Mengapa konsumen dan masyarakat Indonesia sensitif terhadap inovasi?

Saya sedang browsing internet (play store tepatnya) dan menemukan aplikasi bernama iFlix.
Penasaran dengan kinerja iFlix ini, saya pun membuka kolom reviewnya.
Sayangnya, banyak sekali review yang ditulis oleh konsumen Indonesia ini sangat kasar bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepatutnya.

Padahal, dengan memberikan review yang biasa saja dan memberikan satu bintang sudah cukup menyampaikan aspirasi kekurangan aplikasi tersebut.

Saya yang bukan developer pun merasa sedih sendiri membayangkan perasaan developernya dengan adanya review sekasar ini :sweat_smile:

Tidak jauh dari itu, kita juga dihadapkan dengan sikap egois dan intoleran antar ojek tradisional terhadap ojek online yang memang kalah inovasi. Konsumen sendiri pun bisa merasakan sendiri nyamannya menggunakan ojek online akan tetapi ojek tradisional malah bersikap seolah inovasi ini bukanlah sesuatu yang harusnya diterima tapi malah dilawan.

Bagaimana pendapat anda tentang fenomena ini? Let’s discuss

Saya juga sedikit banyak merasakan dampak fenomena ini. Terutama Gojek sendiri yang sudah memasuki kota Malang.
Tidak bisa dipungkiri, Gojek sangat berguna dan mudah digunakan daripada ojek tradisional yang mungkin masih sulit untuk dijangkau tanpa tahu nomer pribadi atau cara mengontaknya.

Lucunya, alasan dibalik menolaknya ojek tradisional terhadap ojek online tidak memiliki dasar yang berlogika.
Pendapat mereka dari yang “mencuri rejeki orang” atau “bersaing curang” sama sekali tidak masuk akal.

Hukum rimba sendiri mengatakan, “Yang kuat akan menang, sedangkan yang lemah akan dimakan”. Hal ini sudah terjadi pada Yahoo dan Nokia. Kedua perusahaan yang dulunya merajai pasar teknologi ini kini sudah tinggal nama ditelan perusahaan yang menyainginya.

Sama halnya dengan ojek tradisional, jika mereka kalah berinovasi sudah barang tentu mereka akan kalah saing. Sebuah kutipan mengatakan, “Jika kamu tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka.”
Inilah yang terjadi dengan Nokia yang diakuisisi oleh Microsoft dan Yahoo yang diakuisisi oleh Verizon.
Seharusnya, Ojek Tradisional bisa bergabung dengan ojek online dan mencari jalan tengah yang baik daripada melawan mereka.

Mungkin pemahaman akan inovasi masih dangkal di masyarakat Indonesia dan itu adalah salah satu PR bagi pendidikan Indonesia.