Mengapa tidak boleh coronaphobia?

Sesaat terasa sangat menyesakkan saat membaca berita tentang seorang pahlawan bangsa yaitu perawat senior yang meninggal karena terpapar virus corona di tempatnya bekerja lalu ditolak warga tanah kelahirannya di wilayah Ungaran, Semarang saat akan dikuburkan. Meskipun sudah terasa gejalanya dan sang suami berusaha membujuknya agar tidak bekerja dahulu namun beliau tetap memaksakan diri untuk maju di garda terdepan dalam menangani kalangan PDP (penderita dalam perawatan) covid-19. Bisa anda bayangkan saat seseorang meninggal karena memperjuangkan nyawa masyarakat di sana namun saat meninggal beliau ditolak oleh masyarakat yang diperjuangkannya untuk dikuburkan di tanah mereka, miris bukan? Waspada sangat dianjurkan, tapi jangan sampai phobia. Pada saat stress, tubuh kita bisa sampai kehilangan vitamin C sebesar 2,5 kg yang setara dengan makan 5 kg jeruk. Sehingga saat seseorang mengalami stress, bahaya terbesar justru malah datang dari dalam dirinya sendiri yang menurunkan imun tubuhnya.

Seorang sahabat lama pernah menyebutkan bahwa definisi pahlawan adalah rela mati agar yang lain bisa hidup (Laksamana Maeda, pencetus proklamasi). Ada lagi yang menyebutkan pahlawan adalah yang rela berkorban demi orang lain.

Peristiwa ini menjadi tidak lagi mengejutkan saat mendalami isi pikiran masyarakat desa yang awam tentang covid-19 beserta pencegahan dan penganan dini masalah yang ada. Kondisi ini makin diperparah dengan pemberitaan media massa yang banyak menceritakan kesadisan virus ini dalam membantai korbannya. Sosialisasi yang kurang di kalangan masyarakat pedesaan sehingga memandang covid-19 seperti seekor monster yang mengerikan dan tak kasat mata, bahkan ternyata provokator sebuah desa di Banyumas yang menolak pemakaman warganya yang meninggal karena covid-19 adalah ketua RT sendiri di lokasi pemakaman. Ironis sekali. Sekali lagi, waspada harus, tapi jangan sampai phobia kemudian stress (https://jateng.suara.com).

Seharusnya masyarakat bisa mendapatkan penjelasan lebih tentang covid-19 dari banyak manusia terpelajar dan pintar di Indonesia ini sehingga tidak menakuti massa dengan banyak hal mengerikan sehingga muncul coronaphobia di tanah air ini. Ketakutan berlebihan yang tidak wajar dan merasa tidak ada jalan kesembuhan bagi PDP covid-19. Di kota Bekasi sendiri pada awal bulan April lalu ditemukan 23 warga positif corona yang tidak menampakkan gejala, atau disebut orang tanpa gejala (Berita TransTV, 7 April 2020)). Sehingga bisa jadi covid-19 menghinggapi lebih banyak warga selama ini hanya saja memang tidak menimbulkan gejala yang tampak jelas. Mereka juga bisa sembuh.

Dalam penelitian para ilmuwan dari Amerika Serikat, virus yang terbawa hanyut air sungai hingga mencapai laut akan dimusnahkan oleh organisme laut sejenis spongiofera (hewan spons) hingga 94% dalam selang waktu 3 jam. Dalam dunia kartun, kita mengenal spongebob squarepants sebagai gambaran hewan laut itu meskipun sangat jauh sekali dari kenyataan aslinya. Sekali lagi, waspada harus tetapi jangan sampai phobia.

Menurut data yang ada, sebagian besar PDP yang menghuni rumah sakit darurat wisma atlet di Kemayoran adalah warga berusia 40-60 tahun. Kebanyakan PDP yang meninggal adalah yang memang sudah memiliki penyakit bagian dalam bawaan seperti darah tinggi, jantung, paru-paru, asma, diabetes mellitus (https://katadata.co.id).

Saat dihimbau untuk berdiam diri di rumah ataupun PSBB, pemerintah pada dasarnya menghendaki kita juga menjaga orang-orang tersayang yang ada di sekitar kita dan bukan menganjurkan untuk phobia. Pada dasarnya, kita harus mewaspadai bahwa kitalah yang menjadi media perantara virus corona apabila kita terlalu sering keluar rumah dan bukan hanya masalah nyawa kita yang menjadi poin utamanya tetapi nyawa manusia lain di sekitar kita yang mungkin saja memiliki riwayat penyakit berat tetapi sudah lama tidak diingat lagi atau mungkin terlalu memalukan baginya untuk diungkapkan.

Tanpa bermaksud menganggap remeh ataupun juga menakuti pembaca dengan covid-19, penulis sangat menyarankan untuk menjaga kebersihan setiap saat dan berusaha menjaga diri agar kita sendiri tidak menjadi carrier yang membawakan virus kepada orang-orang yang kita sayangi.

Jaga kebersihan tangan dengan selalu mencuci tangan, jangan sembarangan memegang segala sesuatu di tempat umum. Sering-seringlah mengganti pakaian dan mencucinya bersih-bersih terutama kalau sering terpaksa keluar rumah. Siapkan selalu hand sanitizer atau sediakan sabun antikuman di keran depan rumah agar selalu menjaga kebersihan tangan saat memasuki rumah menemui keluarga kita. Saat sedang berada di luar juga, jangan sentuh wajah kita dengan tangan karena kita belum tahu seberapa bersih tangan kita dari si virus.

Saat menghadapi korban meninggal covid-19 juga tidak perlu ketakutan berlebihan. Dengan prosedur yang tepat, tidak akan terjadi penyebaran virus corona di lingkungan pemakaman. Mereka yang memakamkan sudah diberikan pemahaman dan pelatihan yang memadai mengenai pemakamn korban covid-19. Setelah dikuburkan ke dalam tanah, dalam jangka waktu 7 jam virus akan ikut mati karena tidak ada lagi sel hidup yang bisa diduplikatnya dan menjadi derivatnya ( news.detik.com ). Sehingga warga tidak perlu khawatir berlebihan apalagi sampai terjadi coronaphobia.

Kita semua lebih berani dari yang kita yakini, dan lebih kuat dari yang terlihat, dan lebih pintar dari yang kita pikir ( Christoper Robin ). Berusahalah selalu positif thinking di setiap momen. Positif thinking itu akan menyehatkan jiwa kita dan jiwa yang sehat akan menjaga kebugaran tubuh kita melawan berbagai macam penyakit yang ada bukan cuma virus corona. Sehingga penyebaran virus bisa terhenti jangan tersebar ke lainnya.

Jadi, waspada itu sangat penting tapi jangan sampai coronaphobia terjadi pada mindset kita semua.

176 Likes