Mengapa Setiap Perempuan Ingin Menjadi Cantik?


Sumber: Popbela.com

Saya baru saja membaca sebuah artikel dalam jurnal PLoS ONE melalui alamat https://journals.plos.org/plosone/article/file?id=10.1371/journal.pone.0201347&type=printable. Judul dari artikel ini sangat menarik sehingga saya memutuskan untuk membacanya. Why do women want to be beautiful? A qualitative study proposing a new “human beauty values” concept . Sebagai perempuan tentu saja saya ingin selalu memperlihatkan tampilan terbaik, terlebih lagi membuat orang lain mengatakan bahwa saya cantik. Pada artikel ini pertanyaan mengapa setiap perempuan ingin menjadi cantik dipaparkan melalui teori Human Beauty Values (HBV). Ayo tulis dikolom komentar mengenai hal ini Kadics!

9 Likes

Saya sudah membaca artikel tersebut, cukup menarik memang. Informasi yang saya tangkap teori Human Beauty Values (HBV) bisa mewakilkan mengapa seorang wanita ingin menjadi cantik.

Teori Human Beauty Values (HBV) atau diterjemahkan sebagai nilai-nilai kecantikan manusia. HBV adalah bagaiaman persepsi seorang manusia dalam memandang sebuah kecantikan yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial pada lingkungan masyarakat. Empat dimensi HBV antara lain; superiority, self-development, individuality, dan authenticity

  1. Superiority (Superioritas)
    kompas id
    Sumber: Kompas.id

Pada dimensi superioritas kecantikan diyakini sebagai upaya daya saing tinggi berdasarkan penampilan. Seseorang yang cantik didefinisikan mendapat peringkat tinggi pada hirearki masyarakat, selain itu masyarakat memiliki kepercayaan bahwa dengan mencapai taraf cantik dapat menimbulkan perasaan berada pada puncak perhatian. Anggapan lain adalah adanya halo effect yang menyebabkan anggapan bahwa seseorang dengan tampilan cantik dan menarik artinya berperangai baik.
2. Self-development (Pengembangan diri)


Sumber: infoHR.com

Kecantikan dipandang merupakan hasil dari pengembangan diri. Terang saja saat ini tren glow-up challeng sedang ramai, hal ini menunjukan kemampuan seseorang dalam menjaga bagaimana penampilannya bisa mendatangkan kata cantik.

"Di China, wanita tua akan lebih dihormati ketika mereka bisa berusaha menjaga penampilan. Jika dia bisa menjaga dirinya dengan baik kita harus menghormatinya. Mengesampingkan umurnya yang tidak lagi muda gambaran kecantikan dirinya adalah sebuah simbol pengembangan diri yang sangat mengesankan"Hasil wawancara pada penelitian Kim

  1. Individuality (Individualitas)
    fineartamerica
    Sumber: fineartamerica.org

Manusia adalah makhluk sosial, fakta tersebut bukan berarti menjadikan manusia tidak bersifat individualis. Pada artikel tersebut dijelaskan bahwa dengan menjadi cantik seseorang dapat bersinar diantara kerumunan sehingga dapat dipilih untuk merepresentasikan sesuatu atau bahkan menyuarakan pendapat yang dimiliki. Sedikit mirip dengan halo effect akan tetapi lebih cenderung dengan bagaimana “cantik” menjadi individu sehingga dapat mencapai sesuatu tanpa sulit dalam meminta bantuan orang lain.

  1. Authenticity (Keaslian)
    onlinelearningconsortium.org
    Sumber: Onlineleraningconsrtium.org

Menjadi cantik artinya sudah memegang satu ciri khas yaitu cantik. Perempuan ingin diingat dengan kecantikannya sehingga terasa lebih baik dalam intrepertasi awal karakter yang dimilikinya. Pada artikel ini perempuan dengan penampilan baik akan dianggap memiliki karakter terbaik walau masih asumsi awal.

7 Likes

Penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Lee (2018) berjudul Why do women want to be beautiful? A qualitative study proposing a new “human beauty values” concept sebenarnya berfokus pada konfirmasi terhadap fenomena sosial berupa bagaimana seorang wanita memandang kecantikan berdasarkan budayanya hingga perannya pada kehidupan mereka. Oleh karena itu peneliti menggunakan konsep Human Beauty Value (HBV) agar dapat menemukan relasi antara kecantikan fisik dengan nilai kehidupan khususnya aspek sosial dari seseorang yang memiliki tingkat kecantikan tinggi berdasarkan budaya lokal.

Therefore, it is difficult to generalize the results of this study because the collected
Data do not provide enough information to represent each culture’s general perceptions about women’s beauty (Kim dan Lee, 2018)

Penelitian ini menggunakan 60 responden dari 3 etnis berbeda yaitu Korea, Cina, dan Jepang. Berdasarkan empat dimensi HBV yaitu superiority, self-development, individuality, dan authenticity alasan seorang wanita menjadi cantik adalah sebagai berikut
Penampilan menarik berdampak positif pada penilaian kemampuan atau kepribadian perempuan

“She could be popular because of the halo effect of Seoul National University. She is beautiful and even smart. So, game over. No one can beat her” (Hal. 10)

Efek ‘halo’ dan kesan positif pertama keseluruhan dari orang-orang terhadap orang lain adalah pemicu utama motivasi perempuan menjadi cantik. Penelitian sebelumnya telah ditemukan bahwa penampilan cantik menciptakan keunggulan kompetitif yang membantu individu memperoleh sumber daya sosial yang terbatas seperti pencarian kerja yang lebih mudah, pemilihan pasangan, dan meningkatnya tingkat pendapatan. Masyarakat yang dominan laki-laki di Asia Timur secara khusus memperkuat fenomena ini. Dalam studi ini, partisipan Korea sering menyebut diskriminasi gender dalam keluarga dan komunitas Korea. Pada kenyataannya, diskriminasi gender terjadi di Korea Selatan telah menyebabkan obyektifikasi tubuh wanita dan niat untuk memaksimalkan keuntungan persaingan sosial, bahkan dengan melalui manajemen penampilan yang berisiko seperti kosmetik serta operasi.

Kecantikan sebagai barometer bagaimana seseorang merawat dirinya sendiri

“Beauty is the result of effort. There isn’t anybody that is muscular at birth. (Pointing at a stimulus) She receives attention because she managed herself and made significant effort to be beautiful. I want to be a well-managed beauty like her.” (Hal. 11)

Kecantikan dapat diperoleh melalui usaha dan manajemen yang konstan. Berdasarkan nilai tersebut, perempuan dapat meningkatkan kecantikan dirinya melalui usaha pribadi. Kecantikan wanita juga menjadi barometer untuk memperkirakan berapa banyak usaha yang dia lakukan untuk pengembangan diri. Berdasarkan perspektif ini, tidak dapat dikatakan demikian hanya wanita muda yang mempertahankan kemudaan biologis mereka yang cantik, tetapi wanita yang lebih tua bisa juga cantik jika mereka menjaga penampilan mereka.

Menjadi cantik antik sehingga unik

“In Japan, there are many types of beauty, so, I can choose what I want. I think expressing one’s own unique individuality is beautiful.” (Hal. 12)

Studi ini mengasumsikan bahwa mencerminkan prevalensi dari individualitas HBV dalam budaya Jepang karakteristik masyarakat post-modern yang mencari keragaman. Postmodernisme, ideologis Yayasan yang menganjurkan anti estetika, tidak lengkap, ketidakpastian, pluralisme, dan dekonstruksi, telah mempengaruhi penilaian estetika masyarakat modern Jepang. Menurut postmodernisme, kecantikan dinilai bukan dengan kriteria yang tidak dapat diubah atau obyektif tetapi dengan fleksibel atau kriteria subjektif yang berfluktuasi tergantung pada keadaan.

Summary

Referensi:

  1. Kim, Sunwoo and Lee, Yunwoo. 2018. Why do women want to be beautiful? A qualitative study proposing a new “human beauty values” concept. PLoS ONE 13(8): e0201347. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0201347
  2. Braithwaite VA, Law HG. Structure of human values: Testing the adequacy of the Rokeach Value Survey. J Pers Soc Psychol [Internet]. 1985; 49(1):250–63. Available from: http://doi.apa.org/getdoi.cfm?doi=10.1037/0022-3514.49.1.250
6 Likes

Saya sepakat dengan bagaimana seseorang yang dikategorikan sebagai manusia cantik bisa mendapatkan previlege seperti yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi seperti peribahasa jawa Arep jamure emoh watange yang berarti mau enaknya tapi tanpa berusaha, menjadi cantik diperlukan usaha. Selanjutnya, usaha keras seseorang untuk mendapat predikat cantik tersebut menjadi salah satu penyebab masyarakat menciptakan asumsi dan poin poin previlege baginya.

4 Likes

Menurut saya, pada dasarnya saat ini kita hidup didunia yang serba kritik dimana - mana. Kritik yang dilontarkan pun bersifat membangun atau hanya kritik tanpa dasar.
Dari segi penampilan seorang perempuan ada kewajiban untuk berpenampilan cantik dan sesuai kriteria kecantikan yang ada menurut pemikiran orang - orang.
Kriteria tersebut adalah harus menggunakan make up, tidk berjerawat, tinggi dan langsing, wajah proposional, hidung mancung, double eye lid, dan lainnya.
Apabila tidak memenuhi kriteria masyarakat yang dimana mind set tersebut sudah tertanam di kehidupan sosial kita maka akan terjadi judgement yang mengarahkan untuk menjadi cantik sesuai kriteria masyarakat.
Namun pada dasarnya judgement terjadi ketika orang tersebut tidak menerima pendapat atau pandangan orang lain dalam arti tidk terbuka terhadap pandangan lain selain pandangannya sendiri.
Kita memiliki hak untuk kehidupan kita sendiri termasuk penampilan kita dan menurut saya hak itu termasuk tidak mendengarkan kritikan orang yang tidk berdasar tersebut

3 Likes

Murniati (2004) melalui bukunya berjudul Getar Gender menjelaskan bahwa kecantikan merupakan sesuatu hal yang diutamakan untuk bisa diterima dalam pekerjaan, atas dasar tersebut perempuan akan selalu berusaha untuk bisa dianggap cantik dengan berbagai cara. Gagasan Murniati mengenai pentingnya ‘dianggap cantik’ sebenarnya bukan hal yang baru. Sebelum terjadinya Revolusi Industri pada akhir abad ke-18, perempuan tidak memiliki pandangan yang sama atau sejenis mengenai kecantikan. Kemudian setelah perempuan modern mengalami mitos kecantikan, mereka terus menerus membandingkan dirinya dengan penggambaran fisik ideal yang disebarkan oleh media massa (Wolf, 2015). Wolf (2015) memberikan pendapat bahwa konsep kecantikan bermula dari berkembangnya teknologi yang mampu memproduksi penggambaran bagaimana perempuan seharusnya. Penggambaran tersebut terlihat seperti penggambaran dalam iklan, film dan fotografi prostitusi.

Kebudayaan menjadi faktor dominan ketika sebuah ideologi dioperasionalisasikan dalam kehidupan manusia (Murniati, 2004)

gillete
Sumber: Blog.hubspot.com

Revolusi industri pada mulanya merupakan peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris dari tenaga hewan dan manusia, kemudian digantikan oleh penggunaan mesin. Situasi yang berubah tersebut menciptakan lingkungan masyarakat yang baru dan secara tidak langsung terciptalah budaya baru. Munculnya kalangan dominan pada masa revolusi industri menjadikan beberapa kelompok ras tertentu memiliki penggambaran yang baik di mata masyarakat dunia. Masyarakat barat seperti benua eropa menjadi kiblat kecantikan secara universal.

Europeans with their fair and smooth skin, sharp nose, big eyes, and slim body categorize as universal feature of beauty (Berry, 2007)

Intervensi terbesar dari meluasnya standar kecantikan adalah iklan. Iklan menampilkan komposisi objek yang menarik sehingga dapat menarik perhatian banyak orang. Salah satu terobosan produk pada masa awal Revolusi Industri adalah produk pencukur kumis bernama Gillete yang menampilkan seorang wanita dengan kulit mulus tanpa bulu setelah mencukurnya dengan produk pencukur rambut tersebut. Pada awal penayangan iklan masih terdapat banyak kritik dan cibiran mengenai wanita yang mencukur bulu hingga ketiak, akan tetapi seiring berjalannya waktu masyarakat telah menerima bahwa wanita dengan kulit mulus tanpa bulu lebih menarik dan bersinar.

Saya memulai diskusi mengenai hal ini karena stigma menjadi cantik telah muncul dan bahkan ditanamkan sejak masih anak-anak. Saya akan coba lanjutkan pencarian informasi mengenai sejarah adanya standar kecantikan yang mendasari adanya pertanyaan mengapa setiap peremuan ingin menjadi cantik

Referensi
  1. Bonnie, Berry. 2007. Beauty Bias: Discrimination and Social Power. Greenwood Publishing: Los Angeles
  2. Murniati, P Nunuk A. 2004. Getar Gender. Penerbit Tera: Jakarta
  3. Wolf, Naomi. 2015. Beauty Myth Short Edition. Vintage Books: New York
1 Like

Simbol kecantikan saat ini menurut Rogers (2004) dapat direpresentasikan pada sosok boneka Barbie. Boneka ini adalah sosok ideal bagi seorang wanita yang ingin disebut cantik, yakni: muda, langsing, berambut panjang, bermata indah, bermata biru, kulit halus mulus, bibir sexy dan pakaian yang glamour.


Sumber: suara.com

Boneka Barbie kemudian menjadi icon budaya karena dapat diterima masyarakat dan laku terjual di seluruh dunia. Sebagai ikon budaya, boneka Barbie saat ini telah menjelma menjadi ikon konsumerisme, rasisme, seksisme dan materialisme. Barbie, yang merupakan benda plastik, kemudian menjadi gaya hidup sesuai dengan penokohan yang melekat padanya. Barbie adalah perempuan dewasa awal, kulit bersih dan cantik, tidak memiliki suami maupun anak, tidak punya atasan guru, tetangga dan sebagainya. Dia hanya memiliki teman-temannya dan pacarnya saja, sehingga dia adalah sosok yang keras dalam penampilannya yang feminim serta teralienasi dalam kehidupannya. Tubuh menjadi subjek komoditas yang terus berkembang dan berubah-ubah, dalam kebudayaan konsumtif dewasa ini.

Wolf (2011) berpendapat bahwa kecantikan (penampilan tubuh) tak ubahnya seperti mata uang yang ada dalam sistem perekonomian. Penampilan seseorang akan sangat mempengaruhi popularitas, kepuasan diri, promosi jabatan, kencan dan lain-lain. Kebutuhan mendasar menurut Abraham Maslow (2006) dibagi menjadi lima kategori yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, harga diri, serta aktualisasi diri. Tidak dipungkiri bahwa penampilan yang menarik sangat membantu dalam aktualisasi diri.

Barbie menjadi ikon dari kecantikan sempurna seorang perempuan. Awalnya ia bertindak sebagai model, selanjutnya berkarir pada banyak bidang. Pembuatannya yang berangkat dari pemikiran memberikan sebuah bentuk hiburan bagi anaknya akhirnya berperan menjadi salah satu pembentuk citra perempuan cantik. Perlombaan tentang penampilan semakin tajam terjadi pada komunitas kelas menengah ke atas yang kaya akan uang. Mereka berlomba-lomba menampilkan penampilan yang terbaik. Mereka sangat dipengaruhi oleh fashion, yang merupakan simbol bagi citra: muda, gembira, glamour. Simbol tersebut menjadi begitu marak saat ini, kemungkinan karena pandangan tentang kecantikan sudah banyak bergeser.
Dahulu, seseorang sudah merasa dirinya cantik ketika ia membersihkan dirinya dengan baik. Namun saat ini bersih saja tidaklah cukup. Inner beauty hanyalah faktor pendukung, bukanlah faktor utama. Penampilan fisik menjadi prioritas, terutama bagi kaum perempuan. Pergeseran ini banyak dipengaruhi oleh keberadaan arus globalisasi dan juga media massa yang membuat menjamurnya budaya konsumerisme. Penyebaran arus informasi mengkonstruksi masyarakat agar meyakini bahwa seseorang dikatakan cantik apabila memiliki bentuk tubuh yang langsing, kulit yang putih, hidung yang mancung, bibir yang seksi, bentuk wajah yang sempurna dan untuk mendapat semua itu para wanita menjalankan usaha-usaha dari mulai memakai produk pemutih wajah, minum obat peramping, pergi ke salon dan dokter kecantikan, bahkan memilih jalan pintas yaitu melalui operasi plastik.

Persepsi cantik sendiri dibentuk oleh industri kecantikan agar produk mereka laku di pasaran. Bagi orang Indonesia, cantik itu yang berkulit putih, berambut lurus dan tinggi semampai. Maka produk-produk pemutih berjamuran beredar di pasaran. Kadang, konsumen mengabaikan keamanan produk itu sendiri berbahaya atau tidak. Padahal jika produk tersebut mengandung merkuri atau zat zat berbahaya lainnya, akan menyebabkan efek samping bagi kulit mereka.

Adanya dorongan dari arus budaya Barbie, para perempuan tergerak untuk berlomba-lomba menjadi yang paling cantik. Berbagai macam cara dilakukan, mulai dari yang instan sampai yang memerlukan kesabaran tinggi. Dari yang alami sampai pada budaya operasi plastik. Salah satu hal yang saat ini mulai banyak digunakan untuk menambah aura kecantikan perempuan adalah pemakaian lensa kontak. Memakai softlens atau lensa kontak saat ini menjadi trend di kalangan remaja hingga dewasa. Bahkan kini, harganya pun relatif terjangkau dan membuat remaja semakin percaya diri. Hasil reportase sebuah koran tentang pemakaian lensa kontak menunjukkan bahwa di kalangan pelajar di kota-kota besar telah mulai marak penggunaan lensa kontak oleh para siswi. Mereka merasa lebih percaya diri dan didorong oleh harga lensa kontak yang terjangkau

Referensi
  1. Munandar. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI Press.
  2. Rogers, Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme. (Terjemahan). Yogyakarta: Relief, 2009