Mengapa orang-orang banyak melakukan Online Shopping di masa pandemi?

Di masa pandemi saat ini mengharuskan masyarakat untuk melakukan segala aktivitas di rumah. Rasa jenuh dan bosan dapat menghampiri ketika Anda memiliki waktu luang di rumah. Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan pada saat di rumah yaitu melakukan belanja online atau yang sering kita sebut dengan online shop.

Perkembangan zaman yang semakin pesat, serta teknologi yang semakin canggih sehingga Anda tidak perlu lagi dengan susah mencari berbagai informasi dengan media cetak, seperti majalah, koran, dll. Internet saat ini telah menjadi kebutuhan primer manusia.

Internet telah menjadi bagian hidup manusia mulai dari pendidikan hingga dunia bisnis. Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan dalam sistem bisnis, entah kebutuhan, keinginan, maupun selera masyarakat.

Online shop merupakan kegiatan pembelian barang dan jasa melalui media internet. Efek dari meningkatnya pengguna internet adalah masyarakat mulai ramai berbelanja secara online. Salah satu alasan masyarakat adalah proses keputusan belanja online tidak serumit keputusan pembelian offline. Belanja online lebih memudahkan serta dapat menghemat waktu dan biaya.

Nah, menurut informasi yang beredar ternyata di masa pandemi ini banyak sekali yang melakukan online shopping yang menyebabkan kenaikkan sampah bekas packing dari barangnya tersebut. Kira-kira, menurut Youdics apakah ada alasan tertentu di masa pandemi ini orang banyak yang melakukan online shopping?

Alasannya karena saat pandemi ini kegiatan tidak selepas dahulu ketika dunia masih “normal”, sekarang segala kegiatan dibatasi, namun kebutuhan kita sebagai manusia banyak yang harus terpenuhi. Langkah yang paling aman adalah memang berbelanja online, dengan itu juga kita sadar akan dunia yang sedang tidak baik-baik saja sehingga bisa meminimalisir orang yang berpergian atau beraktivitas, disisi lain juga kita membantu orang-orang seperti kurir yang memang pekerjaan nya agar tetap mendapatkan nafkah ditengah pandemi ini, walaupun memang resiko yang mungkin terjadi pada mereka sangatlah tinggi, sehingga kita juga harus berempati satu sama lain.

Nah, betul sekali pernyataan ini

Karena tingkat jual beli online sangat tinggi, pasti akan meningkatkan jumlah plastik sampah, yang tidak ramah lingkungan. Maka dari itu harus disadarkan bahwa pelaku usaha harus melakukan penjualan produk tanpa pembungkus plastik, dan kita sebagai pembeli dan juga konsumen harus pintar memilah sampah plastik untuk bisa didaur ulang.

menurut saya alasannya yaitu keterbatasan gerak, dimana pada masa pandemi sekarang banyak orang yang tidak bisa keluar untuk belanja. apalagi barang yang diinginkan tidak ada didaerahnya. biasanya sebelum pandemi orang pasti akan pergi antar kota untuk membeli sesuatu. semenjak pandemi masyarakat jadi susah untuk pergi keluar kota. alasan lainnya bisa karena malas dan tempat jual barang yang diinginkan ternyata jauh. mereka yang malas berfikir bahwa udah pandemi, gak boleh bepergian ditambah toko yang jual barang yang diinginkan jauh pasti lebih milih belanja online.

untuk masalah sampah memang tidak bisa dipungkiri semenjak pandemi sampah bekas bungkus online shopping banyak sekali dibarengi dengan tingkat penjualan online yang meningkat. kembali ke masyarakat harus pintar-pintar memilah sampah dan membuangnya ditempat yang sesuai.

benar apa yang dikatakan teman teman diatas karena pandemi memaksa kita untuk tidak banyak melakukan kegiatan diluar atau yang berhubungan dengan “bertemu manusia” apalagi saat ini diberlakukan nya kembali PPKM, tetapi menurut saya pribadi banyak orang sudah lebih memilih melakukan online shopping sebelum pandemi, karena dengan online shopping lebih mudah untuk mencari barang yang diinginkan dan transaksinya juga tidak ribet.

Terlepas dari keterpaksaan yang mengharuskan kita untuk berbelanja online di saat situasi seperti sekarang ini, dengan berbelanja online ini banyak sekali keuntungan yang kita dapatkan. Selain lebih efisien karena kita dapat membeli segala keperluan sambil bersantai dan tidak mengeluarkan banyak tenaga, berbelanja online ini juga dapat menghemat pengeluaran. Bagaimana tidak, biasanya harga yang ada di e-commerce ini jauh lebih murah dari harga di offline store. Kualitas yang didapatkan pun terbilang sama atau bahkan lebih baik, asalkan teliti sebelum membeli hehe

Munculnya pandemi virus Covid-19 menimbulkan banyak sekali perubahan dalam kehidupan sehari-hari, karena mengharuskan kita untuk membatasi diri dalam melakukan aktivitas diluar rumah guna memutus penularan Covid-19 tersebut terhadap orang lain. Sehingga segala aktivitas menjadi terhambat, mulai dari aktivitas kegiatan belajar mengajar, pekerjaan, berkomunikasi bahkan hingga berbelanja. Namun, dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju membuat aktivitas di luar ruangan tersebut dapat teratasi karena dapat dilakukan secara online. Salah satu contoh kegiatan yang menjadi perhatian adalah perilaku masyarakat yang mengubah gaya hidup berbelanja offline menjadi online, karena untuk mengurangi mobilitas keluar rumah. Hal tersebut dibuktikan oleh BPS yang telah melakukan survei sosial demografi dampak Covid-19 dan salah satu yang dibahas adalah perilaku berbelanja online. Hasilnya, 9 dari 10 responden berbelanja online dan pola berbelanja masyarakat menjadi berubah selama pandemi. Sebanyak 31% reponden mengalami peningkatan dalam belanja online, sedangkan hanya 28% dari mereka yang mengalami penurunan.

Terjadinya peningkatan perilaku berbelanja online juga karena didukung berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh platform belanja online seperti harga produk yang lebih murah, gratis ongkos kirim, banyak diskon atau potongan harga, kemudahan dalam bertransaksi, dan lain-lain. Sehingga hal tersebut memikat hati para konsumen untuk mengubah kebiasaan berbelanja secara langsung melalui toko menjadi berbelanja secara online. Namun, disamping banyak kelebihan yang dimiliki dari berbelanja online, terdapat pula dampak negatif yang ditimbulkan contohnya seperti perilaku konsumtif. Menurut Vicynhtia (2010), perilaku konsumtif merupakan perilaku konsumsi yang boros dan berlebihan. Hal ini ditandai dengan membeli barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan, atau mendahulukan keinginan daripada kebutuhan. Perilaku konsumtif tersebut juga timbul karena pengaruh iklan yang seringkali muncul di berbagai media sosial.

Sumber

Badan Pusat Statistik. (2020). Hasil Survei Sosial Demografi Dampak COVID-19. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Vicynthia. (2010). Jadi Jutawan dari Bisnis Sampingan. Yogyakarta: Galangpress Center.

Sejatinya, online shop itu kan istilahnya menjadi penghubung dan mendekatkan antara kita sebagai pembeli dengan barang yang kita cari. Sehingga nggak perlu kita menuju lokasi untuk cari barang yang nggak ada di daerah kita. Selanjutnya, online shop juga menawarkan beragam promo dan diskon yang tentunya menarik minat orang untuk berbelanja secara online. Semua yang kita cari pasti ada di online shop. Serta, online shop juga menwarkan beragam kemudahan lainnya, sehingga menambah daya tarik untuk berbelanja di online shop. Sebenernya sebelum pandemi pun juga online shop sudah digandrungi masyarakat. Namun, setelah pandemi melanda, online menjadi semakin digemari. Pandemi membuat ruang gerak masyarakat menjadi terbatas, sehingga online shop muncul sebagai solusi.

Kita semua tahu bahwa online shopping merupakan alternatif untuk berbelanja kebutuhan. Kegiatan ini kan sudah lama terjadi, sebelum pandemi pun tingkat berbelanja online sudah tinggi. Menurutku ada alasan lain selain mengurangi berbelanja secara langsung (less human contact) karena pandemi.

Pertama, adanya alternative payment methods atau metode pembayaran alternatif seperti dompet digital. Bahkan sekarang banyak sekali metode poembayaran yang bersifat pay later. Ini tentu mempermudah orang untuk melakukan transaksi online.

Kedua, orang-orang memiliki banyak waktu luang. Pada masa lockdown orang memiliki 4,7 jam waktu luang, angka ini naik dari 3,6 jam perhari sebelum pandemi. Dengan dorongan ini, orang jadi lebih mudah untuk melihat-lihat barang di e-commerce.

Ketiga, strategi digital marketing. Di sisi penjual, memang sudah sangat familiar dengan digital marketing, tapi disisi pembeli meskipun mendapat pengaruh dari digital marketing, belum banyak yang mengerti. Promosi melalui sosial media ini menjadi salah satu alasan meningkatnya jumlah pembeli online. Tiktok, banyak pembuat konten yang menyediakan konten rekomendasi barang atau lebih dikenal dengan “racun tiktok”

Referensi

What's Driving Indonesia's eCommerce Growth? - Janio](What's Driving Indonesia's eCommerce Growth? - Janio

The State of Indonesia's E-Commerce within COVID-19 & Rise of Social Commerce: An Overview

Online Shopping dilakukan selama masa pandemi untuk mencegah kontak yang terjadi antara penjual dan pembeli di toko/mall/pasar. Perubahan pola belanja ini juga terjadi karena toko-toko offline biasanya akan tutup saat PSBB/PPKM dan hanya menerima pelayanan secara online. Lambat laun masyarakat terbiasa dan lebih nyaman melakukan online shopping karena harga lebih murah biasanya terdapat banyak promo-promo yang tersedia di marketplace2, lebih banyak waktu luang, dan mengindari risiko terkena virus.

Pandemi Covid-19 ini memang mengakibatkan peningkatan aktivitas digital dalam kehidupan sehari-hari. Berbelanja online adalah salah satu yang mengalami perubahan signifikan. Karena keterbatasan mobilitas, masyarakat lebih memilih menggunakan jasa online market place untuk berbelanja. Berbelanja online juga meminimalisir pergerakan dan kontak fisik dalam bertransaksi. Tentu saja hal ini sangat memudahkan masyarakat dan menjadi primadona saat ini, apalagi sekarang online shop sudah sangat banyak jumlahnya. Tanpa pergi keluar rumah, pembeli hanya tinggal menunggu barang sampai. Transaksi dalam belanja online juga jauh lebih mudah dan aman.

Namun ada juga efek lanjut yang negatif, yaitu meningkatnya jumlah sampah untuk mengemas produk-produk tersebut. Kardus, plastik, dan bubble wrap adalah bahan yang paling banyak digunakan dalam pengemasan. Untuk menyiasatinya, penjual ataupun pengirim sebaiknya mengganti pengemasan dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Namun, hal ini juga sulit dilakukan secara merata, mengingat beragamnya jenis barang dan jumlah permintaan di berbagai tempat.