Mengapa tidak berbagi cerita saja?

image

“Puncak gunung itu cukup untuk kita semua. Tidak seorang pun akan tiba dan menetap disana jika hanya sendiri”

Marianne Williamson

Kita sering berpikir bahwa masalah kita paling berat dibandingkan dengan orang lain. Tarnyata, orang lain pun berpikir demikian sama seperti kita. Ohh ternyata… berbagilah solusi paling baik.

Aku orang yang selalu sendirian dan terisisih. Bukan karena semua orang tidak mau menemaniku tapi karena aku yang membuatnya demikian. Aku dibesarkan oleh ibuku, ayahku telah pergi entah kemana. Inilah yang selalu membuatku sedih. Aku selalu takut bergaul, takut kalau orang akan mengetahui bahwa aku tumbuh besar tanpa ayah.

Aku menjadi penyendiri, bahkan aku tidak dekat dengan ibuku. Semakin besar, aku semakin banyak persoalan, apalagi ketika ibu memutuskan untuk menikah dengan seorang laki-laki yang memiliki tiga anak perempuan.

Ketiga anak itu bersikap tidak adil kepadaku, aku diperlakukan seolah aku bukan manusia seperti mereka. Akan tetapi, aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun betapa terlukanya aku, termasuk kepada ibuku.

Seiring berjalannya waktu, aku bertemu dengan seorang perempuan. Dia adalah teman sekolahku waktu di sekolah dasar. Kami bertemu kembali sewaktu sama-sama menghadiri acara reuni SD. Aku duduk di pojok dan melihatnya sangat aktif disana. Dia berjalan mondar-mandir menyapa kawan-kawan lama, menebarkan senyum manis, sesekali mengobrol dan melontarkan humor, lalu semua tertawa bersama.

Dalam hati, aku iri kepadanya. Aku melihat dia selalu dalam keadaan bahagia, berbeda dengaku yang selalu saja dalam keadaan menderita. Tiba-tiba, dia menghampiriku. Kami pun berpandangan, lalu dia senyum kepadaku.

“Apakah kamu masih mengenalku?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Kukira kamu sudah lupa padaku” katanya.

Tidak mungkin aku melupakan orang seperti dia. Sejak SD, dia adalah anak yang menonjol dan semua orang ingin bersahabat dengannya. Yang paling mungkin adalah dia yang ljupa padaku atau bahkan tidak mengenalku.

“Jess, aku selalu mengingatmu dan baru hari ini aku bisa berbicara denganmu” katanya.

Aku menatapnya heran.

“Ya, aku ingin bersahabat denganmu” katanya lagi.

Kita semua memiliki masalah dalam hidup kita, tapi kita punya pilihan untuk menghadapinya. Mau pilihan menangisinya atau tetap berpikir kita bahagia. Jika terlalu memikirkan masalahku, aku akan menderita. Karena itulah, aku memilih tertawa dansungguh itulah satu-satunya cara melegakkan pikiranku. Aku juga menangis, sesekali, dan itu menyenangkan. Ssstt…tahukah kamu, ayahku tidak ada sejak aku masih dalam kandungan ibuku yang masih belia”.

Aku terdiam, mencerna apa yang dikatakannya.

“Satu lagi, sahabat juga dapat menyembuhkan lukaku. Jika ada apa-apa, kamu boleh kontak aku. Aku akan mendengarkan masalahmu” katanya sambil mengulurkan sebuah kertas berisi nomor telepon.

Ketika dia berlalu, aku menatap punggungnya dan berpikir, “Apakah ini saatnya aku berbagi cerita dengan seseorang?”

Kini, kami dua orang sahabat baik.

Renungan :

“Permudahlah segala urusan dan jangan mempersulitnya, serulah dengan bijak dan jangan menyebabkan orang menjauh”

HR. Bukhari

Bagaimana pengalamanmu mengenai berbagi cerita dengan seseorang yang berharga? Dan apa pesan inspiratif yang Anda dapat dari cerita singkat di atas?

Referensi

Mastuti, Indari. 2009. Lentera Cinta for Teens. Jakarta : Dari Mizan.