Mengapa kita sering menunda mengerjakan pekerjaan dan bagaimana cara mengatasinya?

Menunda

Menunda mengerjakan pekerjaan atau biasa disebut prokrastinasi merupakan masalah yang sangat umum terjadi, baik remaja maupun dewasa. Pernakah kalian mendengar kata menunda atau prokrastinasi? Bagi para pelajar mungkin kata ini cukup familiar karena dekat dengan kehidupan sebagai pelajar. Berdasarkan survei mahasiswa yang penulis lakukan selama 2 hari, ternyata sebanyak 47 dari 57 orang atau sebanyak 82.5% mahasiswa memilih prokrastinasi sebagai salah satu permasalahan yang menganggu dalam menyelesaikan tugas dan sebanyak 53 orang atau 93% melakukan prokrastinasi dalam menyelesaikan tugas-tugas akdemiknya.

prokrastinasi

Wah cukup banyak ya mahasisiswa yang melakukan prokrastinasi. Nah, mengapa kita sering menunda pekerjaan yang seharusnya bisa kita kerjakan saat itu juga ya ? Lalu bagaimana solusinya ?

7 Likes

A post was merged into an existing topic: Apa yang dimaksud dengan prokrastinasi?

Pada dasarnya menunda pekerjaan atau prokrastinasi berhubungan erat dengan mood atau suasana hati seseorang. Kalau lagi ngga mood, rasanya tidak bergairah mengerjakan apapun, yang ujung-ujungnya memilih untuk doing nothing alias menunda pekerjaan.

Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menunda pekerjaan dikaitkan dengan kemalasan ataupun ketidakmampuan dalam manajemen waktu, padahal prokrastinasi berbeda dengan malas dan manajemen waktu. Kalau malas erat kaitannya dengan sifat seseorang, sedangkan manajemen waktu erat kaitannya dengan kapabilitas seseorang. Ciri utama prokrastinasi adalah kita merasa bersalah, cemas dan malu ketika setelah kita menunda pekerjaan. Kalau ngga ada rasa bersalah ketika menunda pekerjaan, kemungkinan besar kita termasuk orang yang malas :sweat_smile:

Prokrastinasi seharusnya dihubungkan dengan mood seseorang. Saya kutip penelitian dari Fuschia M. Sirois & Timothy A. Pychyl dalam artikelnya yang berjudul Procrastination and the priority of short-term mood regulation: Consequences for future self,

Negative mood states associated with a task in the present and perhaps the future, and with the act of procrastination in the past, appear to promote procrastination.

Selain suasana negatif yang buruk, kebiasaan kita menunda pekerjaan akan membuat kita semakin mungkin untuk menunda pekerjaan di masa yang akan datang. Istilahnya, kalau sudah menjadi kebiasaan, susah untuk menghilangkannya.

Bad mood yang berkaitan dengan menunda pekerjaan biasanya muncul karena tugas yang dikerjakan mempunyai tingkat kesulitan dan atau tekanan yang tinggi (pekerjaan yang membuat frustasi). Sebagai contoh, misalnya kita disuruh milih, ngerjain tugas atau ngobrol ? Belajar atau nonton Film ? Kebanyakan orang pasti memlih “mengerjakan” sesuatu yang menyenangkan dibandingakn dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Untuk kasus seperti itu, kuncinya adalah disiplin diri. Semakin rendah disiplin diri seseorang, maka semakin besar kemungkinan dia menunda pekerjaannya.

8 Likes

Menunda tugas sering dipandang sebagai perilaku negatif. Namun, pada kenyataannya semua orang sering mengalami hal tersebut. Orang yang menunda tugas dianggap tidak peduli dengan tugas tugas dan memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dibanding orang lain.

Beberapa hal yang perlu digaris bawahi tentang “bahayanya” menunda pekerjaan antara lain akan kehilangan waktu, kesehatan yang terganggu, dan harga diri yang rendah karena dipandang negatif oleh orang lain.

Dalam kehidupan mahasiswa, menunda-nunda dianggap sebagai hambatan mahasiswa dalam mencapai kesuksesan akademis karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas pembelajaran, menambah tingkat stres, dan berdampak negatif dalam kehidupan mahasiswa. Namun, masih banyak mahasiswa yang belum sadar akan dampak dari menunda-nunda pekerjaan tersebut. Beberapa hasil penelitian menunjukkan tingkat menunda-nunda pekerjaan dalam kehidupan mahasiswa masih cenderung tinggi. Dalam kategori ini, mahasiswa cenderung selalu menunjukan perilaku penundaan mengerjakan tugas akademik sebagai suatu pegunduran secara sengaja dan biasanya disertai dengan perasaan tidak suka untuk megerjakan sesuatu yang harus dikerjakan. Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi akademik diprediksi sangat sedikit yang memanfaatkan tenggang waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas.

Munculnya penundaan dalam kehidupan mahasiswa diprediksi tidak terjadi begitu saja, namun terdapat penyebab yang melatarbelakangi, seperti: adanya anggapan bahwa suatu tugas harus diselesaikan dengan sempurna; adanya kecemasan karena kemampuannya dievaluasi, ketakutan akan kegagalan dan susah mengambil keputusan, atau karena membutuhkan bantuan orang lain untuk mengerjakan tugasnya; malas dan kesulitan mengatur waktu dan tidak menyukai tugasnya; adanya punishment dan reward juga dapat menyebabkan prokrastinasi sehingga merasa lebih aman jika tidak melakukan dengan segera karena dapat menghasilkan sesuatu yang tidak maksimal; dan karena tugas yang menumpuk, terlalu banyak dan harus segera dikerjakan, sehingga penundaan tugas yang satu dapat menyebabkan tugas lain tertunda.

7 Likes

Percaya atau tidak, mungkin ada orang yang tidak sengaja menjadi MALAS loh!

Mahasiswa mungkin sering berkata “Iya nanti! Lagi gak ada motivasi” saat disuruh mengerjakan tugas. Banyak yang berpikir bahwa orang-orang yang menunda pekerjaan itu memang pemalas. Tapi, tahukah kamu kalau orang yang malas itu sebenarnya adalah orang yang sedang termotivasi!

Kok bisa sih? Iya bisa, karena pada kenyataannya manusia akan selalu termotivasi melakukan sesuatu karena mempunyai dopamin [1].

Selama dopamin terus dikeluarkan oleh otak dalam jumlah normal, maka manusia akan terus termotivasi untuk bertindak. Lalu, jika seperti itu, kenapa ada orang yang bisa merasa malas? Atau bahasa gaulnya, lagi gak termotivasi nih

Nah, ini bedanya orang giat dan orang malas.
Pada orang yang giat, dopamin banyak diproduksi di bagian otak yang bertugas memikirkan kesenangan. Tapi pada orang malas, dopamin banyak diproduksi di bagian otak yang bertugas memikirkan emosi dan resiko. [2]

Atau, bisa dibilang, alih-alih dopamin diproduksi agar seseorang semangat mengerjakan sesuatu, ia malah diproduksi agar seseorang menghindar dari tugas itu. Bukan karena tidak ada motivasi, tapi ternyata si pemalas sedang termotivasi untuk menghindar dari tugas tersebut.

Sayangnya, hal ini sering terjadi tanpa kamu sadari. Bisa jadi, kamu tanpa sadar menganggap suatu tugas sebagai ancaman. Kamu merasa takut mengerjakan karena suatu alasan seperti:

Jadi, cara awal yang paling mudah untuk menghilangkan sikap menunda pekerjaan adalah dengan menyadari bahwa kita sedang menganggap tugas itu adalah suatu ancaman. Setelah itu, baru kita bisa mulai melakukan sesuatu sesuai ancaman seperti apa yang kita rasakan. Misal kita anggap tugas sebagai ancaman karena kita merasa harus mengerjakan dengan sempurna. Maka yang bisa kita lakukan ada menyugesti diri sendiri bahwa tidak ada tugas yang sesempurna itu. Atau berkata ke diri sendiri “Kalau ditunda karena rasanya berat mengerjakan tugas dengan sempurna, nanti akan berakhir dengan mengerjakan terburu-buru karena deadline, dan akhirnya malah jauh dari sempurna”.

Sumber

[1] Salmone, J.D., & Correa, M. (2012) The mysterious motivational functions of mesolimbic dopamine. Neuron, 76(3), 470-485.
[2] Treadway, M.T., Buckholtz, J.W., Cowan, R. L., Woodward, N. D., Li, R., Ansari, M. S., … & Zaid, D. H. (2012). Dopaminergic mechanism of individual difference in human effort-based decision-making. Journal of Neuroscience, 32(18), 6170-6176.

7 Likes

Menunda pekerjaan pun bisa dikarenakan dua atau lebih pekerjaan di bawah satu prioritas pekerjaan. Dalam beberapa kasus, prioritas menjadi masalah ketika seseorang akan menyelesaikan suatu pekerjaan yang sifatnya spontan (selesai di waktu tersebut). Semisal, ada pekerjaan menyapu rumah, menulis laporan keuangan, dan rapat bersama kolega dan atasan. Ketika seseorang mendapati ketiga pekerjaan ini menjadi satu momen yang dipenuhi kepentingan (kita asumsikan bahwa di saat itu ketiga pekerjaan itu sama-sama penting) seseorang tidak mungkin memanifestasikan dirinya mengerjakan ketiganya dalam satu waktu. Ketika orang akan memilih untuk menyapu rumah, ia akan tertinggal untuk menulis laporan dan mengikuti rapat. Tetapi, ada kemungkinan untuk hadir telat untuk rapat dan meninggalkan pengerjaan laporan keuangannya. Atau, bisa jadi mengerjakan laporan keuangan tetapi menunda rapat (ujungnya, ada yang tertunda).
Begitu pun juga ketika seseorang memilih jalan untuk menyelesaikan rapat bersama kolega. Ada kemungkinan besar untuk menunda untuk menyapu rumah dan mengerjakan laporan keuangan. Seakan dalam kondisi ini seseorang sedang melakukan drama dengan waktu hingga ada pengorbanan yang harus dilakukan dan terjadilah penundaan itu.

Begitulah penundaan yang timbul dari segi prioritas.

5 Likes

Saya sepakat dengan hal ini. Terkadang kita menunda suatu pekerjaan karena memang pekerjaan tersebut menempati skala prioritas dan urgensi yang lebih rendah. Dalam buku yang saya baca, kita dapat mendiferensiasi tingkat kepentingan suatu pekerjaan ke dalam empat kuadran, yang secara berurutan terdiri atas pekerjaan yang penting dan mendesak, penting tapi tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak dan tidak penting dan tidak mendesak [1] . Dengan begitu, wajar kalau seandainya dalam satu waktu kita memiliki dua pekerjaan, misalnya pekerjaan yang penting tapi tidak mendesak dan tidak penting tapi mendesak, kita mendahulukan pekerjaan yang lebih mendesak.

image

Jadi sebetulnya tidak masalah untuk menunda suatu pekerjaan, asal tidak berarti mendahulukan hal yang remeh dan tidak urgen atas hal lain yang lebih penting dan urgen. Dan tentunya jangan sampai membiarkan semua hal jadi mendesak karena malas mengerjakan pekerjaan dari jauh hari sebelum deadline :slight_smile:

Referensi:

Covey, Stephen R. dan Rebecca R. Merrill. 1995. First Things First. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

2 Likes

Menarik sekali hasil penelitian ini, yang memperkuat pendapat bahwa menunda pekerjaan dihubungkan dengan suasana hati seseorang.

Kalau masalah prioritas, permasalahannya adalah mendahulukan pekerjaan yang tidak prioritas dibandingkan yang prioritas. Memang itu menjadi masalah, tetapi keliatannya lebih ke masalah task management.

Kalau saya biasanya membagi kerjaan kedalam kategori seberapa besar dibutuhkan pemikiran dalam menyelesaikan tugas tersebut. Semakin butuh mikir dan membutuhkan ketelitian yang tinggi, semakin pagi (awal) mengerjakanannya.

Waktu paling prime adalah setelah subuh.

Sedangkan tugas-tugas yang tidak terlalu mikir, dikerjakan belakangan. Oh ya, sebelum mengerjakan sesuatu, sebaiknya juga dilakukan perencanaan, dan waktu melakukan perencaan kegiatan sebaiknya dilakukan di pagi hari. Malam hari, sebelum tidur, sebaiknya digunakan untuk melakukan evaluasi apakah hari ini sudah melakukan kegiatan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.

Catatan : Kerjaan yang membutuhkan inspirasi, biasanya tidak bisa dipaksakan proses pengerjannya. Semakin dipaksa, malah semakin buntu :sweat_smile:

3 Likes

Meskipun sebenarnya ini adalah kebiasaan yang buruk, menunda-nunda pekerjaan atau prokrastinasi ini merupakan kasus yang umum dialami oleh individu. Saya setuju dengan hal ini. Ini saya sendiri juga mengalaminya :sweat_smile:

Mau menambahkan aja, ini dari jurnal yang saya baca tindakan prokrastinasi ini juga berhubungan dengan kecemasan. Seseorang yang dihadapkan terhadap tugas tertentu dan dia menunjukkan adanya ketidakmampuan untuk menyelesaikannya maka kemungkinan melakukan prokrastinasi akan semakin besar [1]. Sebagian besar orang yang mengalami kecemasan cenderung melakukan prokrastinasi untuk dapat menghindari tugas dan soal-soal yang dapat membuat mereka merasa cemas [2].

Jadi secara garis besar, kalau stigma negatif muncul seperti “aku gak bisa ngerjain ini”, “tugas ini susah” ini menimbulkan kecemasan dalam diri, jadi cenderung mengambil keputusan untuk menunda-nunda mengerjakan tugas sampai rasa cemas benar-benar hilang atau perasaan positif muncul.

Saat kita membayangkan hal positif di masa depan, kita menikmatinya dan merasa tidak sabar. Tetapi di saat kita membayangkan hal negatif di masa depan, kita menjadi benci untuk memikirkannya

Referensi

[1] Sutjipto, Rhendy C. “Prokrastinasi dan Kecemasan pada Mahasiswa Psikologi Universitas Surabaya.” Calyptra , vol. 1, no. 1, 2012.
[2] Milgram, N., & Naaman, N. (1996). Typology in procrastination. Personality and Individual Differences,20(6). 679-683.

1 Like