Mengejar Mimpi dengan Usaha dan Doa, Cukupkah?

20200630_132925_0000

“Jika kau taruh mimpimu dalam usahamu, maka bersiaplah menerima kegagalan. Jika kau taruh mimpimu dalam doamu, maka bersiaplah menerima kesia-siaan. Taruhlah mimpimu dalam doa dan usahamu, dan bersiaplah menerima takdir tuhan.”

Roni Sianturi

Mimpi adalah keinginan dan tujuan hidup seseorang. Setiap orang pasti memiliki mimpi. Mimpi merupakan fitrah setiap menusia. Mimpi bukan hanya sebatas pekerjaan, barang, atau momen yang kita idam-idamkan. Setiap keinginan kita di masa yang akan datang adalah mimpi. Pada dasarnya, setiap orang mempunyai jalan yang berbeda dalam meraih mimpinya. Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa setiap orang memiliki cara yang sama, yaitu dengan bekerja keras dan berjuang untuk meraih mimpinya. Tidak ada orang yang berjuang meraih mimpinya hanya dengan bermalas-malasan, rebahan, apalagi dengan cara yang instan. Mimpi bukan punya dia si pintar tapi punya dia yang berjuang dan bekerja keras menggapai mimpinya.

Mimpi adalah kunci dari kehidupan. Mimpi adalah identitas kita. Mimpi kita adalah apa yang akan orang lihat tentang kita. Dengan kata lain, mimpi adalah cerminan diri kita. Seseorang akan bertindak sesuai dengan apa yang diimpikannya. Tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk diraih atau terlalu kecil untuk diperjuangkan. Tolak ukur besar kecilnya suatu mimpi itu ada di dalam diri individunya sendiri. Hal itu tergantung dari seberapa yakin kita dengan mimpi kita.

Tanpa mimpi kita akan menjadi orang yang tanpa harapan, seseorang yang enggan berupaya sungguh-sungguh dalam menjalankan suatu pekerjaan. Seperti dalam kutipan, “masa depan adalah milik mereka yang yakin dengan keindahan mimpi-mimpi mereka, lalu mereka terus melangkah meraihnya”.

Dalam sejarah manusia banyak peradaban yang berhasil dibangun berawal dari sebuah mimpi. Karena kerja keras dan kegigihan mereka, kita dapat menikmati hasil karya mimpi mereka. Bahkan bukti kerja keras mereka masih terlihat hingga saat ini.

Karena keinginan Nicola Tesla mentrasmisikan energi keseluruh dunia maka terciptalah Tesla Coil. Berawal dari melihat burung dan ingin terbang seperti burung maka terciptalah ide awal pembuatan pesawat terbang. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook ingin membuat direktori online dengan mengumpulkan wajah teman-teman kuliahnya sehingga mereka dapat saling berkomunikasi dan terciptalah facebook. Dari hal sepela terjadilah hal besar.

Namun, sejarah tidak menutupi bahwa banyak kegagalan terjadi dalam proses meraih mimpi. Menurut hemat saya karena mereka terlalu mengandalkan kemampuan mereka dalam mengejar mimpi. Apakah itu salah ? tidak. Hanya saja kita harus tahu siapa diri kita. Kita adalah hamba dari yang maha kuasa. Kita adalah ciptaan Sang Penguasa Semesta. Dia lah pengatur segalanya. Dia yang memiliki Kita. Jika kita hanya mengandalkan usaha kita dalam meraih mimpi, maka bersiaplah menerima kegagalan. Kenapa saya berani menggunakan diksi “maka bersiaplah menerima kegagalan” adalah karena alasan yang telah saya sebutkan diawal. Kita harus sadar siapa diri kita. Lantas apakah hanya dengan doa kita bisa meraih mimpi kita ? tidak juga. Seseorang pasti akan mengatakan, “bermimpi tanpa usaha itu omong kosong”.

Ada sebuah kisah menarik dari seorang nelayan yang hampir tenggelam ditengah laut. Dia berdoa supaya tuhan berkenan menolongnya.

“Ya Tuhan, aku yakin akan kuasamu. Selamatkanlah hamba. Bantulah hamba” Ucap nelayan yang hampir tenggelam itu.

Sesaat kemudian sebuah perahu dayung melintas dan melihat nelayan yang tenggelam tersebut. Segera pemilik perahu dayung itu menghampiri nelayan yang hampir tengelam tersebut

“Mari naiklah” kata orang yang menaiki perahu dayung tersebut sambil mengulurkan tangannya.

Dengan nada sombong si nelayan berkata, “Tidak !Aku capek. Aku tidak mau mendayung perahu itu bersamamu. Aku yakin Tuhanku akan menolongku”

Merasa dirinya tidak dihargai akhirnya pemilik perahu meninggalkan nelayan tersebut. Nelayan yang hampir tenggelam itu terus berdoa agar Tuhan berkenan menolongnya. Keyakinannya tidak goyah sedikitpun. Tak selang beberapa lama lewatlah nelayan lain yang sedang mencari ikan. Nelayan yang sedang lewat tersebut tidak melihat nelayan yang sedang tenggelam itu namun nelayan yang sedang tenggelam itu melihat nelayan yang melintas tersebut. Tetapi, dia tidak mau memanggil atau meminta pertolongan pada nelayan yang sedang melintas tersebut dengan alasan bahwa tuhannya pasti akan menolongnya. Dia terus berdoa, kali ini lebih serius dan sedikit memaksa.

“Ya Tuhan. Engkau maha mendengar. Bantulah hamba. Hamba butuh pertolonganmu Tuhan. Tolonglah hamba”

Bukannya bantuan seperti yang diharapkan oleh nelayan tersebut yang datang melainkan sebatang kayu besar lewat tepat didepannya. Hal itu membuatnya berpikir. Apakah itu pertolongan tuhan untuknya ? Ia berpikir mungkin itu bentuk pertolongan Tuhan kepadanya. Bergegas ia gapai kayu itu dan mengayuh ke tepi pantai. Akhirnya nelayan tersebut selamat.

Hal yang dapat kita pelajari adalah pertolongan Tuhan itu pasti. Jika kita berdoa dan meminta kepada-Nya pasti akan dikabulkan-Nya. Masalahnya adalah apa usaha yang telah kita lakukan agar keinginan kita terwujud. Perahu dayung, nelayan yang melintas, dan kayu besar tersebut adalah bentuk pertolongan Tuhan, tinggal bagaimana kita menggapai pertolongan itu. Jika nelayan tersebut mau menaiki perahu dayung dan mendayung bersama pasti dia akan selamat. Jika nelayan itu berteriak meminta tolong kepada nelayan yang melintas itu pasti dia akan ditolong dan selamat. Nelayan tersebut terlalu mengandalkan doanya. Akhirnya doa tersebut hanya menjadi kesia-siaan. Cara yang tepat adalah mengapai doa tersebut dengan berusaha. Seperti yang dilakukan oleh nelayan itu ketika mengapai sebatang kayu yang mengapung. Nelayan itu sadar bahwa kayu itu adalah bentuk pertolongan Tuhan dan dia berusaha menggapainya lalu mengayuh ke tepi pantai.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah tentang bagaimana kita meraih mimpi. Berjuang dan bekerja keras itu hal yang wajib dalam meraih mimpi. Mustahil sebuah mimpi diraih hanya dengan rebahan atau bermalas-malasan. Apalagi hanya mengandalkan keberuntungan. Seperti seorang prajurit harus mencabut pedangnya ketika berperang dan seorang pemburu harus menarik anak panahnya ketika berburu.

Tetapi, kita harus sadar siapa diri kita. Kita adalah manusia. Kita adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Hidup kita ada dalam genggamannya. Sepatutnya kita mengandalkan-Nya dalam proses meraih mimpi kita. Ketika kita berdoa maka Dia pasti mengabulkan. Apakah hanya dengan Doa ? tidak. Hal terpenting adalah bagaiamana kita menggapai doa kita. Jika Tuhan sudah berkenan memberikan pertolongan pada kita maka kita juga harus menggapai pertolongan itu.

Setelah doa dan usaha kita lakukan maka kita hanya menunggu keputusan Tuhan kepada kita. Jika takdirnya baik maka itu patut kita syukuri. Jika takdirnya tidak sesuai dengan harapan kita, maka itu bukannya tidak baik. Tidak baik menurut kita tapi baik menurut Dia. Pepatah mengatakan, “it’s just about time”. jika tidak hari ini mungkin besok. Jika bukan ini mungkin yang lain. Kewajiban kita hanyalah berusaha dan berdoa, selebihnya Tuhan yang menentukan. Ketika kita sudah berdoa dan berusaha maka berlakulah takdir Tuhan kepada kita.

ig : @ronstri45

1 Like