© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Mengapa Sepak Bola Menggemaskan ? Mencermati Kekalahan Jerman di Piala Dunia 2018

Catatan Bola 2018 …

Begitu menggemaskan. Banyak sekali orang kecewa, kenapa Jerman harus pulang sebelum berhasil masuk ke 16 besar.

Sesungguhnya, kalah dan menang itu biasa. Masalahnya, kemudian jika ada pendukungnya menjadi sedih itu masih wajar. Tapi apakah perlu mengeluarkan air mata dan menangis sedemikian rupa?

Entah sejak kapan fenomena lelaki cengeng ini mulai merebak. Seolah-olah sudah menjadi sebuah kewajiban, kalau kalah dan tersingkir ada lelaki yang menangis.

Itulah yang terjadi setelah Jerman kalah oleh Korea Selatan 0 - 2. Jerman tersingkir dengan menanggung tiga kali malu sekaligus, yaitu kalah lawan Korea Selatan, tersingkir di babak penyisihan dan menempati peringkat terbawah klasemen Grup F Piala Dunia 2018.

Mengapa Jerman tersingkir ? Sedang lawan satu groupnya seperti Argentina tidak? Padahal, dalam banyak hal, antara keduanya memiliki banyak kesamaan. Setidaknya begitulah tulisan pengamat bola.

Pertarungan Korea Selatan yang telah berjuang melawan Jerman, membuat juara bertahan ini pulang kandang. Padahal tim ini punya banyak bintang hebat.

Fans-nya pun bejebun. Ya cowok, juga cewek. Ya di Eropa, juga di Asia. Termasuk Indonesia. Penggemar beratnya pun tak menahan rasa sedihnya. Mereka menangis tersedu-sedu.

Bola memang menggemaskan? Lebih separo dari penduduk bumi ini, yang kini sudah di atas 7.450 an milyar, kecanduan benda bulat ini. Buktinya, pada Piala Dunia 2018 di Rusia ini, mereka rela mengeluarkan kocek sendiri untuk datang ke Moskow, Rusia. Ada yang dari kawasan Amerika, Eropa, Africa, dan tentu Asia sendiri. Entah berapa uang yang mereka keluarkan ?

Mereka yang tak bisa datang ke bumi bekas Uni Soviet tersebut, rela nonton bareng di hotel-hotel, tengah lapang, kantor dan rumah sendiri. Hampir tiap hari mereka baru akan tidur menjelang pagi.

Magnet bola ini memang dahsyat. Penuh misterius. Pada Piala Dunia kali sejumlah negara jagoan bola berguguran satu demi satu. Kuda hitam pun bermunculan. Jerman si Juara Bertahan pun harus balik kandang …

Sungguh, bola itu memang semakin menggemaskan …

drama sepakbola

Yup, semua olahraga, termasuk sepakbola, saat ini sudah dikemas layaknya sebuah drama. Banyak cerita di luar lapangan yang mempengaruhi pendukung dan pemain. Sebuah olahraga tidak hanya dikemas dari sisi olahraga murni saja, tetapi juga dari sisi entertain.

Atlit-atlit sudah diperlakukan layaknya bintang film, yang dikorek-korek kehidupannya dari sisi personalnya, tidak hanya dari sisi kehidupannya sebagai atlit. Begitu juga pendukungnya, yang juga oleh media diperlakukan sebagai layaknya fans bintang film.

Di satu sisi, hal ini berpengaruh besar terhadap olahraga itu sendiri, tetapi disisi lainnya hal ini juga dapat berdampak buruk bagi atlit. Banyak atlit yang karena tidak tahan dengan godaan diperlakukan seperti selebritis dunia hiburan, sehingga lupa untuk menjaga kebugarannya dan kedisiplinannya, sehingga kariernya berakhir ketika masih dalam masa ke-emas-annya.

Begitu juga apabila kita lihat dari sisi penggemarnya, begitu banyak penggemar atlit olah raga yang melihat bukan dari sisi ke-olahraga-annya, tetapi dari sisi lainnya, misalnya dari sisi ketampanannya atau dari sisi kehidupan pribadinya. Hal ini tidak dapat dipersalahkan, karena media memang mengutamakan hal tersebut.

Cerita di luar lapangan jauh lebih banyak porsinya dibandingkan dengan cerita di dalam lapangan, karena drama memang membutuhkan cerita yang menarik. Bahkan, kalau perlu, selayaknya drama film, setiap cerita perlu didramatisasi sehingga menjadi lebih menarik bagi para penggemar.

Oleh karena itu, daripada mengatakan selamat menikmati “pertandingan piala dunia”, jauh lebih menarik apabila diganti dengan selamat menikmati “drama piala dunia”.

Nah … ini menarik. Istilah “pertandingan piala dunia” bisa diganti dengan “drama piala dunia”, atau bisa pula memakai istilah lain, misalnya “drama bola dunia”.

Jika ini disepakati, bisa panjang ceritanya. Pertandingan sepak bola menjadi bergeser ke arah sosio-drama. Jika ini yang terjadi, maka sepak bola gajah pun nantinya akan legal adanya.

Pada Piala Dunia Rusia kali ini, hati tetap punya rasa. Walau belum sampai curiga, rasa itu berasa. Kenapa Jerman harus pulang ? Adakah drama sebabak di Group F ini …

Pertanyaan panjang yang tak layak dilanjutkan. Cuma, jika kita sudah merasa jenuh, tak ada salahnya misalnya suatu ketika pertandingan bola itu menjadi drama babakan …

Kita tunggu saja …
Salam bola dunia untuk Mas Sonny Aleandro Wijaya …