Mengapa orang Korea Selatan jarang menggunakan kata 'saya'?

kami

Orang Korea lebih sering menggunakan kata ganti orang “kami” untuk mengatakan suatu kepemilikan dibandingkan dengan menggunakan kata ganti orang “saya”

Mengapa orang Korea Selatan jarang menggunakan kata ganti ‘saya’?

Sejumlah kata dalam bahasa Korea Selatan tak hanya merupakan sebuah tata bahasa semata, melainkan sebuah norma yang menangkap esensi sebuah bangsa.

“Orang Korea menggunakan ‘uri’ (uri = kami) ketika sebuah kelompok atau komunitas membagikan sesuatu, atau ketika banyak anggota di dalam sebuah kelompok atau komunitas berada dalam keadaan yang sama atau mirip,” kata profesor bahasa Korea di Universitas Columbia kepada saya dalam sebuah waawancara. “(Itu) berdasarkan pada budaya kolektif kami”.

Nilai komunal Korea Selatan terkait dengan keringkasannya, populasi etnik yang homogen dan nasionalisme yang bergairah. Di sini, sebuah rumah - bahkan jika Anda membayarnya - bukanlah milik Anda; itu milik kami.

Demikian juga, perusahaan saya merupakan perusahaan kami, sekolah saya adalah sekolah kami dan keluarga saya merupakan keluarga kami. Hanya karena saya mungkin memiliki atau mempunyai sesuatu secara individual tidak berarti orang lain yang tidak memiliki pengalaman serupa terhadap kepemilikan atau kepunyaan. Mengatakan ‘saya’ hampir mirip dengan egosentris.

Mengatakan ‘milik saya’ hampir serupa dengan egosentris

“Orang Korea selalu menggunakan uri nara (negara kami) dibandingkan nae nara (negara saya). ‘Nae nara’ terdengar aneh. Itu seperti mereka memiliki negara sendiri,” kata Lee. “Nae anae (istri saya) terdengar sepertinya dia merupakan satu-satunya orang yang memiliki istri di Korea.”

Di atas semua itu, budaya kolektif negara ini merupakan warisan dari sejarah Konfusianisme. Ketika Korea Selatan diluar era dinasti, hirarki berdasarkan kelas, memegang teguh terhadap etik Konfusian yang mendikte individu harus mendekati konsteks sosial - dari memesan makanan dan minuman dengan teman-teman, untuk mengendarai transportasi publik dengan orang asing- dengan kelompok tersebut. Dalam jaringan kelompok, ‘kita’ merupakan diri orang Korea yang kolektif, menurut profesor studi budaya Hee-an Choi dari Universitas Boston, dan itu diperlukan untuk kata ‘aku’."

Tidak ada batasan yang jelas antara kata ‘saya’ dengan ‘kami’ seperti ditulis oleh Choi dalam bukunya A Postcolonial Self. “Seperti penggunaan kata ‘kami’ dan ‘saya’ seringkali ditukar, jadi untuk mengindentifikasi ‘kami’ seringkali ditukar dengan identitas ‘saya’. Arti ‘kami’ dan ‘saya’ dapat dinegosiasikan tidak hanya dalam penggunaan bahasa sehari-hari Korea tetapi juga dalam kesadaran dan dibawah sadar pikiran orang Korea.”

Referensi

(http://www.bbc.com/indonesia/vert-tra-42477168)