Menghirup Bau kenangan

gambar
pictureByGoogle

Angin sepoi-sepoi membisikan kerinduan pada Rini, ia tersenyum sekalipun lelah karena perjalanan masih terasa. Sebuah lampu pelita menyala di tengah ruang, suasana malam di rumah papan itu menengangkan. Rini berpindah tempat duduk, sebuah baskom berisi kacang tanah rebus dibawanya serta. Ia memandang bulan sabit yang tampak kesepian tanpa bintang, tak ada apapun lagi yang mampu dilihat dengan mata telanjang. Mungkin esok akan hujan atau setidaknya mendung pikirnya.

“Kenapa di luar Rin?” tanya wanita paruh baya pemilik rumah, obat nyamuk bakar di tangannya masih menyala.

“Enggak apa-apa bu, saya suka mencium bau rumput malam” jawabnya sambil tersenyum.

“Ada-ada saja” timpal wanita itu membalas senyum Rini sambil menggeleng perlahan.

“Besok selesai dari sekolah saya mau pergi ke jalur tujuh, rumah bapak saya masih ada kan bu?”

“Rumahnya sudah tidak ada, papan dan atap sengnya habis dicuri orang. Tinggal sisa pondasinya saja, nanti bilang ibu kalau mau pergi, jalan utamanya saja sudah hampir tertutup kembali takutnya ada ular atau babi hutan.”

Rini menghela nafasnya dalam, walau sejak tadi hidungnya telah tersumbat karena dinginnya udara malam. Ia tak sabar mengumpulkan kenangan masa kecilnya.


Rini berjalan bersama lima temannya, pagi itu mereka hanya melapor pada pihak sekolah dasar dan kelurahan tempat keenamnya akan melaksanakan KKN hingga tiga minggu kedepan. Rini memutuskan tak meminta bantuan pemilik rumah tempatnya menginap semalam, ia yakin masih tahu jalan ke rumah tempat ia tumbuh itu. Wanita yang kini menjadi salah satu di bawah seratus orang yang masih bertahan di tempat itu kemudian membawakannya parang panjang untuk sekedar membersihkan jalan.

“Yakin dulu kamu tinggal di daerah sini Rin?” tanya salah satu temannya.

“Kenapa mayoritas penduduknya memiih pindah sih? padahal daerahnya bagus, air juga bersih dan tawar” tambah yang lainnya.

“Sudah tidak nampak bekas-bekas manusia di sini, benar enggak sih Rin ini tempatnya?” lagi-lagi keraguan yang Rini dengar. Ia tak sedikitpun menggubris , dengan penuh keyakinan berjalan didepan sesekali tangannya cekatan memotong rumput-rumput liar.

“Tuh tempatnya” kata Rini setengah berteriak. Ia tak peduli dengan respon teman-teman yang masih juga meragukannya. Perempatan jalan, pohon nangka dan jeruk bali cukup membuatnya yakin. Pohon randu yang kini telah menjadi pohon tertinggi itu masih menyimpan bukti, tertulis nama Rini dan teman-teman kecilnya di sana. Nama yang ditulis dengan menggores kulit batangnya menggunakan pisau hingga bergetah-getah.

Sedikit tanjakan dihadapan Rini adalah tempatnya dulu berlatih sepeda, ia kan membiarkan sepeda meluncur tanpa perlu dikayuh, sering kali kerikil jalannan itu membuat kakinya tergores. Tapi Rini kecil tak menyerah ia akan segera mendorong kembali sepedanya menuju puncak tanjakan. Bagaimana bisa ia lupa perempatan jalan itu adalah tempat favoritnya, setiap sore hingga menjelang maghrib anak-anak akan berkumpul di sana. Tawa riang mereka benar-benar masih Rini rasakan, wajah-wajah polos yan tak pernah puas sekalipun telah seharian bermain.Sekarang entah dimana teman-teman kecilnya itu, hanya beberapa diantaranya saja yang Rini tahu.

Sejak lulus sekolah dasar,ini adalah kali pertama Rini kembali ke sini. Tempat ini adalah salah satu desa transmigrasi di Merauke Papua, penghuninya lebih dari lima ratus kepala keluarga dari berbagai suku bangsa. Rini bahkan masih ingat kali pertama ia tinggal di rumah berukuran 6X6 itu, rumah papan dengan dua kamar dan kamar mandi terpisah. Saat orangtuanya sibuk membersihkan halaman dan berkenalan dengan tetangga yang telah lebih dahulu tiba. Rini dan anak tetangga itu telah lebih dulu akrab walau tak saling mengerti bahasa. Mereka bicara dengan bahasa daerah masing-masing yang kadang menimbulkan pertengkaran kecil.

Dari salah satu desa pelosok itulah Rini menjadi tahu Indonesia sebenarnya, mengenal berbagai bahasa,budaya dan agama. Walau pada akhirnya mungkin desa ini akan kembali menjadi hutan, tetap saja akan dirindukan banyak anak seperti Reni.

Rini dan remaja lainnya pada saat itu keluar dari desa ini untuk menempuh pendidikan yang belum tersedia di sana. Anak-anak yang masih labil itu rela tinggal meumpang di keluarga lain di desa lainnya. Sedang para orang tua perlahan pergi bukan karena tidak betah hanya saja hasil bumi tak cukup dihargai akibat jauh dan sulitnya perjalanan. Ada yang pindah ke daerah yang masih terjangkau dari pusat kota tapi ada juga yang memilih pulang kembali ke kampung halamnnya.

Sekarang tempat ini begitu sunyi, bukan hanya karena penghuninya yang bisa di hitung jari, listrik yang masih sekedar janji pemerintah, tapi karena jejak dan kenangan yang perlahan punah dan terhapus. Rini sengaja memilih tempat praktek kuliah di desa ini untuk mencegahnya, ia yakin siapapun yang punya kenangan akan kembali ketempat ini walau hanya sekadar untuk menyapa hijaunya pemandangan.

Merauke, 17 Oktober 2020

.