Mengapa Traveloka bisa menjadi startup unicorn di Indonesia?

traveloka

Istilah “Unicorn” merujuk pada startup dengan valuasi mencapai 1 miliar dollar AS atau setara Rp 14,2 triliun. Selain Traveloka, ada pula Go-Jek, Tokopedia dan Bukalapak yang juga merupakan sebuah startup unicorn. Lalu mengapa Traveloka bisa menjadi salah satu dari startup unicorn di Indonesia dan bagaimana upayanya?

Bisa dibilang Traveloka merupakan salah satu perusahaan booking travel besar di Asia tenggara. Walau website ini hanya memiliki 120 pegawai saat ini, menerima sekitar 250.000 pengunjung setiap harinya, dan di Alexa berada di peringkat 129 di Indonesia, website ini tidak sering muncul di banyak media. Tapi Traveloka berhasil menjadi startup unicorn. Startup unicorn adalah startup yang memiliki valuasi lebih dari 1 miliar dolar. Perhitungan valuasi paling mudah bisa dicontohkan dengan perhitungan modal awal dan suntikan dana investor.

Traveloka mendapatkan suntikan dari investor-investor besar seperti Expedia, East Ventures, Hillhouse Capital Group, Sequoia Capital dan ecommerce dari Cina, JD. Traveloka sendiri mendapatkan pendanaan dari Expedia sebesar 350 juta dolar atau sekitar 4,6 triliun rupiah sedangkan dari investor lainnya tidak disebutkan berapa jumlah pendanaan yang diberikan. Traveloka bekerja sama dengan Expedia untuk menambah layanan akomodasi online secara internasional.

Sebaliknya, Expedia ingin memanfaatkan pengetahuan lokal Traveloka untuk memperluas pasarnya di Asia Tenggara. Traveloka bekerja sama dengan lebih dari 100 maskapai domestik dan internasional, dan melayani konsumen di Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina dengan berbagai pilihan pembayaran serta berbagai akomodasi dari hotel hingga homestay. Traveloka mengatakan aplikasinya sendiri telah diunduh 20 juta kali.

Ferry Unardi selaku Managing Director Traveloka mengungkapkan bahwa dana yang diperoleh akan digunakan untuk membiayai pertumbuhan operasional Traveloka, termasuk di dalamnya memperoleh lebih banyak pegawai berbakat dan menambah sejumlah layanan baru seperti pemesanan kamar hotel dan paket (perjalanan). Langkah ini bakal membuat Traveloka bakal memberikan layanan yang lebih lengkap, sekaligus bersaing langsung dengan sejumlah layanan serupa yang sudah ada.

Sumber:
https://id.techinasia.com/resep-rahasia-kesuksesan-traveloka-startup-asia-jakarta-2014

https://www.techinasia.com/traveloka-raises-350m-from-expedia

https://dailysocial.id/post/traveloka-dapatkan-pendanaan-seri-a-dari-global-founders-capital

Internasional Airline Travel Association mengatakan bahwa pada tahun 2034, China, India, dan Indonesia akan menjadi tiga dari lima pasar yang mengalami pertumbuhan paling cepat dalam hal jumlah penumpang pesawat udara setiap tahunnya. Pada saat itu, jumlah penumpang baru di China akan mencapai 856 juta, di India akan ada lebih dari 266 juta, dan Indonesia 183 juta penumpang. Angka tersebut tentunya menunjukkan betapa besarnya potensi bagi startup teknologi.

Hingga kini, di Indonesia belum ada startup lokal yang berhasil mencapai tahap unicorn. Salah satu yang bisa dibilang mencapai tahap tersebut adalah Tokopedia, dengan asumsi investasi Rp1,2 triliun yang diperoleh dari Sequoia Capital dan Softbankditukar dengan lebih dari 10 persen stok saham perusahaan.

Sejauh ini, sejumlah perusahaan yang mengkonfirmasi telah memiliki valuasi hingga triliunan Rupiah datang dari China, India, dan Jepang. Sedangkan di Asia Tenggara pasar negara berkembang seperti Filipina, Thailand, dan Indonesia, terbilang berjalan lambat karena pasar yang belum siap.

Akan tetapi mungkin kita sudah bisa melihat cepat atau lambat akan ada gebrakan dari negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu perusahaan yang bisa dibilang kandidat kuat untuk menjadi unicorn adalah situs pemesanan tiket pesawat dan hotel Traveloka.

Pengaturan lalu lintas udara berbasis jaringan

Dalam beberapa tahun terakhir, comScore, sebuah perusahaan yang menyediakan data dan analisis pasar asal Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa Traveloka berada di peringkat pertama untuk layanan pencarian dan pemesanan tiket pesawat, di luar situs resmi tiap maskapai. Lanskap agensi travel online di Indonesia memang bisa dibilang masih relatif kecil. Namun, pertumbuhan terus terjadi, karena 10 persen dari total penjualan tiket pesawat pada tahun 2013 dilakukan secara online.

Di tahun yang sama, total pendapatan dari pemesanan travel di Indonesia mencapai USD10,5 miliar (Rp136 triliun). Pada bulan Maret, SimilarWeb mencatat bahwa jumlah pengunjung yang mengakses Traveloka melalui desktop diestimasi mencapai 3,95 juta kunjungan.

Bulan November, Traveloka mengklaim bahwa ia memperoleh sekitar 250.000 kunjungan setiap hari. Apabila data itu memang benar, artinya jumlah pengunjung Traveloka yang mengakses melalui desktop danmobile bisa mencapai 7,5 juta kunjungan setiap bulan.

Kondisi dan waktu yang tepat

Berdasarkan laporan Phocuswright, pasar travel di tanah air masih memiliki banyak peluang, tapi ada permasalahan ekonomi makro yang bisa menghalangi pertumbuhan tersebut. Pendapatan nasional memang mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2013, namun itu merupakan pertumbuhan kecil setelah krisis finansial global di tahun 2008. Bagaimanapun, pada saat itu Indonesia tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di Asia setelah China. Namun, dampak dari peningkatan pajak, dan harga pokok membuat minat masyarakat untuk travelling di tahun ini kembali turun.

Campur tangan Samwer bersaudara

Keterlibatan Samwer bersaudara di Traveloka menjadi signifikan karena hal ini adalah pertanda kuat bila Rocket Internet telah melewatkan sektor travel di Indonesia. Dengan memiliki saham di perusahaan tiketonline yang paling menjanjikan se-tanah air, Rocket Internet sadar mereka bisa ikut bermain apabila waktunya sudah tepat. Jika saat itu tiba, Traveloka mungkin sudah menguasai pasar travel di Indonesia dan mereka bisa jadi mepertimbangkan untuk mengakuisisi perusahan tersebut.

Model e-commercesederhana dengan banyak permintaan dan tingkat transaksi tinggi

Traveloka sangat menikmati struktur transaksibusiness-to-consumer (B2C), dimana rata-rata transaksi lebih dari USD50 (Rp650.000) dan tidak memerlukan saham atau menyimpan benda fisik apa pun. Karena inilah Traveloka bisa dengan mudah terbebas dari bahaya logistik yang menghantui industri e-commerce di Asia Tenggara.

Sebagaimana e-commerce terus menjadi ranah yang paling panas di tanah air, dan tentunya di Asia Tenggara, Traveloka berada di posisi yang tepat untuk terus mendapat keuntungan besar dan terhindar dari permasalahan yang dihadapi pemain e-commercedi ranah lainnya. Alasan inilah yang membuat Traveloka memiliki kesempatan kuat untuk menjadi startup Indonesia bernilai triliunan Rupiah selain Tokopedia.

Sumber:

https://www.google.com/amp/s/id.techinasia.com/traveloka-startup-unicorn-analisis-pasar/amp/?espv=1

Unicorn merupakan gelar yang diberikan pada suatu startup yang memiliki nilai valuasi (nilai dari suatu startup, bukan sekedar pendanaan yang diraih dari investor) lebih dari $1 miliar.

Traveloka menawarkan harga tiket penerbangan yang sangat kompetitif sejak tahun 2012 bermodalkan pendanaan awal dari East Ventures dalam jumlah yang tidak diumumkan. Startup ini mewujud menjadi portal online untuk penerbangan dan reservasi penginapan terbesar di Indonesia.

Didukung Oleh Inc42 BrandLabs

Data dari comScore mengatakan bahwa Traveloka adalah situs pemesanan penerbangan nomor satu di negara ini, tidak termasuk situs maskapai penerbangan resmi. Pada bulan Juni, Traveloka mengumpulkan 11,8 juta kunjungan via mobile dan desktop, menurut alat pengukuran lalu lintas web SimilarWeb. Kembali di tahun 2012, tidak banyak situs pemesanan perjalanan lain yang bisa bersaing dengan startup Unardi. Satu tahun kemudian, bagaimanapun, pasar menggelegar dan Traveloka mendapati dirinya menikmati keunggulan penggerak awal dibanding kebanyakan pemain lain di tempat itu. Perusahaan tersebut juga diuntungkan oleh ekonomi yang berkembang, dengan GDP negara mencapai US $ 867 miliar, dan tumbuh sekitar enam persen per tahun.

Sampai saat ini, Traveloka hanya mengungkapkan dua putaran pendanaannya ke publik (walaupun tidak menerbitkan jumlah investasi yang diinvestasikan). Putaran pertama berasal dari perusahaan ventura lokal East Ventures di tahun pertama Traveloka. Yang kedua datang setahun kemudian dari Global Founders Capital (GFC), sebuah cabang investasi dari perusahaan pembuat Rocket Internet terkenal di Jerman, yang bertanggung jawab atas nama-nama besar seperti Lazada, Zalora, dan Foodpanda di Indonesia. Traveloka merupakan investasi pertama GFC di Asia, walaupun sebelumnya perusahaan tersebut mengumpulkan pengalaman mendanai situs metasearch perjalanan lainnya seperti TravelBird, Voopter, dan mesin perbandingan hotel Trivago.

Traveloka menyandang gelar “Unicorn” setelah mengumpulkan US$500 dalam dua putaran pendanaan. Yang pertama dari Expedia (layanan sejenis yang populer di luar negeri), mengucurkan dana senilai US$350 juta (sekitar Rp. 4,6 triliun) kepada Traveloa pada 27 Juli 2017 dan yang kedua, Traveloka mendapatkan US$150 berasal dari investor lain, meliputi East Ventures, Hillhouse Capital Group, JD.com, dan Sequoia Capital. Hal Ini membuat Traveloka total telah memperoleh pendanaan sebesar US$500 juta. Traveloka dapat didaulat sebagai yang tercepat menjadi “Unicorn”. Gelar “Unicorn” diperolehnya selepas sekitar 5 tahun berdiri.

Dara Khosrowshahi, Presiden dan CEO, Expedia mengatakan

Traveloka jelas adalah pemimpin online travel di Indonesia dan sedang berekspansi agresif di seluruh Asia Tenggara. Kerja sama ini akan saling menguntungkan kedua belah pihak dari sisi keahlian dan pemahaman lokal. (Precident and CEO, Expedia, Inc)

Menurut Co-Founder dan CEO Traveloka

Bekerjasama dengan perusahaan pemimpin online travel global (Expedia) memungkinkan kami tumbuh dan memenuhi tujuan untuk menyediakan pilihan travel terbaik dan pengalaman booking berkualitas tinggi bagi para pelangcong, kata Ferry Unardi.

Sebagaimana e-commerce, Traveloka terus menjadi situs yang dicari di tanah air, dan tentunya di Asia Tenggara, Traveloka berada di posisi yang tepat untuk terus mendapat keuntungan besar dan terhindar dari permasalahan yang dihadapi pemain e-commerce di bidang lainnya. Hal tersebut mengundang para investor untuk berinvestasi di Traveloka. Alasan inilah yang membuat Traveloka memiliki kesempatan kuat untuk menjadi startup Indonesia bernilai triliunan Rupiah selain Tokopedia yang menjadikan Traveloka sebagai Startup Unicorn di Indonesia.

Sumber:
https://infokomputer.grid.id/2017/07/berita/berita-reguler/traveloka-investasi-expedia-unicorn-indonesia/


Dalam beberapa tahun terakhir, comScore, sebuah perusahaan yang menyediakan data dan analisis pasar asal Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa Traveloka berada di peringkat pertama untuk layanan pencarian dan pemesanan tiket pesawat, di luar situs resmi tiap maskapai. Lanskap agensi travel online di Indonesia memang bisa dibilang masih relatif kecil. Namun, pertumbuhan terus terjadi, karena 10 persen dari total penjualan tiket pesawat pada tahun 2013 dilakukan secara online.

Di tahun yang sama, total pendapatan dari pemesanan travel di Indonesia mencapai USD10,5 miliar (Rp136 triliun), menurut sebuah laporan studi dari Phocuswright yang berjudul Indonesia Online Travel Overview: Arrived With a Bang, Brace for the Boom. Menyinggung tentang gambaran industri travel, Euromonitor mengatakan bahwa pertumbuhan pengguna aplikasi mobile dan jumlah pelanggan paket data internet juga menjadi penyebab pesatnya penetrasi transaksi mobile, yang mana juga dimanfaatkan oleh situs pemesanan tiket pesawat seperti Traveloka, kompetitor terdekatanya Tiket, dan pemain lain seperti PegiPegi dan Wego.

Ferry Unardi, Co-Founder dan CEO Traveloka mengatakan bahwa perusahaannya sekarang memiliki lebih dari 270 karyawan, meningkat dari 120 karyawan pada bulan September tahun lalu. Pada bulan Maret, SimilarWeb mencatat bahwa jumlah pengunjung yang mengakses Traveloka melalui desktop diestimasi mencapai 3,95 juta kunjungan. Sebuah angka yang sangat impresif, tapi masih kalah jauh dengan estimasi seharusnya pada bulan Desember — saat perjalanan penerbangan sedang ramai-ramainya — yang mana ada sekitar 5,45 juta pengguna yang mengakses melalui desktop. Sebaliknya, kompetitor terdekat Traveloka, yaitu Tiket hanya memperoleh sekitar 1,95 juta kunjungan melalui desktop pada bulan yang sama.

Kembali ke bulan November, Traveloka mengklaim bahwa ia memperoleh sekitar 250.000 kunjungan setiap hari. Apabila data itu memang benar, artinya jumlah pengunjung Traveloka yang mengakses melalui desktop dan mobile bisa mencapai 7,5 juta kunjungan setiap bulan.

Traveloka diluncurkan pada tahun 2012. Kami sempat menulis kisah inspiratif dari Ferry dalam memulai startup, tapi mungkin kami tidak mengulas lebih dalam tentang bagaimana Traveloka memanfaatkan momen yang tepat untuk meluncurkan layanan pemesanan tiket pesawat di Indonesia.

Pada tahun 2013, di tanah air terjadi ledakan bisnis travel. Saat itu, pendapatan ekonomi nasional mencapai USD1 triliun (Rp13 kuadriliun), dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6 persen. Di tahun yang sama, maskapai lokal Lion Air mengeluarkan dana USD46 miliar (Rp598 miliar) untuk membeli 464 pesawat baru.

Berdasarkan laporan Phocuswright, pasar travel di tanah air masih memiliki banyak peluang, tapi ada permasalahan ekonomi makro yang bisa menghalangi pertumbuhan tersebut. Pendapatan nasional memang mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2013, namun itu merupakan pertumbuhan kecil setelah krisis finansial global di tahun 2008. Bagaimanapun, pada saat itu Indonesia tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di Asia setelah China. Namun, dampak dari peningkatan pajak, dan harga pokok membuat minat masyarakat untuk travellingdi tahun ini kembali turun.

Traveloka telah memperoleh dua kali pendanaan sejauh ini. Pendanaan pertama yang tidak disebutkan jumlahnya berasal dari East Ventures 1 pada tahun 2012. Tahap kedua datang sekitar setahun kemudian saat Samwer bersaudara dari Rocket Internet memberikan investasi seri A ke Traveloka melalui Global Founder Capital (GFC).

Industri travel merupakan fokus utama GFC, dan Samwer bersaudara juga sempat memberi pendanaan ke situs agensi travel online TravelBird, situs pencarian tiket pesawat asal Brazil Voopter, dan Trivago, situs pencarian layanan hotel. Pada tahun 2013, Expedia membeli sebagian besar saham Trivago senilai USD632 (Rp8,2 triliun), sehingga membuat perusahaan tersebut memiliki nilai valuasi lebih dari USD 1miliar (Rp13 triliun).

Rocket Internet tidak memiliki startup yang bergerak di ranah pemesanan hotel dan tiket pesawat di Indonesia. Tapi Traveloka muncul menjadi salah satu daftar portofolio perusahaan mereka, meskipun secara terpisah didanai oleh GFC. Hal ini dikarenakan Rocket Internet biasanya tidak berinvestasi di perusahaan baru yang masih berada dalam fase penjajakan.

Keterlibatan Samwer bersaudara di Traveloka menjadi signifikan karena hal ini adalah pertanda kuat bila Rocket Internet telah melewatkan sektor travel di Indonesia. Dengan memiliki saham di perusahaan tiket online yang paling menjanjikan se-tanah air, Rocket Internet sadar mereka bisa ikut bermain apabila waktunya sudah tepat. Jika saat itu tiba, Traveloka mungkin sudah menguasai pasar travel di Indonesia dan mereka bisa jadi mepertimbangkan untuk mengakuisisi perusahan tersebut.

Penjualan tiket secara online merupakan salah satu model bisnis e-commerce yang elegan. Traveloka sangat menikmati struktur transaksi business-to-consumer (B2C), dimana rata-rata transaksi lebih dari USD50 (Rp650.000) dan tidak memerlukan saham atau menyimpan benda fisik apa pun. Karena inilah Traveloka bisa dengan mudah terbebas dari bahaya logistik yang menghantui industri e-commerce di Asia Tenggara. Tiket pesawat bukan lagi termasuk barang mewah, tapi menjadi medium yang mempermudah urusan bisnsi di era modern seperti sekarang.

Sumber: