIB, tak biasanya lampu kamarnya masih menyala. Namanya Khadijah. Dije, biasa orang-orang memanggilnya. Matanya masih terus memperhatikan layar gawai. Masih melihat foto-foto dan video yang dikirimkan di grup relawan. Hatinya terus berdoa agar kawan-kawannya dan para petugas medis yang berada di garda depan dilindungi Sang Maha Memiliki, Sang Maha Menciptakan, termasuk pemilik hidup dan matinya virus Covid-19 .

Ia menerawang langit-langit kamarnya, menembus melewati ruang waktu menuju masa orientasi relawan. Dije dan kawan-kawan mengabdikan dirinya menjadi relawan di lembaga kemanusiaan di kota pelajar, Malang. Ia ingat betul, kala itu hatinya bergetar bersama semangat menggelora para relawan saat mengucapkan mereka ingin menjadi sebaik-baik manusia, yaitu yang bermanfaat bagi sekitarnya. Tak ada rasa berbangga apalagi mengharap dunia.

Tak terasa, air matanya meleleh. Kali ini ia tak bisa ikut andil di lapang. Ibunya tak memberinya ijin. Padahal sejak adanya WFH (Work from Home) waktunya menjadi lebih luang. β€œIni peluang kebaikan,” pikirnya. Tapi sudahlah, kali ini ia tak mungkin melanggar perintah ibunya.

Meski begitu Dije tak putus asa. Ia berusaha mengajak orang di sekitarnya untuk stay at home dan menggunakan waktu WFH dengan sebaiknya, untuk hal yang bermanfaat. Ia juga aktif membagikan info tentang pencegahan corona dan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk ambil bagian dengan berdonasi semampunya. Tak hanya itu, beberapa hari ini ia juga turut membantu menjualkan hand sanitizer dan masker kain kepada masyarakat yang membutuhkan. Ia tak mengurungkan niatnya, meski tahu pembelinya masuk di daerah zona merah. Berusaha melindungi diri dan sekitarnya, ia mengenakan masker, membawa hand sinitize , mengurangi kontak fisik, berjarak 1 meter dengan orang lain, dan senjata dari segala senjata, doa. Sekarang atau tidak sama sekali .

Dije berharap dengan langkah kecilnya itu membawa sekitarnya untuk menjaga diri dan keluarga. Ia yakin bahwa kebaikan itu menular. Seperti saat penggalangan dana untuk Palu dan Donggala di stadion kebanggaan Arema. Satu persatu orang yang ada di sana mereka datangi, termasuk pedagang kaki lima. Bapak dan ibu pedagang merasa malu, karena tak bisa memberi banyak. Tapi mereka dengan lembut dan senyum menyampaikan, β€œ ndak papa Bu, semampunya saja. Insyaa Allah bermanfaat untuk saudara-saudara di sana.” Akhirnya mereka menyumbangnya yang ada di dompetnya. Dua ribu, lima ribu, ada juga yang lebih dari itu. Memang, saat itu matahari masih tersipu, pantas saja sebagian dari mereka belum mendapatkan pelanggan. Tapi melihat pedagang yang lain mampu berbagi dengan bahagia, banyak yang tergugah untuk ikut andil meringankan beban saudara di seberang sana. Alhamdulillah , hasil penggalangan dana hari itu mencapai 4 juta sekian.

Akhir-akhir ini Dije belum bisa mengikuti kegiatan relawan, karena kesibukannya menyampaikan ilmu di tiga tempat sekaligus. Tapi ia tetap bergerak di sosial media, membantu menyebarkan info-info tentang kegiatan sosial. Meski tak bisa berjuang bersama para relawan lain, sebisa mungkin ia niatkan waktunya untuk memberi manfaat bagi sekitar. Bermanfaat tidak harus bersama organisasi kan?

Dije fokus menyebarkan kebaikan di bidang pendidikan. Tak hanya sekedar menyampaikan materi, tapi ada target yang lebih penting baginya, adab dan akhlak. Ia selalu memposisikan jika anak didiknya adalah calon pemimpin bangsa, untuk itu menjadi pintar saja tidak cukup. Selain dengan nasihat, Dije lebih sering mengajarkan akhlak melalui keteladanan. Baginya mereka adalah amanah. Orangtua menitipkan anaknya agar menjadi anak yang tak hanya pandai, tapi juga sholih dan sholiha . Bukankah itu suatu kebaikan?

Sekali lagi bukan materi. Ia merasakan bahagia. Kebahagiaan yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang memberi manfaat bagi orang lain. Saat senyum itu hadir di wajah saudaranya, itulah yang membuat hatinya berbunga. Masih terngiang olehnya, kata-kata gurunda , bahwa saat kita membantu orang lain atau melakukan suatu kebaikan, berarti kita sedang menabung energi positif (epos). Tabungan yang tak bisa kita memilih kapan dapat mengambilnya. Tapi yakinlah bahwa Sang Maha Penyayang akan mencairkan di saat kita benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya. Jadi banyak-banyaklah menabung energi positif.

Kata-kata gurunda menenangkan hatinya yang sedari tadi gusar. Ya, perbanyak tabungan epos dan jangan berkecil hati. Peluang kebaikan itu tak hanya ada di satu titik, tapi ia ada di hadapan kita. Berjuanglah, di manapun, sekecil apapun turutlah ambil bagian. Jangan tunda, karena kesempatan itu tak akan datang untuk keduakalinya.

1 Like