Mengapa Sistem Pendidikan Indonesia Tidak Mengadopsi Sistem Pendidikan Finlandia?

Jika berbicara mengenai negara Finlandia, tak lepas dengan predikatnya sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Berdasarkan Education Rankings by Country 2021 yang dikeluarkan oleh World Population Review, Finlandia menempati posisi ketiga negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Sementara itu di posisi pertama dan kedua ditempati oleh Cina dan Hongkong.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh fakta bahwa siswa Finlandia memiliki kehidupan sekolah dan waktu luang yang seimbang sehingga memungkinkan mereka untuk lebih terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Budaya keseimbangan ini kemudian berlanjut di kehidupan kerja yang menjunjung tinggi work-life balance.

Ada beberapa aspek yang mempengaruhi Finlandia menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik, antara lain :

  1. Kesempatan yang sama bagi seluruh warga negara untuk mendapatkan akses pendidikan gratis, inklusif, dan komprehensif;
  2. Pembelajaran melalui permainan bagi anak-anak sebelum masuk pendidikan dasar sehingga dapat mengeksplorasi kreativitas alami mereka;
  3. Waktu belajar di sekolah yang singkat (5 jam) dan minim pekerjaan rumah (PR) yang diberikan. Dengan demikian anak-anak memiliki lebih banyak waktu untuk bermain dan melakukan hobi sehingga dapat mengembangkan soft skill di luar kelas;
  4. Tidak ada ujian standarisasi. Pembelajaran siswa dinilai melalui berbagai metode kualitatif yang berfokus pada pengembangan keseluruhan siswa dan pembelajaran soft skill daripada keterampilan menghafal dan skor kuantitatif.

Hal ini tentu sangat berbanding terbalik dengan sistem pendidikan di Indonesia, yang masih mengedepankan nilai secara kuantitatif sebagai acuan hasil belajar siswa. Ditambah lagi dengan kurangnya tenaga didik yang terampil dan minimnya fasilitas penunjang membuat sistem pendidikan di Indonesia masih menempati peringkat 55 dari 73 negara. Dengan berbagai ketertinggalan tersebut, alangkah baiknya Indonesia berusaha memperbaiki standar sistem pendidikannya, bisa dengan cara mencari solusi sendiri melibatkan para ahli pendidikan hingga mengadopsi beberapa sistem pendidikan di negara lain.

Jadi menurut Youdics mengapa sistem pendidikan Indonesia tidak mengadopsi sistem pendidikan Finlandia yang sudah terbukti bagus?

Referensi
  1. https://kumparan.com/adya-yonas/mengapa-sistem-pendidikan-finlandia-menjadi-salah-satu-yang-terbaik-di-dunia-1wF5Em0QZMe/2
  2. Mastuhu, 2003, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, Yogyakarta: Safiria Ingaria Press.
  3. Tilaar, HAR, 2002, Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta. Pemerintah Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menurut saya, ada beberapa hal yang menyebabkan sistem pendidikan Indonesia tidak mengadopsi sistem pendidikan Finlandia:

  1. Kurangnya sumber daya manusia yang memadai. Sebelum para siswa dituntut untuk berkembang, tentunya kita harus menyiapkan terlebih dahulu fasilitator yang dapat menunjang pembelajaran seperti di Finlandia.
  2. Kurangnya biaya. Selain dari sumber daya manusia, dalam merencanakan sebuah sistem tentunya diperlukan biaya yang tidak sedikit. Tak jarang dana-dana pendidikan yang harusnya dipersiapkan untuk menjalankan rencana sistem pendidikan, selalu ada praktik-praktik korupsi di dalamnya.
  3. Kondisi masyarakat yang sulit diatur. Hal yang masih menjadi PR bagi kita adalah adab dari manusia itu sendiri. Sering kali kita mudah mengeluh terhadap perubahan, belum lagi kita ingin menggunakan cara cepat dan praktis sehingga sistem yang direncanakan tidak berjalan semestinya. Selain itu, kurangnya konsisten juga menyebabkan sulitnya Indonesia menjalankan sistem pendidikan dari negara lain.
1 Like

Finlandia adalah sebuah negara dengan ranking pendidikan nomor 1 di dunia, karenanya Finlandia sangat banyak digemari menjadi negara untuk destinasi pendidikan dan juga dibahas oleh semua orang yang belajar pendidikan baik dari sisi ilmu pendidikan, ekonomi maupun sosiologi. Dari 5 besar negara pada ranking PISA oleh OECD, Finlandia adalah negara dengan sistem pendidikan terunik. Murid di Finlandia baru mulai sekolah pada umur 7 tahun dan sebelum itu mereka hanya diperbolehkan untuk bermain. Waktu belajar mereka juga bisa dikatakan sangat singkat itupun lebih banyak di luar ruangan.

Keberhasilan Finlandia juga tidak bisa dilepaskan kepada kualitas anaknya yang superior karena gizi tinggi serta dirawat baik waktu bayi atau ras mereka superior. Selain itu, faktor lain mengapa Finlandia menjadi pusat pendidikan yaitu Finlandia menjadi Negara dengan gaji tertinggi bagi guru dan memberikan sumber dana tertinggi untuk pendidikan (tertinggi di negara OECD) seperti Luxemburg tidak menjadikan sistem pendidikannyanya sukses.

Anggaran pendidikan di Amerika Serikat per murid lebih besar dari Finlandia dengan pendapatan per kapita yang lebih rendah dari Finlandia. Maka jika masalah resource, kualifikasi guru dan cara menagajar yang jadi masalah maka tidak akan ada kesulitan untuk meniru Finlandia.

Cara belajar dengan bermain juga bukan cara yang pasti untuk memberikan pengajaran yang bermanfaat bagi anak-anak. Masyarakat di Amerika Serikat sangat tertarik untuk mempelajari Finlandia, dan telah banyak peneliti dikirim ke sana. Bukan saja Amerika tapi juga dari banyak negara lain di dunia. Bukan suatu kemustahilan jika Pendidikan Indonesia suatu saat akan menjadi maju seperti Finlandia, tetapi banyak sekali PR yang harus dikerjakan bersama baik dari Pemerintah, Orang tua, Tenaga Pendidik dan Siswa untuk sama-sama bersinergi menciptakan pendidikan yang maju, namun untuk perubahan yang besar harus dimulai dari langkah kecil dan tentunya akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga membutuhkan konsistensi antar semua pihak.

Referensi
https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/kasjdaskfkhsgg/5a4d7b95cf01b47e354623a2/pendidikan-indonesia-tidak-akan-bisa-meniru-finlandia-sebuah-opini-dari-perspektif-ekonomi-pendidikan

1 Like

Folow up dari argumen mbak @tiarapuspitap

  1. Indonesia merupakan negara berkembang dan memiliki inekualitas yang ekstrim daerah ke daerah. Menyamakan daerah setiap daerah saja sudah sulit, berusaha meningkatkan kualitasnya hingga setara dengan Finlandia, negara yang bukan negara kepulauan, yang perbedaan ekonomi antar warga negaranya tidak jauh, dan suku rasnya seragam, terdengar sangat amat sulit.

  2. Indonesia masih menggunakan nilai secara kuantitatif karena Indonesia tidak punya waktu untuk menilai dan ‘memanjakan’ setiap anak satu-satu seperti Finlandia. Populasi Finlandia 6 juta kurang dibanding Indonesia yang 270 juta lebih. Tidak ada sumber daya atau waktu untuk mengembangkan sumber daya manusia satu persatu seperti Finlandia yang karena warga negaranya sedikit, harus meningkatkan nilai individual sumberdaya manusianya yang sedikit, jauh lebih sedikit dari Indonesia, jika ingin bersaing secara ekonomi.

  3. Juga karena populasi Indonesia yang besar, Indonesia memerlukan cara yang cepat agar anak muda yang lulus sekolah langsung bisa bekerja untuk cepat-cepat memenuhi kebutuhan keluarga mereka, sehingga sistem pendidikan di Indonesia lebih fokus untuk memproduksi tenaga kerja secepat mungkin dibanding Finlandia yang lagi … memiliki waktu dan sumberdaya cadangan serta keharusan untuk menambah nilai SDM mereka per individu.

1 Like

Tidak mudah mengadopsi sistem pendidikan baru di Indonesia. Misalnya saj apada tahun 2013-2014 Indonesia menerapkan sekolah bilingual dimana diharapkan siswa dapat mengerti dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Hanya beberapa kota yang berhasil mempertahankan nya, di daerah, semua sekolah sudah tidak menerapkan nya lagi karena merasa tidak perlu. Ini adalah contoh bahwa masyarakat Indonesia masih sulit untuk taat dan diatur.

Jangkauan yang luas juga menjadi kendala. Jangankan pendidikan dengan sistem finlandia maupun kurikulum ktsp 2006, memang semua daerah di indonesia sudah memiliki instansi pendidikan dan fasilitas yang memadai? tidak sama sekali. Hal tersebut masih gagal dicapai oleh pemerintah apalagi jika harus mengadopsi sistem pendidikan finlandia.

Banyaknya tenaga pengajar khususnya guru yang pengetahuan nya tidak diupdate. Jika ia lulus menjadi seoran guru paga tahun 1983, ya pada tahun itu juga pengetahuan nya stuck. Banyak sekali pengajar yang seperti ini. Tidak ingin menambah ilmu, tidak ada kesetaran dan kebebasan berpendapat dan belajar diantara guru dan siswa.

1 Like

Karena, imo, baik di negara lain, belum tentu works juga di Indonesia. Tidak menutup mata, tetap harus memperhatikan beberapa pertimbangan atau aspek lainnya. Pertama, dari jumlah penduduk. Finlandia jumlah penduduk negaranya jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia (Fin 6jt, Ind 270jt). Ketimpangan jumlah penduduk ini berpengaruh besar terhadap mudah dan tidaknya me-manage atau mengelola peserta didik. Atau dengan kata lain, semakin banyak peserta, akan lebih sulit dan akan rentan kemungkinan kegiatan KBM berjalan tidak efektif. Kedua, dari segi sumber daya, pada bagian deskripsi sudah diinformasikan bahwa sumberdaya baik dari segi fasilitas maupun SDM tenaga pendidik, indonesia masih kalah jauh dengan Finlandia. Jangan lupa, bahwasanya kualitas sdm negara maju dan berkembang itu berbeda, timpang jauh. Kalo di Finlandia, is okeyy kalo peserta didik diberi kebebsan mengasah soft skill dan hanya belajar 5 jam per hari, ya soalnya anak-anak disana punya fasilitas pendukung dari rumah maupun sekolah, sedangkan Indonesia? Wifi aja mbayar. Artinya, dari segi fasilitas pendukung, indonesia itu masih kalah jauh dengan negara maju. Ditambah dengan kualitas SDM nya, anak anak seperti Finlandia ini gizinya tercukupi, vitamin kalsium proteinnya terpenuhi dan seimbang, hal itu yang menjadi pendukung pembentukan otak dan kemampuan berpikir. Dan sekali lagi, berbeda dengan '‘culture’ Indonesia, makan yang penting kenyang, mau makan mie + nasi pun orang sini gamasalah, gaada gizi gamasalah deh, yang penting kenyang, yang penting besok ngga mati kelaparan.

Jadi dari dua pemaparanku di atas, bisa jadi gambaran bahwa segala sesuatu yang baik di negara lain, belum tentu baik juga jika di terapkan di negara lain. Sebab tiap negara memiliki karakteristiknya masing-masing, ngga bisa dipukul rata

1 Like